
Kota Berlin, Jerman
Sepulang dari kampus Rasyad langsung menuju kantor penerbit milik Baren. Tekadnya sudah matang untuk belajar menulis karyanya sendiri.
Seharian ini Rasyad dan Baren sibuk membuat novel terbarunya. Tapi sedari tadi Rasyad sulit berfikir, suasana hatinya juga tidak enak. Yang melintas dipikirannya cuma wajah Lisa.
"Aaisshh susah banget sihh." Dengan kesal Rasyad mencoret coret buku yang sudah penuh coretan.
"Cckk hemat buku woyyy!!!." Ujar Baren mendudukkan tubuhnya disamping kursi Rasyad.
"Dari tadi gue lihat lo cuma coret coret buku ajaa, nulis..coret...nulis...coret...ada masalah ya??." Sambung Baren.
"Nggak tau pusing gue." Rasyad menjabak rambutnya frustasi.
"Kalau pusing mah minum obat!!!bukan malah nulis." Baren menyesap rokok yang baru dinyalakan.
"Yaelahh huuffttt...." Rasyad membuang nafas kasar, kedatangan Baren malah membuatnya tambah pusing.
Bukannya memberi solusi tapi menambah kefrustasiannya.
"Hahaaahaa....bercanda bro, emang kenapa sih??galau amat." Baren merasa lucu melihat wajah Rasyad tambah frustasi
"Dari tadi perasaan gue kok nggak enak yah." Wajah Rasyad terlihat khawatir. perasaan dan otaknya sudah dipenuhi wajah Lisa, Lisa, dan Lisa.
"Nggak enak kasih kucing aja kan beres!!!." Baren mengangkat kedua tangan sebelum Rasyad melempar pensil kearahnya.
"Eeittss...oke gue serius sekarang, baper amat lo."
"Menurut pengalaman gue nih kalau perasaan nggak enak itu mungkin terjadi sesuatu sama seseorang atau orang itu lagi mikirin lo.Mangkanya lo juga kebawa perasaan, jadi seperti ikatan batin antara kalian. Emang lo lagi kepikiran sama siapa??." Jelas Baren panjang lebar.
Rasyad mendengar baik baik penjelasan Baren, dan pertama kali yang dipikirkannya adalah Lisa. Ada apa dengan Lisa??. Apa kata kak Baren benar?? seputar pertanyaan itu memenuhi otaknya, sampai jitakan dikening membuyarkan lamunan Rasyad.
"Aahh sakit kak." Protes Rasyad mengelus bekas jitakan Baren yang terasa panas.
"Salah siapa udah dijelasin malah ngelamun."
"Yhee emang gue percaya apa sama gituan." Sahut Rasyad.
"Lo itu ya udah dibilangin juga nggak percaya??Rasyad emang lo lupa kalau gue itu...."
"Penulis, okeyy penulis selalu benar!!!!." Rasyad memotong ucapan Baren dengan nada penuh penekanan.
"Nahh itu tau, terus??."
"Terus apa??."
"Wahh minta diserep nih anak." Baren bersedekap dada menatap Rasyad jengah.
"Apa terjadi sesuatu sama Lisa??atau gue yah yang kangen sama dia??."
"Lisa??." Baren menautkan kedua alisnya.
"Eemm dia..."
"Pacar??." Potong Baren dibalas anggukan dari Rasyad.
__ADS_1
"Wahh kak Baren udah punya pacar?? siapa kak??." Adeline yang baru datang mendengar kata pacar dari mulut Baren langsung mengira bahwa kakak sepupunya itu mempunya kekasih.
"Gebetan aja belum punya apalagi pacar." Jawab Baren enteng.
"Lah tadi gue denger pacar?? siapa??." tanya Adelin bingung.
Baren ragu mengatakanya, dia tahu bagaimana perasaan Adeline terhadap Rasyad.
"Maaf dek kaka harus jawab,, emmm pacarnya Rasyad."
Jadi bener Rasyad udah punya pacar, batin Adeline
Adeline menatap Rasyad meminta penjelasan langsung, Rasyad mengerti makhsud dari tatapan itu. Dia pun menjelaskan bahwa perasaannya sedang kacau karena Lisa. Juga menjelaskan siapa itu Lisa dan hubungannya selama ini dengan kekasih jauhnya itu.
Wajah Adeline berubah sendu, ingin dia tumpahkan tangisnya jika tidak tahu kondisi nya sekarang ini bersama Rasyad. Baren sangat tau Adeline berusaha tegar, pasalnya ia sangat mengenali sosok Adeline. Dari dalam dia mudah rapuh tapi diluar Adeline sosok periang.
"Emm apa gue telfon aja ya??." Tanya Rasyad.
Baren menatap sekilas Adeline sebelum menjawab.
"Ya udah telfon aja!!!."
Rasyad segera mendial nomer Lisa. Tapi tiga panggilannya tidak ada respon sama sekali, padahal nomer Lisa berdering.
" Kok nggak diangkat sihh,, Lis jangan bikin gue tambah khawatir."
Keluh Rasyad mengusap wajahnya kasar. Kekhawarirannya bertambah karena Lisa tidak kunjung mengangkat telefon.
"Emm sabar Ras mungkin Lisa lagi sibuk." Ujar Adeline
Beberapa menit mereka saling diam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Sampai pertanyaan dari Baren membuat Rasyad sadar.
"Ehhh kemarin kalian foto berdua dimana??bagus loh tempatnya. Nggak ajak ajak lagi..." Baren memasang wajah kesal.
"Kaka kok tau??." Tanya Rasyad.
"Ckk gimana sihh lo yang nge posting kok malah balik tanya."
"Ngeposting??." Rasyad nampak berfikir, dia nggak pernah mosting apapun. Saat sadar sesuatu Rasyad menatap Adeline yang celingak celinguk kebingungan.
"Del.." Panggil Rasyad.
"Ehh...i..iyaa??." Jawab Adeline gugup.
Rasyad membuka IG nya dan benar dia melihat foto mereka berdua ditaman waktu itu dengan caption 'berharga sepeeti berlian'.
"Lo jelasin ini apa makhsudnya??." Rasyad menunjukkan postingan itu.
"Emm sorry gue cuma iseng ajaa." Adeline menyengir sambil menggaruk lututnya yang tidak gatal.
"Kenapa lo posting Haahhh????pasti gara gara ini Lisa nggak angkat telefon gue." Rasyad berdiri dari duduknya, dia juga bicara dengan nada tinggi menatap Adeline tajam.
Mendengar itu Adeline kaget, baru kali ini Rasyad membentaknya. Dadanya terasa sesak dan tanpa diperintah setetes air berhasil keluar dari netra hitam miliknya.
Baren yang melihat Adeline mulai menangis tidak membiarkan itu terjadi. Dia menarik kerah Rasyad dan dengan tatapan tajam milik Baren membuat Rasyad berusaha meredakan amarahnya.
Rasyad sadar dia tidak seharusnya membentak Adeline.
__ADS_1
"Udah gue bilang, gue nggak suka sama cowok kasar dan lo udah berani bentak adek gue?." Ucap Baren lirih tapi penuh penekanan disetiap kata.
"Lepasin Rasyad kak,, Adel yang salah." Air mata yang sedari awal sudah ia tahan terus mengaliri pipinya.
Baren melepaskan cekalan itu, tapi tatapan Baren tak lepas dari Rasyad.
"Gue minta maaf Ras kalau Lisa salah paham gara gara foto itu, gue janji bakal bantu jelasin kok." Ucap Adeline sesenggukan.
"Udah malem kak Adel pulang dulu." Tanpa mendengar panggilan Rasyad Adeline terus berjalan menuju mobil dengan tangis tak henti henti.
Gue udah salah naruh harapan sama lo Ras, gue kira lo cahaya terang yang akan mengubah kegelapan dihidupku.
Batin Adeline
*******
Di lain tempat
"Kok nggak lo angkat Lis??." Tanya Kayla.
"Gue nggak mau ngomong sama dia dulum"
"Ouuhh dari Rasyad??." tanya Devi dibalas anggukan dari Lisam
"Seharusnya lo angkat dong Lis!!!." Sahut Rian.
"Betul tuh, biar gue omelin habis habisan itu anak. Udah bikin sakit hati anak orang,sampai lo jatuh pasti gara gara ini kan??emmm... jangan sampai hubungan lo berakhir kayak gue Lis." Cerocos Kayla lirih diakhir ucapannya. Mereka semua menatap Kayla iba.
Tidak semudah itu melupakan hal termanis dan terpahit dihidup ini.
Batin Kayla.
"Gue ngerti makhsud lo Kay,, tapi gue juga butuh waktu."
"Yaelahh kalau pada mewek gini kapan nih kita Barbeque nya??." Sela Dito mengambil alih tentengan kresek ditangan Rian.
"Makann aja luu pikirin,, nggak kasihan apa Lisa habis jatuh masak disuruh manggang manggang." Protes Devi.
"Kan bisa gue, kalian mah tinggal nikmati aja...ya nggak yan??." Tanya Dito melirik Rian.
"Yuppss... biar ilangis streess lahh yokk!!!." Ajak Rian beranjak mendahului mereka.
"Tapi kan..."
"Udah bantuin gue jalan, masih agak sakit ini!!!." Lisa memotong ucapan Kayla.
"Daripada mewek mewekan kita have fun ajaa."Sambungya.
"Tumben lo waras."Sahut Kayla.
"Yeehh jahat luu."
Lisa berusaha tenang karena dia tidak ingin terlihat lemah didepan teman temannya, apalagi sekarang ada kak Bian sama kak Deren. Jika kak Deren tahu dia jatuh gara gara masalah ini pasti Rasyad yang akan menjadi sasaran kemarahan kak Deren.
__ADS_1