
Bian pov
Setelah semua belanjaan selesai dibayar gue menghampiri Lisa, tapi gue malah lihat dia nangis duduk dijok motornya, sambil memandangi layar hp dan entah apa yang dilihat sampai meneteskan buliran bening itu.
"Lo kenapa??."
Lisa buru buru menyembunyikan hp dan menghapus air matanya. Mungkin dia tidak ingin gue tahu masalah yang dia alami sekarang.
"Udah selesaikan??. Sini!!!." Ucapnya mengalihkan pertanyaanku.
"Biar gue anter sampe' rumah,, ini berat." Ucapku
Dia hanya mengangguk dan mulai menyalakan motornya.
Gue nggak bisa lihat ekspresi Lisa, seandainya gue tahu perasaan lo sekarang gue pengen selalu ada untuk lo Lis.
Karena hanya lo yang bisa ngertiin perasaan gue.
Sejak ada lo secercah cahaya kembali dihidup gue Lis.
Kenapa Lisa ngebut banget bawa motornya.Gue takut dia kenapa napa,, baru aja gue mau nyalip Lisa tapi saat dibelokan..
Cciitt Braaakkk
Untung motor dari belokan tadi menghindari Lisa, tapi naas Lisa kehilangan kendali dan akhirnya menabrak trotoar.
Sedangkan pengendara tadi tidak berhenti untuk sekedar menolong atau menanyakan keadaanpun tidak.
Kalian tahu Lisa hanya membuatku malu dia menangis seperti anak kecil, bukankah dia yang salah?? untung pengendara tadi tidak memarahinya.
"Apa yang sakit??." Tanyaku saat motor Lisa sudah tidak menimpa kakinya.
"Aauuu hiks hikkssm" Lisa memegang kakinya, dia ini tidak malu apa? kita dikerumuni orang orang dan dia masih menangis. Gue jadi bingung dia nangis gara gara jatuh atau gara gara masalahnya itu?.
"Kita kerumah sakit ya,, pak tolong carikan taksi." pintaku ke orang yang membantuku tadi.
"Lisa mau pulang kak..hikks...hiksss..."
"Tapi kaki kamu..."
"Lisa pengen pulang aja!!!." Teriaknya sesegukan.
Keras kepalanya dari dulu tidak pernah berubah. Gue pulang dengan taksi, nggak mungkin juga kan gue bawa pulang Lisa naik motor dengan keadaan kakinya seperti ini.
Dimobil Lisa tak henti hentinya menangis. Apa kakinya sesakit itu sampai meracau seperti anak kecil??.
"Jangan nangis, kalau lo nggak berhenti nangis gue bawa ke rumah sakit." Ucapku geram melihatnya sesegukan.
"Kak Bian jahat...jahatt..nggak tau apa gue sakitnya luar dalam." Lisa memukul mukul lenganku.
Apa makhsudnya sakit luar dalam??seharusnya gue bawa kerumah sakit aja tadi, malah gue yang kena tabok.
*******
Lisa pov
Gue ngerasa sial banget hari ini, udah sakit hati ditambah gue jatuh lagi nggak banget deh waktunyaa...
__ADS_1
mamaa tolong anakmu ini hikkss...hikkss....
"Makasih pak." Ujar Kak Bian ke sopir taksi. Kak Bian menuntunku masuk sampai ke kamar, dan ribuan pertanyaan keluar dari mulut mama.
"Kamu kenapa bisa jatuh dari motor sih Lis, kan mama udah bilang nggak usah ngebut ngebut, emang mau jadi jagoan kamu hahh??." Cerocos mama.Ma anakmu ini lagi sakit kok malah kena omel..hikkss.
"Siapa yang mgebut, Lisa bawanya santai kok."
"Mana yang sakit??."
"Sakitnya luar dalam mah." Ucapku,, emang benarkann??.
"Luar dalam?? makhsutnya gimana?kenapa nggak dibawa kerumah sakit aja tadi" ujar mama panik.
"Nggak usah ke rumah sakit, cuma kaki ini kayaknya terkilir deh."
"Katanya luar dalam, cckkk jangan bercanda deh Lis."
Emang luar dalam mah,, lebih sakit perasaan Lisa.
"Biar saya panggilkan tukang urut tante." Ujar kak Bian.
"Ohh nggak usah Bian,, tante jago ngurut kok." Mama tersenyum miring menatapku.
"Lisa nggak mau diurut sama mama." Sarkas ku.
"Nggak ada tapi tapi an. Dionn sini nak!!!."
"Ada apa mah?? Dion lagi asik main games nih."
"Ambilkan minyak urut dikamar mama!!."
"Haahh minyak urut???Kaki Dion nggak sakit lagi kok mah, jadi nggak perlu diurut lagi....nih lihat kalau nggak percaya!!."
"Siapa sih yang mau ngurut kaki kamu." Mama terkekeh melihat tingkah Dion.
"Terus buat siapa??."
"Nih kaki kakak kamu, habis jatuh dia."
"Yyeeyy sukurin biar tau rasa gimana sakitnya diurut mama, impas kan kita." Dion tersenyum jahil melihatku. Dasar adik durhaka lo!!!.
"Aaaaahh Lisa nggak mau diurut titik!!!!." Rengek ku.
Kapok gue dulu ngesukurin Dion sekarang gue sendiri ngerasain urutan mama. Maluu banget dilihat kak Bian, kak Deren apalagi si adik durhaka nggak henti hentinya menertawaiku saat teriakan, ehh mungkin bukan teriakan lagi tapi petasan keluar dari mulutku....hikkss...benar benar sakitt.
********
"Sakit kan kak??." Dion tersenyum miring menatap Lisa, sedangkan kakak nya itu dari tadi tak henti hentinya merengek padahal sudah dari tadi selesai diurut.
"Keluar sono!!! tambah sakit kaki gue lihat muka lo."
"Haahaaaa kasian deh, cepat sembuh kakak buayaa." Dito keluar dengan tawa jahilnya.
"Ohh ngakuin juga Dion kalau dia Buaya." Ucap Deren.
"Terus gue juga Buaya gitu??nggak yaa." protes Lisa.
"Assalamualaikum "
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Kayla, Dito,Devi, dan Rian datang dengan tentengan plastik ditangan Kayla dan Rian.
"Ya ampun Lis lo kenapa??." Tanya Kayla sudah duduk disamping Lisa.
"Habis jatuh tadi."
"Cckk lo tuh kalau nggak bisa bawa motor nggak usah sok ngebut." sambung Devi.
"Enak aja....gue bisa tau bawa motor."
Tampak hening,, Kayla menatap Devi, Dito, Rian bergantian.
Dari isyarat matanya mereka semua ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak ada yang berani mengatakannya.
"Ada apa sih kok saling lirik???." Tanya Deren.
"Ehh enggak kok kak." Jawab Kayla gugup.
"Ngomong aja kali' nggak usah malu."
"Kak Deren sama kak Bian keluar dulu,, baru deh kita berani ngomong." Ujar Dito dengan wajah tanpa dosa. Kayla dan Devi kompak menepuk keningnya.
"Ooo ngusir nih ceritanya??main rahasia rahasiaan??." Deren bersedekap dada menatap mereka semua seperti menginterogasi.
"Eehh..enggak kak,, nggak ada yang mau diomongin kok." Ucap Devi.
"Loh gimana sih Dev, kan kita mau kasih... empp...empp..emmp.."
"Nggak usah ngomong lagi." Rian melepaskan bekapan tangannya dari mulut Dito.
"Ya...ya..yaa...kita keluar aja bro!!!,,, ehh tapi hati hati gue punya banyak mata disini." Deren merangkul Bian keluar kamar.
"Apa ada CCTV disini??." Tanya Kayla melihat seisi kamar Lisa, takut benar ada mata Deren yang dimakhsudnya adalah CCTV.
"Wiihh serem juga kak Deren punya banyak mata." Ucap Dito dengan wajah polosnya.
"Ampuunn deh disini nggak ada CCTV,, mau aja dijahilin kak Deren."
"Emmm Lis..." Kayla menatap ragu Lisa.
"Gue udah tahu semuanya. Jadi lo nggak perlu repot repot jelasin ke gue."
"Waahh hebat lo Lis bisa baca pikiran kita." Ucap Dito tersenyum lebar.
"Be*o banget lo Dit. Mana mungkin Lisa bisa baca pikiran orang." Geram Rian menoyor kepala Dito.
"Tau nih orang be*o nya kok nggak ilang ilang yaa,,, heran gue." Sambung Devi.
"Kayak lo pinter ajaa." Protes Dito ketus, Devi membalas Dito dengan menjalurkan lidahnya.
" Lo beneran udah tau kalo Rasyad...."
Kayla menghentikan ucapannya,, dia ragu dengan keadaan Lisa sekarang mungkin akan menambah kekacauan antara hubungan sahabatnya itu.
"Gue udah tahu." Jawab Lisa cepat.
"Nyerah aja deh Lis,, gue yakin Rasyad udah nggak..."
"Ditooo..." Bentak Kayla, Devi kompak. Dito pun langsung terdiam ditempat hehehe....
__ADS_1
Rasanya ingin menyerah,, tapi dengan kita menyerah akan membuat kita kalah,itu sama saja kita seperti pengecut