Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Yakin


__ADS_3

"Yuk del!!." Rasyad menarik tangan Adel , baru satu langkah pundak Rasyad ditepuk pria bertopi.


"Eeiitsss wohin gehst du, er ist nischt wirklich hoflich zu senioren." Cegah pria bertopi.


(Eeeeiitss mau kemana lo, nggak sopan banget sama senior).


"Wir haben nicht mit bruder zu tun, also verabschieden wir uns." Jawab Adeline.


(Kita nggak ada urusan sama kalian, jadi kita pamit).


"Es stellt sich herous,dass alle indonesien gleich sind." Ujar pria bertopi.


(Ternyata semua orang Indonesia sama aja ya).


"Was sollst du machen??." Rasyad menarik kerah pria bertopi.


(Makhsud lo sama aja apa??).


"Prätentiöser charme." Ujar pria bertopi dengan nada meremehkan.


(Sok tebar pesona).


Buugghh


Satu pukulan mendarat dipipi pria itu, Rasyad benar benar muak dengan tingkah laku seniornya.


"Rasyad udah!!!." Cegah Adeline.


"Was ist das??." Tanya seorang pria mendekat. Sudah banyak pasang mata menatap kearah mereka sedari tadi.


(Ada apa ini??).


"Ed ist derjenige, der nacht Ärger sucht und nur schlägt." tunjuk pria bertopi kearah Rasyad.


(Dia yang cari masalah, main mukul aja).


"Recht??." Tanya pria itu menatap Adeline.


(Benar??).


"Keine schwester, sie haben es zuerst angetangen." Jawab Adeline.


(Nggak kak mereka duluan yang mulai).


"Schwester??." Tanya pria bertopi.


(Kak??).


"Er ist mein cousin." Jawab pria itu.

__ADS_1


(Dia sepupu gue).


"Stallen sie es bitte vor!!." Pria bertopi itu tersenyum miring menatap Adeline.


(Kenalin dong!!).


"Stört ihn nicht, ich wißt was du meinst" Ucap dingin pria itu


(Nggak usah ganggu dia, gue tau makhsud lo).


"Cckk es tut mir leid, chef." Ucap pria berkacamata.


(Cckk apes kita bos).


"Ziehen sie den stecher heraus." Pria bertopi itu pergi dengan mengepalkan tangannya.


(Cabut).


******


"Makasih ya kak." Ucap Adeline memeluk pria itu.


"Nggak usah peluk peluk juga, malu tuh dilihat.." Pria itu menatap Rasyad seolah bertanya siapa namanya.


"Rasyad kak." Ujar Rasyad mengerti arti tatapan itu.


"Duduk yuk!!." Mereka duduk ditempat Adeline dan Rasyad tadi.


"Ohh iya ini Kak Baren Ras, dia kakak sepupu gue dari mama." Jelas Adeline mengalihkan topik.



*Baren*


"Ohh salam kenal kak." Sapa Rasyad.


"Gue lihat lihat pinter juga ya lo milih temen." Lirik Baren ke Adeline.


"Apaan sih kak." Adeline jadi salah tingkah.


"Emm kak Beren asli Indonesia??." Tanya Rasyad.


"Iyah, tapi udah lama gue disini sekitar lima tahunan lah " Jawab Beren.


"Tadi itu siapa sih kak? resek banget." Tanya Adeline.


"Dia temen kakak sih, yang lo pukul namanya Jerry.Tapi gue udah nggak temenan sama mereka."


"Loh makhsudnya udah nggak temenan??." Tanya Adeline.

__ADS_1


"Intinya sih karena dia itu playboy, suka mainin cewek dan gue nggak suka sama laki laki yang suka nyakitin perempuan." Jelas Baren.


"Kak Baren keren yah, gentlemen." Ujar Rasyad.


"Kalau lo udah tau gue nggak suka laki laki kayak gitu..jangan sekali kali lo nyakitin Adel." Baren menatap tajam Rasyad.


"Haahh...eehh..i.iiya kak." Rasyad jadi gugup ditatap seperti itu.


"Hahahahaaaa...." Baren tertawa melihat raut wajah Rasyad.


"Cckk kok jadi ngelantur sih kak."


"Habisnya lo kaku banget, yaudah gue lemesin dehh." Baren tersenyum melihat wajah Adeline memerah.


"Nggak jelas." sambung Adeline.


"Eemm kak Baren jurusan apa??."Tanya Rasyad.


"Sastra, lo tau nggak kak Baren hebat banget udah punya kantor penerbit dan parahnya Kak Bian penulis muda yang cukup terkenal loh disini." Cerocos Adeline.


"Nggak usah dilebih lebihin deh, yang ditanya siapa yang jawab siapa."


"Waahh hebat banget Kak Baren masih muda udah punya usaha sendiri." Ujar Rasyad.


"Hmmm mau gabung nggak??Itung itung belajar bisnis."


Ajak Baren.


" Emm..Kak Baren nulis Novel??." Tanya Rasyad.


"Iyah." Baren menganggung mantap.


Rasyad nampak berfikir, dia teringat Lisa jika menyangkut Novel.


"Kalau gue mau belajar nulis Novel boleh??." Tanya Rasyad antusias.


"Lo mau belajar nulis Novel??." Tanya Baren.


"Iyahh gue mau buat Novel kak." Jawab Rasyad.


"Lo yakin Ras mau belajar nulis??." Tanya Adeline.


"Yakiinn." Rasyad mengangguk mantap.


"Kenapa sihh??nggak boleh ya?." Tanya Rasyad.


" Bukannya gitu,, cuma nulis novel itu nggak instan." Jelas Baren.


"Iyah kak gue ngerti,, gue yakin pasti bisa." Senyum Rasyad menatap lurus.

__ADS_1


"Semangat banget,,, kayaknya ada sesuatu nih." Baren menaikkan satu alisnya.


__ADS_2