
Mata dan langkah ini tak hentinya mencari sosoknya, ditengah lalu lalang orang aku terus berjalan entah kemana kaki ini membawaku menemukanmu. Kumohon kembalilah, jangan sampai aku menyesalinya.
Apa aku harus berteriak memanggil namamu ditempat ini?, bisa bisa mereka menganggapku gila.
Entah apa yang harus kuperbuat sekarang, sungguh saat ini aku hanya ingin memelukmu. Jangan membuat Lisa menyesal kak. Sudah cukup kak Bian diam selama ini.
"Lisa," aku menoleh melihat Rasyad berjalan mendekatiku.
"Kamu ngapain disini??."
"Pesawat menuju Jogya udah berangkat belum??," tanyaku balik.
"Baru aja lepas landas."
Deg
Seperti tersengat listrik tubuhku luruh kelantai, lemas, rasanya tak ada harapan lagi. Semuanya sudah selesai detik ini. Tanpa kuhiraukan tatapan orang orang dan ucapan Rasyad aku terus menangis tanpa malu, biarkan mereka berpikir aneh tentangku. Mereka tidak akan pernah tahu perasaanku sekarang.
Kenapa?? Kenapa takdir seperti mengajakku bermain. Bodoh Lisa, semua sudah terlambat. Tidak akan ada lagi harapan untukmu.
Maaf aku terlalu bodoh untuk menyadarinya, mungkin ini balasan yang tepat untukku. Apa aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi?.
"Aaahh selesai Ras, gue telat hikkss," aku terus meracau sedangkan Rasyad hanya diam duduk berjongkok didepanku, entah apa yang dipikirkannya.
"Gue bodoh!, kenapa gue nggak bisa jujur sama perasaan gue sendiri___dan berakhir seperti ini?."
Mungkin ini sudah jalannya kak Bian pergi mencari sosok yang lebih pantas untuknya. Tapi apa aku boleh berharap lebih?, aku masih ingin dia kembali.
.
.
.
.
.
Tiga hari berlalu membawa sebuah penyesalan teramat dalam bagi Lisa. Sejak itu hari harinya hanya menyendiri, dia selalu menghindar dari sahabatnya jika diajak bicara maupun keluar. Bagi Lisa harinya tidak lagi sempurna tanpa adanya Bian yang selalu membuatnya tertawa lagi, bukan seperti Bian sebelumnya. Tapi sekarang sosok itu benar benar hilang dari hidupnya.
Bahkan Lisa tahu Bian mencoba menjauh darinya. Tidak hanya berdiam diri, Lisa juga mencari informasi dari tante Luna. Tapi semua itu sia sia, sepertinya Bian meminta agar tidak memberitahu siapa siapa dia pergi kemana. Nomor Bian juga tidak aktif sejak dia pergi.
Seperti jalan buntu, Lisa hanya bisa mendesah setiap harinya.
"Dek boleh kakak masuk??," teriak Deren dari luar kamar Lisa.
"Masuk aja kak nggak dikunci!."
Deren tahu apa yang sedang dialami adiknya itu, padahal Deren tidak pernah merasakan patah hati. Bagaimana tidak, seperti yang dikatakan Lisa bahwa Deren itu beda dari lain. Cowo anti Cewe, bukan Gay juga sih. Tapi sekarang Deren sudah menemukan separuh hatinya. Walaupun belum mengikat sepenuhnya.
"Galau boleh tapi jangan dipelihara dong, nanti cepet tua loh!," ujar Deren duduk ditepi ranjang Lisa, sedangkan Lisa berdiri didekat jemdela menghadap keluar.
"Itu mah kalau marah," sahut Lisa.
"Sama aja kali."
"Eh kapan nih aksi rencana kamu, lama banget," sambung Deren.
"Kalau besok gimana??, nanti Lisa ngomong sama yang lain."
"Besok malam yah??."
"Iyalah masa kencan disiang bolong, nggak seru dong."
"Terus nanti aplikasinya gimana supaya bisa dapet kakak?."
"Udah Lisa atur, kak Deren tinggal sewa tempatnya aja."
"Eemm baik banget sih adiknya siapa ya ini!," ujar Deren mendekat sambil mengacak rambut Lisa membuatnya memanyunkan bibir.
Hari berlalu cepat berganti sang bintang menerangi malam yang indah ini dimana para blacksquat menjalankan misinya. Kecuali Lisa, dia tidak jadi ikut sedangkan Rian dan Dito mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mengikuti kencan buta sesungguhnya.
Mereka wajib berfoto dengan rekan kencan butanya sebagai bukti, juga beberapa kegiatan yang mereka lakukan. Tidak ada yang tahu bahwa ini rencana Lisa dan Deren, hanya saja Rian dan Dito tahu bahwa ini rencana Lisa tapi tidak tahu alasannya untuk apa. Mereka berdua hanya menginginkan hadiah dari Deren jika rencana ini berhasil.
"Gimana udah pada siap belum??," tanya Lisa saat vidio call tersambung dengan ketiga sahabtnya.
"Siapp dong!!!," sahut Dito penuh semangat.
"Jangan lupa buktinya oke!?."
"Iyah Lis pastilah," jawab Rian.
"Tapi kalau orangnya jelek gimana?? atau jangan jangan udah tua lagi dia___gara gara lo sih Lis kenapa pilihin buat gue yang nggak ada foto profilnya sih, gue kan jadi takut kalau kalau____"
"Suuttt banyak omong lo Kay, yakin deh sama gue pasti lo suka, ohh ya inget hadiah dari gue nggak murahan loh jadi fighting!!!," potong Lisa.
__ADS_1
"Gue sih semangat banget foto profil cewe gue mah cantiknya ngalahin kalian pada tahu nggak," sambung Rian.
"Ya elah lihat aja nanti kayak apa cantiknya tuh cewek," sahut Kayla.
"Kalau gue kok kayak kenal ya sama cewe ini___tapi siapa?? namanya disamarin lagi kebule bule an," ujar Dito.
"Udah sana pada berangkat___jangan sampai mereka datang duluan!."
"Oke Lis byee!!!," ucap Kayla, Dito, dan Rian kompak.
"Ehh tunggu!!!."
"Apa lagi?," tanya Kayla.
"Jangan lupa kiss nya juga difoto oke byee semngatt!!!," ujar Lisa lalu mematikan panggilan sebelum dicaci maki para sahabatnya.
"Wahh minta di rukyah tuh anak," ujar Kayla yang tak bisa didengar Lisa. Sedangkan Rian dan Dito tersenyum penuh makna mendengar ucapan terakhir Lisa.
Deren sudah menyiapkan tempat khusus untuknya dan Kayla malam ini. Disalah satu kafe terkenal di Jakarta dia mengubah tempat itu menjadi lebih indah. Deren juga memilih out door agar lebih romantis.Rencananya sudah mantap untuk mengatakan perasaannya sebelum semua terlambat.
Mata kayla enggan berkedip melihat dekorasi yang luar biasa, sungguh dia seperti seorang putri saat ini. Kayla bingung kenapa kafe ini sepi?, dia terus berjalan mengikuti karpet merah yang sudah mengarah kesebuah meja bundar.
"Wow apa dia sultan yah, sumpah ini indah banget___serasa mimpi," monolog Kayla memandangi sekelilingnya.
Deren berjalan mendekati Kayla tanpa disadarinya, diikuti seorang pembawa biola yang mulai menggesek menghasilkan suara yang merdu. Kayla membalikkan badannya, dan tak disangka dia dikejutkan Deren yang tersenyum begitu manis menatapnya.
Tubuh Kayla begetar bahkan aliran darahnya terasa berhenti tapi detak jantungnya seakan akan ingin keluar saat ini juga.
"Selamat datang my queen!!!," Deren mengulurkan tangan kanannya dengan sedikit membungkukkan badan.
Gue nggak lagi mimpi kan?? pliis gue nggak kuat lagi__sadar Kayla khayalan lo ketinggian, batin Kayla.
Gesekan biola terus membuat kedua insan itu saling terhipnotis, tanpa persetujuan Kayla dengan sigap Deren menarik tangan Kayla mendekatinya. Perlahan tapi pasti Deren menuntun Kayla untuk mengikuti gerakannya.
Berdansa, yah kali pertama seorang Deren memberanikan diri melakukan hal seromatis ini.
Ini nyata Kay, sungguh gue pengen nangis___andai lo masih disini Dev, mungkin gue udah nyerocos nggak karuan sama lo, batin Kayla tanpa disadari dia menitikkan air matanya.
Dia nangis yah??, gue ngelakuin kesalahan apa?___ astaga Deren gimana ini??, batin Deren panik.
"Maaf kalau aku lancang__jangan nangis yah!?," Deren menghapus buliran air dipipi Kayla.
Deg
Deren melapaskan pelukan Kayla, dia mengambil sesuatu dari dalam jaz yang dikenakan dan mengintrupsi agar sang pemain biola berhenti.
Kayla teramat senang, dia tidak tahu harus berkata apa. Bahkan untuk bertanya kenapa Deren melakukan ini dan banyak lagi pertanyaan yang ungin dilontarkannya. Tapi enggan untuk keluar, Kayla terlalu menikmatinya.
Deren menekuk satu lututnya berjongkok didepan Kayla dan menunjukkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Kak berdiri, jangan kayak gini Kayla malu," ujar Kayla melihat sekelilingnya yang sepi, hanya ada mereka berdua disini.
"Boleh aku jujur sama kamu Kay?," tanya Deren tetap diposisinya tanpa mendengarkan Kayla.
"Ju jujur apa kak?," tanya Kayla gugup, detak jantungnya sedari tadi sudah ingin meledak. Keringat dingin sudah mengalir membasahi gaun hitamnya malam ini.
"Dari pertama kali aku ketemu sama kamu entah perasaan apa itu, tapi aku yakin kalau kamu orang yang aku cari selama ini."
"I Love You Kayla!!!," sambung Deren membuat Kayla spontan menutup mulutnya.
"Kalau kamu terima cicin ini, berarti kamu mau aku jaga hati kamu."
Kayla kembali meneteskan air dari pelopak matanya, sungguh selama ini dia juga memendam perasaannya. Tapi dia tidak menyangka Deren datang sendiri kepadanya tanpa Kayla repot berpikir untuk mengungkapkan perasaan.
Dan hanya satu anggukan dari Kayla, senyum keduanya terbit dengan iringan piano menyambut kebahagiian keduannya.
Deren memasangkan cicin itu kejari manis Kayla, tak disangka letusan kembang api mengiringi pemakaian simbol ikatan cinta mereka. Deren berdiri menghadap Kayla dengan senyum tak pernah pudar ia tunjukkan.
"I Love You Kay," sekali lagi Deren mengucapkannya, tapi dia juga memberikan tanda kepemilikannya dibibir Kayla walaupun cukup singkat membuat Kayla membeku.
Kayla cepat sadar dan membalas ungkapan Deren.
"I Love You to kak," ucapnya malu malu membalas dengan sebuah pelukan.
Akhir dari sebuah rasa yang selama ini dipendam berbuah manis, berbanding terbalik dengan kisah sang adik yang miris.
Dilain tempat Rian juga mengalami sport jantung saat mengetahui siapa teman kencan butanya.
"Kenapa harus lo sih, bikin gue tambah bad mood deh," ujar cewek bergaun putih yang yang duduk didepan Rian.
"Emang gue mau kalau tahu itu lo hah??."
"Salah siapa lo pakai nama samaran, apalagi tuh muka beda jauh kayak diprofil."
__ADS_1
"Hehh kayak lo nggak aja, dasar temennya nenek lampir," ujar Rian dibalas tendangan kaki dari bawah meja membuatnya meringis.
"Siapa yang lo makhsus nenek lampir hah??."
"Siapa lagi kalau bukan sahabat lo si ratu kampus," sahut Rian masih mengelus tulang keringnya yang terasa nyeri karena hells Rayna, yah Rayna lah pasangan kencan buta Rian tanpa disengaja.
"Resek juga ya lo, daripada pusing dan bikin gue pengen muntah lihat wajah lo mending gue jalan sendiri___Byee!!!," Rayna beranjak berdiri namun tangannya segera dicekal Rian.
"Tunggu!!."
"Apa lagi hah??, nggak usah pegang pegang najis tahu!," sahut Rayna melepaskan tangan Rian dari tangannya.
Kalau gue gagal gue nggak bakal dapet hadiah nih walaupun ini taruhannya khusus buat Kayla, tapi gue juga nggak mau kali foto sama nih orang nanti dia kepedean lagi, batin Rian.
"Woyy malah bengong!!," sentak Rayna.
"Ya udah pergi sana!!!, nggak jadi," Rayna menggertakkan giginya mematap horor Rian.
"Bener bener yah lo udah bikin gue emosi!!!."
Setelah itu Rayna benar benar melenggang pergi meninggalkan Rian yang tengah risau bagaimana caranya dia menunjukkan bukti kencan, bahkan kencannya gatot alias gagal total.
"Ahaa cermelang ide lo yan, nggak usah pusing pusinglah," monolognya sembari menatap cewek disudut ruangan kafe. Rian berjalan mendekati cewe bergaun merah itu .
"Permisi mbak!."
"Iyah ada apa ya mas??."
"Boleh minta tolong nggak??," ujar Rian ragu ragu, cewek itupun ikut berdiri dan menatap Rian dari atas sampai bawah membuat Rian semakin gugup.
"Minta tolong apa?," tanyanya sambil bersedekap.
"Emm___boleh minta foto bareng??,' tanya Rian mengecilkan volumenya. Cewek itu tersenyum miring lalu mengambil tasnya.
Plaakk
"Aawhhh..." ringisan Rian saat tas kulit mendarat diwajahnua.
"Makan tuh modus!!!!," setelah mengucapkan tiga kata si cewek bergaun merah beranjak pergi disambut gelak tawa seseorang dari arah belakang.
"Lo kok masih disini??," tanya Rian kepada Rayna yang masih memegang perutnya dengan tawa yang tersisa.
"Dasar moduss!!!," ucap Rayna mengikuti gaya cewek yang sudah menampar Rian, setelah itu Rayna pergi tanpa peduli emosi plus rasa malu Rian.
Padahal niatnya bukan untuk modus, hanya saja cewek itu menganggap lebih.
"Shit sial banget gue, nggak dapet pasangan eh malah dapet tabokan," monolog Rian.
Sama apesnya Dito juga mengalami hal serupa, gatot alis gagal total. Tapi Dito terus saja mengejar padahal berkali kali dia diusir.
"Stop disitu!!!___kenapa sih lo nggak pulang aja , nggak baik tahu buat anal kecil kayak lo main diluar malam malam apalagi sok mau kencan sama gue," ujarnya membuat beberapa orang menatap kearah mereka berdua, pasalnya sekarang mereka berada dipasar malam tempat dimana rencana mereka berdua kencan.
"Dito bukan anak kecil yah kak, seharusnya Dito bilang gitu sama kak Intan___nggak baik cewek malam malam pulang sendiri," sahut Dito.
Tak disangka, tak diduga Dito juga mengenali pasangan kencannya. Entah takdir atau murni ketidaksengajaan mereka dipertemukan malam ini dalam situasi sama.
"Balik badan lalu pergi dari sini atau gue teriakin lo penguntit!?," ancam Intan penuh penekanan tidak membuat Dito menyerah atau takut, dia malah melangkah maju membuat Intan berjalan mundur.
"Kalau gue nggak mau gimana??," tatapan menantang Dito membuat Intan mengernyit kaget, ekspresi Dito dan penampilannya malam ini membuat sedikit hati Intan kagum. Sebenarnya Dito merasa mengenali siapa profil itu, tapi sayangnya Intan tidak tahu karena Dito mengubah profinya.
Saat hendak berbalik tubuh Intan dengan cepat ditarik Dito mendekat sampai wajah Intan menubruk dada Dito. Dito tersenyum licik, sedangkan Intan tidak bisa mengelak lagi karena tubuhnya terasa kaku.
Malam ini juga merasakan kesedihan, dipantai ini dia merenungi kembali masa masa dahulu bersamanya. Hmm dia Lisa, sendiri ditengah tengah malam ditemani deburan ombak yang membasahi separuh tubuhnya.
Dipantai ini dahulu terukir sebuah kenangan, kenangan yaang tak bisa diulang kembali.Bersama waktu kenangan itu pasti akan hilang, berganti memori baru.
"Kapan Lisa bisa ketemu sama kak Bian lagi?," monolognya menatap kosong kegelapan didepannya.
"Lisa kangen saat kita main kepantai bareng kayal dulu___nerbangin lampion sama harapan harapan yang belum sempat terwujud, main kerumah pohon lagi dan jemput Raka setiap hari."
"Kapan lagi kak??," sambung Lisa disusul air yang membasahi pipinya.
"Kak Bian lagi apa disana??, Lisa kangen kak___"
Mungkin dengan seiring berjalannya waktu semua akan kembali seperti dulu, kembali menemukan apa yang seharusnya terjadi.
🥀🥀🥀
Maaf jika masih ada typo.
__ADS_1
Jan lupa like and komen🥰