Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Muka tembok


__ADS_3

Lisa Pov


Setelah acara debat unfaedah itu gue melajukan montor kerumah Kak Bian.Daripada jaket ini dirumah yang ada adek durjana alias si Dion nggak bakal henti hentinya menjahiliku, dan jangan sampai dia benar benar mengadu ke Rasyad.


Jarak rumah ke rumah kak Bian cukup jauh sih, kalau nggak karena jaket ini ogah gue kerumahnya.Waktu kecil gue sering main sama kak Bian tapi entah kenapa sekarang rasanya beda, mungkin gara gara sifat kak Bian berubah.Nggak seasik dulu.


*********


"Akhirnya nyampe' juga." Semoga gue nggak ketemu sama tuh muka tembok.


Tok Tok Tok


"Assalamualaikum." Ujarku.


"Waalaikumsalam." Tante Luna keluar masih menggunakan celemek, sepertinya dia lagi masak sarapan.


"Haii tante." Sapaku.


"Haii Lisa, tumben pagi pagi kesini. " Tante Luna tersenyum.


"Ehh iya tante." Jawab ku masih kaku.


"Ya ampun masuk dulu yuk." Tante luna menarik ku masuk keruang tamu. Gue celingak celinguk takut muka tembok itu keluar batang hidungnya hehehe...


"Eheemm cari siapa nih." Deheman tante Luna berhasil membuat ku kaget, malu kan jadi ketahuan.


"Ehh nggak nyari siapa siapa kok tan,, oh iya ini Lisa cuma mau balikin jaket nya kak Bian." Ujar ku.


"Kok bisa sama kamu??."


"Itu kemarin aku pinjem tan." Gue cuma bisa cengengesan kalau tante Luna tau kenapa nih jaket ada sama gue.


"Ohh bentar ya tante panggilin Bian."


"Eh nggak usah tante, aku nitip aja soalnya lagi buru buru."


"Ohh ya kamu mau kemana rapi amat." Tanya tante Luna.


"Mau jalan sama temen temen tante." Gue tersenyum, sebisa mungkin hormat lah sama tante Luna, tau deh nanti kalo sama anaknya.


"Eemmm..." Tante Luna seperti sedang berfikir, jadi deg deg an apa sih yang dipikirin.


"Ada apa tante??."


"Gini kamu mau nggak bantu tante." Tanya tante Luna.


Kalau udah bilang 'bantu' sih pasti ngarahnya ke muka tembok astagaa, mau bilang nggak mau tapi kan nggak enak.


"Mau kok tan, bantu apa ya?." Tanyaku.


"Rencana kita kemarinkan gagal gimana kalau kamu ajak Bian jalan bareng, selama ini jarang yang mau temenan sama Bian." Jelas tante Luna.

__ADS_1


Iyakan benar dugaan gue.


Gimana ada yang mau dianya aja susah diajak bicara...


"Tapi tan apa kak Bian mau??."


"Biar nanti tante kasih alasan biar mau ikut. Hitung hitung buat kalian lebih deket " Senyum tante Luna menaikkan satu alisnya. Mungkin gue harus banyak nabung kesabaran kalau lagi sama kak Bian.


"Emm iya aja deh tan." Jawabku tidak pasti.


Kalau nolakkan nggak mungkin, gue udah janji mau bujuk kak Bian supaya mau terapy. Cara satu satunya harus deket dulu lah sama orangnya kalau nggak mana mungkin bisa bujuk simuka tembok itu.


"Tante panggilin dulu yah." Tante Luna naik keatas.setelah menunggu Tante Luna sama Kak Bian turun berjalan mendekati ku.


Rasanya benar benar malu,ini mah seperti gue yang sedang PDKT..


"Yaudah kalian berangkat gih" Ujar tante Luna.


Wah pake jurus apa ya tante Luna bisa bujuk nih orang??.


"Ohh kak Biannya mau??." Tanya gue basa basi lah, kalau nggak mau ngapain dianya turun.


"Pasti Bian mau." Jawab tante Luna.


"Kita berangkat dulu ya tan Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam hati hati ya, tante kedalam dulu lupa tadi lagi masak air." Tante Luna pergi kedapur,jadi canggung kan.



"Haa ehh emm." Kenapa gue jadi gagap sihh.


"Naik montor kak."


"Naik montor gue aja."


"Ohh oke." Kenapa gue main nurut aja sih, ohh ya kata dokte Anya kan sebenarnya kak Bian ini nggak bisa mengungkapkan ekspresi dan melihat ekspresi orang lain.


Gue jadi bingung gimana lihat sama ngungkapin ekspresi gue sama dia. Bodo amat lah yang oenting dianya masih nyambung kalau diajak bicara.Jadilah gue boncengan, lagi lagi ngelanggar janji.


Belum tentu jugakan kalau Rasyad disana nggak deket deket cewek jadi nggak masalah dong kalau gue disini deket sama cowok.


*********


"Disini??." Tanyanya.


"Iyah." Gue turun dari montor ternyata mereka sudah datang duluan, gimana gue nggak telat coba'?? mampir dulu ke rumah orang, lihat deh pasti kena omelan gue hufftt.


"Lo tuh lama amat sih Lis." Ujar Kayla.


"Ini udah jam berapa bu kok baru dateng."Sambung Devi.

__ADS_1


"Ckk janjiannya jam berapa datengnya jam berapa." Ujar Rian, baru aja nyampek udah kena semprot gue..


"Lo kenapa bawa robot sih Lis??." Tanya Dito.


Gue celingak celinguk nyari Robot yang dia bilang,perasaan gue nggak bawa robot deh.


"Hahahahaa...." Mereka tertawa sampai sampai gue baru ngeh siapa yang dimakhsud 'Robot' itu, benar benar Dito kalau ngomong nggak dicerna dulu..


"Nggak usah gitu deh." Langsung aja gue bentak mereka, lagsung pada diem kan.


Gue menelisik wajah Kak Dion, takut takut dia tersinggung tapi nggak ada tuh ekspresi diwajahnya.Dia tau nggak ya ekspresi kita tadi, mungkin dia nggak ngeh deh...


"Maaf ya kak kebiasaan mereka kalau bercanda nggak disaring dulu." Ujarku, Kak Bian hanya mengangguk.


"Santai aja kali' Lis." Ujar Dito.


"Gue nggak suka kalian kayak gitu, maaf gue telat "


"Santai aja kok Lis, kayak bukan Lisa yang gue kenal deh minta maaf segala." Ujar Kayla.


"Yaudah kita berangkat sekarang " Ajak Rian.


Tujuan kita sih biasa cuma jalan jalan ke mall.Diperjalanan gue inisiatif ngajak Kak Bian ngobrol terus, biar lebih deket aja dan nggak canggung.


Supaya lebih mudah bujuk buat pengobatan lagi, sebenernya gue juga pengen kak Bian kembali seperti dulu lagi yang suka bikin gue tertawa sampai kencing dicelana,, uppss itu masa keci lho yaaa..


"Kak." panggilku, tapi nggak ada balesan.Pikirku kurang kenceng kali ya.


"KKAAAKKK."


Ccciiitttt


Refleks gue langsung meluk kak Bian, serasa copot jantung gue. Kak Bian juga kenapa ngerem dadakan gini. Gue bener bener takut kalau dibonceng apalagi dulu pernah kecelakaan montor gara gara dibonceng kak Deren.


"Kenapa teriak sih??." Tanya kak Bian,gue nggak bisa tau dia marah atau nggak.Suaranya benar benar datar tapi terdengar tajam.


"Takut kak." Ujarku yang tanpa sadar masih memeluknya, badan gue gemetar kejadian ini mengingatkan kembali masa itu.


Kak Bian menepikan montornya, dan meleoaskan pelukanku.Aku yang setengah sadar jadi tambah gemetar deh...


"Ma..maaf kak." Dia turun dari montor berjalan entah mau kemana, dia nggak tau apa gue masih ketakutan kayak gini malah ditinggal.


Beberapa menit entah dia kemana tiba tiba nongol dan.


"Maaf lama." Ucapnya, bisa minta maaf juga nih orang.


Cuma gue balas anggukan lah seenaknya main tinggal,


udah bikin jantung mau copot juga..


"Niihh.." Ya ampun ternyata...

__ADS_1


__ADS_2