Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
kanker otak


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu membawa cerita baru dihidupku. Masalah keluargaku juga telah damai, entah apa yang sudah dilakukan kak Deren hingga mama dan papa baikan. Lebih senangnya lagi aku bisa melihat perubahan sifat kak Bian.


Tidak sia sia aku menemaninya dua bulan ini untuk terapy.Walau tidak sepenuhnya ekspresi kak Bian terlihat tapi sedikit demi sedikit aku bisa merasakan perubahan dalam dirinya.Tidak hanya dalam diri kak Bian aku merasakan sesuatu, tapi entah kenapa akhir akhir ini aku sering sekali memikirkannya.


Bahkan tak jarang aku mengajak kak Bian keluar, sekedar jalan jalan.Sungguh sekarang aku bisa bebas melihat senyuman kak Bian yang membuat getaran aneh didadaku.Apa ada yang salah denganku?.


Dan dua bulan ini aku putus kontak dengan Rasyad.Aku juga tidak terlalu peduli dia sedang apa, sama siapa, memikirkanku atau tidak. Karena sekarang aku hanya ingin fokus kuliah. Kehadiran kak Bian membuatku melupakan masalah terakhirku bersama Rasyad, mungkin sekaeang Rasyad benar benar melupakanku.


Aku senang melihat kak Bian sedah bisa berbuncang santai dengan sahabat sahabatku.Melihatnya kembali tertawa menjadi kebahagian tersendiri untukku.


Sekarang kami habiskan waktu seharian di beskem, walau sedari tadi kak Bian sibuk berkutat didepan laptop.Aku tahu akhir tahun ini dia akan lulus dan pasti disibukkan banyak tugas.


"Nggak seru nih pada sibuk sendiri," keluh Dito.


"Lo juga sibuk sama game dari tadi, malah nyalahin kita," sahutku.


"Terus mau ngapain??," tanya Kayla menatap Dito.


"Main apa gitu yang seru."


"Kayak anak kecil aja lo dit," sahut Devi.


Drrtt Drrttt


"Siapa Lis??," tanya Kayla.


"Emm mama gue," bohong, yah gue bohong. Bukan mama yang telepon tapi Dokter Anya.


"Ya udah angkat gih!!!."


Aku beranjak keluar supaya mereka tidak mendengar obrolanku dengan dokter Anya apalagi kalau sampai kak Bian tahu.


"Hallo Lisa maaf mengganggu waktunya," ujar dokter Anya.


"Oh nggak ngganggu kok dok, emm ada apa ya??."


"Kamu tidak lupakan sama rencana kita."


"Rencana??,"tanyaku bingung, rencana mana yang dimakhsud dokter Anya.


"Rencana kita buat Bian sembuh total."


"Astaga Lisa lupa dok, emm buat kak Bian ingat sama masa lalunya lagi kan?."


"Betul, jadi kapan kamu bawa Bian ke semarang??."


"Ahh kalau sekarang agak sulit dok, kak Bian lagi sibuk sama kuliahnya. Kalau minggu depan gimana dok?."


"Itu terserah kamu bisanya kapan, kabari saya yah nanti saya juga harus atur jadwal."


"Oh Dokter Anya juga ikut??."


"Pasti dong Lis, saya nggak mungkin lepas tanggung jawab begitu aja, kalau ada apa apa sama Bian bisa bisa saya yang kena."


"Iya juga sih___ emm aku coba tanya sama kak Bian bisanya kapan, tapi lebih baik Lisa jujur atau nggak ya dok?."


"Saya rasa sih baiknya kamu nggak bilang, lihat sifat Bian yang kurang paham akan keadaannya mungkin sulit untuk dia membuka masa lalu nya. Dulu saya juga pernah usul cara ini tapi sayangnya tante Rina nggak setuju."


"Terus gimana caranya biar kak Bian nggak bilang sama tante Rina, pasti tante Rina bakal tanya tanya mau kemana."


"Kamu bilang aja sama Bian jangan kasih tahu kalau dia mau liburan ke semarang, coba kamu bilang liburannya itu dilain kota."


"Ribet juga ya dok hufftt.."


"Nggak usah dibuat ribet Lis!!."


"Astaga___ kak Bi.. Bian??," sejak kapan dia disini, apa kak Bian dengar semuanya?? oh tidak.


"Lis itu suara Bian??," tanya Dokter Anya.


"I...iyah dok."

__ADS_1


"Ehh kak___," Kak Biam merampas hp ku dan mematikan sambungan telepon, aishh apa yang harus aku lakukan sekarang. Kenapa wajah kak Bian tidak mengekspresikan apa apa, wajahnya kembali datar.


"Emm gue bisa jelasin semuanya kak," ucapku tanpa melihat tatapannya yang begitu dingin.


"Nggak perlu."


"Jangan marah dong kak gue cuma mau_____"


"Gue mau besok kita pergi!!!," aku menatapnya penuh tanda tanya, pergi?? pergi kemana??.


"Haaa?."


Kak Bian masuk kedalam begitu saja, dan dia tidak marah?.Sebenarnya dia mendengar pembucaraanku sam Dokter Anya atau tidak sih??. Lalu makhsud dari kata pergi itu apa?.


Aku mengikutinya masuk kedalam dengan wajah was was, apa yang setelah ini terjadi?.


"Lama banget lo Lis, ada apa?? tante Ayu suruh lo pulang??," tanya Kayla tak kuhiraukan, aku terus menatap kak Bian yang kembali sibuk dengan laptop.


"Kenapa wajah lo kusut gitu?? habis dimarahin yah?," sahut Devi.


Ngerti nggak sih kalian hal yang lebih menakutkan dari omelan mama adalah saat kak Bian mengeluarkan hawa dinginnya?. Ohh aku pasti sudah mati ditempat jika kak Bian mendiamiku seperti dulu, saat aku dengan cerobohnya menerima ajakan senior untuk makan siang dan berujung hal buruk yang tak pernah aku bayangkan jika kak Bian tidak datang, habislah aku.


"Kak Lisa nggak ada niat buruk kok," ujarku mendekati Kak Bian yang masih tak menghiraukanku.


Aku melirik sahabatku yang saling lempar tatapan, aku hanya bisa menggeleng lesu. Semuanya sudah berakhir gagal.


"Ada apa sih??," tanya Dito merusak keheningan, ohh Dito bisakah kau diam sejenak?.


"Shuutt!!!," ujar Devi, Kayla, dan Rian kompak.


Kami kembali diam mengamati aura dingin kak Bian yang membuat semua orang disekitarnya mati kutu. Belum juga aku melancarkan aksi, sudah ketahuan.


Drrtt Ddrrtt


Astaga hp ku masih di kak Bian, siapa yang telepon??.


"Eumm siapa kak??," tanyaku, tapi sayang kak Bian mengangkatnya lebih dulu.


"Saya setuju dok."


Apa?? barusan kak Bian bilang apa??. Dokter, jangan bilang itu dari Dokter Anya, astaga Dokter Anya bicara apa tadi?.


"Besok Dokter bisa??."


"....."


"Hemmm besok pagi kita berangkat."


Tut tut tut


"Siapa kak??," tanya Dito.


"Mau liburan??," tanya kak Bian membuat kami saling tatap.


Disaat seperti ini aku hanya bisa bungkam, melihat wajahnya saja nyaliku benar benar menciut.


"Liburan kemana??," tanya Devi.


"Semarang."


"What???," ujar kami serentak, semarang??apa ini artinya kak Bian setuju?.


"Semarang??____jauh banget kak," sambung Kayla.


"Euumm___mau ikut nggak??."


"Kita mau kak," jawabku cepat, tidak ada kesemoatan kedua bagi kak Bian.


"Lis yang benar aja___ masa kita mau bolos."


"Jangan sok baik deh Dit____ alasan lo seneng kan bisa bolos," sahut Kayla dibalas cengiran Dito.

__ADS_1


"Makasih kak," ujarku dengan senyuman tak lepas dari bibirku. Kak Bian hanya mengangguk, tak ada kata lagi yang dikeluarkan. Sungguh aku sangat senang, tak perlu banyak bohong lagi demi kebaikan kak Bian.


******


Dua bulan sudah mereka semua tidak mengetahui apa yang sedang disembunyikan Devi, kecuali satu orang. Sudah beberapa minggu ini Baren menyelidiki obat apa yang dulu dia temukan di apartemen Devi.Bahkan Devi melupakan bahwa obat itu masih dibawa Baren.


Sungguh pertama kali Baren terasa dunia telah menjebaknya. Disaat dia menemukan kebahagian tapi kenapa kebahagian itu secara perlahan direngut darinya?. Tak sanggup lagi Baren mengetahui kenyataan itu.Hari ini Baren mengetahui segalanya, setelah hasil laboratrium keluar.


"Kenapa dia tuhan?? kenapa??____ apa aku tidak berhak mendapatkam wanita yangku cintai??, sungguh ini tidak adil," monolog Baren di depan pintu apartemen Devi.


Ting


Devi keluar dari lift dan berjalan menuju Baren yang tertunduk lesu didepan apartemennya.


"Ehemmm____ada apa?? mau numpang mandi lagi??," ucap Devi dibalas gelengan kepala Baren.


"Terus ngapain didepan rumah orang??."


"Bisa nggak kali ini aja lo bicara manis sama gue?," tanya Baren dengan wajah sendu membuat Devi merasa aneh.


"Biasanya juga gue gini kalau ngomong."


"Dev___"


"Apa??," sewot devi.


"Sejak kapan____"


"Tau ah nggak jelas lo, minggir!!!," Devi membuka pintu tapi tidak dengan mudah Baren membiarkannya.


"Gue tahu semuanya____"


"Tau apa??," potong Devi.


Mereka berdua saling diam diambang pintu, mencerna setiap kata yang ingin keluar. Hingga Devi paham apa yang sedang terjadi saat ini. Dengan spontan Devi menarik Baren masuk kedalam.


"Duduk!!!," ujar Devi, Baren patuh dan duduk disofa singgle.


"Lo tahu apa??."


Baren menyodorkan sebuah amplop berwarna putih itu ke meja.


"Lo jelasin apa isi surat itu!!!," ucap Baren. Devi mengambil amplop dan membacanya. Ekspresinya sudah tak terkejut lagi jika semua ini akan terungkap. Sepandai pandainya dia menyembunyikan bangkai, pasti bangkai itu akan tercium.


"Apa gue bisa percaya sama lo??."


"Rahasia in apa yang lo tahu tentang gue," sambung Devi.


"Gue nggak janji."


"Lo tuh___"


"Udah stadium berapa??," potong Baren menatap tajam Devi.


"Nggak penting."


"Ini penting!!!, Kanker otak Dev, bukan penyakit biasa!!!," bentak Baren membuat Devi tersentak.


"Nggak usah ikut campur, lo bukan siapa siapa gue!," teriak Devi.


"Tapi gue nggak mau lo kenapa napa!."


"Urusannya apa sama lo, gue yang sakit kenapa lo yang emosi?."


"Karena_____gue cinta sama lo!."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2