Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Memories


__ADS_3

Sekarang mereka berada ditepi kolam arus setelah Devi dan Kayla berhasil diselamatkan oleh Baren dan Deren. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, hanya rasa syok yang masih dirasakan Devi dan Kayla.


"Lo baik baik aja kan?, mana yang sakit?,"tanya Baren menelisik Devi yang berbaring dengan nafas terengah.


"Perlu ke rumahsakit??," sambubg Deren dibalas gelengan Kayla.


"Kita nggak apa apa santay aja," sahut Devi.


"Nggak bisa gitu dong Dev, lo tahu kan keadaan lo itu lagi nggak___"


"Lebay amat sih kak____au ah gue mau mandi dulu," potong Devi lalu beranjak menjauh diikuti Lisa dan Kayla.


"Keadaannya nggak?____nggak apa??," selidik Deren.


Baren menggaruk kepalanya, bingung.Apa ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran?.


"Yah nggak baiklah kan dia habis tenggelam____gue khawatir aja."


Satu jam sudah mereka habiskan bermain ditaman waterpark ini, sekarang waktunya ketujuan selanjutnya yaitu di air terjun kali pancur.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Pemandangan indah dari air terjun...sangat memukau pengunjung terutama untuk sepasang kekasih berlibur disini, pasti sangat menyenangkan.


"Wooww keren!!!," girang Dion memansang sekeliling air terjun, tempat ini benar benar asri.


"Nggah usah main air!!,tadi kan udah jadi sebentar aja habis ini kepantai," ujar Deren membuat wajah Dion seketika suram.


"Yah nggak seru dong kak masa nggak boleh main air terus ngapain kesini?," keluh Dion.


"Habis ini juga kepantai kan?____ puas puasin deh lo main air sampe ketengah laut gue sih setuju setuju aja," sahut Dito dibalas pukulan lengan dari Dion.


"Gila lo kak!!!____seneng banget kalau gue kena sakaratul maut."


"Tenang aja gue bakal ikhlasin lo kok!," sahut Kayla dengan senyuman mautnya mengarah ke Dion.


"Shit!, sama aja lo kak Kay____belain gue napa?!."


"Ngapain Kayla belain lo dia bukan kakak lo kali," sahut Baren tersenyum penuh arti menatap Deren.


Devi tersenyum mengerti arti perkataan Baren baru saja membuatnya ingin meneruskan permainan Baren.


"Kalau lo pengen pembelaan dari Kayla___jadiin kakak dulu lah yon!."


"Makhsudnya apa sih??, ogah gue jadi kakak nya bocil ini____ cukup Lisa aja yang pusing gue mah ogah!," sambung Kayla.


"Kalian tuh harusnya bangga punya adik kayak gue!," ketus Dion.


"Udah ah berantem mulu____iyain aja lah!!," sambung Rian.


Lisa hanya bisa mendengar perdebatan kecil yang tidak bermanfaat sama sekali, sedangkan sedari tadi dia ragu untuk mengatakan bahwa dirinya dan Bian tidak bisa ikut kepantai karena rencana awalnya.


Lisa menyenggol lengan Bian memberi kode agar bisa membantunya menjelaskan, tapi percuma Lisa meminta bantuan dengan orang disampingnya ini. Buan persis seperti patung hidup, dia hanya bisa diam dan berhasil membuat Lisa geram akan ekspresi gembulnya yang tiba tiba berubah kembali,dingin.


"Kak gimana ini?____bantu mikir dong!," bisik Lisa.


Bian belum sempat menjawab, Devi sudah mengajak mereka untuk berfoto.


"Kita foto bareng bareng yuk!, buat kenangan____dari tadi belum foto bareng loh, kan nggak afdol kalau belum foto," ujar Devi.

__ADS_1


"Boleh juga tuh!," sahut Rian.


"Yuk buat banyak kenangan!!!."


Entah firasat apa mereka merasakan kejangggalan dengan apa yang baru saja Devi ucapkan.Kenangan?, kata itu terasa bermakna dari nada ucapan Devi.


Bahkan Baren ingin sekali menjerit disini, melepas beban terberat yang baru dirasakannya. Nyeri, saat mendengar kata kenangan itu keluar dari mulut Devi. Apa benar semua ini akan menjadi sebuah kenangan yang tidak akan terulang lagi?.


Beberapa foto sudah mereka ambil saatnya menuju ke pantai...


Saat dipintu keluar Kayla sontak menjerit melihat hidung Devi keluar cairan kental berwarna merah, pasalnya Kayla mempunyai pobia degan darah.


"Aahh itu___itu__hi..hidung Devi," teriak Kayla bersembunyi dibelakang Deren.


Devi menyentuh cairan yang terus mengalir dari hidungnya, segera dia mengambil tisue dari tas selempangnya.


Kenapa harus keluar sekarang sih, batin Devi.


"Lo mimisan Dev??," ucap Rian dengan wajah yang terlihat khawatir, tidak hanya Rian semua juga ikut panik.


"Udah biasa kalau gue nggak tidur siang yah kayak gini," sahut Devi tanpa berpikir alasan yang lebih logis.


"Aneh lo kak nggak tidur sian kok bisa mimisan," sahut Dion.


"Lo baik baik aja kan Dev??, pusing juga nggak??," tanya Lisa.


Belum juga pertanyaan pertanyaan Lisa dijawab, Baren sudah menarik tangan Devi.


"Kita ke rumahsakit sekarang!!!."


"Lepasin kak___gue cuma mimisan nggak perlu ke rumahsakit!!," bentak Devi menarik tangannya dari Baren.


"Akhir akhir ini kalau gue nggak tidur siang sih suka mimisan, tapi nggak ada masalah kok kata dokter," elak Devi.


Maaf gue belum bisa jujur sama kalian, batin Devi.


"Kalau gitu kita nggak jadi kepantai aja," ujar Deren.


"Ke pantai aja kak____bener deh gue baik baik aja, pliss kepantai yah!!."


"Bener lo masih kuat??," tanya Baren memandang sendu Devi dibalas anggukannya.


"Emm kalian aja ya yang kepantai___gue sama kak Bian mau cek penginapannya dulu," sahut Lisa.


"Loh kok nggak ikut sih?," keluh Kayla.


"Gue capek mau istirahat dulu sambil antar barang barang kepenginapan sekalian____kalian aja yang kepantai, penginapannya deket kok sama pantai."


Segala bujuk rayu dilayangkan Lisa agar dia tidak ikut kepantai, akhirnya mereka setuju. Rumah nenek Bian lumayan dekat dari pantai juga tempat penginapan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bian Pov


Bagiku hari ini waktu sangat lamban, sampai akhirnya yang kutunggu tunggu ada didepan mata. Sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi memiliki banyak kenangan didalamnya.Rumah ini masih sama, seperti dulu.


Rasanya enggan masuk kedalam rumah yang membuatku melupakan sebagian memoriku, entah itu memori tentang apa. Dadaku serasa sesak saat Lisa menuntunku masuk kedalam, disana sudah ada dokter Anya. Dokter Anya menatapki dalam, semakin dalam tatapannya membuat sesak didadaku sangat terasa.


Aku mendengar suara panik Lisa memanggil namaku, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.


Aku terbangun disebuah ruangan gelap penuh debu, dimana Lisa dan dokter Anya?. Kenapa mereka meninggalkanku sendiri diruangan ini. Aku mencoba bangun mencari sebuah pintu, tapi langkahku terhenti tak kala mendengar suara tangisan dan rintihan seseorang.


Suara itu dari arah belakangku___


Deg


Siapa dia?? kenapa wajahnya mirip sekali dengan masa kecilku?.


Rintihan, jeritan, tangisannya membuat telingaku berdengung___sebenarnya apa yang terjadi?? aku seperti melihat masa kecilku dulu.


Itu wajahku, dan itu benar benar diriku sewaktu kecil dulu.


Hatiku terasa nyeri melihat kedua kakinya dirantai, siapa yang tega melakukan itu kepadaku?. Apa aku melakukan kesalahan sampai harus dikurung dan dirantai seperti ini?.


Lisa tolong keluarkan aku dari sini, sungguh aku tidak ingin melihat ini semua.


BBRRAAKK


pintu itu didobrak oleh seorang perempuan____dan aku mulai mengenalinya. Anak itu semakin ketakutan,dia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya.Sedangkan perempuan itu menjambak rambutyang mulai memanjang membuat anak kecil itu menjerit kesakitan.


"A...ampun!!."


"Saya nggak butuh ampun dari kamu anak nggak berguna!!," perempuan itu menarik dan menatapkan kepala si anak ke tembok.


"Jangan lakukan itu!!!!, dia nggak bersalah stopp!!," teriakku walaupun itu tidak akan merubah semuanya. Semuanya sudah terjadi.


"Hentikan!!!___cukupp!!!," sambungku berusaha menghentikan perlakuan perempuan jahanam itu, dia terus memukulinya dengan rotan. Sungguh kau wanita kejam yang aku kenal.


"Menangislah sepuasmu____percuma nggak akan ada yang mau menolongmu!."


"Kau tahu sebenarnya ini bukan salahmu___tapi semua ini karena laki laki yang kau sebut sebagai ayah, pria brengsek itu!!!."


Apa yang diuccapkannya, ayah??


Lagi lagi dia memukulinya sampai air mata itu kering, tidak ada buliran bening yang keluar dari pelopak matanya.Sungguh aku benar benar terkurung disituasi ini, tolong keluarkan aku!, sudah cukup semua yang aku lalui selama ini.


Sekarang aku tahu darimana asal luka dipergelangan


kakiku yang tak pernahku perlihatkan, tidak ada yang tahu kecuali mama dan papaku.


Berhari hari aku disini, melihatnya disiksa oleh wanita jahanam itu.Aku hanya ingin membawanya keluar dari sini, bagaimana caranya?bahkan aku tidak bisa menyentuhnya.


Dunia ini sangat kejam bagiku.


Memori itu seharusnya tidak pernah kucari lagi, biarlah dia menjadi udara yang tak terlihat walau dia seperti debu yang bisa kurasakan.



Jan lupa vote🤗

__ADS_1


Like and komen🥰


__ADS_2