Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Kembali ke masa lalu


__ADS_3

Lisa Pov


"Bian kamu ada dimana sekarang??" tanya Dokter Anya sekali lagi.


"Gelap..gelap..gelapp" jawab Bian tetap dengan mata tertutup.


"Tenang ya jangan panik, coba sekarang kamu cari cahaya terang dan kembali ke masa lalumu!!!."


"Bian..."


"Yaa..."


"Sudah ketemu jalan terang?? sekarang kamu ada dimana??."


"Rumah." Jawab Kak Bian dengan keringat terus bercucuran dari pelipisnya.


Gue baru pertama kali lihat hipnoterapi seperti ini. Kenapa kak Bian selama ini gagal melakukan pengobatan??itu pertanyaan yang selalu memenuhi otakku.


"Rumah siapa??apa rumah nenekmu?."


"Iyah." Kak Bian semakin panik, gue bisa rasain ketakutannya sekarang. Apa sebegitu menyakitkan masa lalu lo kak?. Gue tau sekarang kenapa lo selalu nolak hipnoterapi ini. Kenapa lo nggak mau bagi rasa sakit yang selama ini lo pendam sendiri ke gue kak??. Gue juga pengen rasain sesakit apa perasaan lo sekarang.


"Kamu yakin itu rumah nenek??."


"Aku masih ingat dengan jelas." Jawab kak Bian.


"Masuklah kedalam dan cari ada apa disana!!!."


"Nggak."


"Kenapa??."


"Aaahhh..." Kak Bian menutup kupingnya, kenapa gue jadi khawatir lihat ini semua. Apa yang sebenarnya terjadi??apa masa lalu kak Bian begitu pahit. Jika rasa sakit itu bisa dibagi, bagikan untukku kak.


"Apa yang kau dengar??kenapa kau tidak masuk??."


"Berisik..aku tidak ingin masuk."


"Suara apa itu??."


"Tidak jelass...berisikk..." Kak Bian semakin ketakutan, gelisah, panik semua itu membuat hatiku sakit. Entah gue nggak kuat nahan buliran bening yang sedari tadi gue tahan.


"Dok..." gue tatap dokter Anya berharap menyudahi ini semua.


"Kembali Bian!!!." Ujar Dokter Anya


"Aahhh..." Kak Bian terbangun dan langsung duduk dengan nafas tersenggal senggal. Matanya menatap kosong kedepan. Raut wajahnya masih ketakutan, gue pengen tanya apa dia baik baik saja?? tapi jelas sekali tidak usah ditanya jika dia sedang tidak baik.


"Tenang ya,,, tarik napas dan buangkan secara perlahan!!."


Kak Bian mulai memgatur nafasnya, tapi tatapannya terlihat kosong. Gue sampai nggak sadar sedari tadi suara tangis gue yang mendominan diruangan ini.


Bagaimana tidak jika kalian melihat kondisiku saat ini, benar benar sakit melihat teman kecilku yang selalu ceria harus mengalami kejadian ini.


Dokter Anya memberikan segelas air untuk kak Bian, juga memberikanki tisu. Malu juga menangis didepan Dokter Anya xixixi...


"Sudah tenang??." Dokter Anya bergantian menatapku dan kak Bian. Dan kami balas anggukan. Sepertinya kak Bian mulai tenang.


"Kenapa kamu tadi nggak masuk aja??." Tanya Dokter Anya.


"Rasanya enggan untuk masuk, suara itu ada didalam."

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa kamu tahu kalau tidak masuk??."


"Apa sudah selesai?? saya ingin pulang." ujar kak Bian tanpa menjawab peetanyaan Dokter Anya. Sebenarnya gue pengen banget tanya tanya dulu sama Dokter Anya, tapi kayaknya kak Bian sangat lelah.


Dokter Anya menatapku seperti ada yang ingin disampaikan.


"Emm kak Bian istirahat sebentar dulu disina ya, nanti habis maghrib aja kita pulang."


"Pliiss kak!!!." Mohonku memelas, dan syukurlah dia setuju.


"Yaudah kamu disini dulu ya saya mau bicara sebentar sama Lisa." Ucap Dokter Anya. Gue diajak keruangan Dokter Anya semoga pertanyaan diotakku segera terjawab.



********


"Pasti kaget baru lihat kejadian tadi??." Dokter Anya tertawa kecil menyodorkanku minum. Menangis juga perlu tenaga ternyata. Gue suka Dokter Anya orang yang humble.


"Emm tadi itu kak Bian kenapa dok??."


"Itu tadi hipnoterapi supaya Bian ingat masa lalunya."


"Ingat masa lalu?? jadi selama ini kejadian itu kak Bian nggak ingat??."


"Iyah, Bian juga mengalami amnesia selektive karena trauma itu."


"Amnesia selektive?? jadi kak Bian cuma nggak ingat kejadian itu lalu bagaiman bisa membuat kak Bian seperti ini??."


"Yang saya tangkap selama ini sepertinya ada yang disembunyikan dari masa lalu Bian. Tante Luna hanya menceritakan kejadian pembunuhan itu tapi saya rasa tidak hanya kejadian itu yang membuat Bian semakin parah." Jelas dokter Anya.


"Jadi ada hal lain yang belum Dokter tahu tentang masa lalu kak Bian??."


"Iyah benar, Lisa sebenarnya rencana saya sudah lama untuk Bian kembali kerumah neneknya mungkin dengan cara itu dia bisa mengingat kembali."


"Sudah saya bicarakan ke tante Luna tapi anehnya dia tidak setuju, padahal banyak yang menggunakan metode ini dan berhasil."


"Aneh apa alasan tante Luna tidak menyetujuinya??bukankah tante Luna ingin kak Bian normal kembali."


"Itu yang saya pikirkan selama ini, tapi bagaimana saya bisa menolaknya? toh saya disini juga dibayar tinggal menurut saja dan melakukan yang terbaik." Dokter Anya tertawa kecil menatapku.


"Bagaimana kalau saya ajak kak Bian kerumahnya dulu tapi jangan sampai tante Luna tahu." Gue pengen kak Bian kembali normal semoga dengan cara Dokter Anya ini berhasil tanpa diketahui tante Luna.


"Kamu yakin??."


"Yakin Dok." Tegasku.


"Jika itu yang terbaik saya akan dukung, saya juga pengen Bian kembali normal."


"Ohh ya dok tadi kenapa kak Bian bisa marah banget sampai bentak bentak lagi, bukannya kak Bian susah mengungkapkan ekspresi??? baru ini dok saya lihat kak Bian marah marah."


"Ohh iya saya lupa bilang sama kamu kalau Bian itu susah mengontrol emosi, jangan sampai buat Bian marah karena itu bisa berakibat ke orang lain." Jelas Dokter Anya.


"Sakit dok sekalinya ngomong panjang lebar malah bikin nylekit." Ujarku disambut tawa dokter Anya.


"Jadi jaga Buan yah kalau dia udah mulai kepancing emosinya."


"Baik dok."


Setelah maghrib Lisa dan Bian pamit pulang. Rencana Lisa berhasil dan semoga rencana yang dibuatnya bersama Dokter Anya juga membuahkan hasil. Diperjalanan pulang ingin sekali Lisa menanyakan keadaan Bian dan apa yang dirasakan tapi mulutnya kaku jika teringat ekspresi Bian tadi.


"Kak didepan ada restoran mampir yaa!!!Lisa laper." Ujar Lisa. Bian segera menepikan motornya didepan restoran yang ditunjuk Lisa.

__ADS_1


Mereka berdua masuk dan segera memesan makanan masing masing. Tidaka ada percakapan setelah memesan sampai makanan pun tiba.


Tanya nggak ya?? gue pengen ngomong kalau nggak bisa bisa gue nggak bisa tidur huufftt....


batin Lisa.


"Ehhmm...kak Bian udah baikan??."


"Kenapa??bukannya lo udah liat semuanya?? apa perlu gue jelasin lagi??." Lisa merasa bersalah , mungkin Bian belum bisa terbuka dengannya.


"Maaf kak." Lisa menundukkan kepalanya ucapan Bian membuatnya merasa tidak pantas untuk berada disisi Bian.Seharusnya dia tahu bagaimana perasaan Bian.


"Gue..."


"Gue..." Ucap Lisa dan Bian kompak. Beberapa saat mereka saling tatap menyalurkan isi pikiran yang tidak bisa diutarakan.


"Lo dulu!!." Sambung Bian memalingkan muka.


"Emm kak Bian aja dulu!!."


"Lo.." Bian menatap lekat manik mata Lisa.


Kenapa gue grogi gini sih,, batin Lisa


"Gue cuma mau omong kalau kak Bian jangan anggap Lisa orang asing yang nggak perlu tahu perasaan kakak, Lisa benar benar pengen ada buat kaka." Mata Lisa berkaca kaca mematap Bian lekat juga sebaliknya.


"Lisa pengen gembul kembali kak." sambung Lisa dengan tetesan putih lolos dari pelupuk matanya.


"Maaf." ucap Bian sambil menghapus air mata di pipi Lisa.


"Cepat habiskan!!!." Sambung Bian.



*********


Dilain tempat seorang perempuan menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Beberapa hari ini rasa sakit itu selalu terasa semakin parah.


"Ahh hikss..hiksss mah pah sakit." Keluhnya.


Drrtt Drrtt Drrrtt


"Hallo." ucapnya berusaha menahan sakit.


"Haii." sapa seseorang dari seberang.


"Siapa??."


"Nggak inget sama suara gue??."


"Aahhh..." Rintihnya menjatuhkan ponsel yang masih tersambung.


"Hallo...haii lo baik baik aja kan??masih denger gue??."


"Tolong sakit...hikks...hikks...."


"Sakit??apa yang sakit?? hadughh gimana ini." Panik seseorang diseberang telefon.


"Haaii lo masih disana??." Tidak ada sahutan dari seberang.Panggilan juga sudah terputus.


"Dia kenapa yah, sakit?? aishh kok perasaan gue jadi nggak enak ya."

__ADS_1


"Ada apa kak??."


"Nggak pa pa del." Jawab pria itu.


__ADS_2