Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Dinner??


__ADS_3

Kota Berlin, Jerman


"Dia kenapa yah, sakit?? aishh kok perasaan gue jadi nggak enak ya."


"Ada apa kak??."


"Nggak pa pa del." Jawab pria itu.


"Gue udah felling kalau Rasyad nggak akan menang." Yah tantangan itu dimenangkan oleh Jerry setelah tadi sore mereka tanding dilapangan kampus dan disaksikan para mahasiswa.


"Lo tau nggak kak syarat yang diberi Kak Jerry???." sambung Adeline. Tak ada jawaban dari Baren. Adeline seperti bicara sama angin, berlalu begitu saja.


"Kaaakkk." Baren terlonjak dari duduk saking kagetnya.


"Apaan sih del??pecah ini gendang telinga gue." Gerutu Baren.


"Salah siapa diajak ngomong malah bengong, mikirin apaan sih?? ada orang cantik disini kok dicuekin."


"Hahh cantik??."


"Emang." Jawab Adelin cepat.


"Cantik kok nggak dilirik sama sekali sama Rasyad." Ledek Baren berlalu pergi meninggalkan Adeline dengan wajah cemberut.


"Iisshh dasar kakak durhaka." Adeline menghentakkan kaki dan beranjak memyusul Baren.


"Kak tunggu!!! mau kemana??."


"Kantor."


"Ikut, pliiss." Adeline memasang wajah terimutnya.


"Alasan, bilang aja mau ketemu Rasyad." ucapan Baren hanya dibalas cengiran bodoh Adeline.


*******


Sesampainya dikantor penerbit Baren mereka menuju ruangan Rasyad yang biasa digunakan untuk menulis novel. Setelah pertandingan itu Rasyad mencoba menghindari Adeline dia benar benar merasa bersalah karena kalah dan kenapa harus Adeline yang menjadi syarat kemenangan Jerry.


Rasyad tidak berfikir sejauh itu, jika ia tahu dia tidak akan menerima tantangan Jerry. Dan bagaimana dia akan katakan itu??dia tidak mungkin memgorbankan orang lain atas kekalahannya.Apalagi dia Adeline, sahabatnya sendiri. Tidak, itu tidak mungkin.



*Adeline*


"Ddoorr!!!."


"Ehh..ckk gue kira siapa." Ujar Rasyad menatap Adeline dan Baren bergantian.


"Ngelamun apa Ras?? bentar deh,, pada mikirin apa sih kalian?? dari tadi nggak kak Baren nggak Rasyad pada ngelamun." Heran Adeline.

__ADS_1


"Siapa yang ngelamun." Jawab Baren dan Rasyad kompak.


"Yaelahh masih ngelak aja."


"Ohh ya Ras, Kak Jerry kan menang ya, dia minta apa??." Sambung Adeline.


"Minta apa??." Tanya Rasyad balik, situasi yang tidak ingin dia hadapi sekarang terjadi juga.


"Isshh gumana sih kata lo yang kalah bakal turutin mau pemenang, terus kak Jerry minta apa sama lo??." Geram Adeline. Gerak gerik Rasyad terbaca Baren sedari tadi. Baren sangat musah jika masalah baca membaca mimik wajah.


"Dia minta aneh aneh ya??." ucap Baren menatap lekat manik Rasyad agar dia tidak bisa mengelak.


"Ennggak kok." jawab Rasyad cepat sambil memalingkan wajah dari tatapan Baren.


"Gue tahu sifat Jerry, nggak usah bohong kelihatan tuh muka lo kalau buhong jelek." Gurau Baren tertawa kecil.


"Isshh lo tuh nggak bisa bohong sama kak Baren, lo salah cari lawan bicara kalau mau bohong." Adeline melirik Baren sekilas.


"Nahh tu tau." Sombong Baren menaikkan kedua kakinya keatas meja Rasyad. Rasyad meringis, apa yang harus dia katakan sekarang??jujur???atau kabur??.


"Woyy malah bengong." Adeline menepuk pundak Rasyad.


"Gimana yaa??." Ucap Rasyad lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri.


"Ya ngomonglah Ras, gue kepo nih." Sahut Adeline.


"Gue disuruh..." Rasyad menghentikan ucapannya.Dia mematap Baren, takut jika Baren akan marah karena membuat Adeline terbawa ke masalahnya.Bagaiman reaksi Baren jika tau adiknnya menjadi taruhan.


"Jangan marah ya kak ini bukan gue yang mau." Rasyad sampai bersimpuh didepan Baren saking takutnya. Masih terbayang tatapan membunuh Baren saat membuat Adeline menangis waktu itu.


"Feelling gue nggak enak nih kalau kayak gini."


"Berdiri Ras." Adeline membantu Rasyad duduk ke kursi lagi.


Rasyad menarik nafas dalam dalam dan...


"Jerry minta gue bujuk Adelline buat Dinner sama dia." Ujar Rasyad dalam satu tarikan nafas.


"Dinner??." Ucap Baren dan Adeline kompak membuat Rasyad terlonjak kaget.


"I..ii..iyaa maaf Del kak gue nggak bisa menang kalau gue tau dia minta persyaratannya kayak gitu gue juga nggak bakal terima tantangannya, gue juga nggak bakal biarin.."


Ucapan Rasyad terhenti saat gelak tawa Baren memenuhi ruangan kecil Rasyad. Rasyad bingung dia kira Baren akan menyemburnya ehh malah dia diketawain.


"Kenapa malah ketawa sih kak??." Tanya Adeline kesal. Dia aja masih syok gara gara kata 'Dinner' dan kakaknya malah tertawa tidak jelas.


"Lucu aja lihat wajah Rasyad." Ucap Baren memegang perutnya yang terasa kram.


"Nyebelin banget sih, jantung gue mau copot tau."

__ADS_1


"Takut kena amukan kak Baren yaa??." Sambung Adeline cekikikan.


"Lo tau kak kalau kak Baren ngamuk kayak singa dibangunin dari tidurnya." Ucap Rasyad yang dibalas lemparan buku dari Baren.


"Gue punya ide." Ucap Baren tersenyum miring. Rasyad dan Adeline saling tatap mengisyaratkan 'ada apa??'.


"Sini gue bisikin." Adeline dan Rasyad langsung mendekat kearah Baren. Mereka senyum senyum mendengar ide Baren.


"Setujuu." ucap Rasyad dan Adeline kompak diselingi tawa mereka.



*******


Siang hari ini Lisa and the gengs sedang menikmati makan dikantin kampus. Bian juga ada disana kecuali satu orang tidak hadir diantara mereka.


"Woyy bener nggak ada yang tahu nih Devi kemana???." tanya Rian.


"Eum..nggak tau gue." Lisa mengangguk mantap. disusul anggukan Kayla dan Dito.


"Gue telefon dari tadi juga nggak diangkat, padahal hpnya aktif loh." Sahut Kayla.


"Tumben tumbenan dia nggak kasih kabar." Ucap Lisa menyeruput es teh milik Bian.


"Lis punya siapa tuh main minum aja." Sewot Dito.


"Ehh..maaf kak salah ambil." Ucap Lisa meletakkan kembali es milik Bian.


"Minum aja!!." Dito langsung mengambil minuman itu sebelum Lisa mengambilnya.


"Dito kenapa lo minum??." Teriak Lisa.


"Cckk kak Bian aja nggak sewot kenapa lo sewot." Sahut Dito setelah minuman itu habis.Lisa memanyunkan bibirnya menatap Dito kesal.


"Tapi yang ditawarin kan gue kenapa lo yang minum " Protes Lisa.


"Udah deh bisa diem nggak sih kalian." Bentak Rian tiba tiba.Semua terdiam menatap Rian kaget.


"Sorry." Sambung Rian sambil mengacak rambutnya.


"Lo masih mikirin Devi??." Tanya Lisa.


"Tenang aja kali, Devi bukan anak kecil lagi." Sahut Dito dibalas tatapan membunuh dari Rian.


"Eeittss santai broo ,,, emang gue salang ngomong ya??benerkan Devi bukan anak kecil lagi??." Ujar Dito dengan wajah polosnya.


"Udahlah yan khawatir banget lo, mungki Devi ada urusan keluarga jadi lupa kabarin kita." sahut Lisa.


"Kenapa nggak samperin kerumahnya aja??daripada menerka nerka." Ujar Bian dibalas senyuman dari mereka.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi??." Sambung Bian.


"Letts goo!!!! " Ucap mereka serempak dan beranjak meninggalkan kantin.


__ADS_2