
"I..iini benar nomornya D..devi kan??." Tanya Kayla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hp.
Rian dan Dito mendekat kearah Kayla seketika ekspresi mereka sama dengan Kayla. Mata dan mulut melebar sempurna.Yah karena layar hp menampakkan wajah sseorang pria bukan wajah Devi, siapalagi kalau bukan Baren.
"Haii apa kabar??." Baren tersenyum manis sedangkan ketiga orang itu masih bingung dengan situasi ini.Pikiran aneh sudah memenuhi otaknya. Apa yang dilakukan Devi sepagi ini dengan pria dilayar hp Kayla??.
Devi terbangun memegang kepalanya, dia masih linglung kenapa dia ada disini?? dimana dia sekarang??. Saat melihat Baren tak jauh dari ranjangnya fikiran kotor mulai muncul.
"Aaaaaahhh lo apain guee???...." Teriak Devi, spontan Baren menoleh dengan alis bertautan.
"Sudah bangun??." Ujar Baren enteng, sedangkan Panggilan itu masih tersambung dan berhasil membuat mereka bertiga terkejut saat kamera mengarah ke Devi yang masih berbaring diranjang.
"Apa yang lo lakuin hahhh??." Bentak Devi sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuh kecuali kepalanya.
"Deeviiii!!!!!...." Teriak Kayla, Dito, dan Rian bersamaan. Devi melotot mendengar suara yang sangat ia hafal. Devi mengambil alih hp dari tangan Baren.
"Lo ngapain sama cowok itu sepagi ini hahhh??." Sarkas Rian.
"Lo kerasukan setan apa Dev?? apa gara gara lama ngejomblo?? jangan gitulah Dev gue aja yang jones nggak sampe kepikiran kesitu kali." Cerocos Dito. Devi ingin angkat bicara tapi teman temannya tak membiarkan semudah itu.
"Gue ngg.."
"Udah deh Dev gue nggak habis pikir lo, apasih yang lo pikirin sampai nekat hahh??." Serobot Kayla.
"Lo punya hutang penjelasan ke kita, kita tunggu lo di bascamp." Sambung Rian.
"Dirumah Lisa aja biar semuanya tahu, ohh ya jangan lupa cowok itu harus ikut." Ujar Kayla.
"Satu jam lagi gue tunggu titik, awas aja kalau lo nggak dateng!!!." Rian menunjuk layar dengan mata melotot menatap Devi.
Devi saja masih sulit mencerna situasinya sekarang ditambah bentakan dari sahabatnya, membuat kepalanya semakin pening.
Baren mengerti situasi yang dialaminya sekarang hanya bisa menggaruk lututnya yang tidak gatal.Saat panggilan terputus Devi melempar hp nya dengan wajah menahan kesal.Bangun tidur sudah mendapat semprotan dari teman temannya.
"I..itu gue nggak lakuin apa apa sama lo, sumpahh." Baren mengangkat dua jarinya sedangakn Devi menatapnya tajam.
"Sampai lo nyentuh gue se centi gue sum..."
"Sumpahin gue jadi perjaka tuakan??." Potong Baren.
"Lihat aja sendiri pakain lo masih lengkapkan??." Devi menurunkan selimut dan melihat pakaiannya masih utuh, dia bernafas lega.
"Kenapa lo bisa pingsan??." Pertanyaan Baren membuat Devi gelagapan dan membuang mukanya kearah lain.
Ada yang aneh dari ekspresinya...
Batin Baren.
"Gue kecapek an aja, ohh ya kita jelasin semuanya sama temen temen gue sekalian lo kan mau kerumah Lisa. Kita kesana sekarang!!."
"Bener lo baik baik aja?? atau kita kerumah sakit dulu??." Baren menatap lekat mata Devi berusaha melihat kebenaran didalamnya.Baren memang mudah mengenali ekspresi orang lain, sulit bagi mereka jika harus berbohong darinya.
"Euumm...gue baik baik aja." Devi mengangguk tapi dia masih tidak berani melihat mata tajam Baren yang sedang menatapnya.
"Udah ayok gue nggak mau mereka punya pikiran aneh." Sambunng Devi.
"Biarin aja kali mikir aneh aneh, toh kita nggak lakuin apa apakan?."
"Haahh enak aja ngomong gitu, gue yang jadi bahan ocehan mereka nanti. Jelasin yang sebenarnya!!."
Tunggu kalau dia bilang gue pingsan terus nginep disini malah tambah runyam lagi, pasti Kayla banyak tanya kenapa gue bisa pingsan.
Batin Devi.
"Ehh tapi jangan bilang kalau gue pingsan ya!!! bilang aja emm... gue nginep gara gara semalem hujan, kita nggak sengaja ketemu gitu!!! yahh pllliisss..."
"Semalem kan nggak hujan gimana sih. Kenapa harus bohong?? lo nyembunyiin sesuatu ya??."
"Nggak kok." Jawab Devi cepat.
__ADS_1
"Eumm bilang aja gue ketiduran gitu!! udah deh nggak usah banyak tanya." Devi beranjak keluar kamar sedangkan Baren menatap curiga Devi.
********
Lisa merasa aman sekarang, tidak ada lagi Raka dirumahnya. Raka sudah dijemput oleh babysisternya sedangkan Bian masih tetap dirumah Lisa.
Tok Tok Tok
"Biar gue aja." Bian beranjak membuka pintu, Lisa tak menghiraukan Bian karena fokus dengan film actions didepannya.
Cekkllekk
"Kak Bian??." Ujar mereka kompak, yah tamu itu Kayla, Dito, dan Rian. Lagi lagi mereka dibuat tercengang melihat sosok pria sepagi ini dirumah sahabatnya.
"Kenapa?? masuk aja lisa ada didalam." Bian masuk lebih dulu tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya dari ketiga tamu Lisa.Mereka bertiga saling tatap lalu mengedikkan bahu bersamaan.
"Jangan berpikir aneh aneh." Ujar Kayla beranjak masuk kedalam diikuti Rian dan Dito dengan wajah absurtnya.
"Lisaaaa...." Teriak Kayla menghampiri Lisa dan langsung memeluknya.
"Lepasin Kay kecekik tau."
"Hehee maaf.." Cengir Kayla.
Rian dan Dito mengedarkan pandangan keseluruh rumah Lisa. Hanya satu yang terlintas diotaknya, kenapa rumah ini seperti korban gempa bumi??.
"Lis rumah lo habis kena gempa ya??." Tanya Dito.
"Gempa apaansih?? mana ada Dito aneh lo."
"Iyah Lis berantakan banget ini." Sahut Kayla yang juga mengamati sekelilingnya penuh dengan bungkus makanan, vas berserakan, semua barang pindah dari tempat asalnya.
" Gara gara sikecil Raka yah jadi kayak gini deh."
"Raka??."
"Eeuumm ponakan kak Bian."
Haduggg kalau gue cerita semalam tidur bareng sama kak Bian bisa malu nih, cuma ada gue sama kak Bian lagi dirumah ini.
Batin Lisa.
"Kak Bian nginep semalam sama Raka, eumm intinya Raka itu ponakan kak Bian dia semalem tidur sama gue udah itu aja ceritanya panjang, kalian nggak usah banyak tanya."
"Ouuhh gitu yaa." Ujar Kayla menatap Lisa dan Bian penuh selidik. Lisa mengalihkan pandangan dari tatapan Kayla, bisa bisa jika mereka tahu kejadian semalam mau ditaruh mana muka Lisa apalagi kalau Rasyad sampai tahu aisshh...
"Ehh kalian ngapain kesini??." Tanya Lisa.
"Tunggu aja penjelasan dari Devi." Sahut Rian.
"Hahh makhsudnya??."
Tok Tok Tok
"Tuh anaknya udah dateng biar gue aja yang buka." Rian beranjak membukakan pintu. Yah benar Devi dan Baren lah yang datang.
******
Kota Berlin, Jerman
Siang ini dirumah Adeline Rasyad masih setia menemani Adeline.Adeline benar benar terpukul atas apa yang menimpanya saat ini. Ditambah pengakuan dari sang mama agar Adeline ikut pindah ke prancis, sangat jelas Adeline tidak semudah itu menerima ajakan sang mama.Sampai kapanpun Adeline tidak akan memaafkan orang yang membuat hidupnya dan sang Dady harus menderita karena kurangnya kasih sayang dari seorang ibu.
Seandainya mama Adeline tidak meninggalkan mereka mungkin Dady tidak akan mengalami apa itu patah hati berulang kali.Sampai Dady terkena penyakit jantung dan depresi berat.
"Del lo nggak kasih kabar sama kak Baren??." Tanya Rasyad.
"Gue nggak mau kak Baren kepikiran, dia disana pasti sibuk ngurus bisnis barunya."
Pintu kamar Adeline terbuka dan terlihat mama Adeline dengan wajah datarnya berjalan mendekat. Adeline sangat muak melihat wajah itu.
__ADS_1
"Mau apa anda masih disini hah?? bukankah sudah saya katakan bahwa saya tidak akan ikut bersama anda kemanapun itu!!!." Ujar Adeline dengan wajah sembab.
"Kalau kamu nggak mau ikut mama..." Mama Adeline menjeda ucapannya menatap tajam Adeline.
"Kamu harus mau mama jodohkan!!!." Rasyad dan Adeline saling tatap mendengar perkataan mama Adeline.
"Haahh apa yang anda katakann?? Apa anda sudah lupa bahwa anda sudah bukan siapa siapa saya." Bentak Adeline.
Pllaakk
Perih, sakit, itu yang dirasakan Adeline. Tidak pernah selama ini Dady menamparnya, dan sekarang orang yang telah melahirkan dan tidak pernah merawatnya telah menampar dengan begitu gampang. Sakit benar benar sakit, sudah tidak ada seorang pelindung bagi Adeline sekarang.
"Apa yang tante lakukan?? jangan sentuh Adeline kalau tidak anda berhadapan dengan saya." Rasyad menatap tajam mama Adeline tanpa takut sedikit pun.
"Kamu siapa berani beraninya mengancam saya??."
"Saya Kekasih Adeline." Entah peluru dari mana Rasyad bisa meluncurkan kalimat itu dengan mudah. Adeline terkejut ada rasa senang dihatinya tapi dia tahu Rasyad tidak mungkin sungguh sungguh mengatakan itu.
"Kekasih?? Cckk jika kamu benar benar kekasih anak saya, lamar dia sekarang!!!."
********
Mereka semua mendengar baik baik penjelasan Baren dan Devi. Devi seperti berada ditengah tengah binatang buas, cara menatap teman temannya membuat bulu kuduk meremang. Untung saja mereka percaya tanpa curiga sedikit pun.Mereka juga sudah ingat bahwa pria itu adalah Baren.
Drrtt Drrtt Drrtt
"Bentar yah gue angkat telfon dulu." Baren beranjak menuju belakang rumah Lisa.
"Hallo ada apa Del??."
"Hiikkss kak..."
"Kamu nangis?? ada apa dek jangan buat kakak khawatir!."
"Dady...hikkss.."
"Sini del biar gue yang ngomong." Terdengar suara Rasyad dari seberang telefon.
"Hallo kak."
"Ada apa Ras cerita sama gue?? lo yang bikin Adel nangis hahh??."
Tanpa Baren sadari dibalik pintu menuju taman belakang rumah Lisa ada sepasanng mata sedang mengamatinya.
"Nggak kak, eumm itu.. Dady Adel meninggal kak." Baren kagel bukan main, rasa sesak didada mendadak memyerang.
"Candaan lo nggak lucu Ras."
"Gue nggak lagi bercanda kak.." Taka ada sahutan dari Baren membuat Rasyad harus mengatakan suatu hal langsung.
"Mama Adelin juga surug gue tunangan kalau nggak Adel akan dijodohkan." Suara Rasyad terdengar lemah dan lagi lagi membuat Baren kaget.
"Tunangan?? sama Adel??."
Deg
Pppyaaarrrr
Gelas dari tangan seseorang yang sedari tadi berada dibelakan Baren meluncur dengan mulus.
"Suara apa itu kak??." Tanya Rasyad.
"Gawatt Ras.." Ujar Baren menatap orang dihadapannya tak percaya.
Mungkin dengan menunggu kita akan belajar
__ADS_1
Tentang sesuatu yang datang atau menghilang