Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Selamat jalan


__ADS_3

Entah sudah hari keberapa aku masih berada disini, melihat betapa kejamnya wanita itu menyiksa anak kecil yang tak tahu apa apa. Kali ini saat wanita itu selesai memberikan makan aku mencoba mengikutinya keluar dari ruangan bak penjara, lebih anehnya aku bisa keluar padahal selama ini usahaku hanya sia sia.


Ternyata selama ini aku dikurung dirumah nenekku sendiri, dan tidak ada yang tahu kecuali orang yang menemukanku...


Dia


"Akhirnya kamu pulang setelah sekian lama mencampakkanku bersama sahabatku sendiri," ujar wanita itu menghampiri pria dengan tatapan tajam.


"Aku salah sudah mempercayaimu Ros!!!," sahut pria itu dengan mencengkram dagu yang dipanggilnya Ros.


Apa yang sedang terjadi?, kenapa sepertinya dia mengenal wanita ini.


"Bukankah aku yang pantas bicara seperti itu hah!??."


"Dimana anakku?."


"Owhh sekarang baru ingat ya kalau kamu punya anak?."


"Jangan macam macam Ros!!!," wanita itu meringis saat pria itu mencengkram dagunya lebih erat.


"Kamu akan menyesali perbuatanmu Ros!!!."


"Kamu yang akan menyesali semuanya!!!, lihat kemana istrimu saat ini hah?. Bahkan dia tidak pernah menjenguk anaknya setelah kematian ibunya sendiri, aku lebih baik darinya Bram!."


Melihat semua ini membuat kepalaku semakin pusing, udara disini terasa berkurang setiap detiknya. Tolong siapapun bawa aku kembali, kumohon!.


PLAAKK


Tamparan keras mendarat mulus dipipi wanita itu, tidak membuatnya merasa kesakitan justru membuatnya semakin tertawa lepas dengan tatapan ingin menerkam mangsanya.


"Gara gara kamu aku kehilangan bayiku, sekarang aku akan membuatmu kehilangan anakmu juga Bram!!!."


"Apa kau bilang, anak??. Aku tidak pernah punya anak darimu kau itu hanya jalang Ros!!!."


PYYARRR


Satu vas bunga hancur hampir mengenai kepala pria itu, merekq berdua saling tatap dengan mata penuh amarah sampai suara seseorang membuat pandanganku buram.


"Hentikan semua ini!!!," ujarnya dengan isakan tangis membuat pandanganku semakin buram.


"Dimana anakku!??."


Tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu sampai aku terbangun dengan nafas tak beraturan. Ruangan serba putih sudah biasa aku lihat disaat terbangun dari mimpi yang tak pernah baik bagiku.Apa barusan termasuk sebuah mimpi atau sebuah kenyataan?.


"Kak Bian sudah bangun?," suara Lisa mengalihkan pandanganku, wajah cerianya membuatku lupa akan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang kak Bian rasain?, oh sebebtar Lisa panggilin Dokter Anya," aku mencekal pergelangan tangannya, menatap matanya membuat jiwaku kembali dari rasa sakit itu. Sungguh aku hanya ingin memelukmu Lis,kumohon jangan pernah tinggalkan aku sendiri lagi.


"Ada apa kak?."


"Jangan pergi!!!," refleks aku memeluknya, tanpaku sadari air mata yang selama ini tidak pernah menetes kini kembali mengalir begitu derasnya. Aku malu Lisa, selama ini aku hanya seorang pecundang yang sembunyi dari masalah yang tak ingin kuingat.


"Tenang yah kak, Lisa nggak akan pergi kok!," ujarnya mengelus bahuku, kini aku tahu rasa bahagia yang sebenarnya didekatmu Lisa. Rasa itu sudah sembuh, kembali bersama masa lalu.


"Keluarin semuanya kak!, jangan pernah kakak pendam sendiri."


Aku melepaskan pelukan kami dan menatap sayu Lisa, ingin aku ceritakan semuanya. Memory yang selama ini aku kubur dalam dalam.


"Minum dulu kak!," aku menegak habis air yang disodorkan Lisa, sungguh tenggorokanku seperti ladang gersang sampai membuat Lisa tertawa kecil melihatku. Senangnya aku bisa melihatmu tertawa, apa berarti sekarang aku bisa merasakanmu disaat tersenyum, bersedih, dan rasa lainnya.


"Airnya masih banyak kok kak jangan sampai gelasnya diminum juga," guraunya sambil terkekeh dan kubalas dengan senyuman.


"Wahhh mimpi apa Lisa semalam bisa dapat senyuman dari pangeran gembul."


"Mimpi pangeran jatuh dari langit kali Lis," sahut Dokter Anya yang datang dari balik tirai.


"Eh dok kak Bian nggak sakit kan, Lisa takut kak Bian sadar sadar kok jadi aneh apa dia dirasuki penghuni rumah ini ya?," ucapnya membuatku sedikit tertawa, dan dia semakin melotot kearahku.


"Nah tuh kan dok!!!, kak Bian ketawa keatawa sendiri biasanya juga mukanya selalu datar," sahutnya. Aku tahu dia sedang mengalihkan pikiranku setelah apa yang aku alami selama pingsan, dan entah sekarang sudah berapa hari aku disini.


"Itu artinya gembul kamu udah kembali Lisa, masa kamu nggak senang lihat Bian bisa ketawa lagi!."


"Waahh ini benar si gembulkan?___bukan si muka tembok??," tanyanya dengan wajah yang terlihat aneh bagiku.

__ADS_1


"Bukan dua duanya," jawabku.


"Terus siapa dong?."


"Bian hermansyah," jawabku datar.


"Yahhh nggak jadi seneng deh Lisa," sahutnya dengan wajah cemberut. Aku suka ekspresi Lisa disaat seperti ini, akhirnya aku bisa merasakannya.


"Sudah sudah____mendingan kamu kabari sama yang lain kalau hari ini kita bakal balik ke Jakarta," sambung Dokter Anya.


"Tunggu___udah berapa lama gue disini?."


"Dua hari kak, itu tidur apa koma lama banget!," ujar Lisa membuatku kaget, perasaan aku sudah lama bahkan berhari hari diruangan kecil itu.


"Cuma dua hari??___ini masih di Semarang??," tanyaku.


"Cuma kata kakak?___dua hari itu lama loh kak, Lisa aja sampai bisen nunggu kak Bian sadar."


"Terus yang lain?."


"Mereka sudah pulang duluan___oh ya saya mau periksa keadaannya Bian dulu, Lisa tunggu diluar ya sama beresin barang barang biar bisa langsung berangkat!," ucap Dokter Anya.


"Siapp dok!!," Lisa keluar dan tinggalah aku bersama Dokter Anya yang pasti setelah ini aku akan diinterogasi olehnya.


"Ada yang sakit Bian??.".


"Nggak ada Dok, cuma___"


"Cuma apa??," tanyanya sambil tersenyum.


"Cuma itu emm___"


"Lapar??," aku menyengir saar Dokter Anya tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang, bagaimana tidak lapar waktu dua hari itu cukup lama untuk tidak mengisi nutrisi apapun.


"Oke tenang aja nanti kita cari makan dijalan___ yang penting saat ini kamu sudah menemukan jalanmu bukan?."


"Bian udah ingat semuanya Dok," sahutku tersenyum kecut menatap lurus kedepan.


"Kali ini saya tidak akan tanya tanya kamu, yang terpenting jangan terlalu memikirkan masa lalumu. Anggap semua itu hanyalah mimpi buruk dan pikirkan masa depanmu !."


"Itu sudah menjadi tugas saya___pesan terakhir saya semakin semangat yah ngejar Lisa jangan sampai dicuri kucing hhmm!?," ucapnya tersenyum jahil dan hanya kubalas senyuman.


Bian Pov End


.


.


.


.


.


.


.


Di lain tempat saat ini Kayla, Devi, Dito, dan Rian sedang menikmati makan siang dikantin kampus. Mereka tampak senang mendengar kabar bahwa Lisa akan kembali hari ini. Sudah dua hari mereka tidak bertemu membuatnya merindukan si muka tembok.


"Mereka ngapain aja sih disana? Liburan kok sampai kelewat rencana," ujar Kayla diangguki Rian dan Dito.


"Lo tanya kita terus kita tanya siapa hah??, gue aja nggak tahu____kita kan pulang bareng dan nggak muncul tuh dua hidung sejak dari air terjun," cerocos Devi.


"Iya iyah sih___au ah bingung gue mikirin mereka berdua."


"Bukan urusan lo kali Kay mikirin mereka berdua, mungkin mereka lagi hanymoon diam diam ya nggak?," sahut Rian.


"Wahh gila lo, kapan nikahnya tiba tiba hanymoon," sambung Dito.


Saat asyik mengobrol Devi kembali merasakan jika tangannya tidak bisa dikontrol, pergelangan tangannya bergetar membuatnya menjatuhkan gelas yang dipegang.


PPYYARRR

__ADS_1


Aduh pliss jangan kali ini dong, nanti aja kalau dirumah, batin Devi.


"Astaga___ ya ampun Dev kenapa sampe jatuh sih bikin kaget aja!," ucap Dito.


"Tangan gue licin," saat hendak membersihkan pecahan kepala nya kembali terasa ditikam benda tajam.


Apa ini saatnya mereka tahu, batinnya.


"Udah Dev nggak usah dibersihin," sahut Rian.


"Dev hidung lo!!," ucap Kayla panik menunjuk hidung Devi yang mulai keluar darah kental.


"Lo mimisan lagi?," sambung Rian mengambil sapu tangan dari kemejanya dan memberikannya ke Devi.


"Gue ke kamar mandi dulu!," dengan terpaksa Devi menguatkan diri berjalan menahan sakit dikepalanya, usahanya sia sia disaat semuanya terasa gelap.


"Devi!!," teria ketiganya menghampiri Devi


Mereka segera membawa Devi kerumah sakit terdekat, air mata tak terelakkan keluar dari ketiganya melihat sahabatnya masuk ruang ICU.


"Bilang sama gue Devi baik baik aja kan!?," teriak Kayla mengguncang bahu Rian.


"Gue tahu Devi perempuan kuat___dia akan baik baik saja Kay, lo tenang yah kita doa in sama sama!," sahut Rian menuntun Kayla duduk dikursi tunggu.


"Lo ngerasa nggak sih kalau Devi itu lagi sakit?, akhir akhir ini muka dia kelihatan pucat," sambung Dito.


Mereka saling tatap dengan pikiran masing masing.Kayal teringat waktu mereka pulang dari Semarang Devi pernah bilang jika dia pergi Kayla harus membuka buku dier daerynya.Devi juga memberikan kode sandinya. Begitupun Rian yang mulai paham akan ucapan kenangan Devi waktu diair terjun, rasa khawatir bertambah saat dokter dari dalam terdengar berkata bahwa detak jantung pasien melemah.


Dari jendela kaca mereka bertiga melihat bagaimana keadaan Devi didalam, mereka tahu saat ini keadaan Devi tidaklah baik. Sungguh hati mereka terasa hancur saat melihat Dokter menggunakan alat pemicu jantung kedada Devi, dan disaat itulah Kayla berteriak dengan tangis yang tak kuasa ia bendung lagi. Rian dan Dito hanya bisa mengeluarkan buliran bening tanpa mampu mengeluarkan kata kata.


Tiiitttt______


Suara nyaring itu terdengar sampai keluar ruangan, sepeeti mimpi mereka melihat sahabatnya memejamkan mata tanpa sepatah kata. Hanya tangis yang mewakili perasaan mereka saat ini.


"Nggak___ ini nggak mungkin!!!," ucap Rian lirih, sedangkan Kayla menerobos masuk kedalam tapi langkahnya terhenti tak kala melihat Devi terbujur kaku dengan wajah pusat pasi.


"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkehendak lain," ucapan sang Dokter membuat Kayla luruh kelantai dengan tangisannya yang semakin histeris membuat beberapa suster melihatnya iba.


Dito mendekati ranjang Devi dengan tubuh gemetar, sungguh dia tidak ingin kehilangan sahabatnya. Apalagi selama ini teman Dito ribut hanyalah Devi.


"Kalau lo pergi nanti siapa yang bakal ngomelin gue?___kenapa lo pergi secepat ini hah?," ujar Dito menatap Devi yang hanya Diam, tidak lagi seperti Devi yang selalu cerewet.


"Bangun Dev___ gue bakal dengerin omolen lo kok, gue janji nggak bakal buat lo jengkel gara gara otak gue yang oon," sambungya.


Sedangkam Rian tak henti hentinya memukulkan tangan ke dinding, sampai darah perlahan keluar. Rasa sakit ditangannya tidak seberapa dari apa yang dia rasakan saat ini. Dunianya terasa hilang saat melihat orang yang tak pernah dia tahu akan perasaannya selama ini, apakah dia tahu bahwa Rian selama ini memendam rasa kepadanya.


"Andai lo tahu Dev, waktu itu gue serius___kalau gue suka sama lo," ujar Rian penuh penyesalan, kata kata saat barbeque dulu memang benar adanya jika dia menyukai Devi, tapi kata kata itu tidak pernah dia ungkapkan langsung.


Waktu sudah berlalu, dan tiada hari yang tiada sesal. Semua pasti berlalu membawa sebuah penyesalan. Hanya sebuah rasa yang bisa membuat kita lupa akan dunia.


"Selamat jalan Dev___ maaf gue nggak bisa jujur!," sambungnya.


Kayla berusaha bangkit mendekati ranjang Devi, hancur saat dia menyentuh tangan Devi yang teramat dingin. Beberapa tahun lamanya dia bersama Devi membuatnya susah menerima apa yang terjadi.


"Kenapa lo pergi tanpa pamit Dev___apa selama ini lo nggak pernah anggap gue sahabat?."


"Jawab Dev!!!!," teriak Kaylasambil mengguncang tubuh Devi.


"Cukup Kay!," sahut Dito mengusap kasar wajahnya.


"Gue nggak akan maafin lo Dev,kecuali___ buka mata loo!!!," lagi lagi Kayla mengguncang tubuh Devi sampai Rian menarik tubuh Kayla menjauh.


"Sadar Kay___nggak gini caranya!."


"Sadar??. Seharusnya lo bilang ke Devi___suruh dia sadar!!! dia bikin Prank nggak lucu banget tahu nggak!?,"Rian dan Dito hanya bisa menatap sendu kearah Kayla.


"Ikhlasin Devi Kay!," sahut Rian.Mendengar itu tangis Kayla kembali meraung raung.


*****


Yah kok baru up sih thor lama bat dah nggak up😡


Maapin yaa, gegara author kurang fit jadi lama nggak up🙏

__ADS_1


Like and komen jan lupa, eehh Vote juga yaaa🥰


__ADS_2