
Kota Berlin, Jerman
Pagi yang cerah juga merasakan semburat bahagia seseorang yang tengah berjalan menuju kampus dengan headset ditelinganya. Bisa melihat kekasihnya walau sementara itu sudah menjadi obat rindu.Walau terbatas antar layar hp.
Ya dia Rasyad fernando kekasih Lisa pramudiana.Langkahnya terhenti tat kala tiga pemuda menghadangnya.Rasyad melepaskan headset dan menatap datar ketiga pemuda didepannnya itu.
"Mau apa kalian??." Tanya Rasyad. Salah satu dari mereka tersenyum miring. Yah dia Jerry, pemuda yang pernah menggoda Adeline.
(Anggap aja mereka lagi bicara pakai b.jerman yaa😁 Author capek kalau ngetik dua bahasa heeheeee😅).
"Gue udah pernah bilang kalau urusan lo belum selesai sama gue. Dan berani beraninya lo pukul gue, lo nggak tahu gue siapa??." Ujar Jerry maju satu langkah tepat didepan Rasyad.Tatapannya tak bersahabat menatap Rasyad.
"Ohh jadi lo mau lanjut?? sekarang juga gue ladenin." Sahut Rasyad menatap Jerry tak kalah tajam.
"Gue nggak suka main kasar."
"Bilang aja lo takut." Rasyad tersenyum miring.Pagi yang seharusnya tenang harus rusak hanya karena manusia tidak jelas.
"Ck gue nggak pernah ya takut sama apapun, kalau lo memang laki gue tantang duel basket gimana??." Ujar Jerry menaikkan satu alisnya.
Rasyad tersenyum meremehkan.Jerry tidak tau bahwa Rasyad adalah kapten basket terhebat di SMA dulu. Tapi Rasyad juga tidak tahu bahwa Jerry adalah pemain basket yang sudah membawa pulang puluhan piala.
"Cuma itu??gue terima, lo tinggal tentuin aja mau tanding dimana."
"Di kampus nanti sore, ohh iya lo harus inget yang kalah harus turutin apa mau pemenang."
"Deall." Rasyad tersenyum miring sebelum dia melangkah meninggalkan Jeri and the gengs.
Kenapa Rasyad main terima tantangan itu??apa dia tidak takut jika Jerry menang dan meminta hal hal yang aneh, apa dia sanggup melakukannya?.
Matahari mulai naik tepat diatas kepala. Rasyad, Adeline, dan Baren menuju kantin untuk mengganjal cacing cacing yang sudah demo sedari tadi.
"Nanti gue mau tanding basket sama Jerry." Ucap Rasyad disela sela mengunyah.
"Uhuukk... uhhuukk....uhuukk..." Baren tersedak mendengar ucapan Rasyad.Bagaimana tidak??jika Baren sudah mengenal lama Jerry.
"Hati hati dong kak, nih minum dulu!!!." Adeline menyodorkan air dan langsung ludes masuk perut Baren. Rasyad menatap Baren aneh.
"Lo bilang apa tadi??." Tanya Baren.
"Gue mau tanding basket sama Jerry." Ujar Rasyad sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya. Tanpa melihat pelototan dari Baren.
BRRAAKKKK
Baren berdiri menggebrak meja tanpa mengalihkan pandangannya ke Rasyad. Sampai semua orang dikantin melihat kearah mereka bertiga, sangat mengganggu aktifitas makan para mahasiswa sampai sampai ada yang tersedak sangking kagetnya.
"Kak apa apaan sih, nggak malu apa dilihatin??." Adeline menutupi wajahnya menggunakan tas.Sedangkan Rasyad menaikkan satu alissnya bingung melihat sikap Baren. Bahkan Baren tidak memperdulikan tatapan tatapan disekitarnya.
__ADS_1
"Iyah malu tau kak dilihatin banyak orang, kenapa sih pake mukul meja segala untung nggak jantungan gue." Sambung Rasyad.
"Sekali lagi gue tanya,,, Lo seriuus???." Tanya Baren.
"Iyaahh kak dua rius malah." Rasyad mengangkat dua jarinya membentuk huruv V.
"Cckk ngapain sih lo tanding tanding segala." Sambung Adeline.
"Kalau ada tantangan pasti ada taruhannya kan??." Tanya Baren sekali lagi. Dibalas anggukan Rasyad.
"Aaa..."
ucapan Baren segera dipotong jiwa kepo Adeline. Baren hanya geleng geleng baru aja mau ditanya udah diserobot.
"Apa taruhannya??" tanya Adeline.
"Yang kalah harus turuti apa mau pemenang." Jawab Rasyad.
"Emang kenapa sih kak?? kok kaget banget tau gue mau tanding sama Jerry??." Sambungnya.
"Lo main terima gitu aja??Ras udah deh batalin sekarang!!."
"Yah nggak bisa gitu dong kak."
"Lo nggak tau julukan si Jerry itu apa??."
"Raja Basket." Jawab Baren. Rasyad dan Adeline hanya saking tatap sampai ucapan Adeline membuat Baren geram.
"Terus apa masalahnya kalau dia Raja Basket??." Tanya Adelin polos.
"Aiisshh Del Jerry itu jagonya basket dan gue nggak yakin Rasyad bisa menang lawan Jerry. Dan yang lo harus tau Jerry sering ikut lomba basket dan nggak pernah dia pulang tanpa bawa kemenangan." Penjelasan Baren membuat Adeline melotot tak percaya. Nyali Rasyad seketika menciut mendengarnya.
*******
Hari ini Lisa berangkat bersama Bian naik motor.Sesampainya masuk gerbang sampai tempat pakir ada dua mata melihat mereka berdua dengan tatapan tidak suka.
"Harus dikasih pelajaran tuh anak baru." Ucap salah satu dari mereka berdua.
"Kemarin nempel nempel sekarang berangkat bareng lagi." kesal satunya menghentakkan kaki.
"Udah punya ide belum tan??."
"Lihat aja besok." Jawab cewek bernama intan itu. Mereka berdua tersenyum miring dan melanjutkan langkah menuju kelas.
Bian melepaskan helm Lisa dan menggandengnya menuju kelas . Entah kenapa Lisa tidak menolak dia malah tersenyum mendapat perlakuan itu. Dia senang Bian tidak lagi kaku jika didekatnya.
__ADS_1
"Nanti gue tunggu didekat taman depan." Ujar Bian.
"Siyaap kak."
"Emang mau kemana??." Tanya Bian tetap berjalan menuju kelas.
"Udah kakak ikut aja, kak Bian nggak boleh nolak. Inget janji harus ditepati." Bian mengangguk menatap Lisa.
Sahabat Lisa yang melihat Bian mengantarkan sahabatnya sampai depan kelas itu curiga. Baru saja Lisa duduk dibangku sudah diserbu teman temannya itu.
"Lis lo kok sama kak Bian??." Tanya Kayla
"Lo berangkat bareng ya??." Sambung Devi
"Cckk kok tumben lo mau berangkat bareng sama muka tembok itu." Sahut Dito.
Lisa jengah dengan tingkah para sahabatnya itu. Apa mereka lupa bahwa Bian sekarang sudah menjadi bagian dari mereka?.
"Jangan sekali lagi kalian sebut kak Bian muka tembok, kalian lupa ya kak Bian juga udah jadi sahabat kita." Ucap Lisa tajam menatap satu persatu sahabatnya itu.
"ng..ngerti Lis." Jawab mereka gugup. Jika sudah berurusan dengan keseriusan Lisa mereka tidak ada yang berani membantah.
********
Sekarang Lisa sedang menunggu Bian ditaman kampus. Lisa berharap Bian dapat menepati janjinya. Lisa juga sudah memberitahu dokter Anya jika dirinya akan datang sore ini. Dokter Anya ikut senang mendengar berita dari Lisa. Tapi mereka belum tentu tahu jawaban Bian, karena Lisa belum berani mengatakannya.
"Gue langsung ajak ke tempat Dokter Anya atau bilang dulu ya permintaan gue. " Ucap Lisa bermonolog.
"Kalau kak Bian marah kayak dulu gimana??,, emm gue bilang aja dulu lah daripada kak Bian kaget kayak dulu terus marah." Sambungnya.
"Pokoknya kak Bian harus turuti permintaan gue dia kan udah janji."
"Iyah gue akan tepati." Ujar Bian tiba tiba nongol dibelakang Lisa. Lisa kaget berbalik menatap Bian.
"Ehh.. kak dari kapan disitu??." Tanya Lisa khawatir apa Bian dengar semua monolognya tadi.
"Barusan."
"Denger Lisa omong apa aja??."
"Lo bilang gue harus turuti permintaan lo." Lisa bernafas lega Bian tidak mendengar ucapannya tadi.
"Emang permintaan lo apa??." sambung Bian.
"Ehh..emmm." Lisa menggaruk lututnya yang tidak gatal.
__ADS_1