Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Merindukanmu


__ADS_3

(Anneth delliecia)


Dimana bisa aku temukan


kenyamanan yang dulu kau beri


Andaikan kau tahu disini ku rindu


Akan semua kenangan kita


Kuharap disana kau bahagia


Kuharap kau tak lupakan ku


Andaikan ku bisa mengulang kembali


Masa indah bersamamu


Aku merindukamu masih merindukanmu


Meski kini telah jauh hatiku tetap untukmu


Aku rindu perhatianmu yang tulus sedalam hatimu


Meski jarak memisahkan hatiku tetap untukmu


Kuharap kau disana bahagia


Kuharap kamu tak lupakan ku


Andaikan ku bisa mengulang kembali


Masa indah bersamamu


Aku merindukanmu masih merindukanmu


Meski kini telah jauh hatiku tetap untukmu


Aku rindu perhatianmu tulus sedalam hatimu


Meski jarak memisahkan hatiku tetap untukmu


Alunan musik itu terdengar indah bagi siapapun yang mendengarkannya. Seperti orang yang memutar lagu ini. Sama persis seperti apa yang dialami sekarang. Jauh dari orang yang dicintai, menahan rindu, menguatkan hati itulah yang dirasakan.


Yah dia Lisa pramudiana gadis berparas cantik yang sedang sibuk mengalunkan musik dikamar. Sendiri, kesepian, menyelimuti ruangan bernuansa pink kesukaan Lisa. Setetes bulir air berhasil keluar dari netra hitam miliknya.


"Sampai kapan aku merindukanmu?." Ucap Lisa memeluk boneka beruang pemberian Rasyad.


Entah kenapa hari ini hatinya rapuh. Saat mengingat kenangan kenangan yang ditorehkan Rasyad selama ini. Lisa ingin mengulang kenangan itu kembali. Tertawa lepas bersama, bercanda bersama, melakukan hal konyol bersama, dan hanya bersama Rasyad. Lisa rindu semua itu.


Kenangan kenangan itu kembali berputar diotaknya. Tanpa sadar hp Lisa berdering dan tertera nama Rasyad. Senyum lebar terpampang diwajah Lisa. Mungkin dengan mendengar suara Rasyad akan mengobati kerinduannya.


"Hallo sayang." Ujar Rasyad


"Aku merindukanmu. Kapan kau pulang."


Disana Rasyad tersenyum begitu manis mendengar penuturan Lisa. Dia bahagia Lisa masih menjadi miliknya, yang akan selalu merindukannya.


"Aku juga rindu, i love you Lisa."


"I love you more, jawab dulu Rasyad?!!."


"Sudah ku bilangkan aku akan sulit..." Belum selesai Rasyad bicara sudah terpotong oleh ucapan Lisa. Jika Rasyad melihat wajah Lisa secemberut dan semerah tomat mungkin wajah Lisa sudah kena sasaran jahil Rasyad.


"Oke kau akan sulit pulang berarti kau tidak ingin bertemu denganku hahh??. Oh iya disana kan banyak tuh cewe yang lebih seksi untuk apa pulang." Rasyad terkekeh. Ohh iya jangan lupakan disana Rasyad juga bersama Adeline. Mungkin hatinya teriris melihat Rasyad bisa sebahagia itu walau hanya mendengar suara Lisa. Bagaimana jika Adeline melihat mereka bertemu didepan matanya, apa Adeline kuat menahan perih dihatinya??.


"Udah dong jangan cemberut nanti tambah cantik loh."


"Siapa coba yang cemberut, nggak ada tuh tapi kalau cantik sih pasti." Lisa tersenyum manis tapi sayang Rasyad tidak bisa melihat senyuman itu lagi, entah sampai kapan.


"Ohh ya gimana kabarmu sama yang lain??."

__ADS_1


"Kabarku tidak baik, sangat." Ujar Lisa lirih diakhir kata.


Kau tahu aku sangat ingin memutar kembali waktu dimana kau masih ada untukku, batin Lisa.


"Kau sakit atau kenapa?? ada yang meganggumu??." Nada Rasyad terlihat panik.


"Aku hanya bercanda, aku baik kok. Yang lain juga baik."


"Syukurlah, makan tepat waktu jangan suka telat dan jangan takut gemuk."


"Ck makhsudmu kau ingin aku gemuk hah?? terus kamu mau cari yang lain gitu??? yang lebih lentik tubuhnya?? kayak biola...."


"Ssuutt bukan gitu makhsud aku sayang." Rasyad segera memotong ucapan Lisa.


"Bodoh amat." Rasyad menghela nafas panjang. Mungkin sekarang dia lagi membayang kan wajah Lisa saat cemberut.


"Kamu lagi sama siapa?? dimana??." Sambung Lisa.


"Emm aku lagi sama Adeline dikantin."


Lisa meremas remas boneka beruang ditangannya. Apa harus bersama Adeline? dan kenapa nama itu yang membuat hatinya memanas.


"Haloo sayang kamu masih disana??." Sambung Rasyad.


"Hmm,, lagi apa kamu sama dia??."


"Habis sarapan sih sekalian nunggu jam kelas."


"Dady..hikkss...hikss..."


Lisa mendengar suara Adeline menangis dan menyebut nama Dady.Apa yang terjadi disana membuatnya penasaran. Karena ucapan Adeline yang didengarnya seperti sedang menangis membuat Rasyad mau tidak mau mengakhiri panggilan. Dan hatinya semakin memanas saat Rasyad mematikan telefon begitu saja.


Ada apa dengan Dady Adeline??, batin Lisa.


"Isshh sebel sebel sebelll...." Boneka beruanglah yang menjadi sasaran amukan Lisa. Sampai ketukan dipintu menyadarkan. Dengan malas Lisa menuju pintu.


Cekleekk


"Rebahan." Jawab Lisa asal .


"Dasar kaum rebahan." Deren mengacak rambut Lisa.


"Kebiasaan deh kakak." Lisa merapikan rambutnya dengan wajah kesal. Selama ini selalu saja Deren menganggap dia seperti anak kecil. Walaupun begitu Lisa senang kakak nya sangat memperhatikannya.


"Udah sana turun!!!." Deren beranjak meninggalkan Lisa dengan tetawa kecil. Deren merasa senang bisa membuat cemberut adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa. Tapi dimata Deren Lisa tetap menjadi bidadari kecil.


"Ck siapa yang nyariin aku kak??." Teriak Lisa. Dengan malas Lisa menuruni anak tangga.



Terlihat Ayu dan Dion sedang berbincang dengan pria yang


sangat dikenal Lisa. Hmm yah dia Bian hermansyah. Pria yang membuat Lisa jengkel plus bahagia saat disisinya. Entah kenapa kadang saat berada disisi Bian Lisa merasa nyaman. Bahkan saat Bian membuatnya jengkel sekalipun kadang membuat Lisa rindu akan momen itu.


"Ada apa kak Bian kesini??." Tanya Lisa yang sudah duduk disamping Dion.


"Ya mau ngajak kencan lah kak, mau apa lagi coba??." Sahut Dion tersenyum jahil. Dibalas Lisa dengan menendang kaki Dion disampingnya. Dion meringis merasakan tendangan maut dari sang kakak.


"Kamu ngobrol gih mama sama Dion ke kamar dulu ya." Ayu menarik Dion beranjak meninggalkan Bian dan Lisa diruang tamu.


"Emm mau apa kak kesini??." Tanya Lisa berusaha selembut mungkin, yah karena dia masih ingat kejadian malam kemarin saat Bian menolongnya.


"Bantu gue cari kado sama kue ulang tahun."


"Siapa yang ulang tahun??."


"Ponakan ku."


"Kak Bian punya ponakan??? siapa??."


" Anak dari sahabat mama."

__ADS_1


"Ouuhh, harus Lisa ya??."


"Kalau nggak mau juga nggak pa pa." Bian beranjak berdiri.Lisa berfikir jika dia ikut mungkin bisa menghilangkan sejenak pikirannya dari Rasyad.


"Ehh Lisa mau kok.Tunggu dulu gue mau ganti baju." Lisa berlari kecil menaiki tangga.


*********



Lisa dan Bian telah sampai ditoko permainan. Rasanya


ingin kembali kemasa dimana tidak ada beban dan hanya mainanlah yang bisa membuat hati senang. Tidak dengan sekarang, hati ini mudah sekali rapuh. Bagi Lisa masa kecil itu sangan indah. Masa masa saat kita hanya mengenal kebahagian tanpa tahu rasa sakit hati itu seperti apa. Rasa rindu itu seperti apa. Dan kecewa itu seperti apa.


"Anaknya umur berapa?? laki laki atau perempuan??." Tanya Lisa sambil melihat lihat permainan yang begitu banyak.


"Laki laki umur lima tahun."


"Terus kak Bian mau ngado apa??."


"Apa gunanya gue ngajak lo kalau ujung ujungnya lo tanya balik??."


"Cckk masa nggak tahu dia suka apa??. Siapa namanya??."


"Raka. Mana gue tahu dia suka apa." Lisa membuang nafas kasar. Percuma tanya sama cowok bermuka tembok plus nggak peka kayak Bian.


"Oke kita beli mainan yang disukai anak laki laki." Ujar Lisa semangat.


Beberapa menit kemudian Lisa memilihkan permainan mobil remot yang cukup besar. Lisa pikir anak laki laki pasti suka dengan mobil mobilan apalagi ini dengan remot.


"Kita kemana lagi??." Tanya Lisa sudah duduk dikursi penumpang.


"Beli kue." Bian melajukan mobil menuju toko kue. Keadaan mobil sangat hening. Merasa bosan Lisa menyalakan musik yang ada dimobil Bian. Lisa memutar lagu audi mayunda yang berjudul kamu dan kenangan.


Saat ingin mengganti lagu tangan Lisa dan tangan Bian saling memegang. Beberapa detik mata mereka bertemu. Lisa tidak bisa melihat aura yang dikeluarkan Bian dari tatapannya. Bian memalingkan wajah dan menarik tangannya lebih dulu. Suasana semakin canggung dan tanpa sadar mereka sampai ditoko kue.


Selesai membeli kue Bian melajukam mobilnya menuju tempat les Raka. Dia ingin memberi kejutan karena selama ini mungki hanya Bian yang peduli saat ulang tahun Raka. Mama dan Papa Raka selalu sibuk dengan pekerjaan dibanding anaknya. Bian begitu menyayangi Raka semenjak sikecil Raka lahir. Wajah damai sibayi Raka membuat hati Bian senang apalagi bisa membuat Raka tersenyum. Karena dia juga bisa merasakan bagaimana rasanya saat ditinggalkan orang tua hanya karena uang. Bian tidak ingin Raka merasakan apa yang dia rasa selama ini. Kekurangan kasih sayang.


"Gue ikut turun kak."


"Nggak usah biar gue yang jemput." Bian turun menghampiri segerombolan anak yang salah satunya ada Raka.


Bian kembali dengan menggandeng anak kecil yang tampan dan imut itu kesan pertama Lisa saat melihat Raka.


Brrakk


Raka duduk dikursi belakang dengan wajah bingung menatao Lisa. Lisa hanya tersenyum melihat wajah Raka yang membuat gemas.


"Haii tampan siapa namamu??." Lisa hanya ingin mencari topik agar lebih dekat dengan bocah yang sudah mencuri hatinya, padahal dia sudah tahu nama Raka.


"Raka, kakak cantik siapa???." Lisa tersenyum lebar, ternyata Raka anak yang humble, murah senyum tidak seperti manusia disampingnya. Siapa lagi kalau bukan Bian.


"Waahh kakak senang deh dibilang cantik sama anak setampan Raka." Bian tetap fokus mengemudi, kadang dia melirik Lisa yang sedang asyik berbincang dengan Raka.


"Nama kakak Lisa."


"Kakak pacarnya Uncle??." Tanya Raka polos. Lisa mendelik mendengar ucapan Raka. Bagaimana anak sekecil Raka tahu apa itu kata Pacar. Lisa menyengir menatap Raka lalu berganti menatap Bian dengan tatapan menyelidik.


"Apa yang sudah kau ajarkan pada bocah kecil ini??." Bisik Lisa menatap Bian. Bian hanya mengedikkan bahu.


"Uncke Raka juga mau dong punya pacar kayak tante cantik." Raka mencondongkan badannya agar bisa melihat wajah Bian. Sekali lagi Lisa tercengang mendengar penuturan polos Raka.


"Nanti uncle carikan."


"Whaatt??." Ucap Lisa kaget, manusia disampinya apakah sudah gila??.


"Yeeee uncle in the best." Raka tersenyum lebar dengan kakinya yang dihentak hentakkan.


"Dia polos atau berpolos??." Ujar Lisa lirih menatap Raka dan Bian bergantian.


__ADS_1


__ADS_2