
Lisa masih berkacak pinggang didepan Bian dengan tatapan horor sedangkan Raka berjingkrak senang.
"Aunty Raka haus pengen susu!." Lisa beralih menatap Raka kesal, dia baru menemukan sifat lain Raka yaitu manja dan mudah merengek.Sifat Raka suka berubah ubah membuat Lisa sebal sendiri menghadapinya.Kadang lucu, kadang nakal, kadang resek, dan bla bla bla...
"Hufftt...oke aunty bikinin susu tapi Raka tidur sama aunty aja uncle tidur dikamar lain yahh!!."
"Enggakk, Raka tidur sama kalian titik!!." Suara Raka meninggi sambil berkacak pinggang menatap Lisa tajam tanpa takut sedikitpun.
"Ini anak be.."
"Bikinin susu biar gue bawa kekamar." Bian menggendong Raka dan beranjak menaiki tangga menuju kamar Lisa. Lisa menatap dua makhluk itu dengan merapalkan istighfar berkali kali. Sehari menghadapi dua makhluk yang teraneh baginya cukup melelahkan, menguras tenaga dan pikiran.
Mau tidak mau Lisa membuatkan susu untuk Raka dengan ikhlas tidak ikhlas dia meracik susu. Setelah selesai Lisa membawanya keatas.
"Lucu dan tampan sih oke tapi kalau nakal pake bangett." Monolognya menaiki satu persatu tangga.
"Nggak uncle sama ponakan sama bikin gue pusing tujuh keliling, huufftt..."
Cekkleekk
Lisa melihat tak suka Bian tidur dikasur kesayangannya. Dengan tatapan lurus menatap Bian dia berjalan mendekati Raka yang sudah cemberut dulu.
"Aunty Raka nggak suka minum sama gelas." Ujarnya memajukan bibir dengan wajah ditekuk.
"Hahh Raka nggak bisa minum susu sama gelas?? kan Raka udah gede masa minum susu sama dot."
"Rakaa nggak bisa sama gelas auntyy.."
"Kaaakk gimana sih inii..." Lisa menatap Bian kesal, sedangakan Bian dengan asyik merebahkan diri dan menutup wajahnya dengan lengan tanpa menghiraukan perdebatan kecil antara Lisa dan Raka.
"Kaakkk kok malah tidur bangun nggak...banguuunnn..banguuunn!!!...."
Bian tak menghiraukan timpukan timpukan bantal dari Lisa.Dia tetap memejamkam mata sampai gelitikan diperut spontan membuat Bian bangun tanpa melihat Lisa yang berada diatasnya dan...
Brrukk
"Aahhh..."
Bian menubruk Lisa sehingga posisi Lisa ada dibawah tubuhhnya sekarang. Tangan Lisa menopang bahu Bian agar tidak jatuh tepat ditubuh mungilnya. Beberapa detik mereka saling tatap dengan posisi yang sama sampai sikecil merengek kembali.
Wajah Lisa memanas dan tak dielakkan lagi pipinya merah merona. Bian bangkit saat Raka kembali meraung raung sedangkan Lisa berusaha tak menatap Bian dengan rona merah diwajahnya akan membuat Lisa malu sendiri.
Jantung mereka berdua juga belum normal serasa ingin lompat dari tempatnya.
"Raka laperr Auntyy, Raka mau makan!."
"R..rraka mau makan apa??." Tanya Lisa terbata bata dan berusaha bangkit sambil menetralkan getaran didada.
"Nasi goreng pake telur ceplok aunty."
Huufftt gue udah ngantuuukk,,, rewel banget sih ni anak.
Batin Lisa.
__ADS_1
Lisa beranjak membuatkan nasi goreng tanpa sepatah kata apalagi menatap Bian, tidak tidak Lisa masih malu, sangat.
"Uncle sakit yah kok muka uncle merah??." Tanya Raka polos.Refleks Bian menyentuh wajahnya dan tersenyum menatap Raka, seandainya Lisa melihat senyuman itu. Tapi tidak, tidak semudah itu Bian tersenyum didepan orang lain.
"U..uuncle ngak sakit kok." Sahut Bian.
Beberapa menit kemudian Lisa kembali membawa nampan berisi nasi goreng pesanan Raka.
"Nih aunty bikin nasi goreng spesial buat Raka." Lisa duduk didepan Raka tanpa menoleh kearah Bian yang berada disampin Raka.
"Raka udah nggak laper aunty, hooaamm...Raka ngantukk.."
"Terus ini siapa yang makan?? mubazir loh Raka."
"Aunty aja yang makan!."
Rahang Lisa mengeras, sudah lelah dia bikin ini itu tapi tidak ada yang masuk diperut sikecil. Lisa benar benar mengantuk sekarang tanpa kata umpatan yang akan dilontarkan Lisa hanya mengepalkan tangan kuat kuat.
"Ayo aunty kita tidur!!."
Lisa melirik Bian sekilas, kejadian tadi membuatnya malu menatap apalagi bicara. Tanpa sepatah kata akhirnya Lisa menurut tidur disebelah kanan Raka dan Bian disebalah kiri Raka.
"Peluk Raka dong aunty, uncle."
Isshh resek banget sih Raka, nggak tahu apa gue malu banget.
Batin Lisa.
Lisa dan Bian memeluk Raka dari samping bersamaan dan tangan Bian berada diatas tangan Lisa. Lagi dan lagi tanpa disengaja membuat keduanya gugup. Bian langsung menarik kembali tangannya.
"Good morning baby." Ujar Bian.
"Aaaaaaahhhh...."
Deg
Lisa membuka mata dengan nafas tersenggal senggal. Dia melihat sekeliling, dilihatnya Bian masih tertidur pulas.
"Huufftt hanya mimpi..." Ucapnya mengelus dada.
"Kok kasur gue basah ya??."
"Aiisshh Raka ngompol??? Astaga ini mimpikan??." Lisa spontan mencubit pipi dan rasa nyeri dirasakannya.
"Awhh.. bukan mimpi. Bener bener apes banget hari ini jadi kayak babysister dadakan deh." Keluhnya.
"Ogah banget gue bersihin ompol, aiiss bau lagi. Bangunin kak Bian aja deh."
Lisa mengguncangkan tubuh Bian berharap Bian segera bangun. Tapi sang empu sedang asyik dengan bunga tidurnya.
"Kebo banget kak Bian, gue cubit nih!."
"Aawwhh..." Bian refkeks mengelus bekas cubitan Lisa diperutnya.
__ADS_1
"Apaan sih Lis ganggu aja." Protes Bian saat matanya benar benar tebuka.
"Tuh bersiin ompol ponakan lo!!."
"Udah gue bilangkan kalau ada apa apa nggak usah panggil gue. Dari awalkan gue nggak izinin Raka nginep, sekarang apa, lo kerepotankan??." Cerocos Bian.
Lisa sebal mendengar deretan kata Bian, tidak membantu malah menceramahinya.
"Yaudah tidur aja sama bau kencing, gue bisa tidur dikamar Dion byee..."
Lisa berjalan menjauh membawa rasa kesal teramat dalam.Bian hanya Bisa menatap Raka malas.
*******
Dilain tempat Devi masih menahan kesal dengan pria didepannya sekarang. Melihat wajah pria itu selalu menyulut emosi, emosi, dan emosi.
"Apalagi???." Tanya Devi.
"Temani saya makan gimana??."
"Nggaak maau!!!. Sekarang buka pintunya!!!." Devi beranjak dari duduk menatap Baren sengit.
Gimana ya biar dia mau, ahh gue pura pura sakit kepala aja pasti dia nggak tega lihat gue kesakitan.
Batin Baren.
"Awww kepala gue..."
"Aaww kepala gue..."
Ujar Baren dan Devi bersamaan sambil memegang kepala. Baren dibuat bingung, dia yang pura pura pusing kenapa Devi juga mengerang sakit kepala??.
"Eehh??..." Ujar Baren bingung. Entah pertanyaan itu dilontarkan untuknya atau Devi, yah tidak pasti.
"Ahhh..." Devi kembali mengerang memegangi kepalanya.
Ini kenapa malah dia yang akting??.
Batin Baren.
"Jangan akting saya tidak akan membukakan pintu sebelum anda mau menemani saya makan."
"Awwhh..hikks...hikkkss...." Bian dibuat bingung saat Devi mulai menangis.
Bbrrukkk
Pertahanan Devi runtuh, dia terkapar dilantai sebelum Baren menangkap tubuh mungil Devi.
"Haaii kamu kenapa?? bangun dong jangan bikin gue panik. Akting kamu nggak lucu!."
Baren mulai panik karena Devi tidak menanggapi ucapannya. Dengan cepat Baren menggendong Devi ala bridge style dan menidurkannya dikamar dengan hati hati.
"Dia kenapa yah?? gue harus gimana ini?? aisshh...."
Baren mengacak rambutnya frustasi melihat wajah Devi terlihat pucat pasi.
__ADS_1