Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Berakhir


__ADS_3

Tangisan menyelimuti kediaman keluarga Devi, setelah melawati beberapa proses dari rumah sakit jenazah Devi dipulangkan kerumah orang tuanya. Bahkan kedua orang tua Devi baru mengetahui bahwa Devi mempunyai penyakit keras setelah Dokter menyampaikan yang sebenarnya. Terpukul, kecewa, marah, semua rasa itu bergejolak dihati mama dan papa Devi. Sungguh mereka menyesali semuanya, tidak berguna untuk anak semata wayang mereka dikala Devi sangat membutuhkan mereka berdua.


Dilain sisi Lisa dalam perjalanan menuju pemakaman Devi, karena tidak mungkin mereka menunggu Lisa dan Bian karena perjalanan Semarang ke Jakarta tidaklah dekat. Begitupun Baren yang baru mendapatkan kabar disaat jenazah Devi hendak diberangkatkan. Kaget, itu pasti. Sedih, sangat.


Semua ini terlalu cepat,tidak ada kata perpisahan. Tidak ada lagi kata yang dapat mewakili sebuah rasa.


Awan mendung menyelimuti pemakaman Devi, bumi pun ikut berduka saat ini. Tangis tiada henti menetes dipermukaan tanah.


"Gue nggak nyangka lo akan pergi secepat ini," ujar Baren dari kejahuan melihat tubuh tak bernyawa itu dimasukkan kerumah barunya. Dengan langkah lunglai Baren mendekat, dia ingin berguna diakhir kisah yang tak pernah dimulai.


"Boleh saya bantu?," semua orang menoleh menatap Baren.


"Untuk terakhir kali____saya mau membantu pemakamannya," sambung Baren diangguki mama Devi.


Baren masuk kedalam lubang, sekuat tenaga dia menahan hujan yang kapan saja bisa luruh. Dengan tangan gemetar Baren dan orang lainnya mulai mengangkat Devi.


Meski Lisa tidak datang secara langsung, tapi dia dapat melihat proses pemakaman dengan ber vidio call di hp Kayla. Tiga orang didalam mobil menyaksikan terakhir kalinya mereka bisa melihat Devi.


Tangis Lisa pecah saat suara adzan dikumandangkan dari liang kubur sahabatnya sendiri.Begitu juga dengan Dokter Anya dan Bian yang ikut merasakan kesedihan walaupun mereka baru mengenal sosok Devi yang tak pernah sedikitpun mengeluh akan apa yang dirasakannya selama ini, sendiri.


"Bilang sama Lisa kak____semua ini salah kan?, dia bukan Devi kak___bukan!!!," ujar Lisa dengan isakan, Bian tak mampu berkata kata lagi. Yang diperlukan Lisa bukanlah sebuah kata tetapi sebuah pelukan hangat darinya.


"Nggak kak___Devi nggak mungkin pergi gitu aja hikksss___Lisa sayang Devi kak, kenapa Devi jahat___dia pergi tanpa pamit apapun kak hiksss kenapa??," racauannya menenggelamkan kepala didada Bian.


"Hari itu pasti akan datang Lisa, bukan Devi saja yang pergi___mungkin satu persatu dari kita akan pergi."


"Kita hanya perlu ikhlas," sambung Bian.


"Apa kak Bian juga akan pergi ninggalin Lisa sendirian?," tanya Lisa melepaskan pelukannya.


Bian menatap dalam mata Lisa, mungkin semua itu akan terjadi. Tidak semua orang ditakdirkan untuk selalu bersama.


Mungkin suatu saat nanti, tapi tidak sekarang Lis batin Bian.


"Kenapa diam kak??__kak Bian juga mau pergi??," teriak Lisa memukuli lengan Bian.


"Nggak akan Lis," Bian menarik Lisa kedalam dekapannnya.


Pemakaman sudah selesai satu jam yang lalu, meninggalkan seorang pemuda yang masih setia menemani tanah yang masih basah didepannya. Hatinya begitu hancur menerima kenyataan ini akhirnya terjadi juga. Tapi dia tidak menyesal jika pernah menyerahkan separuh hidupnya kepada seseorang yang juga telah mencuri dan membawa hidupnya pergi.


Satu persatu tetesan air turun membasahi jiwa yang hilang bersama waktu.


"Gue bahagia bisa kenal lo Dev____tapi kenapa kebahagiaan itu hanya sesaat??," ujar Baren.


Hujanpun jatuh begitu derasnya, mengguyur bumi yang sedang berduka. Tanpa dihiraukannya, dia terus menatap sendu tanah bertabur bunga. Tempat peristirahatan terakhir orang yang amat dicintainya akhir akhir ini. Sungguh malang nasib Baren disaat cinta yang dianggapnya suci telah melukainya.


"Asal lo tahu Dev, gue nggak pernah seserius ini sama perasaan gue sendiri___ sebelum gue kenal sama lo, gue nggak pernah anggap serius bagaimana rasanya benar benar mencintai."


"Gue selalu anggap mereka hanya mainan, tapi sejak gue kenal sosok kayak lo, sifat lo yang selalu bikin gue kangen____ gue sadar kalau gue benar benar cinta sama lo Dev, gue sayang sama lo____tapi kenapa lo pergi disaat gue benar benar inginkan lo Dev?," sambung Baren.


Baren menatap keatas saat hujan terasa tak lagi membasahinya, wajah sayu Lisa tersenyum kecut menatap Baren. Baren beralih melihat Bian dan Dokter Anya dengan memberikan senyum kecil, bahkan hampir tak terlihat.


"Semuanya sudah terlambat Lis."


"Kenapa gue datang disaat akhir hidupnya?," sambung Baren. Lisa duduk berjongkok dan kembali meneteskan buliran bening dari kelopak matanya, mengelus nisan Devi membuatnya teringat kenangan kenangan disaat mereka bersama.


"Mungkin sebuah akhir lebih menyenangkan daripada sebuah awal," sahut Lisa.


.


.


.


.

__ADS_1


Tiga hari setelahnya mereka berkumpul diapartemen Devi membereskan barang barang untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.


Sejak kepergian Devi membuat Bian lupa akan keingintahuannya menggali apa yang dilihat, dia ingin menanyakannya tetapi waktu seperti mencoba menghentikan.


"Itu apa Kay?," tanya Lisa saat Kayla mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci.


"Ini buku catatan Devi, dulu dia pernah bilang ke gue kalau dia pergi gue disuruh baca ini," jelas Kayla berjalan duduk disofa sebelah Lisa. Rian, Dito, dan Bian pun ikut mendekat.


"Coba baca Kay!," ucap Dito.


"Untuk kalian yang baca ini sebelumnya gue minta maaf, mungkin saat ini gue udah nggak ada lagi dan nggak bisa lihat kalian bahkan gue nggak bisa lihat kalian bahagia bersama orang yang kalian pilih menjadi pendamping hidup.


"Gue nulis ini cuma mau ngomong, jangan pernah lupain gue yah!


Jangan marah kalau gue nggak bisa jujur sama kalian."


Kayla berhenti membaca untuk menghapus airmatanya yang semakin luruh.


" Jangan nagis dong, hapus ya air matanya! Gue nggak mau kalian terus terus nangisin gue, walaupun selama ini gue resek tapi gue tahu kok kalau kalian sayang sama gue___"


"Lo kira selama ini kita nggak sayang apa sama lo Dev!!," potong Dito sedikit berteriak.


"Seharusnya kita tahu sebelum Devi cerita___gue berasa gagal jadi sahabatnya," sambung Lisa.


"Kalian nggak gagal kok, emang semua ini sudah jalannya!," sahut Bian.


"Buat Dito cepet punya do'i yah, jangan jomblo mulu bisa bisa otak lo tambah gesrek____"


Mereka semua tersenyum bersamaan dengan air mata yang terus mengalir.


"Hai yan nggak usah nyesel, gue tahu kok kalau ucapan lo waktu truth or dear dulu serius___," semua menatap Rian penuh selidik, Rian hanya bisa tersenyum sayu.


"Tapi sorry yan gue nggak akan bisa balas perasaan lo___"


"Sial lo Dit!," ujar Rian mengusap air mata sedih bercampur senang, ternyata Devi tahu akan perasaannya.


"Hai kembaran gue yang paling cantik!!, Kayla gue tahu kok kalau patah hati itu nggak ada obatnya. Tapi jangan lagi lo jatuh kelubang yang sama . Gue harap lo bisa jujur sama hati sendiri, jangan menoleh kebelakang terus yah!. Kalau dia nggak mau jujur mending lo duluan daripada nanti diambil orang!___"


"Emang lo suka sama siapa Kay?," sahut Lisa.


"Gue nggak suka sama siapa siapa__makhsudnya Devi itu gue harus move on dari Ar gitu!, udah ah lanjut," elak Kayla.


"Yang terakhir buat Lisa sama kak Bian, gue harap kalian bisa menemukan kebahagian masing masing. Jujur sebenarnya gue suka lihat kalian berdua bisa bersatu, tapi itu hanya khayalan gue sih!."


Lisa dan Bian saling tatap tanpa mengeluarkan kata yang tak bisa terungkapkan.


"Udah itu aja yang bisa gue ungkapin ke kalian. Gue berharap kalian semua bahagia, jangan sedih terus gara gara gue ya! Selamat tinggal___"tangis Kayla dan Lisa kembali pecah.


"Gue sayang sama kalian," sambung Kayla.


"Gue juga sayang sama lo Dev," sahut Lisa, mereka saling berpelukan sambil meluapkan isakan yang terpendam.


.


.


.


.


.


.


Satu tahun berlalu begitu cepat, perlahan dan pasti duka mereka hilang ditelan waktu. Berusaha keluar dari kesedihan tidaklah mudah,meski kita harus tetap mengikhlaskan.

__ADS_1


Sore ini Lisa tidak menyangka akan kedatangan tamu tak diundang. Perasaannya menjadi tak karuan, antara rindu dan hampa menjadi satu. Semuanya tak seperti dulu.


"Apa kabar?," tanya pemuda itu berdiri didepan Lisa yang masih terpaku.


Dikejahuan Bian melihatnya, saat akan masuk kehalaman rumah Lisa. Bian tetap diam didepan pagar memandangi Lisa dan pemuda itu dengan tatapan sendu.


"Aku kangen sama kamu Lis," ucapnya memeluk Lisa tanpa balasan.Bian tersenyum getir dan melangkah mundur menjahui rumah Lisa, tidak luoa dia membuang bunga yang akan diberikan Lisa sebelumnya.



"Sudah tiba waktu dimana semua ini akan berakhir," monolog Bian melajukan motornya.


Sesampainya dirumah Bian mencari sosok mamanya yang sedang memasak didapur, dia langsung bicara membuat luna terkejut.


"Batalin perjodohan Bian ma."


"Astaga___kamu nih ya Bi ngagetin aja."


"Ehh tunggu apa kamu bilang??," sambung Luna.


"Batalin perjodohannya, sampai disini aja mah."


"Kenapa sayang?___jangan gegabah dulu jelasin sama mama!."


"Lisa sudah menemukan kebahagiannya kembali, Bian juga akan pergi___ toh Bian udah selesai wisudakan!," sahut Bian mengambil apel dan memakanmya dengan santai.


Setelah Bian pergi Lisa melepaskan pelukannya dari Rasyad, yah pemuda itu adalah Rasyad. Rasyad tersenyum begitu manis dengan tatapan rindu, berbeda dengan ekspresi Lisa saat tahu Rasyad ada didepannya.


"Kenapa lo disini??," tanya Lisa membuat Rasyad mengernyit bingung.


"Kok kamu nanya gitu sih?, emang kamu nggak kangen sama aku?."


"Aku nggak mau bertele tele Ras."


"Gini deh, gue tanya sama lo emang selama ini perasaan kita masih sama seperti awal?," sambung Lisa.


"Sayang aku tahu kamu marah, gara gara aku nggak kasih tahu kalau aku pulang hari ini___"


"Gue nggak marah Ras," potong Lisa.


Mereka berdua saling diam, Rasyad masih memahami keadaan ini sekarang. Dia tahu dari pancaran mata Lisa sudah tidak ada lagi cahaya untuknya. Tidak ada lagi kata manis yang dia bayangkan.


"Semua ini sudah berakhir Ras, sejak lama," ujar Lisa lalu menutup pintunya tanpa menghiraukan Rasyad yang terus memanggili namanya.


Rasyad menatap buku yang dipeganginya sedari tadi, rasa sesak didadanya semakin kuat melihat kebelakang, kisah antara dia dan Lisa yang telah usai.


"Seharusnya gue bikin sad ending___bukan happy ending," monolognya meremas novel karyanya yang seharusnya dibaca Lisa saat ini. Tapi tidak seperti yang diharapkannya, kisah nyata lebih menyakitkan daripada kisah kehaluannya.


.


.


.


Mau tanya siapa yang mau dilanjutin ke season 2 ???


Komen dibawah yaa🤗


Atau bikin cerita baru??, kalau cerita baru udah ada sih tinggal rillis___ tapi author ikut aja mau krya baru atau lanjut ke season 2.


Ada sedikit bocoran tentang krya baru, kalau kepo bisa cari tahu di @naoki_miki12


jan lupa like and komen🥰


Vote juga yahh🥳

__ADS_1


__ADS_2