
Sesampainya dirumah Devi mereka semua seperti patung pancora didepan pagar rumah yang terlihat tidak berpenghuni. Pagar rumah Devi terkunci dari luar sepertinya memang tidak ada orang didalam. Mereka berlima hanya diam berdiri didepan rumah Devi sambil menerka nerka kemana perginya sahabat mereka??.
"ini rumah beneran kosong??." Tanya Dito mengotak atik gembok pagar itu.
"Menurut loh??." Sewot Kayla melotot ke arah Dito. Sahabatnya yang satu ini memang benar benar kahilangan separuh otaknya.Jelas jelas pagar digembok dari luar itu artinya tidak ada oranglah didalam.
"Oohh jangan jangan Devi...."
"Jangan jangan apa??." Tanya Kayla dan Lisa hampir bersamaan. Mereka semua menatap Dito menunggu lanjutan dari ucapannya.
"Pergi liburan...waahh parah tu anak liburan nggak ajak ajak." Sambung Dito yang dibalas tendangan dikakinya dari Rian.
"Aawww sakit be*o." Protes Dito mengelus kakinya.
"Ckk yang masuk akal dong nggak mungkin lah Devi lagi liburan." Ujar Rian.
"Lo kayak nggak tahu aja nyokap sama bokap Devi kan sibuk banget mana mungkin ada waktu liburan apalagi ini bukan hari weeckend." Sambung Lisa.
Mereka manggut manggut mendengar ucapan Lisa ada benarnya. Lalu sekarang Devi kemana??.Sudah lama mereka hanya berdiri didepan rumah Devi sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Kenapa nggak tanya tetangga didepan rumah ini??." Buan menunjuk rumah yang berada dideoan mereka dengan dagunya. Mereka semua mengikuti arah mata Bian dan tersenyum. Iyah benar kenapa dari tadi hanya berdiri dan tisak bertanya?? seperti pepatah malu bertanya sesat dijalan.
"Nggak dari tadi kek." Rian berjalan mendahului menuju rumah yang ada didepan rumah Devi.
Setelah sampai didepan rumah bercat abu abu dengan pagar menjulang tinggi Rian menekan tombol yang menempel didinding pagar. Seperrinya tukang kebun rumah ini menghampiri mereka dengan tersenyum ramah.
"Permisi pak." ujar Rian.
"Iyah ada yang bisa saya bantu?? cari siapa ya??." Tanya si tukang kebun.
"Emm bapak tahu orang yang tinggal didepan sana." Lisa menunjuk rumah Devi.
"Oohh itu rumahnya mbak Devi mbak sama mas ini teman temannya ya??." Tanyanya ramah.
"Benar pak kami temannya." Sahut Dito.
"Bapak tahu nggak mereka pada kemana?? soalnya pagarnya digembok." Sahut Rian.
"Tadi setahu saya mereka keluar buru buru lagi."
"Keluar kemana ya pak??." Tanya Lisa.
"Kalau itu saya kurang tahu."
"Tuhh udah gue bilang apa palingan tuh anak lagi jalan jalan sama nyokap bokap nya." Sahut Dito. Kayla dan Lisa menghembuskan nafas kasar sedangkan Rian menoyor kepala Dito menggunakan jari telunjuk.
"Dan udah gue bilang Devi nggak mungkin jalan jalan ini bukan hari weeckend Ditoo." Geram Lisa.
"Kan siapa tahu." Sahut Dito berjalan mendahului mereka dengan mulut komat kamit.
"Ya udah pak makasih atas infonya." Ucap Lisa kepada tukang kebun itu.
"Sama sama mbak kalau begitu saya masuk ya." Mereka menganggung bersamaan.
__ADS_1
"Nggak pernah loh Devi ngilang nggak ada kabar kayak gini." Ujar Rian menendang nendang angin dengan wajah cemas. Lisa dan Kayla saling tatap dengan raut wajah aneh lalu menatap Rian dengan tatapan tak terbaca.
"Pulang aja nanti kita hubungi lagi Devi ini udah mau larut." Ujar Bian.
"Woyy itu bukannya mobil Devi ya??" Teriak Dito dari seberang. Tak lama mobil sedan berwarna putih berhenti dideapan rumah Devi.
"Ehh iya itu Devi." Ucap Lisa berlari menghampiri Devi yang turun dari mobil diikuti Kayla, Bian, dan Rian.
"Kalian kok ada disini??." Tanya Devi.
"Kita semua khawatir tau sama lo." Lisa langsung memeluk Devi disusul Kayla. Rian mau ikut peluk tapi gagal karena kerahnya ditarik Bian.
"Bukan mukhrim." Ucap Bian setelah mendapatkan pelototan dari Rian.
"Ngerti agama juga lo." Sewot Rian.
Mereka semua sampai tidak sadar nyokap bokap Devi memperhatikan sesdari tadi.
"Udah mau maghrib kita kedalam yuk!!." Ucap mama Devi.
"Ohh iyah tan nggak usah repot repot kita pulang aja." Sahut Dito cengengesan.
"Ya udah lo pulang sendiri aja sono!!!." Ucap Devi, Kayla, dan Lisa kompak. Dito memanyunkan bibirnya, yang benar saja dia diusir padahal dia sendiri juga yang nolak.
"Udah kita masuk aja yuk.Tante tadi udah masak kita makan sama sama ya!!."
"Waahh enak tuh tan.Kalau gitu Dito nggak jadi pulang deh."
"Kalau Dito nggak usah dikasih makan mah. Nanti kita belum makan udah habis duluan." Ucap Devi dibalas tawa ringan mereka semua dan Dito tambah menggembungkan pipi layaknya anak kecil tidak dibelikan es krim.
*****
*Lisa*
Selesai makan malam para pemuda itu bersantai dibelakang rumah Devi. Ditemani dengan alunan gitar yang dimainkan Rian. Mereka bernyanyi bersama menghilangkan rasa lelah nan khawatir gara gara Devi tak ada kabar.
"Lo dari mana aja Dev?? gue telefon nggak lo angkat angkat bikin orang khawatir aja." Ucap Rian.
"Eemm gue tadii..ohh itu apa dari rumah oma." Jawab Devi gugup.
"Tuh kan udah gue bilang Devi lagi jalan jalan ke rumah omanya." Sambar Dito melemparkan kripiknya ke wajah Rian.
"Itu bukan jalan jalan namanya." Sahut Rian mengambil alih kripik yang dipegang Dito.
"Ngapain lo kerumah oma??." Tanya Lisa menatap curiga Devi.
" Oma gue sakit." Jawab Devi cepat.
"Beneran??." Selidik Lisa menatap lekat wajah Devi yang terlihat gugup.
"Iyah bener." Devi manggut manggut.
__ADS_1
Mereka terdiam menatap Devi seperti polisi mengintrogasi pelaku. Devi hanya menunduk ditatap mereka, jantungnya juga berdegup kencang sedari tadi.
"Muka lo kok pucat sih Dev??." Tanya Kayla melihat wajah sahabatnya yang agak pucat itu.
"Hahh perasaan lo aja kali."
"Ohh iya kak katanya minggu depan diadakan kemah kepuncak itu benar yah??." Sambung Devi. Yah Devi sengaja mengalihkan pertanyaan teman temannya yang super duper kepo.
"Iyah, kalian ikut kan??." Tanya Bian.
"Pasti dong kita ikut ya nggak??."
"Lo nggak lagi ngalihin oembicaraan kan??." Selidik Lisa.
"Hahh ngapain gue ngalihin pembicaraan. Gue cuma kepo denger denger sih bakal diadain kemah makanya gue tanya kak Bian."
"Emm emang Kak Bian ikut??." Tanya Lisa.
"Gue jadi pendamping dan juga ketua pelaksana."
"Waahh hebat lo kak." Dito mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar menatap Bian.
Mereka berbincang bincang tanpa sadar hari mulai larut.Membahas tentang rencana kemah sampai rencana libur semester yang sebentar lagi akan datang.Bian juga mulai akrab walau masih kaku dan dengan mukanya yang datar sulit bagi mereka menyeimbangi ekspresi yang dirasakan Bian.
Dalam lubuk hatinya Bian ingin bisa kembali normal demi satu orang yang telah membuatnya sadar akan keterpurukan yang selama ini ia alami. Dia juga ingin merasakan apa yang dirasa orang yang sekarang mulai mengisi hari harinya.
********
Kota Jerman, Berlin
"Saya siap kesana asalkan bapak mau memberikan investasi pada kami." Ucap Baren pada orang diseberang telefon.
"......"
"Wahh dengan senang hati saya akan melakukannya."
"......"
"Baik saya juga akan mempromosikan novel anda disini."
"......"
"Baik terimakasih banyak atas kerjasama ini semoga berjalan lancar."
"....."
"Terimakasih saya akan segera memesan tiket."
"....."
Telefon terputus disambut senyum lebar Baren. Yah dia baru saja mendapatkan investor terbesar yang akan membantunya membuat kantor cabang. Rencana ini sudah ia siapkan sejak dia mengenal seseorang yang membuatnya terpikat begitu saja.
__ADS_1
"Indonesia i am coming...." Teriak Baren membuat beberapa kariyawannya menatap aneh.
"Indonesia?? kakak mau ke Indonesia??." Tanya Adeline yang sudah duduk disofa loby.