Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Terbukti


__ADS_3

Lisa Pov.


Kaget plus takut saat alarm entah itu alat apa berbunyi saat satpam mengarahkannya ketas gue. Banyak orang disekeliling menatap kearah gue dengan tatapan mengerikan. Enyahlah gue sekarang!!!!.


"Lisa kamu kok malah bengong?? ayo buka dong tas lo!!." Ujar Kak Intan yang menambah kegugupanku.


"Sini!!!." Kasar banget satpamnya main ambil tas orang. Kalau nggak didepan orang banyak udah gue celupin ke laut. Gue gugup?? nggak usah ditanya lagi. Yah pastilah siapa coba yang nggak gugup walaupun dia nggak salah sekalipun. Ini didepan banyak orang wooyy mau ditaruh mana nih muka.


"Ini apa??."


Bukan hanya mulut gue yang menganga,mereka semua sampai menatapku seperti jijik. Mama tolong anak mu ini hikks hikks..


"Itu...i.tuu.." Jelas gue nggak bisa ngomong. Karena gue sendiri aja bingung kenapa ada barang itu ditas gue??.


"Ya ampun Lisa lo..." Ucap Kak Intan tanpa melanjutkannya. Hufftt dasar dia kira gue pencuri hahh?. Teman temanku juga ikut panik. Apa mereka mengira bahwa pelakunya itu gue??.


"Ayo ikut saya!!!." Ujar pak satpam sambil menarik tanganku.


"Tunggu!!!." Ucap Kak Bian.


"Ada apa?? sudah jelas dia mencuri jangan kau bela. Bela saja nanti dikantor polisi."


Deg


Kantor polisi??. Gue gitu yang mau dibawa kekantor polisi??. Hehh jangan main simpulkan kalau itu gue yang ambil. Udah pengen gue caci maki nih satpam tapi kenapa suara gue serasa nyangkut. Dari tadi hanya bisa geleng geleng kepala. Memalukan.


"Saya percaya dia tidak melakukannya."


Satpam itu terkekeh mengerikan.


"Saya juga pak." Sahut Kayla disusul sahabatku yang lain. Gue kira lo pada nggak percaya sama gue. Kalian lah sahabat sejatiku. Aisshh ini keadaan belum selesai Lisa.Hikk hikks..


"Jelaskan saja nanti!!." Saat satpam akan menarik tangan gue lagi tapi gagal. Kak Bian lebih dulu menarik tangan gue dan menutupiku dengan punggung lebarnya.


Ouuhh jadilah orang yang berguna Kak untukku. Kau sudah terlalu merepotkanku dengan ini itu. Sekarang kumohon bantulah aku.


"Bukti itu belum cukup membuktikan bahwa dia pelakunya."


"Makhsud kamu apa sih Bi??. Jelas jelas barang itu ada di tasnya Lisa. Kalau bukan Lisa siapa lagi??. Benar benar yah Kak Intan ini. Kenapa sedari tadi seperti memojokkan ku.


"Bukan. Bukan gue pelakunya gue juga nggak tahu kenapa itu ada ditas." Nggak mungkin gue diem aja terus dituding atas apa yang nggak pernah gue lakuin. Gue juga nggak miskin kali sampai harus nyuri.


"Apa bisa diselesaikan secara kekeluargaan??." Usul kak Bian. Satpam itu nampak berfikir.


"Ini biar saya bayar." Kak Bian mengambil alih barang itu.


"Tapi kak gue nggak lakuin itu." Ucapku. Dia kira dengan mengkhahiri ini nama baik gue bisa baik lagi??.


"Gue percaya sama lo."


"Bapak bisa ikut dengan saya?? jika bapak masih tidak percaya bahwa semua ini adalah rekayasa." Sambung kak Bian.


"Oke."


"Mari!!!." Gue tahan lengannya. Dia mau lakuin apa?? jangan bilang dia mau selesain dengan cara hukum. Awas aja ya kak kalau masalah ini tambah rumit.


"Mau kemana??."

__ADS_1


"Tenang aja, gue balik semuanya clear."


Kak Bian dan satpam itu menghilang kedalam toko. Apa yang mau dilakuin sama Kak Bian??. Gue jadi nggak tenang.


"Tenang aja Lis kebenaran bakal terbukti kok." Ujar Kayla mengelus punggungku. Mereka semua memelukku memberi ketenangan kecuali Kak Intan.


Masih teringat wajah Kak Intan saat menudingku. Emang apa salah gue sampai dari pertama ketemu, gue ngerasa dia nggak suka lihat gue.


********


Perasaan gue was was saat kak Bian dan satpam itu kembali. Aiiss mimpi apa semalem sampai dituding kayak gini. Hari yang menguras pikiran dan tenaga.


"Gimana kak??."


"Udah gue bilang semuanya clear."


"Maaf telah menuduh mbaknya." Satpam itu menjulurkan tangan dengan ragu gue balas ulurannya.


Apa ini berarti gue bebas??. Lisa seharusnya dari tadi lo emang harus bebas, karena ini bukan salah lo.


"Benarkan Lisa nggak salah??." Tanyaku dengan mata beebinar.


"Bukan mbak pelakunya." Ucap satpam itu.


"Terus siapa pak pelakunya??." Tanya Kayla.


"Mungkin pelakunya ada disekitar sini, kalau begitu saya permisi. Dan sekali lagi saya minta maaf mbak." Ujar satpam itu dan beranjak pergi.


Bentar,, katanya pelaku ada disekitar sini??. Kenapa memberi jawaban yang tidak pasti sih tu satpam. Berarti sipelaku sebenarnya lah yang menaruh barang curian ditas gue dong. Terus siapa sih ini pelaku?? kenapa malah naruh barang curiannya ditas gue??.


Entahlah yang penting gue bebas dan terbukti tidak bersalah. Orang orang disekitar yang masih.setia menontonku langsung bubar. Dasarr tidak tahu malu. Pasti mereka sudah mengumpatiku dari tadi. Sekarang apa gue nggak bersalahkan?? jadi makan tuh umpatan umpatan kalian sendiri.


"Aahh nggak penting siapa pelakunya. Yang penting gue terbukti nggak bersalahkan?."


Nah gitu dong kak bergunalah untukku. Refleks gue tubruk tubuh kak Bian dan memeluknya. Hmmm harum ini...kenapa membiusku seakan enggan untuk melepaskannya.


"Makasih kak."


"Nggak usah peluk peluk juga kali." Kak Intan melepaskan tanganku dari pinggang kak Bian. Nih cewek kayaknya suka deh sama kak Bian. Iri banget ligat gue meluk kak Bian.


"Kita pulang aja yuk Bi!!!." Ajaknya dan lagi lagi sifatnya yang membuatku muak. Bergelayut manja seperti anak monyet saja kau. Kalau bukan senior udah gue ledekin dari tadi.


"Kalian naik apa??." Kak Bian malah balik tanya menatapku.


"Kita naik mobilnya Rian kak."


"Yaudah hati hati bawa mobilnya." Kak Bian menatap Rian dan dibalas anggukkan.


"Sekali lagi makasih kak." Teriakku saat Kak Bian dan Kak Intan mulai beranjak pergi. Tidak ada jawaban atau menoleh sedikit saja, benar kembali ke sifat awal. Dasar kak Bian jika dia tidak menolongku mungkin udah gue maki tuh orang.


**********


Saat diperjalanan pulang Intan banyak diam. Dia takut kalau Bian sudah mengetahui kebenarannya. Jangan sampai nama baiknya yang terlihat buruk didepan Bian.


"Kalau gue tahu lo lakuin itu lagi ke Lisa atau siapa pun itu jangan pernah lo tunjukin wajah lo didepan gue!!!." Bagai disengat listrik ketakutan Intan benar benar terjadi.


"Makhsudnya apa sih Bi?? gue nggak ngerti lo omong apa." Ucap Intan senatural mungkin. Yah patut diacungi jempol atas acktingnya selama ini didepan banyak orang.

__ADS_1


Cciittt


Bian menepikan mobilnya dipinggir jalan. Sudah tidak ingin bertele tele dengan ratu drama Bian membukakan pintu untuk Intan. Jangan pikir ini hal yang romantis. Tidak, ini adalah hal memalukan bagi cewek manapun.


"Turun!!!."


"Kenapa turun disini Bi?? rumah gue masih jauh." Ucap Intan panik.Tanpa panjang lebar Bian menarik tangan Intan sampai keluar dan membiarkannya memohon untuk tidak diturunkan dijalanan. Yahh Bian menurunkan Intan ditepi jalan dan sialnya lagi ini jalan sepi kendaraan karena hari sudah larut.


"Siall!!!." Teriak Intan menendang kaleng yang ada didepannya.


"Awas aja yah, kali ini lo boleh lolos tapi tidak untuk selanjutnya." Ucap Intan penuh penekanan.


********


Kota Berlin, Jerman


Pagi ini heboh dengan tontonan yang bisa membuat orang terpingkal pingkal saat melihatnya. Siapa lagi jika bukan Jerry yang ada dalam vidio itu. Sedangkan dua orang dikantin merasa puas dengan rencananya. Yah vidio saat Jerry mabuk dan dihajar para kaum hawa telah tersebar. Mungkin sampai saentro nusantara. Malu bukan kepalang bagi Jerry.


Sekarang dirinya menjadi tranding topic dengan cepat dan mudah. Dikarenakan Jerry juga orang yang terkenal maka mudah untuk menyebarluaskannya.


"Sialann!!!." Semua barang dikamarnya hancur terkena amukan Jerry.


Sedangkan dua temannya berusaha menahat tawa. Jika tidak tinggallah nama mereka berdua karena berani beraninya menertawakan seorang Jerry.


"Bos kenapa lo bisa mabuk sih?? udah tau dari orak nggak bisa mabuk malah minum akohol segala. Mau caper sama Adeline??." Ucap Gerry. Tatapan tajam langsung menusuk kedalam netra coklat Gerry.


"Kalau gue tahu disitu ada akoholnya nggak bakal gue makan ****." Sahut Jerry.


"Jadi lo dijebak gitu??." Tanya Nando teman jerry yang berkacamata.


"Omongan lo ada benarnya juga."


"Lo udah lacak siapa yang pertama ngirim vidio itu??." Sambung Jerry.


"Udah bos tapi akunnya udah diblock sendiri jadi kita susah nyarinya." Sahut Nando.


"Aaahhh."


*******



Dikantin


"Gue semalem nggak berhenti ketawa tau." Ucap Adeline menyeruput es tea .


"Apalagi gue yang ngelihat secara langsung adegan itu."


"Kalau gue jadi para cewek itu sih udah gue celupin kepala Jerry ke toilet." Tawa mereka berdua lagi lagi meledak tanpa peduli tatapan disekitarnya.


"Ohh ya kak Baren udah berangkat??."


"Eeumm udah tadi pagi."


"Huufftt gue jadi kangen rumah."


"Kangen rumah atau kangen Lisa??."Rasyad menyengir menatap Adeline.

__ADS_1


"Gue telfon Lisa aja gimana??."Adeline hanya membalas dengan senyum kecut sambil mengaduk gelas kosong didepannya.



__ADS_2