
Flashback
Dalam dua bulan ini seorang pemuda bertekad agar bisa membuat seseorang luluh dengannya.Siapa lagi kalau bukan Baren si penulis.Hatinya sudah jatuh kepada gadis yang pertama kali dia kenal sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang mendekatinya.
Hanya dialah wanita yang tidak tertarik dengannya, bahkan tidak tahu malu mencaci Baren.Hanya dia, dia yang selalu membuat bayang bayang dihati Baren.
Dialah Devi
Hanya Devi yang mampu membuat si playboy Baren jatuh hati untuk pertama kalinya kepada seorang wanita.
Malam ini siasat demi siasat sudah dirancang Baren agar bisa lebih dekat dengan wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Cinta itu butuh perjuangan, dan cintaku kepadamu hanya butuh sebuah drama."
"Gimana mau berjuang, kalau akhirnya sia sia.....mula yang baik adalah sebuah drama, baru deh sebuah perjuangan dibutuhkan walau sedikit kebohongan alasan supaya gue leluasa mendekatinya," monolog Baren sambil memutar mutar remote yang ada dimeja.
Baren beranjak memasuki kamar mengambil beberapa pakaian ganti dan juga peralatan mandi.Dengan senyum lebar dia berjalan menuju pintu.
"Saat nya beraksi, pelan pelan lo pasti bisa.Fighting!!!,"ujarnya sebelum melangkah keluar.
Ting Tong
Ceklek
"Selamat malam," sapa Baren dengan senyuman termanisnya. Devi menampangkan wajah kecut dan hendak menutup kembali pintu tapi dengan gerak cepat Baren menerobos hingga sempurna masuk kedalam.
"Sii..."
"Nona Devi yang baik hati sebelum menceramahi saya yang unfaedah saya mau numpang mandi yaa?!...Sebagai tetangga bukankah harus saling berbagi??," potong Baren.
"Kenapa harus numpang mandi? emang apart lo nggak ada kamar mandinya apa huh?," Devi berkacak pinggang layaknya ibu kos yang menagih uang bulanan.
"Ohh ya jangan panggil gue nona, emang gue nona belanda apa?."
Baren tetap diam dengan cengiran bodohnya menatap Devi yang masih menunggu jawaban darinya.
"Lo tuh punya mulut nggak sih?."
"Semua makhluk hidup itu pasti punya mulut," sahut Baren santai.
"Isshh...hufftt terus??."
"Terus apa???."
"Terus kenapa lo ada disini???," geram Devi mengepalkan tangan seperti hendak meninju Baren.
"Kan udah gue bilang, gue mau numpang mandi.Ada masalah sama saluran air di apart gue."
"Disini bisa kenapa di apart lo nggak bisa?."
"Yah gue nggak tahu, maka dari itu gue kesini!!, boleh ya plisss!!!," mohon Baren sambil mengantupkan telapak tangannya.
Beberaoa detik tak ada jawaban sampai keduanya sadar akan sesuatu yang mengganggu indra penciumannya.
"Bau apa ini??," tanya Baren sambil mengendus endus.
"Bau badan lo lah, belum mandi juga," spontan Baren mencium ketiaknya.
"Masih wangi badan gue!!."
"Ini mah bau gosong," sambung Baren.
"Astagaa masakan gue!!," segera Devi berlari kearah dapur dan melihat ikannya gosong sempurna sampai tak terlihat bentuk rupannya.
"Yahh ikan gue gosong deh!!, gara gara cowok nyebelin...iissshh..."
Devi kembali keruang tamu dan mendapati Baren sedang mengamati benda kecil bewarna putih.Terkejut, itu yang dirasakan Devi.Bagaimana bisa Baren menemukan itu?.Devi, yah Devilah yang ceroboh.Bisa bisanya benda itu dia taruh disembarang tempat.
"Apa ini??," tanya Baren saat menyadari kedatangan Devi.
__ADS_1
"Lancang banget sih lo, sini!!!."
"Nggak akan gue balikin sebelum lo jawan obat apa ini."
"Ohh gitu ya okey."
"Keluar!!!!," sambung Devi.
"Sayangnya gue nggak mau keluar."
Baren langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa peduli Devi yang masih mengumpatinya.Bukan lagi masalah kamar mandi Devi lebih khawatir, obat itu masih ada di tangan Baren.Lalu bagaimana ini??.
"Gimana cara ambilnya, gawat kalau dia tahu itu obat keras," monolog Devi.
Beberapa menit Devi menunggu Baren dengan gelisah akhirnya yang ditunggu tunggu keluar.Devi masih melihat pakaian Baren yang tidak enak dipandangnya. Baren menggunakan handuk kimono, itu membuat pikiran Devi tidak bisa dikontrol.Baru kali ini dia melihat cowok se cool Baren ada dimatanya.Upps apa Devi sudah mengakui ketampanan Baren?.
"Kenapa lihatin gue kayak gitu??."
"Haahh...eng enggak siapa yang lihatin, pede amat," elak Devi.
Baren mendekati, semakin dekat membuat Devi perlahan mundur.Ada desiran aneh yang dia rasakan.
Dengan cepat Baren menarik tangan Devi saat Devi hendak terjengkal kebelakang karena tersandung kursi.Tapi naas keseimbangan Baren kurang tepat sampai mereka berdua jatuh dilantai dengan posisi Devi diatas tubuh Baren.
Karena terlalu spontan membuat kedua bibur mereka bersentuhan seperkian detik.Tanpa sadar ada dua sejoli yang mengamati kejadian itu.
Jantung gue kenapa deg deg an, apa gue juga punya penyakit jantung?,batin Devi.
.
.
.
.
.
"Issh lo nggak percaya banget sih Kay, udah ah bantuin gue masak buat kita makan.Belum pada makan malan kan??," mereka semua mengangguk.
Devi dan Kayla menuju dapur sedangkan Baren masih diam karena tatapan Deren tak lepas darinya.
"Ekhhmm ekhmm...."
"Kenapa?? lo juga nggak percaya??," sewot Baren.
Deren mengedikkan kedua bahunya.
"Entah."
"Tapi yang penting bukan gue percaya atau nggak," sambung Deren membuat Baren kurang paham akan makhsud makhluk disampingnya.
"Makhsud lo??."
"Yang penting itu gimana caranya lo lakuin itu hah?? gercep banget, gue dari dulu gitu gitu aja."
Spontan Baren melemparkan bantal yang ada disampingnya teoat dimuka Deren yang membuat siempu menatap horor Baren.
"Apansih?."
"Gue kira apaan, eh..lo juga mau gue ajarin trik buaya sejati yah," Baren menaik naikan kedua alisnya.
"Trik buaya sejati__apa itu kak??," tanya Kayla yang sudah didepan mereka dengan membawa beberapa lauk dan sayur.
"Ehh...enggak bukan apa apa, sudah selesai cepet banget."
"Iya dong chef Kayla gitu, yuk kita makan!!!."
Mereka berempat menikmati hidangan yang ada didepan mata dengan mata berbinar.Yah lapar, sangat.Suasana kembali sunyi, hanya ada suara dentingan sendok dan piring sampai perkataan Baren membuat Kayla dan Devi tersedak.
__ADS_1
"Lain kali Double datenya diluar yah!!.'
Uhuukk uhhkk uhuukk
Dengan gerak cepat Kayla dan Devi menuangkan air dan menggak habis, kecuali gelasnya yah.
"Jangan bikin image gue turun,"bisik Deren pada Baren yang masih tersenyum jahil melihat kedua perempuan didepannya menjadi salah tingkah, plus merah merona dari wajah Kayla dan Devi.
******
Selesai makan malan Deren mengajak Baren kembali ke apart Baren sendiri. Senenarnya ada sesuatu yang ingin Deren tanyakan.
"Mau minum apa??," tanya Baren.
Deren duduk bersila dilantai sambil menyenderkan kepalanya disofa.
"Nggak usah."
"Ohh ya kenapa lo kesini?? tumben."
"To the poin aja___gue minta nomer hp adek lo!!!."
"Hahh adek?? Adeline makhsudnya."
"Siapa lagi..."
"Buat apa??."
"Cckk tinggal kasih aja susah banget."
"Aneh aja gitu, emang ada urusan apa??."
"Kasih atau gue minta sama Rasyad!!!."
"Okey okey, tuh udah gue kirim!!!."
"Thanks!!!."
Deren berjalan menuju pintu.
"Woyy mau kemana lo??."
"Pulanglah," sahut Deren santai.
"Udah gitu aja?? cuma minta nomer hp Adeline___kok gue jadi kepo yah, tumben banget loh Deren ada urusan sama Adel," monolog Baren.
.
.
.
.
"Hallo!!! wer ist das??," tanya Adelin diseberang telepon.
(Halo, dengan siapa ini??)
"Langsung ke intinya saja_____dengar baik baik!!! jangan lagi lo ganggu orang lain, siapapun itu. Jangan membenci terlalu lama toh itu tidak ada gunanya, lebih baik ikhlas dan fokus kedepan.Ingat del, mungkin yang lo lakuin itu sangat benar tapi dimata orang lain perbuatan lo itu sangat licik!!!.
Lihat sekeliling lo, banyak del yang sayang sama lo.Jangan pernak kecewain mereka."
"Gue harap lo ngerti!!," sambung Deren.
Tut Tut Tut
Sambungan terputus sepihak.Kaget, pasti.
Adeline masih terpaku mendengar perkataan Deren, dia tahu suara siapa itu.Setiap perkataan Deren membuatnya ingin memangis.Apa dia selicik itu??.
__ADS_1