
Baren bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.Membawa Devi kerumah sakit tapi itu tidak mungkin karena dia tidak memiliki hak sebagai keluarga, dua juga tidak tahu daerah Jakarta apalagi letak rumahsakit. Baren berfikir bahwa Devi hanya sakit biasa, mungkin kelelahan.
Perasaan senang juga dirasakannya saat memandangi wajah Devi dari dekat. Membuat hatinya tenang, damai, rasa itu bercampur aduk didada. Baren seperti sedang mimpi bisa dipertemukan dengan Devi tepat dihari pertamanya tiba, mungkin mereka jodoh yang telah dirancang oleh sang pencipta. Tapi kita tidak tahu takdir apa yang akan mereka lalui nantinya.
Baren sudah berharap bahwa dia dan Devi akan lebih dekat karena selama ini dia sudah terlalu jauh dari sosok perempuan gara gara sibuk mengurus bisnis.
"Apa mungkin aku bisa memilikimu??." Monolog Baren menatap Devi penuh arti.
"Istirahatlah!!!. Mungkin kau lelah meladeniku." Baren terkekeh lalu beranjak setelah membenahi selimut sampai menutupi sebagian tubuh Devi.
*******
Lisa Pov
Apa ini sudah tercatat dibuku takdirku?? harus bertemu dengan dua makhluk didepanku ini yang sedang asyik mengacak semua bahan makanan. Haii kalian tidak tahu betapa sulit aku memasak sendiri padahal selama ini memegang wajan saja tidak pernah dan kalian seenaknya membuat dapurku seperti kapal pecah.
Lihatlah Raka!! apa yang dia lakukan selalu membuatku pusing tapi dengan melihat wajahnya kenapa hatiku seketika melunak??. Aaiiss makhluk satunya lagi yang membuatku tak paham akan sifatnya. Siapa lagi kalau bukan Kak Bian simuka tembok. Sampai kapan kak kau tidak bisa menunjukkan ekspresimu itu hahh?? aku lelah harus berhadapan dengan orang sepertimu.
"Raka hentikan!!!. Nanti siapa yang mau bersihin kalau semua tepung kamu hambur hamburin. Tuh kan lantainya jadi licin.."
"Salju aunty...yeee..."
Astaga kenapa dia menghambur hamburkan tepung, sama persis seperti dapur bersalju. Aku hanya pasrah melihat Raka mengacak semua isi dapurku sedangkan simuka tembok dengan santainya bertumpu dagu.
"Ayo uncle main salju saljuan!!!."
"Raka aja yang main."
Pagi yang rusuh, benar benar rusuhh. Tidak membuat hariku cerah malah membuat keburaman dipagi hari ini.Tidak berhenti disitu Raka terus membujuk kak Bian supaya membantunya menghamburkan tepung.
Bbyuurr
Sampai tak sengaja tepung yang dibawa Raka terbuka dan menyembur kearah kak Bian. Wajahnya sangat mirip hantu benar benar putih, aku dan Raka tertawa melihat wajah kak Bian yang dipenuhi tepung.
"Bwaahhhaaaa...."
"Apa ponakan kecil senang??." Tanya kak Bian dengan nada datar tapi tetap terdengar nada kesal.
"Euumm wajahh uncle lucu hahaaa..." Raka mengangguk dengan tawa yang tak reda.
"Kak Bian.."
Cckkrriiikk
Yess berhasil kuambil jepretan foto kak Bian, ini bisa kujadikan umpan jika dia sewaktu waktu tak menuruti apa kemauanku.
"Yeesss kenaa!!."
"Aunty hebatt!. Raka juga mau difoto aunty."
Kak Bian tidak menanggapiku saat aku menjepretnya??. Aiiss dia malah sibuk membersihkan muka. Oke fine tidak mempan membuatnya marah, hmm itu sangat sulit kecuali emosinya tersulut dengan sendirinya.
Ddrrtt Ddrrtt Dddrrttt
Hmm Dokter Anya menelfonku pagi pagi?? apa ada yang penting??. Kulihat kak Bian masih mencuci muka diwatafel, dengan begitu aku tidak susah mencari alasan.
"Raka nanti kalau uncle tanya bilang aja aunty lagi dikamar mandi oke!!." Bisikku.
__ADS_1
"Siapp aunty." Balas Raka juga dengan bisikan.
Segera aku menuju kamar dan mengunci, karena kalau bermasalah dengan Dokter Anya kak Bian mudah sensitif.Mendengar aku menyebut nama Dokter Anya saja kak Bian akan meninggalkanku begitu saja membuatku kesal setengah mati. Apalagi dulu aku pernah dibuatnya menangis gara gara membahas tentang penyakitnya itu, ehh apa itu patut dibilang penyakitt?? sepertinya tidak tapi aku menganggapnya seperti sebuah kutukan, haahaah kejam sekali kau Lisa.
"Hallo Dokter??."
"Hallo Lisa bagaimana kabarmu??." Suara dokter Anya terdengar bahagia membuat perasaanku ikut bahagia, yah semoga aja ada kabar baik dari Dokter Anya.
"Kabar Lisa baik dok, kalau dokter??."
"Alhamdulillah saya juga baik. Langsung aja ya Lisa saya mau menyampaikan sesuatu.. emm kamu masih lancar komunikasi sama Bian??."
"Ohh masih kok dok ini aja kak Bian ada dirumah Lisa."
"Syukurlah, Emm Bian ada disitu??."
"Tenang aja dok Lisa ada dikamar sendiri, ada apa ya dok kayaknya serius banget hehee..."
"Gini Lisa saya sudah membuat perhitungan untuk pengobatan Bian agar berjalan lancar, saya kira Bian bisa kembali normal dua bulan kedepan jika dia rutin hipnoterapy. Apalagi ditambah misi kita untuk menuntun Bian kembali kemasa lalunya yaitu membawa Bian kembali kerumah masa kecilnya, kamu masih ingatkan??."
"Ohh iya dok Lisa masih ingat, eumm tapi tante Luna bagaimana dok??"
"Tenang saja itu urusan belakang agar tante Luna tidak tahu rencana kita."
"Dua bulan itu kak Bian harus melakukan apa saja dok??."
"Buat dia mau menjalani hipnoterapy secara rutin dan kita usahakan diakhir bulan pertama Bian sudah ke semarang."
"Ahh gitu ya dok, saya yakin kak Bian mau kembali kerumah neneknya Dok tinggal kita pikirin bagaimana cara agar tante Luna tidak tahu, kalau sampai tante Luna tahu bisa bisa rencana ini gagal."
"Saya yakin sama kamu Lisa. Bian pasti sembuh dengan adanya kamu disisinya."
"Terimakasih dok.".
********
Aku kembali kedapur dan kulihat mereka berdua tidak ada disana, kemana mereka??. Aku beranjak menuju ruang keluarga, yah mereka sedang asyik menonton TV setelah menghancurkan dapurku.
"Hayy aunty sini duduk lihat oppa oppa ngecup bibir tante cantik." Ujar Raka polos.
Penuturan Raka membuatku bingung, setelah aku lihat apa yang ada dilayar TV seketika mataku melotot sempurana dengan mulut menganga.Tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan kak Bian sekarang, adegan seperti itu ditontonkan didepan anak kecil??. Apa otaknya juga bergeser??. Aku saja yang melihat itu geli sendiri hiii...
"Apa kakak sudah gila hahh?? kenapa menontonkan adegan seperti itu ke Raka??." Bentakku sambil kuraih remote dan mengganti kechanel lain.
"Emang kenapa??lagian dia tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan."
Astaga segampang itu kak Bian mengartikannya??. Ingin kubongkar saja otaknya biar ku beri ke pinguin yang lebih pintar dari otak makhluk menyebalkan ini.
"Aunty kok diganti sih, Raka pengen lihat aunty cantik tadi."
"Nggak!!!." Bentakku dan Raka langsung menundukkan kepala. Sekali kali biar kuberi pelajaran sedikit agar dia tidak gesrek seperti Uncle nya.
Apa sekarang waktu yang tepat bujuk kak Bian??.
"Eumm Raka disini dulu ya aunty ada perlu sama uncle." Raka hanya menganggung masih dengan wajah cemberut.Biarlah dia seperti itu daripada membuatku pusing karena ocehannya.
"Mau apa??." Tanya kak Bian.
"Udah ikut aja yuk!!!."
__ADS_1
Aku menarik kak Bian menuju taman belakang, rasa gugup sedikitku rasakan saat mengingat waktu kak Bian marah karena menolak hipnoterapy.
"Mau ngomong apa???."
"Eumm kak Bian masih ingat gue minta tiga permintaan dipasar malam waktu itu??. Tanyaku tanpa melihat kearahnya, degup jantung ini kenapa terasa sekali.
"Heemm."
"Masih ada dua permintaan lagi kan??." Tanya ku was was.
"Heemm."
"Ckk jangan heem...heemm...mulu napa?? sebel deh!."
"Terus??."
Astaga nih orang apa orang sih?? sampai kapan Lis lo hadapi makhluk seperti Bian hahh??.
"Langsung aja deh Lisa mau ngomong kala..."
"Ngomong ngomong aja kali dari tadi!!."
"Isshh jangan dipotong duluu.."
"Akhir bulan nanti Lisa mau Kak Bian ajak Lisa liburan ke rumah nenek kak Bian waktu kecil, kan di Semarang banyak tuh objek wisata ya nggak??." Semaksimal mungkin aku keluarkan pupy eyes handalan Lisa pramudiana.
"### Kenapa harus disana??."
"Kan Lisa udah bilang banyak objek wisata kan disana."
"Kalau gue nggak mau??."
"Harus mau lah, ini permintaan kedua Lisa titik nggak pake koma."
Daripada terus berdebat aku meninggalkan kak Bian yang masih diam, mungkin dia berusaha mencari keanehan diwajahku. Semoga dia nggak curiga kalau ini salah satu trik ku dan dokter Anya. Ada gunanya ternyata kak Bian susah mengenali ekspresiku jadi aku mudah membohonginya hahaa...
******
Bascamp Blacksquat
Di bascamp hanya ada Rian, Dito, dan Kayla. Yah biasanya hari weekand mereka akan berkumpul.
"Kemana nih yang lain kok sepi amat??." Tanya Dito.
"Nggak tahu dari tadi gue telfon Lisa dijawab operator katanya lagi sibuk." Sahut Kayla.
"Pagi pagi telfonan sama siapa tuh anak."
"Sama Rasyad palingan." Sambung Rian.
"Gue VC Devi aja yaa..."
Kayla mendial Vidio call pada nomor Devi.Seketika mulut Kayla menganga saat Vidio tersambung.
"Kenapa wajah lo kayak gitu kay??." Tanya Dito heran.
"I..iini benar nomornya D..devi kan??." Tanya Kayla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hp.
__ADS_1