
Haii jan lupa Jempol and Komen🤗
Bantu Vote ya biar masuk ranking karya baru😍
Maaf jika typo masih bertebaran🙏
Happy Reading😘
*******
"Berat!!!," sahut Bian.
"Haahhh?? makhsud kakak gue berat gitu??."
"Hmm jangan banyak bicara."
"Isshh nyebelin banget tau nggak, enak aja gue dibilang berat kalau nggak ikhlas gendong ya udah turunin!!! gue bisa jalan sendiri."
Bbrruugg
"Awwhhh.....Kaaakkk Bbiiaannnn!!!!!." teriak Lisa menggelegar, bagaimana tidak Bian menjatuhkannya begitu saja.Rasa sakit ditubuhnya bertambah gara gara Bian menjatuhkan Lisa ditanah tanpa aba aba.
"Apa lagi??."
"Sakit ogeb!!! nggak punya hati banget sih lo kak main jatuh jatuhin, lo kira nggak sakit apa!!!," ujar Lisa sambil mengelus elus bokongnya dengan wajah memerah, sedangkan Bian dengan santainya bersedekap dada.
"Siapa suruh tadi minta diturunin."
"Sabar Lisa lo pasti bisa hadapin cobaan ini," lirih Lisa mengelus dadanya.
"Siapa yang salah?? yang pasti bukan gue!," sambung Bian.
"Tapi lo kan bisa turunin gue pelan pelan nggak langsung dilepas."
"Oke gue salah, mau lanjut nggak??."
"Nggak!!!."
Awas aja kalau di benar benar mau ninggalin gue disini, batin Lisa.
"Huufftt oke gue cari bantuan dulu buat angkut lo!!," Bian beranjak meninggalkan Lisa tapi baru beberapa langkah Bian berbalik menatap Lisa yang sudah terisak lagi.
Maaf gue nggak bisa buat lo tertawa lepas, batin Bian.
"Kenapa sih gue sial banget akhir akhir ini..hikkss...kenapa?? takdir nggak adil sama gue, dia udah ambil Rasyad..hikksss...."
Lagi lagi hati Bian terasa sakit ketika Lisa masih saja menangisi pria yang jelas jelas tidak ada didepannya.Bian kembali menghampiri Lisa dan duduk berjongkok sambil membelai rambut yang terlihat kusut. Mereka saling tatap mengisyaratkan sebuah kata yang sulit diungkapkan, bahkan hati dan pemikiran mereka berdua belum menyatu.
Pancaran mata Bian seolah olah pembius ketenangan dan kenyaman hati Lisa.Damai, rasa damai itu seketika muncul.Isakan, tangisan, keputusasaannya lenyap hanya karena melihat tatapan teduh Bian. Rasa kesal yang tadi dia rasakan kepada pria didepannya saat ini berubah, dia tahu dan dia harus mengerti keadaan Bian, sulit untuknya saling mengerti saat ini.
"Maaf!!!, dan maaf selalu kata itu yang selalu keluar dari mulut gue," ujar Bian masih menatap lekat manik Lisa.
"Gue tahu hati lo masih terluka, dan gue nggak bisa ngertiin itu!."
Tiba tiba Lisa memeluk Bian, rasanya sangat nyaman bahkan dadanya kembali menghangat. Terukir senyuman kecil dari bibir Bian.Masih dalam posisi yang sama mereka menikmatinya dalam diam. Entah sejak kejadian dipantai itu sekarang Lisa sangat nyaman memberikan keluh kesahnya dipelukan Bian, rasa sakit itu hilang seketika.Bian bagaikan obat hatinya saat terluka.
"Hikkss...Lisa masih bingung kak, kenapa?? kenapa harus Lisa, Lisa pengen Rasyad kembali...hikkss..."
"Masih karena masalah itu mood lo jadi jelek??," sahut Bian melepaskan pelukan mereka.
"Bisa nggak lo lupain Rasyad sehari saja!!! hanya sehari Lisa nggak lebih supaya lo bisa tahu arti dunia luar dan orang orang didekat lo yang sayang dan selalu ada buat lo.Jangan biarkan kenangan kebersamaan lo sama Rasyad membelenggu perasaan dan pikiran yang bisa membuat kita lupa akan dunia yang sekarang lo jalani, kalau lo terus menatap kebelakang jangan salahkan masa depan lo nantinya....mungkin dimasa depan lo akan menyesal karena lo nggak tahu cara menatap kedepan," sambung Bian panjang lebar. Lisa mencoba mencerna arti setiap perkataan Bian.
__ADS_1
"Makhsud kakak Lisa harus lupain Rasyad gitu??."
"Bukan untuk melupakan, tapi jalani saja seperti air mengalir, jangan terlalu difikirkan.Ikuti saja alur takdir yang akan menuntun kita....emang lo yakin Rasyad jodoh dari tuhan buat lo??."
Lisa hanya bisa diam, entah kenapa hatinya juga mempertanyakan hal itu.Apakah rasa itu masih ada sekarang?? atau rasa itu akan hilang seiring berjalannya waktu.Kita tidak bisa memaksakan takdir, lalu kenapa kita berharap kepada suatu hal yang tidak pasti??.
"Hmm Lisa paham kak, mulai sekarang gue nggak akan ambil pusing lagi masalah masalah hati, kalau Rasyad jodoh Lisa pasti kemanapun Rasyad pergi dia akan kembali. Kalau Rasyad benar benar tunangan sama Adeline Lisa ikhlas kak!."
Kenapa semudah itu gue bilang ikhlas, tapi benar kata kak Bian kita ikuti permainan takdir saja. Jangan sampai kita terbelenggu dengan masa lalu dan lupa akan masa depan yang lebih indah, batin Lisa.
*********
Dito terengah engah berlari kearah Kayla dan Reyna yang sudah didekat papan bertulisan hutan terlarang. Masih mengatur nafas Dito ingin membuka suara tapi terhenti tak kala Reyna mengangkat telapak tangannya didepan wajah Dito.
"Nggak usah banyak tanya waktu kita nggak banyak, sekarang kita bagi dua kelompok biar cepat!!."
"Gue sama Dito aja kak," sahut Kayla.
"Nggak lo sama gue aja Kay biar Dito sama Rian."
"Ya nggak bisa gitu kak, nati kalau kita bingung cari jalan gimana?? harus ada laki lakinya satu."
Reyna menghela nafas kasar dengan menatap jengah Rian yang juga menatapnya sinis.
"Gue sama Dito kearah kanan kak Reyna sama Rian kearah kiri ya!!!," mereka bertiga mengagguk mendengar perintah Kayla. Dengan segera Kayla dan Dito melangkah lebih dulu sedangkan Reyna dan Rian masih diam ditempat dengan wajah dingin.
"Ehhmm lo jaga dibelakang gue didepan!!!," ujar Reyna beranjak mendahului Rian.
"Cckk kalau ada apa apa ya lo lah yang kena dulu, enakan gue dibelakang," lirih Rian mengikuti Reyna.
Mereka berempat terus menyusuri hutan yang dipenuhi pepohonan sambil meneriaki nama Lisa dan Bian.Sedangkan Reyna dan Rian sedari tadi seperti orang linglung, tidak saling berkomunikasi dan fokus dengan pengamatannya masing masing.
Saat Rian hendak berbelok kearah kanan dia melihat Reyna bertolak belakang dari arahnya.Reyna terus berjalan kearah kiri tanpa menoleh kebelakang. Dengan kesal Rian menarik tangan Reyna untuk mengikutinya.
"Ckk kekanan bukan kekiri, ayok!!."
"Kekiri Rian bukan kekanan, ikuti arahan gue aja nggak usah banyak nolak,"
"Ya udah lo kesana sendiri!!," Reyna melotot melihat Rian benar benar meninggalkannya, tapi bukan Reyna teman Intan jika mudah dikalahkan. Tetap dengan pendiriannya Reyna melangkah ke arah kiri. Rasa takut pasti ada dibenak Reyna tapi apalah daya jika ego lebih besar.
Rian menoleh kebelakang dan terheran melihat Reyna tidak mengikutinya.
"Benar benar keras kepala, besar juga nyalinya," monolog Rian, baru beberapa langkah dia kembali berbalik dan mempercepat langkahnya.
"Gue bukan laki laki pengecut, kalau sampai dia ikut nyasar bisa bisa gue yang disalahin," sambung Rian terus mempercepat langkahnya kembali kearah yang dilewati Reyna.
Dilain tempat Dito dan Kayla lebih dulu menemukan Lisa yang digendong dipunggung Bian.Mereka tidak banyak bertanya karena Lisa tertidur.
"Ehh Rian sama kak Reyna gimana??," tanya Dito.
"Biar gue chat Rian suruh balik Lisa udah ketemu," Kayla mengetik beberapa kata dan mengirim ke nomor Rian.
Sedangkan Rian terlalu sibuk mencari sosok Reyna.Rian menangkap siluet seseorang dibalik pohon, dia menghampiri secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Rian mengambil kayu yang ada didekatnya untuk berjaga jaga. Semakin dekat suara isakan seseorang terdengar dan membuatnya dengan cepat melihat orang yang ada dibalik pohon itu.
"Reyna!!!."
Reyna langsung memeluknya dengan tubuh gemetar ditambah tangisnya semakin pecah.Rian diam terpaku tanpa membalas pelukan Reyna.
"Bawa pergi gue dari sini!!!."
"Gue takuutt...hikkss...hikkss..." sambung Reyna masih enggan melepas tangannya dari pinggang Rian.
__ADS_1
Dia kenapa sampai setakut ini??, batin Rian.
"L..lo kenapa??."
"Takkuutt...orang itu..dia..hikkss.."
"Siapa?? aishh ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya Rian," ujar Rian lirih.
"Oke kita cabut sekarang!! ayok!!," Rian melepaskan pelukannya tapi Reyna tetap memeluknya dari samping dengan menenggelamkan wajahnya didada Rian.
"Cckk salah siapa suruh ikut nggak mau malah jalan sendiri," gerutu Rian tanpa ada balasan dari Reyna yang masih gemetar.
********
Tok Tok Tok
Ceklekk
"Dengan siapa ya pak??," sapa Ayu dengan ramah.
"Saya dari tukang pos, apa benar ini rumah kediaman Bapak Yudha??."
"Iyah benar mau mencari siapa??."
"Ayu ratnawati ada bu??."
"Ohh dengan saya sendiri ada apa ya??."
"Ini ada kiriman buat ibu!!," tukang pos itu menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Dari siapa ya pak??."
"Maaf nama pengirimnya tidak ada bu, kalau begitu saya permisi!!."
Ayu menutup kembali pintu dan duduk diruang tamu dengan menatap penasaran amplop yang tidak ada nama pengirinnya. Segera ayu membuka amolop itu, seketika mata dan mulutnya melebar sempurna.
"Apa apaan ini??," Ayu melemparkan amplop itu kemeja dengan raut wajah berubah total. Wajah memerah dan tangan mengepal kuat.
"Siapa yang mengirim ini??."
"Ada apa sih mah kok marah marah??," Tanya Dion sesampainya diruang tamu.
"Ahh nggak apa apa," Ayu mengambil kembali amplop itu dan menyembunyikannya dibelakang badan tapi sayang Dion terlanjur melihatnya.
"Apa itu ma??."
"A..apa??," tanya Ayu gugup.
"Yang mama sembunyiin??."
Bukan Dion jika tidak kepo, dengan gesit dia merampasnya dari tangan Ayu dan melihat isi dari amplop itu.Ayu melotot melihat Dion bertindak tidak sopan, baru saja Dion melihat sudah dirampas kembali oleh Ayu.
"Jangan lancang kamu Dion!!!."
"Yah maaf mah, emm..itu bukannya foto mama yah?? tapi laki laki sama anak kecil itu siapa mah??."
"Ini hanya foto masa lalu, dia cuma teman mama," setelah itu Ayu melenggang pergi dengan perasan cemas.Dion masih memikirkan foto yang dilihatnya sekilas, siapa pria itu?? kenapa fotonya begitu serasi dan mama juga terlihat bahagia, pikir Dion.
"Ada yang aneh dari gelagat mama," monolog Dion.
__ADS_1
******