
Bian menepikan mobil dirumah bernuansa gold menambah kesan megah rumah bertingkat dua itu.Lisa berdecak kagum melihat rumah didepannya lebih mirip seperti istana. Raka menarik Lisa masuk kedalam rumah bagaikan istana itu.
"Tante tante main sama Raka ya nanti kalau tante nggak mau main sama Raka tante nggak boleh pacaran sama uncle." Ujar Raka menarik ujung baju Lisa. Lisa membungkukkan badan menyesuaikan tingginya dengan Raka.
"Tampan nggak boleh ngomong gitu yaa!!! tante bukan pacarnya uncle kita cuma teman ngerti?." Lisa mengelus lembut kepala Raka.
"Kenapa cuma teman?? Raka aja pengen punya pacar kayak tante." Lisa mengeratkan deretan gigi menahan diri agar tidak mengamuk, bagaimanapun Raka masih kecil dan belum tahu apa apa.
"Kamu pintar banget sih, siapa yang ngajarin??."
"Uncle.." Raka menunjuk Bian dengan cengiran polosnya.
"Kak Biann??." Lisa berdiri dan melotot kearah Bian. Sedangkan Raka menutup mulut dengan tawa kecilnya.
"Apa??." Tanya Bian santai.
"Kakak ajari apa aja sama Raka?? jangan ajari dia dengan pikiran kotor kakak ya."
"Raka sama kamu aja pintar Raka."
"Hahh??." Lisa menautkan alis menatap Raka yang sedari tadi cekikikan melihat keduanya.
"Mau aja dibodohi anak kecil." Bian beranjak menggandeng Raka kekamar. Sebelum itu Bian memberi kode agar Lisa menyiapkan kuenya. Lisa mengelus dada menghadapi dua laki laki menyebalkan.
Lisa memasang lilin angka lima dikue bermotif iron man.Setelah itu dia masuk kekamar Raka dengan membawa kue ditangannya.
Ceklekk
"Happy birthday happy birthday happy birthday Raka..." Lisa berjalan mendekati Raka dan Bian. Raka meloncat loncat dengan tawa menghiasi wajah tampannya.
"Miquis dulu dong." Raka mengantupkan kedua telapak tangan.
"Semoga Raka punya aunty kayak tante cantik amin." Mendengar doa Raka Lisa bengong, apa makhsud kata aunty??.
"Wuuuhhh..." Asap lilin membuat Lisa sadar dan menatap Bian penuh tanda tanya.
"Emang Raka punya kakak??." Tanya Lisa.
"Dia anak tunggal."
"Jadi makhud raka itu pengen tante jadi auntynya Raka sama siapa dong kan Raka nggak punya kakak??." Raka menepuk kening sambil geleng geleng.
"Aunty telmi deh." Lisa mendelik menatap Raka. Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa mengatainya, apalagi bahasa Raka terlalu gaul untuk anak seumurnya.
"Dulu mama kamu ngidam apa sih??."
__ADS_1
"Mama ngidam lihatin foto oppa oppa aunty makanya Raka bisa setampan ini ya nggak uncle??." Ujarnya polos.
"Auu ahh pusing gue." Lisa memberikan kue ke Bian dan beranjak keluar kamar dengan menghentakkan kaki. Bagaimana tidak kesal Raka selalu bisa menjawab dan malah mengatainya. Sungguh menyebalkan.
*******
Lisa Pov
Disinilah kami bertiga, ditempat yang paling kusukai. Angin dan ombak saling menyapa dengan indah. Pantai, yah pantailah tempat sempurna untuk menyejukkan pikiran. Aku mengajak Raka ke pantai agar pikirannya kembali normal seperti anak kecil.
Sungguh ucapan Raka selalu membuatku pusing. Dia bisa saja menjawab ucapanku apalagi yang keluar dari mulutnya terlalu dewasa. Apa ini ajaran dari kak Bian?? jika benar akan kucelupkan dia kelaut.
Saat dalam perjalanan tadi kau tahu apa yang diucapkan Raka??. Dia berkata padaku tanpa malu sekalipun.Aku saja saat kecil tidak mengerti akan hal itu, dan Raka sudah melakukannya.Ku kira dia anak yang ceria, polos, imut imut, tapi nyatanya dia melebihi yang kukira.
"Aunty Raka sebel sama Vika." Aku menoleh kebelakang menatap Raka yang meremas remas ujung jaketnya.
"Kenapa Raka sebel sama Vika?? terus Vika itu siapa??."
"Vika itu teman Raka. Tadikan Raka kasih cokelat tapi dia nolak, padahal setahu Raka cewek itu suka sama cokelat tapi kenapa cokelat dari Raka malah dibuang sama Vika. Jahat banget kan Vika." Ujarnya dengan nada manja.
"Hmmm Raka tahu dari siapa kalau cewek itu suka sama cokelat??."
"Kata uncle, dulu uncle pernah kasih cokelat sama kakak galak terus diterima tapi kenapa Vika nggak terima cokelat dari Raka."
"Uncle kasih cokelat sama kakak galak??." Raka mengangguk. Aku menatap Bian dengan tajam, bagaimana bisa dia melakukan adegan seperti itu didepan anak kecil??. Walaupun itu hanya memberi sebuah cokelat tapikan anak kecil sangat mudah meniru apa yang dilakukan orang disekitarnya. Dan siapa kakak galak itu??.
"Raka kenapa kasih cokelat sama Vika??." Raka hanya menatapku dengan wajah ditekuk. Dia masih menuruti apa kata Kak Bian untuk diam?? wahhh anak ini hanya dengan kak Bian bisa diam tapi tidak denganku??. Jika denganku mulut Raka tidak pernah berhenti mengoceh.hufftt...
"Bilang aja nggak bakal dimarahi uncle kok." Bujukku.
" Raka suka karena Vika cantik." Ujarnya lirih.
Aku melotot mendengar ucapan Raka. Anak seumurnya sudah tau arti suka. Pasti terkena pengaruh dari uncle nya yang gesrek ini.
Okey itulah salah satu ucapan Raka yang tidak sewajarnya.Kembali keawal sekarang Raka sedang asyik bermain air ditepi pantai denganku. Kak Bian hanya berdiri tak terlalu jauh dari tempat kami bermain.
Aku senang bisa melihat Raka tertawa lepas. Sekilas aku bisa merasakan kurangnya kasih sayang kedua orang tua Raka. Mereka tidak merayakan ulang tahun Raka, dirumahpun tadi tidak ku lihat mama dan papa Raka.
"Uncle sini main sama kita." Teriak Raka
"Kalian saja biar uncle foto dari sini."
Raka cemberut sambil menggembungkan pipi. Hmm selintas aku punya ide agar kak Bian mau bermain dengan kami. Hanya satu cara yaitu memaksanya langsung.
__ADS_1
"Raka sini!!!." Raka mendekat kearahku. Aku bisikkan sesuatu dan dia dengan cepat menjalankan perintah yang kuberi.
"Aauuhh kaki Raka sakit uncle tolong..." Raka menjatuhkan diri keair sambil memegangi kakinya. Kak Bian dengan cepat berlari kearah kami, saat kak Bian memegang kaki Raka dan
Byyuurr
Berhasil...aku dan Raka mendorong kak Bian kedalam air sampai seluruh badannya basah. Kami tertawa puas melihatnya basah kuyup. Jadilah kami saling mencipratkan air. Sampai aku dan kak Bian mengejar Raka ditepi pantai. Senang sekali bisa merasakan kesenangan ini. Apalagi senyum Raka membuatku tenang.
Kak Bian berhasil memeluk Raka dari belakang.Kami menciumi Raka dengan rakus.
"Uncle kejar aunty." Belum siap aku lari kak Bian sudah menangkapku...
Byyuurr
Karena belum siap jadilah kak Bian menubrukku sampai sampai seluruh tubuhku jadi basah kuyup. Aiss kenapa harus dalam posisi ini??. Kak Bian masih memeluk ku dari samping, baru saja ingin bangkit sikecil Raka menindih ku dan Kak Bian. Kau tahu tubuh anak kecil ini lumayan berat, membuat wajahku tenggelam sempurna di air.
Kalau bukan anak kecil kubalas kau Raka. Hidung dan mulutku kemasukkan air aiisshh sangat tidak nyaman.
Aku terbatuk batuk, ahh sangat menyebalkan Raka dan kak Bian malah menertawaiku. Eittss tunguu..
Kak Bian tertawa?? aku tidak salah lihat kan??.
Tidak ini benar benar nyata...
Aku melihatnya tertawa lepas walau ini menyebalkan dia sedang menertawaiku.
Kenapa tawa kak Bian membuat tubuhku serasa membeku. Dan kemana perginya batuk ku tadi??.
Sungguh manis...
Lamunanku terbuyar saat seorang pria dan wanita membicarakan kami bertiga. Ucapan mereka membuatku tercengang.
"Lihatlah mereka masih muda tapi sudah bisa membangun rumah tangga dan memiliki satu anak."
"Iyah terlihat seperti keluarga yang harmonis."
"Serasi sekali mereka aku jadi iri sayang."
"Hmm apalagi anaknya sangat tampan seperti ayahnya."
"Semoga langgeng ya, dan aku ingin punya anak seperti dia tampan sekali."
Sekelebat ucapan mereka membuatku dan Kak Bian terdiam. Raka tertawa ringan memelukku sambil mengecupi seluruh wajah ku.
Astaga momen apa ini?? mereka mengira bahwa aku dan kak Bian suami istri??. Yang benar saja...
__ADS_1