
Setelah keluar dari apartemen Baren, Kayla mengatur detak jantungnya yang berdetak cepat.Entah kenapa tatapan Deren membuatnya sangat gugup.Merasa agak tenang, Kayla dengan segera menuju pintu apartemen Devi yang berjarak dua pintu dari apartemen Baren.
Sebelum menekan bel Kayla berfikir kenapa Devi kabur dari rumah??dan lebih memilih tinggal di apartemen tanpa sepengetahuan teman temannya.Apa ada masalah keluarga??, fikir Kayla.
Ting Tong Ting Tong
Sebelum membuka pintu Devi nampak terkejut saat melihat Kayla dari lubang kecil pintu yang disediakan untuk mengecek siapa tamu itu.Dengan ragu Devi membuka pintu dan disambut tatapan mengintimidasi dari Kayla, sedangan Devi menunjukkan cengiran bodohnya.
"Kaget kenapa gue bisa ada disini??," Kayla langsung masuk kedalam meninggalkan Devi yang masih kikuk.
Dengan santainya Kayla merebahkan tubuhnya ke sofa panjang diikuti Devi duduk disofa sigle. Devi merasa gugup, dia tahu sifat Kayla yang suka kepo, jika bertanya pasti sampai kepucuknya.
"Ekkhhmm...lo tahu dari mana gue ada disini??."
"Masa bodoh gue tahu dari mana, sekarang lo beri kabar sama nyokab kalau lo baik baik saja!!!," Kayla memejamkan mata dengan tangan kanan menutupi wajah.
"Cckk mama gue yang suruh lo kesini."
"Emang lo ada masalah apa sampai kabur dari rumah hahh??."
"Nggak ada masalah apa apa tuh, gue cuma pengen mandiri aja.Selama ini gue hanya beban buat mereka," ujar Devi lesu. Kayla bangkit dan menatap Devi serius.
"Ini lo atau bukan Dev??."
"Ya gue lah lo kira siapa?? hantu gitu??."
"Aneh aja gitu, tiba tiba lo pengen hidup mandiri padahal selama ini semua kebutuhan sudah tercukupi."
Gue nggak mau jadi beban buat kalian, lebih baik gue pergi tanpa pamit daripada kalian tahu kebenarannya. Gue nggak mau lihat kalian sedih, gue cuma pengen lihat terakhir senyuman kalian bukan air mata yang jatuh sia sia.
Batin Devi.
"Woyyy malah bengong!!!."
"Ehh..emm siapa juga yang bengong."
"Nggak ada yang lagi lo sembunyiin kan??, terus kenapa lo tiba tiba punya pikiran kalau selama ini lo hanya beban buat mereka??."
"Udah deh Kay, pertanyaan lo itu nggak perlu gue jawab.Ngantuk nih gue udah malem."
"Cckk ngusir gue nih ceritanya??."
"Emang lo nggak mau pulang apa??."
"Gue nginep sini aja emmm...." Kayla menjeda ucapannya sambil menatap Devi lekat.
"Gue takut lo bunuh diri," sambungnya.
"Hahh bunuh diri?? yang bener aja lo kalau ngomong, gue aja pengen hidup lebih lama ngapain repot repot bunuh diri, nambahin dosa aja."
"Waktu gue juga nggak mungkin lama lagi," tatapan Devi terlihat menerawang menatap keatas. Kayla mencoba memahami makhsud ucapan Devi yang menurutnya aneh.Baru saja Kayla ingin bertanya makhsud ucapan Devi yang sulit dicerna, namun terpotong ucapan Devi.
"Gue ngantuk mau tidur, lo tidur dikamar belakang aja," Devi beranjak meninggalkan Kayla yang masih merasa aneh dari ucapan Devi tadi.
"Au ahh pusing gue!!."
"Dev jangan lupa siapin barang barang besok kita kemah," teriak Kayla sebelum masuk kedalam kamar.
*******
Devi Pov
Maaf aku tidak bisa jujur dan maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan selama ini. Mungkin aku tinggal menghitung waktu sampai kapan aku bisa melihat dunia ini. Hari ini aku ingin habiskan waktu bersama kalian, dan hanya tawa kebahagian yang ingin kuingat sampai nanti, sampai aku tidak bisa lagi melihat kalian.
Hari ini aku dan yang lainnya sibuk mempersiapkan barang bawaan untuk kemah nanti malam. Hari yang paling kutunggu, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa tertawa lepas melihat dunia luar. Rasanya ingin kembali kemasa masa dimana aku dan kalian selalu tertawa lepas tanpa beban.
__ADS_1
Dikantin ini selalu ramai dengan canda tawa kami berenam.Walau hari ini ada yang sedikit berbeda dari Lisa.Dia hanya diam dan menimpali ucapan kita seperlunya. Aku tidak pernah merasakan patah hati karena cinta, tapi aku tahu perasaan Lisa sekarang benar benar hancur setelah mendengar Rasyad akan bertunangan dengan Adeline.
Banyak yang bilang cinta itu indah, menyenangkan, tapi bagiku cinta itu hanyalah angin lalu. Cinta datang tak diundang dan pergi tanpa pamit, bahkan dia meningglkan luka tanpa ada obat untuk menyembuhkan luka itu.
Apa mungkin nasib cinta Lisa akan berakhir seperti Kayla??. Hmm disaat terakhir waktuku, aku bersyukur tidak pernah mengalami apa yang namanya patah hati.
"Kak nanti acaranya apa aja??," tanya Dito.
"Nanti dibagi kelompok dulu terus gamenya itu salah satunya ada pentas seni, lomba masak , sama cari bendera ."
"Waahh pasti seru tuh, nggak sabar deh gue pengen ikut lomba masak," ujarku.
"Mundur aja Dev sebelum para juri mati keracunan gara gara makanan lo," sahut Rian yang kubalas tabokan dilengan. Hanya lelucon garing saja mereka tertawa lepas, dan itu yang ingin kulihat. Tawa mereka.
"Aduuh kram perut gue, nggak kebayang gimana ekspresi juri nanti kalau masakan Devi masuk kemulut," Dito lagi lagi tertawa sambil memegangi perutnya. Aku membiarkan mereka meledek yang penting mereka senang.
"Palingan belum juga ditelan udah dimuntahin," sahut Kayla.
"Emm Lis lo mending ikut pentas seni aja gimana??," saranku. Aku merasa kasihan sama Lisa, sedari tadi tak kulihat senyuman terukir diwajahnya. Mungkin dengan terus mengajak bicara dia bisa lupa sejenak akan masalahnya.
"Nggak mau, suara gue jelek!."
"Suara lo tuh bagus Lis, tapi sayangnya nerves lo terlalu besar. Jadi ngeblank deh semua nadanya."
"Itu sama aja Dev, gue nggak bisa nyanyi."
"Ahaa gimana kalau lo duet!!," sahut Dito.
"Duet sama siapa??."
"Sama kak Bian lah, gue lihat lihat kalau kalian nyanyi bareng bakal serasi deh. Pasti banyak yang baper, ya nggak??."
"Waahh tumben lo pinter Dit," ujarku.
"Cck gue udah pinter dari dulu kali."
Kak Bian dan Lisa saling tatap, tapi sebelum mereka menjawab datang seorang yang aku pikir dia akan jadi miss rusuh. Entah feeling ku ini tepat atau tidak tapi aku merasa tidak suka dengan perempuan ini yang biasa dipanggil ratu kampus.
"Ya nggak bisa dong kan Bian jadi panitia, jadi mending lo cari yang lain," ucapnya sambil memeluk kak Bian dari belakang, dasar genit!!. Dengan cepat kak Bian melepaskan tangan miss rusuh dari lehernya.
"Emang nggak boleh ya kak kalau panita ikut berpartisipasi??," ucapku dengan nada ketus.Aku menangkap gerak gerik Lisa seperti tidak suka dengan Kak Intan.
"Ya nggak boleh dong, tapi kalau gue yang duet sama Bian sih boleh," ujarnya dan lagi lagi dia bergelayut dilengan kak Bian. Apa dia tidak malu?? bahkan kak Bian tidak pernah menanggapi tingkahnya.
"Kak kalau Dito duet sama kak Intan boleh nggak??," tanya Dito dengan pupy eyes andalannya. Wah kupastikan jika Dito terkena sihir aura kak Intan. Sejak pertama bertemu kak Intan hanya Dito yang menatapnya dengan mata berbinar. Sepertinya mereka cocok, sama sama gesrek.Yang satu **** nya minta ampun, yang satunya lagi tukang rusuh.
"Emm kalau itu sih lo harus naik turun bukit tujuh kali, baru deh gue mau duet sama lo."
"Ahh itu mah gampang, apapun demi princeess ku," whatt benar benar harus di servis otak Dion.
"Yheee ngacok lu Dit," sahut Rian.
"Gue cabut dulu guys," Lisa beranjak pergi begitu saja dan tak menghiraukan panggilan pangilan dari kami.Pasti gara gara miss rusuh ini nih, mood Lisa jadi tambah down.
*******
Baren senang bisa bertemu nyokab dan bokap Deren, baginya Deren sudah menjadi bagian dari keluarganya. Kedekatan mereka selama ini sangat erat. Bahkan seluk beluk sifat dan karakter masing masing sudah mereka hafat satu sama lain.Tapi Deren tertutup jika menyangkut keluarga.
Saat ini Baren sedang bergurau bersama Ayu dan Deren.Selesai mengurus pekerjaannya, Baren segera menuju rumah Deren.
Drrrtt Ddrrt Ddrrtt
"Sebentar tante saya mau angkat telefon dulu," ujar Baren dan diangguki Ayu.
Baren agak menjauh dari mereka dan segera mengangkat vidio call dari Adeline.
__ADS_1
"Hayy del, maaf gue nggak bisa..."
"Iyah kak, adel ngerti," potong Adeline.
"Kamu yang sabar, masih ada kakak disini. Jangan lupa makan, ohh ya tante Drella masih disana??."
"Euumm..." Adeline mengangguk.
"Kakak lagi dimana sekarang?? Adel ganggu ya?."
"Ohh nggak kok del, ini lagi dirumah Deren."
"Waah dirumah kak Deren?? kok kakak bisa ketemu sama kak Deren??."
"Heemm dunia ini terlalu sempit mungkin," Baren terkekeh.
"Ohh ya kamu tahu nggak ternyata Deren itu kakaknya Lisa," sambung Baren.
"Haa yang benar kak??."
"Siapa Bar??," Deren mendekat kearah layar dan terpampang wajah Adeline dengan senyum lebar melambai kearah layar.
"Adeline... haii apa kabar??," ujar Deren dengan melambaikan tangan kearah layar.
"Adel baik kak," Adeline tersenyum kecut. Baren mengerti akan perasaan Adel saat ini, dia juga lupa memberi tahu Deren bahwa Dady Adeline sudah tiada.
"Siapa nak yang telfon seneng banget kayaknya??," Ayu mendekatkan wajah kelayar dan melihat Adeline yang terpaku melihat wajah dilayarnya.
Deg
Gue nggak salah lihat kan?? batin Adeline.
"Dia adik sepupu Baren tante, namanya Adeline.Ohh ya del ini tante Ayu nyokabnya Deren."
Adeline masih menatap layar tanpa kedip, masa lalunya terasa memutar kembali dengan jelas. Bayang bayang wanita itu yang pernah membuatnya bangkit dan juga yang membuatnya terpuruk lagi.
"Hayy nak kamu cantik banget, pantesan abangnya juga tampan kayak gini," Ayu menepuk pundak Baren dan tersenyum menatap Adeline yang masih mematung.
"Hallo del...lo kenapa?? sinyalnya buruk ya??," Baren melambaikan tanganya kelayar, membuat Adeline kembali sadar dan langsung memutus panggilan sepihak tanpa sepatah kata.
"Loh kok mati sih??."
"Mungkin sinyalnya jelek," sahut Deren.
Adeline masih mencerna semua ini, jadi wanita itu mamanya Kak Deren dan Lisa??.
"Gue nggak perlu susah susah lagi mencarimu, ternyata benar kata kak Baren. Dunia ini terlalu sempit."
Adeline mendial nomer yang beetuliskan 'Nyonya Drella'.
"Percepat pertunanganku!!," ujar Adeline saat tersambung.
"Hmm kenapa kau buru buru?? bukannya kau bilang setelah libur semester??."
"Aku ingin mempercepatnya!."
Tut Tut Tut
"Aku akan merebutnya darimu!!," Adeline tersenyum miring menatap pantulan dirinya didepan cermin.
******
Haii jan lupa jempol and komen😍
Bantu vote and rate juga yaa man temann😊
Vielen danke😘
__ADS_1