
Haii jan lupa jempol and komen🤗
Vote and Rate jugaa😍
Happy Reading😘
******
Lisa Pov
Aku dan yang lain sedang sibuk mendirikan tenda yang menjadi ciri khas berkemah. Kami sampai beberapa jam yang lalu, matahari juga mulai tenggelam keufuk barat.Bahkan aku, Kayla, dan Devi masih setia membangun tenda sedangkan yang lain sudah bersantai sedari tadi.
Beruntung pemilihan anggota tenda bebas jadi aku, Kayla, dan Devi bisa satu tenda.Tidak semua fakultas mengikuti kegiatan ini,lebih beruntungnya fakultas manajemen ikut serta jadi dua curut alias Dito dan Rian juga ikut.Mungkin dengan berkemah aku akan melupakan sejenak masalahku, dan kenapa aku merasa tidak terlalu pusing memikirkan Rasyad, sejak aku mengeluarkan apa yang ingin aku ucapkan pada kak Bian. Bahkan Rasyad tidak menelfonku, apa dia benar benar akan melupakanku??.Jika itu terjadi apa aku sanggup melepaskannya??.
"Ini kok susah banget sih!!, capek tahu gue dari tadi nggak mau berdiri tuh tenda. Nggak tahu apa gue itu udah pengen tiduurr..." siapa lagi kalau bukan suara Kayla yang begitu cempreng.
"Emang cuma lo yang capek hah?? gue juga cepek banget Kay huufftt..." sahut Devi dan merebahkan tubuh disamping Kayla.
"Udah tahu belum selesai kok lo pada rebahan sih, tolongin gue dong berat ini!!!."
Dengan santainya mereka berdua membiarkanku menahan tenda dengan saru tongkat. Hayyy guyys tubuh gue lebih kecil dari ukuran tenda boom ini.
"Kita nggak usah pake tenda, salah siapa susah banget tuh tenda nurut," ujar Kayla.
"Woyy tenda ini benda mati mana bisa lo suruh suruh," kesal ku.
"Terus kita mau tidur dimana hah??," sambungku.
"Ahaa tidur ditendanya Dito sama Rian aja gimana?? gampangkan," wah pemikiran Devi benar benar membuatku tambah kesal. Karena ucapan Devi tadi aku hampir saja melepaskan tongkat dan tenda itu akan menimpa tubuhku, jika tidak tangan itu menahannya.
"Ehh...kak Bian??," beruntung kak Bian segera menarik tongkat kembali lurus.
"Kan sudah dibilangi tadi, kalau ada yang kesusahan panggil kakak pendamping," ujar kak Bian sambil membenarkan posisi tongkat dan memancang tenda dengan gerakan yang membuatku, Devi, dan Kayla melongo. Jika kita mengerjakan seperti kak Bian pasti sedari tadi sudah berdiri ini tenda.Tidak ada sepuluh menit kak Bian berhasil mendirikan tenda seorang diri. Wahh hebatt!!.
"Untung ada kak Bian, kalau nggak bisa tidur diluar kita," ucap Kayla dengan senyum mengembang.
Kenapa aku jadi senyum senyum sendiri melihat kak Bian tadi, cepat tanggap mendirikan tenda boom yang membuat kami kepayahan. Astaga gerakan tubuhnya itu loh...apa yang kau fikirkan Lisa aisshh.
"Yah padahal kita tadi mau tidur di tendanya Dito sama Rian," sahut Devi dan pukulan dari Kayla mendarat dilengannya.
" Aaww sakit Kay...."
"Kalau ngomong disaring dulu dong, emang lo kira gue mau tidur sama dua makhluk itu??, gue nggak mau ya ganggu mereka berduaan," ujar Kayla dengan nada berbisik diakhir kata.
"Emang mereka berdua ngapain??," tanya Devi. Aku dan kak Bian saling tatap mendengarkan obrolan mereka berdua yang mengarah entah kemana sampai suara berat mengintrupsi kami.
"Wooyy gue denger lo tadi ngomong apa," ucap Rian dengan menjitak kening Kayla.
"Sakit Rian, lo nggak tahu apa kening gue ini mahal tahu jangan main sentuh," ujar Kayla sambil mengelus keningnya.
"Mulut lo harus diservis dulu baru bener kalau ngomong, lo kira gue homo apa," Rian tidak sadar jika diakhir katanya dia berucap dengan suara tinggi sampai beberapa siswa menatap Rian dengan menautkan alis.
"Bisa dikecilin sedikit nggak suara lo?? malu gue dilihatin sama yang lain," ujarku melirik samping kiri kanan.
"Cck gara gara lo nih," Rian lagi lagi menjitak kepala Kayla yang membuat siempu meringis.
"Apa sudah makan semua??," tanya kak Bian disambut gelengan lemah dari kami. Gimana mau makan dari tadi waktu kami dihabiskan sama tenda sialan ini.
"Ehh bentar deh, Dito mana kok nggak sama lo??," tanya Devi.
"Tuh anak dari tadi godain kak Intan mulu.Tenda aja gue yang buat dia enak enakkan ngintilin sih ratu jutek itu, kesel gue!!," jawab Rian dengan wajah memerah. Dasar Dito sok kecakepan mau deketin kak Intan yang levelnya diatas rata rata.
Kami tertawa mendengar nada kesal Rian, nasib sahabatku satu ini sangat memperhatinkan.Sudah jomblo sedari lahir, ehh malah dapet teman setengah miring seperti Dito. Jika sudah bersama Dito aku dan yang lain harus banyak banyak bersabar, walau kadang Ditolah yang selalu membuat kami tertawa dengan tingkah absurtnya.
Matahari sudah berganti dengan cahaya bulan dan bintang yang memanjakan mata jika dilihat bersama seperti kami sekarang. Setelah semua urusan selesai, apalagi urusan perut beres aku dan yang lain bersantai menikmati cahaya kegelapan didepan tendaku.
"Kenyang vanget perut gue ahhh..." ujar Dito mengelus perutnya agak membuncit.
"Gimana nggak kenyang lo makan aja habisin tiga piring," sahut Rian.
"Ya wajar dong guekan capek sedari tadi ngurus ini itu."
"Ngurus buat gombalin kak Intan yaa," ledekku.
"Eng..enggak kok gue tadikan hab..."
Ucapan Dito terhenti saat kak Bian memberi instruksi untuk kami semua.
__ADS_1
"Tolong perhatikan!!! semua harap berkumpul dan membentuk lingkaran mengeliling api unggun!!."
"Baik kak," jawab serempak mahasiswa lain.
Mungkin seperti kata kak Bian akan ada pertunjukan seni malam ini. Semoga aku satu regu dengan Kayla dan Devi. setelah semua duduk melingkar, kak Bian dan kak Intan masuk kedalam lingkaran kami.
"Oke masih semangat semua???," tanya kak Intan menggunakan toak.
"Masihhh...." jawab serempak.
"Masih mau lanjut??,"
"Masih kakk...."
"Oke acara kali ini akan dijelaskan oleh kak Bian. Dengan kakk Bian dipersilahkan!!!."
"Malam semuanya!!."
"Malaammm..."
"Langsung saja saya jelaskan kegiatan kita malam ini adalah pentas seni. Kita akan membagi menjadi sepuluh anak peranggota. Pentas seni ini bisa diwakilkan salah satu anak atau dua anak, emm lebih pun juga boleh.Kami akan memberikan waktu hanya lima belas menit untuk berdiskusi, setelah selesai silahkan daftar dikak Intan sama kak Reyna, nanti kita akan bagi siapa yang akan menjadi lawan kalian, contohnya seperti kelompok satu membawakan lagu dan kelompok tiga juga membawakan lagu jadi mereka akan kita tandingkan, jadi nanti adil setiap pentasan akan ada tandingannya sendiri sendiri."
"Jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan sekarang sebelum pembagian kelompok," jelas kak Bian panjang lebar.
"Jelaass kakk."
Kak Intan membacakan anggota kelompok dan berakhir namaku disebut terakhir kali. Ohh aku harus apa?? aku tidak menganal satu saja anggota dari kelompokku.Huufft beruntung sekali Kayla sama Devi satu kelompok.
"Yah kita nggak saru kelompok Lis," ujar Kayla.
"euumm," aku mengangguk lesu. Mereka berdua beranjak menuju kelompoknya sedangkan aku masih bingung siapa yang menjadi kelompokku.
"Kenapa diam disini?? nggak gabung sama kelompok lo??," suara kak Bian dari samping membuatku gelagapan. Astaga ini makhluk kenapa selalu datang tiba tiba, apa dia senang jika aku terkena serangan jantung??.
"Ehh itu kak aku nggak kenal sama anggotaku yang lain heehee," aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Kelompok berapa??."
"Kelompok empat belas."
"Owwhh itu ya kak, Lisa kesana dulu kak daaa..."
Aku berlari kecil menjahui kak Bian, belum jauh dari tempat kak Bian aku membalikkan badan tersenyum sambil mengatakan...
"Makasih kak!!!!" Teriakku.
Setelah berdiskusi panjang lebar dan akhirnya aku yang mereka tunjuk menampilkan sebuah lagu. Benar benar membuatku kesal, kenapa sedari tadi mereka semua menyudutkan ku untuk mengikuti pentas ini. Padahal kan masih banyak anak lain kenapa mereka semua seolah olah mengenalku dan memilihku begitu saja.
Jelas aku tidak bisa mengelak, mereka bersembilan dan aku hanya seorang. Kedua anggotaku yang bernama Alis dan Heny mendaftarkan namaku dan Ridho. Ridho nanti yang akan bermain gitar sedangkan aku sebagai vokalis.
Kau pasti bisa Lisa, kata Devi suara lo bagus. Tapi gue nggak yakin, aiissgh gimana kalau suara gue fales, maamaa tolong anakmu ini hikks hikkss....
*******
Sedangkan dilain tempat Alis dan Heny menemui seseorang dibelakang tenda secara diam diam.Mereka tidak menuju tenda pendadtaran tapi menemui seseorang yang sudah menunggunya.
"Berhasil kak, dia yang akan tampil nanti," ujar Alis.
"Kerja bagus," sahut orang itu dengan senyum lebar dibibirnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya??," tanya Heny.
"Cari alasan supaya Ridho tidak bisa ikut tampil."
"Siap kak!!."
Setelah mengatakan itu Alis dan Heny kembali ke anggota mereka. Saat mendengar aba aba dari Bian mereka semua kembali berkumpul sesuai kelompok.
"Oke semua sudah menetukan siapa perwakilan dari masing masing kelompok, supaya tidak membuang waktu dan hari semakin larut kita mulai saja dari kelompok satu bertanding dengan kelompok lima membawakan sebuah dance yang akan menghibur kita semua," ujar kak Intan disambut tepuk tangan para mahasiswa.
Entah kenapa fikiranku tidak tenang, apa gara gara nerveus??. Aisshh setelah ini giliranku bertanding dengan kelompok delapan.Mereka juga membawakan sebuah lagu.
Dan saat yang tidak kutunggu tunggu memanggil namaku untuk maju kedepan.Sebentar...kenapa cuma namaku yang dipanggil?? dan kemana Ridho?? aku tidak melihatnya sekarang.Bukankah tadi Ridho ada disebelah Alis. Fikiranku tambah kacau sedangkan namaku terus disebut oleh kak Intan.
"Hallo dimana ya kelompok empat belas?? kok yang namanya Lisa tidak segera maju??."
__ADS_1
"Kelomopok delapan sudah siap loh!!," ujar kak Intan.
"Hadughh Ridho kemana sih??," tanyaku pada Alis.
"Gue nggak tahu, udah sono lo maju jangan malu maluin kelompok kita!!"
Mau tidak mau aku segera maju kedepan, daripada namaku mendadak terkenal karena terus disebut.Tanganku tidak bisa diam meremas ujung jaket yang kukenakan.Keringat dingin mulai meluncur dari kening.
Bagaimana tidak disini aku berdiri sendiri sedangkan lawanku dua orang, ini tidak adil bukan??.
"Kok dia sendiri sih?? berani amat!."
"Hmm tandingannya berdua dia sendiri."
"Hebat juga dia, apa dia juga jago gitar??."
"Iyah paling jago gitar, jadi maju sendiri deh."
Hufftt itulah omongan netizen yang tak kuharapkan sama sekali. Dipandangi begitu banyak orang yang tidak kukenal tambah membuat mentalku down.
"Oke silahkan kelompok delapan tampil lebih dulu," ujar kak Intan.
Dari jauh Bian menatap Lisa cemas, dia bisa melihat raut wajah tegang Lisa.
"Kenapa dia mau maju??," monolog Bian.
Kelompok delapan selesai mementaskan lagu yang berjudul celengan rindu dan sekarang giliran Lisa menunjukkkan suara merdunya.
"Oke beri tepuk tangan yang meriah untuk kelompok delapan!!,"
Prok Prok Prok
"Sekarang giliran kelompok empat belas yang diwakilkan kepada Lisa."
Detak jantung Lisa bertambah cepat saat namanya disebut Intan, dia benar benar gugup saat ini.
Apa yang harus gue lakuin?? gue nggak bisa main gitar gimana mau nyanyi. Batin Lisa.
*******
Kota Berlin, Jerman
Malam ini Rasyad membawa mobilnya menuju rumah Adeline dengan fikiran kacau setelah menerima panggilan dari nyonya Drella. Rasyad tidak habis fikir dengan makhsud mama Adeline yang begitu memaksa mempercepat pertunangan. Padahal sebelumnya nyonya Drella setuju jika pertunangan diadakan saar libur semester.
Rencana Rasyad memperlambat pertunangan itu menunggu Adeline agar mendapatkan pasangan sejati Adeline.
Setelah tiba didepan rumah Adeline, Rasyad masuk tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Adeline sedang santai menonton TV diruang tengah.
"Rasyad.."ujar Adeline saat menyadari Rasyad berjalan kearahnya.
"Apa makhsud nyokab lo mempercepat tunangan kita??," ujap Rasyad to the point.
Gue tahu lo akan langsung kesini, batin Adeline.
"Maksud lo apa Ras??."
"Lo nggak tahu kalau nyonya Drella mempercepat pertunangan kita minggu depan??," Rasyad merendahkan ucapannya melihat kebingungan diwajah Adeline.
"Apa?? minggu depan??," ujar Adeline dengan ekspresi kaget yang jelas dibuat buat olehnya.
Rasyad membuang nafas kasar dan mendudukkan tubuh disamping Adeline.
Apa yang harus gue lakuin sekarang?? nggak mungkin kalau gue tunangan sama Adeline, bagaimana dengan Lisa nanti??. Batin Rasyad.
"Maaf!!" Adeline menundukkan kepala sambil meneteskan airmata. Rasyad jadi tidak enak melihat Adeline terisak karena masalah yang dia buat sendiri, seharusnya Rasyad tidak mengambil keputusan begitu saja untuk melamar Adeline.
"Lo nggak salah del, gue janji gue bakal selesaikan masalah ini!"
"Ras..." Adeline menatap Rasyad lekat.
"Hmm??."
"Kalau gue mau pertunangan ini terjadi, apa lo mau tunangan sama gue??," Rasyad mendelik mendengar penuturan Adeline.
"Haahh??."
__ADS_1