
Semuanya sia sia, hancur sudah rasa yang selama ini Rasyad jaga ketika Lisa tak lagi menginginkan dirinya kembali. Dengan pikiran penat Rasyad menaiki mobil menuju bascamp blacksquat, bertepatan saat Dito dan Rian turun dari motor mobil Rasyad berhenti. Mereka berdua kaget saat melihat siapa yang turun dari mobil.
"Itu Rasyad kan??."
"Coba cubit gue deh yan!," sambung Dito dan dibalas Rian cubitan kecil dipipi membuat Dion berteriak sambil mengelus rasa sakit bekas cubitan.
"Sakit ogeb, kasar banget sih lo!."
"Salah siapa minta dicubit, yah gue cubit lah."
Rasyad berjalan mendekati kedua pemuda yang selama ini menjadi sahabat terkonyolnya.
"Lo beneran Rasyad?, bukan hantu yang nyamar jadi sahabat guekan?," tanya Dito.
"Udah lama nggak ketemu ternyata masih sama aja ya," sahut Rasyad menepuk bahu Dito lalu beranjak menuju pintu, sedangkan Rian dan Dito masih enggan berkedip.
"Mana kuncinya gue mau masuk!!," ujar Rasyad menyadarkan mereka berdua, dengan sigap Rian membukakan pintu dan masuk dengan perasaan tidak enak. Mungkin sudah ada hal yang terjadi dengan melihat wajah Rasyad saja bisa terlihat, pikir Rian.
Rasyad merebahkan dirinya disofa panjang dengan lengan tangannya menutupi wajah. Dito dan Rian tak banyak bicara, mereka hanya merasakan aura dingin Rasyad. Sudah lama menjadi sahabat membuat mereka seperti keluarga sendiri, saling memgerti satu sama lain.
"Kenapa lo pada diam??___udah lupa sama gue?," ucap Rasyad kembali duduk menatap Rian dan Dito yang duduk dibawah.
"Eh nggak gitu Ras, kita kangen kok sama lo. Tapi ini terlalu bikin gue kaget aja sih tiba tiba lo nongol didepan kita," sahut Dito.
"Hemm___kenapa nggak ngabarin dulu kok dadakan gini?," Rasyad menghela napas kasar membuat Dito dan Rian saling pandang.
"Kenapa Ras??, gue tahu___lo cerita aja," sambung Rian.
"Rencananya gue bikin kejutan, tapi nyatanya nggak ada yang kaget___kayak nggak ada yang pengen gue balik."
"Kok lo ngomong gitu sih Ras, gue seneng akhirnya lo bisa balik lagi," sahut Rian.
"Kenapa wajah lo kusut gitu?," sambung Dito.
Bahkan orang yang gue harapin nggak lagi kayak dulu. Smuanya berubah, secepat ini, batin Rasyad.
"Gue tadi kerumah Lisa."
"Terus??,"tanya Rian dan Dito kompak.
"Nggak seperti yang gue harapin," sahut Rasyad menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Udah gue duga!."
Rian dan Rasyad menatap Dito penuh selidik, sedangkan yang ditatap mengelus dagunya dengan tatapan menerawang.
"Makhsudnya??," tanya Rasyad.
"Lo diusirkan sama Lisa?," Rasyad mengangguk lemah.
"Pasti gara gara santetnya kak Bian," sambung Dito dibalas tinjuan lengan dari Rian.
"Jangan asal omong lo Dit, kalau kak Bian denger bisa remuk tuh muka___dia udah nggak kayak dulu lagi tau!," ujar Rian.
"Kak Bian??," tanya Rasyad, Dito dan Rian mengangguk.
"Ehh tunggu dulu Ras, ada yang harus gue omongin!,"ucap Rian.
"Apa?? Serius amat."
Rasyad melihat gelagat sedih dari wajah Dito dan Rian membuatnya ikut duduk dilantai.
"Ada apa??," tanyanya sekali lagi.
"Lo aja Dit!!," ujar Rian lalu beranjak keluar.
"Sebenarnya Devi udah ninggalin kita."
"Kemana?, bukannya kalian satu kampus ya kenapa dia pindah?," Dito melempar bantal tepat kewajah Rasyad membuat sang empu mengernyit.
"Nggak perlu gue jelasin secara detail dong Ras___ sekolah dijerman nggak secerdas yang gue bayangin yah, masa lo nggak ngerti," cerocos Dito.
Deg
"Nggak mungkin, lo ngeprank gue kan??."
"Udah ngerti sekarang??," sahut Dito
Rasyad menggelengkan kepalanya, ingin membantah tapi mana mungkin hal seperti ini dibuat candaan.
"Udah setahun Ras," sambung Dito.
****
Malam hari yang cerah tidak memberi efek apapun untuk seorang gadis yang sedang dirundung kegalaun. Satu jam lebih dia menyendiri di belakang rumahnya, hari juga semakin larut tapi mata enggan untuk terpejam.
Sampai sang kakak membuyarkan lamunannya, seperti ikatan hati keduanya sama sama terjebak diantara perasaan yang rumit. Perasaan yang tak bisa diungkapkan.
"Perasaan emang susah ditebak dek, jadi jangan pernah katakan kalau kamu cinta mati sama dia__buktinya kamu sama Rasyad selesai disini kan?," ujar Deren panjang lebar.
"Lisa juga nggak tahu kapan pergi dan datangnya perasaan itu kak."
__ADS_1
"Nah itu kejamnya perasaan, sangat susah ditebak!."
"Kalau kak Deren kenapa tiba tiba suka sama Kayla??," pertanyaan Lisa membuat Deren gelagapan, dengan wajah malu dia menceritakan jika sejak awal bertemu ada getaran aneh dari hari Deren.
Saat melihat tingkah Kayla yang prmberani, tanpa malu. Kayla yang suka salah tingkah didepannya, dan masih banyak tingkah Kayla yang membuat Deren terpikat akan pesona sahabat adiknya itu.
"Dia perempuan unik yang pernah kakak temui," ujar Deren tersenyum memandang langit yang dipenuhi bintang, seperti perasaannya yang selalu bertabur rasa aneh jika mengingat Kayla.
"Padahal kakak baru beberapa kali ketemu kok udah main suka aja sih___awas loh ya nanti nggak awet cintanya."
"Kok malah nyumpahin, itu namanya cinta pada pandangan pertama tahu____biasanya cinta pandangan pertama itu cinta sejati loh!."
"Wahh kak Deren udah kena virus drakor deh kayaknya!."
"Enak aja kakak nggak pernah lihat Drakor yah, itu mah kamu!."
"Terus kamu kenapa galau??, bukannya lega!," sambung Deren.
"Nggak tahu!."
"Dari pada urusin Lisa mending pikirin tuh caranya deketin Kayla gimana sebelum Kayla CLBK lagi sama Ar," sambung Lisa.
Deren spontan menghadap kearah Lisa dengan tatapan tajam membuat Lisa memundurkan badannya.
"Ih apaan sih kak, jelek tahu tuh muka!," ledeknya.
"Ar yang pernah kakak ceritain ribut sama Kayla dijalan itu?," Lisa mengangguk.
"Bantuin kakak dek pliiss!!!," mohon Deren mengantupkan telapak tangannya. Lisa nampak berpikir dan senyumanpun terbit menghiasi wajah cantiknya.
Lisa membisikkan sesuatu ketelinga Deren membuatnya mendelik seketika.
"Kamu mau jatuhin harga diri kakak dek??."
"Demi cinta kak___sedikit mengorbankan harga diri juga nggak masalahkan kalau akhirnya berhasil."
"Tapi nggak gini juga, masih banyak cara yang lain."
"Mau dibantuin nggak??, kalau nggak mau ya udah pikir sendiri!," Lisa beranjak namun Deren berhenti didepannya dengan senyuman terpaksa.
"Oke kamu yang siapin semuanya!," ujar Deren dibalas senyuman dan kerlingan mata dari Lisa membuat Deren pasrah.
.
.
.
.
"Sampai segitunya ya Lis?," tanya Rian diangguki Lisa.
"Dapet hadiah apa nih kita, kalau nggak ada gue nggak mau," sahut Dito.
"Ya elah tenang aja kali Dit, semua udah disiapin sama kak Deren dirumah."
"Apa tuh?," tanya Dito dengan mata berbinar.
"Rahasia dong, pokoknya kalian harus bisa buat Kayla percaya oke!?."
"Siap boss," ujar Dito dan Rian kompak dengan wajah bersinar.
"Tapi tunggu__kenapa harus Kayla?," tanya Rian.
"Banyak tanya lo pada___"
"Siap siap tuh Kayla datang," sambung Lisa.
Dito dan Rian saling lirik saat Kayla kembali duduk dengan santai memainkan hp nya. Sedangkan berniat memberikan kode kepada Rian tapi sasaran Lisa meleset.
"Kenapa Lis??," tanya Kayla saat tendangan kaki Lisa mengenainya.
"Eh nggak sengaja," cengir Lisa menggaruk lututnya. Lisa berganti melototi Rian agar angkat suara.
"Eh gimana kalau kita ikutin trend sekarang yuk," ujar Rian.
"Trend kek gimana??," sahut Lisa.
"Ituloh kencan buta__"
"Ohh gue setuju!!!!," potong Dito penuh tekanan membuat mereka bertiga menatap aneh kearahnya terutama Kayla yang tak tahu arah pembicaraan.
"Yah biar kita nggak jomblo mulu," sambung Dito dengan cengirannya.
"Big no!! kayak apa aja kencan buta, emang pada nggak laku apa sampai segitunya," gerutu Kayla.
"Lo takut yah Kay?__rencananya sih gue sama Lisa mau taruhan," sahut Rian.
"Taruhan apa Lis?? Kok lo mau sih taruhan konyol kek gitu?."
"Emang salah ya? Siapa tahu kita dapet jodoh dadakan toh gue udah single."
__ADS_1
"Hah?? Gue nggak salah dengerkan??___Lis jangan anjlokin harga diri dong, kita juga nggak tahu kayak gimana orang yang akan kencan sama kita."
"Dicoba dulu lah Kay___nanti kalau ada yang berhasil taruhannya apartemen Lisa loh, lumayankan buat kabur dari rumah sewaktu waktu," jelas Rian membuat Kayla tersenyum.
"Bener Lis lo relain apartemen lo cuma gara gara kencan buta??," tanya Kayla.
"Iyah kalau lo mau ayok kita berempat taruhan!."
"Kalau gitu nggak ada salahnya kan gue terima taruhan ini!?," ujar Kayla membuat Lisa tersenyum penuh arti.
"Deal !!!."
Dilain tempat Rasyad seperti mengenali sosok perempuan tengah menendang nendang ban mobilnya dipinggir jalan. Semakin Rasyad mendekati sosok yang dikenalinya dia bergegas turun dari mobil dan menghampirinya.
"Adeline!?," panggil Rasyad membuat Adekine terlonjak kaget.
"Rasyad lo kok ada disini?."
"Seharusnya gue yang tanya kenapa bisa lo ada disini?," Adeline menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Rasyad penuh tanda tanya.
"Gue nggak sempat jelasin sekarang, tapi lo bisa bantu gue nggak??."
Rasyad menaikkan satu alisnya,
"Antar gue ke bandara!!!."
.
.
.
.
.
Lisa Pov
Entah kenapa sepulang dari kampus perasaanku cemas, ada sesuatu yang membuatku tanpa sadar berjalan bolak balik sampai mama menegurku. Perasaan yang sama seperti waktu Rasyad pergi ke Jerman.
"Kamu kamu jalan bolak balik sih Lis, bikin pusing kepala mama tau."
Aku hanya bisa menghela napas kasar lalu duduk disamping mama.
"Lisa," panggil mama membuatku menoleh, tatapan mama serius seperti ingin mengintrogasiku.
"Ada apa mah?."
"Kamu bikin ulah ya sama Bian?."
"Masalah apa?."
"Kok balik tanya, kan mama tanya sama kamu apa ada masalah sampai perjodohan itu di___."
"Tunggu___perjodohan??, makhsud mama apa??," tanyaku penasaran.
"Sebenarnya mama ngasih tahu ini dari dulu tapi nunggu waktu yang tepat supaya kamu lebih dekat sama Bian, eh tadi mama dapat kabar kalau peejodohan iti dibatalin."
"Makhsud mama aku dijodohin sama kak Bian??," tanyaku, astaga kenapa aku baru tahu sekarang. Sungguh ada rasa kecewa saat aku tahu perjodohan ini dibatalkan.
"Iyah dari pertama kamu masuk kuliah mama sama tante luna sepakat menjodohkan kalian, toh kita udah saling kenal."
"Tapi sayang Bian batalin semuanya," sambung mama membuatku mengernyit.
Tanpa pikir panjang aku meraih kunci motor yang ada dimeja dan berlari keluar rumah tanpa menjawab pertanyaan mama.
Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah ini saat mengetahui jika kak Bian baru saja pergi kebandara dari tantu Luna.Segera kulajukan lagi motorku dengan kecepatan penuh menuju bandara.
Kenapa kak?, kenapa membuat kejutan seperti ini. Apa kak Bian ingin jantung Lisa copot hah??.
Disaat Lisa memutuskan untuk berpisah dari Rasyad kenapa kakak juga ikut pergi, tanpa pamit.
Lisa nggak tahu kak, kapan datangnya perasaan itu. Sekarang Lisa sadar akan rasa yang sesungguhnya. Dan Lisa tidak akan membiarkan rasa itu pergi lagi, plis jangan pergi kak.
Apa alasan kak Bian membatalkam perjodohan itu? Dan kenapa selama ini kak Bian nggak pernah cerita ke Lisa, Lisa berhak tahu kak.
Benar kata kak Deren, hal yang harus ditakuti adalah perasaan kita sendiri. Perasaan yang tak tahu diri, tak tahu arah kemana dia harus pergi.
Tunggu Lisa kak, Lisa janji nggak akan buat kak Bian kecewa lagi. Cukup persembunyian rasa yang selama ini Lisa pendam.
******
Karena banyak yg minta lanjut ke season 2...
Jadii kita bakal lanjutin yahh ke season 2🥳
Tunggu ending dulu yah baru pindah lapak
yuk jan lupa like and komen🤗
__ADS_1
tetap beri dukungan yah biar semangat lanjutin sampai ke anak cucu Lisa nanti 🤣