Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Akhir Dari Sebuah Rasa (Ending)


__ADS_3

Waktu terus berjalan beriringan dengan segala penyesalan yang tiada sirna. Dua tahun berlalu bersama segala kenangan. Tiada yang tahu akankah semua kembali seperti semula. Dan tidak ada yang tahu rencana takdir menuntun kita kemana, mungkin takdir bisa saja mempermainkan hati kita tapi takdirlah yang tahu pasti kemana dia berpulang.


Tidak terasa dua sudah tahun menjadikan seorang Lisa pramudiana lebih mengerti arti kehidupan, dia menjalani hidup layaknya orang orang lainnya. Tapi jauh dilubuk hati Lisa dia merasakan sunyi yang mendalam, tidak ada lagi rasa tenang dan nyaman disana. Sejak semua itu berakhir.


Menjalani akhir tahun dimana dia akan lulus membuatnya sibuk antara bisnis yang sudah dia jalani bersama Kayla selama satu tahun terakhir. Mereka berdua membuka usaha sendiri dengan bantuan Rian juga Dito sebagai pengontrol jalan usaha sedangkan Lisa dan Kayla lah yang melakukannya. Mereka sudah berkali kali memdapat panggilan untuk mendisain rumah, kafe, kantor, dan masih banyak lagi.


"Gayyss ini ada yang minta desain kafe, dia juga mau bayar tinggi tapi__" ujar Rian menjeda ucapannya.


"Tapi apa??," tanya Lisa.


"Lokasinya jauh, di Semarang loh."


"Emang berani bayar berapa?," sahut Kayla.


"Kalau kerja kita memuaskan dia berani ngasih dua kali lipat, gue sih pengen ambil tapi lokasinya jauh apalagi dia minta dua hari lagi ketemu."


"Ambil ajalah yan, nanti biar gue sama Kayla aja yang kesana," sahut Lisa.


"Beneran ini diambil?, kalau kalian kesana nanti biar gue sama Dito yang urus desain kamarnya si Tania."


"Oke lo urus tiket kereta sama bikin janji, sekarang gue mau cari ide dulu sama Kayla bye!!," ujar Lisa berlalu bersama Kayla. Sebelum Kayla benar benar keluar dia membalikkan badan menatap dua pria dengan senyum penuh arti.


"Semoga berhasil!," ujar Rian dibalas anggukan Dito.


Dua hari lagi bertepatan dimana usia Lisa bertambah satu tahun. Hari yang mungkin akan menjadi paling istimewa baginya.


Dilain sisi seorang pemuda dengan setelan jaz berwarna hitam sedang menikmati makan siangnya bersama perempuan keturunan Indonesia-Jerman, dengan tawa yang tak henti menghiasi keduanya. Dua tahun bersama membuat mereka lebih akrab, bahkan banyak yang mengira mereka adalah sepasang kekasih.


"Siap siap dapat amukan singa betina loh nanti, restu sih udah dapat tapi kepastian belum terucap___kasihan banget sih kamu!," ujar perempuan itu diselingi tawa.


"Lihat aja nanti!," sahutnya dengan santai.


"Oke kita lihat bakalan seru nggak yah!?___Ngomiong ngomong Kakak gue yang susah move on kok belum datang sih padahal ini mau rapat saham loh habis jam makan siang," keluhnya melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


"Sabar nanti juga nongol batang hidungnya."


"Oh ya kado undangan pernikahannya udah jadi belum?, aku nggak sabar pengen lihat nih!," senyum manis terpampang jelas diwajah blesterann miliknya.


"Besok baru jadi."


"Oke oke, emm kamu undang Rasyad juga nggak?."


"Yah pastilah, apalagi Rasyad udah bantu kita buat susun acara acara selanjutnya."


.


.


.


.


.


.


KRIIINNGG____


Suara alarm membangunkan Lisa dari tidurnya, yah hari ini. Hari dimana usianya tepat 22 tahun. Dan hari ini jadwalnya pergi ke Semarang bersama Kayla, wait!__mungkin tak hanya Kayla yang akan pergi.


"Hari yang membosankan," ucap Lisa menatap kalender berlingkar merah ditanggal 26.


"Halo," ujarnya malas saat benda pipih ia tempelkan ditelinga.


"Lisaa ini jam berapa hah lo baru bangun tidur!!??," teriak Kayla dari seberang, spotan membuat Lisa menjauhkan hpnya.


"Santai aja kali Kay nggak usah ngegas juga."


Tut Tut Tut


Sambungan diputus sepihak yang membuat muka Kayla bertambah merah.


"Sabar sayang, ingat jangan sampai gagal oke!," ucap Deren mengelus punggung Kayla.


"Gimana mau sabar, dianya molor waktu___kalau nanti sampai sana malam gimana dong?."


"Kan malam lebih romantis suasananya, lebih bagus dong!___ kamu tunggu disini aja yah aku sama yang lain berangt duluan nanti kalau kamu udah nai kereta kabarin!," ujar Deren diangguki Kayla.Mama dan Papa Lisa mendekati mereka berdua yang berada diruang tamu.


"Mama nggak boleh ikut yah!," ucap Ayu dengan suara lemas.


"Nggak usah mah___ besok aja ikut waktu hari H nya," sahut Deren.


"Kalian hati hati disana, jaga adik kamu Der pasti dia syok."


"Pasti pah, kalau gitu Deren verangkat dulu sebelum Lisa turun."Deren menancap gasnya dan berlalu menghampiri duo tampan dari blacksquat.


Beberapa jam sudah mereka lewati sampai ditempat tujuan. Wajah wajah lelah kentara dari keduannya. Tak ada yang mengucapkan tiga kata dihari ulang tahun Lisa. Dan juga tak ada orang yang ingin dia peluk, yang ingin Lisa caci maki untuk mengeluarkan semua emosinya selama ini.


Kota dimana kenangan terakhir yang indah untukku bersama orang orang yang aku sayang, batin Lisa tersenyum menatap jalanan kota Semarang yang cukup padat hari ini.Matahari semakin turun diujung barat, menunjukkan semburat warna orange.


"Aku sama Lisa menuju lokasi," ketik Kayla dibenda pipihnya.


"Oke kita semua udah ready."


"Stop pak!!, ini makasih ya," ujar Kayla memberikan selembar uang 50.000 kesupir taksi.


"Benar ini tempatnya Kay??, kok gelap banget sih kayak nggak ada orang."


"Udah turun dulu Lis, bantuin gue nih bawa dokumennya!," sahut Kayla beranjak turun.


Mereka berdua masih terdiam didepan kafe yang bertuliskan ' moon night ' didepan pintunya. Keadaan sekitar juga sunyi, karena letak kafe ini masuk di perkampungan.


"Ini udah gelap Kay, mungkin orangnya juga udah pergi dari tadi___apa kita cari penginapan aja ya?."

__ADS_1


"Sepi lagi disini, gue jadi merinding kan Kay!," sambung Lisa yang mulai celingukan. Kayla juga mengikuti gerakan Lisa yang terlihat was was, padahal didalam hatinya dia tertawa puas.


"Iya sih emang sepi disini tapi kita kan nggak tahu dalam kafenya ada orang atau nggak____ katanya sih mereka masih ada dikafe, mungkin lagi didalam!," sahut Kayla.


"Lo yakin ada orang didalam??, coba lo chat lagi deh, sia udah pulang atau pindah tempat!?."


"Nih lo lihat orangnya nunggu didalam, udah kita maauk aja kelamaan lo Lis," ujar Kayla menunjukkan pesan yng ada dilayar hpnya.


"Iya mungkin ada didalam kali ya," monolog Lisa mengamati kafe yang hanya ada satu lampu, membuat suasana mencekam.


Tiingg


Bunyi bel terdengar saat Kayla membuka pintu, membuat Lisa yang ada dibelakang Kayla terlonjak kaget.


"Bikin kaget aja," gerutu Lisa mengelus dada nya.


"Kok gelap banget Kay, kenapa perasaan gue nggak enak yah."


"Kay lo dimana??___Kayy jangan jauh jauh gue takut nih!, lo dimana Kay!?," sambung Lisa yang mulai panik saat dia tak merasakan Kayla tidak lagi ada didekatnya.


"Kay pliss jangan bercanda yah!!!___gue takut beneran ini!."


Disaat Lisa mencoba melihat keliling dan berjalan perlahan namun membuat langkahnya berhenti ketika kakinya seperti menendang sesuatu. Suara orang cekikikan juga mulai ditangkap indra pendengarnya.


"Apa itu tadi??, Kay lo dimana sih nggak lucu tahu!!___keluar Kay!! jangan bikin gue parno ah elah."


DDOORRR


"Aaahhh____"


"Surrpraiiss__"


Lampu teeang seketika menampilkan dekorasi ruangan yang sangat indah, tak lupa hiasan pernak pernik menambah kesan elegan kafe yang diasulap menjadi tempat pesta ini. Tulisan Happy birthday terpamoang jelas di dinding depan Lisa saat ini.


Masih dengan jantung berdegup kencang, Lisa mulai mengamati keadaan sekitarnya. Banyak orang yang dia kenal, disaat tatapan itu terhenti dimanik coklat seseorang sepertinya dunia juga ikut berhenti berputar sekarang.


Teriakkan orang disekitarnya berhenti tak kala sang pemilik manik coklat itu mulai mendekati Lisa dengan kue tart ditangannya.


Semakin dekat membuat tubuh Lisa mati kaku, ingin rasanya dia berteriak memaki orang yang sedang tersenyum begitu manis didepan matanya saat ini. Tapi kata kata itu lenyap mengalahkan rasa rindu yang terpendam.


Keduanya enggan mengalihkan tatapan tersirat beribu kata yang sulit terungkapkan. Disaat semuanya diam memberikan waktu untuk kedua hati bersatu kembali harus hancur___


DDOORRR


Saat Dito tak sengaja meletuskan balon yang dipeganginya.


"Aduh kaget gue kaget gue__eh kaget gue," gagap Dito sedangkan yang lain sudah berkacak pinggang kearahnya.


"Will you marry me!?."


Ucapan seseorang membuat mereka terdiam kembali. Dan Lisa baru menyadarinya, bahwa kue itu tidak bertuliskan happy birthday untuknya tapi sebuah ungkapan yang tak pernah ia pikirkan.


Tak bisa dibendung hujan mulai jatuh membasahi kedua pipinya. Rasa yang tak bisa diungkapkan dan hanya air mata rasa bahagia yang mewakili semua ini. Dia ingin marah, dia juga ingin penjelasan, tapi kenapa orang didepannya seolah membuat Lisa membisu seketika.


PLAKKK


"Itu balasan untuk kak Bian karena udah dua kali bikin Lisa jantungan." ujar Lisa setelah mendaratkan tangannya dipipi Bian, yah dia adalah Bian hermansyah. Orang yang sudah melamar Lisa beberapa detik lalu. Semua orang terperanga menatap punggung Lisa yang hilang dibalik pintu.


"Sakit nggak kak?," pertanyaan bodoh itu dilayangkan si Dito.


"Dito biaa diam dulu!?," ujar Kayla oenuh penekanan.


"Bisa tolong kasih ini ke Lisa!?," ucap Bian menyerahkan sebuah kotak ke Kayla.


"Tenang aja kak, Lisa palingan cuma syok aja bentar lagi dia juga baikan," sahut Kayla menerima kotak itu.


Setelah Kayla pergi menyusul Lisa yang entah kemana, mereka yang ada dikafe kembali saling diam. Tidak ada yang berani bicara ketika melihat wajah dingin Bian kecuali manusi gesrek satu ini.


"Kak dipotong sekarang aja yah kuenya, gue udah laper nih dari tadi belum makan!," ujar Dito dan hanya mendapatkan satu anggukan Bian tanpa menatap balik wajah absurt Dito.


"Yess makasih kak___yuk kita potong kue!!!," ucap girang Dito.


"Pikiran lo cuma makanan aja yah Dit," ujap lirih Rian yang masih bisa didengar, sedangkan yang lain hanya tertawa kecil.


Dipersimpangan jalan Kayla berhasil meraih tangan Lisa. Tanpa aba aba Lisa memeluk Kayla dan menumpahkan tangisnya yang sempat dia tahan tadi, sungguh sesak saat melihat wajah yang selama ini dia rindu juga ada rasa kesal didalamnya.


"Gue nggak ngerti harus apa Kay hikkss___kenapa rasanya gini amat sihh___ aahhh gue benci!!!," teriak Lisa masih dalam pelukan Kayla.


"Gue tahu apa yang lo rasain Lis, tapi jangan pergi kayak ginu dong___kasihan sama yang lain udah capek capek buat kejutan buat lo tapi lo malah nggak ada disana."


"Apa makhsudnya muncul didepan gue dengan cara kayak gini ini Kay??. Apa??___gue nggak ngerti Kay," Kayla melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Lisa.


"Mungkin ini bisa jawab peetanyann lo Lis!," ujarnya menyodorkan sebuah kotak dari Bian.


"Jika ada kesempatan jangan biarkan kesempatan itu pergi , karena tidak akan ada kesempatan lagi untuk kedua kalinya," ujar Kayla sebelum dia beranjak meninggalkan Lisa yang masih menatap kotak itu.


Lisa peelahan membuka bungkusan kotak itu yang lumayan banyak.Sedikit demi sedikit isi dari kotak itu mulai terlihat.


"Apa ini?."


"HAPPY WEDDING LISA AND BIAN."


Deg


Mata Lisa melotot melihat kertas yang diketahuinya sebuah kertas undang pernikahan, dan itu tercatat namanya bersama Bian?.


"Gue nggak salah baca kan??."


"Happy wedding Lisa and Bian?, apa apaan ini gue dapat kado ulang tahun yaitu undangan pernikan gue sendiri??. Benar benar aneh, sebenarnya siapa yang mau nikah sih kok nggak ada persetujuan dari gue dulu," ujar Lisa dengan kesal menendang kaleng didepannya, padahal didalam dadanya banyak bunga yang bermekaran.


"Bagaimana?," ujar seseorang dari belakang membuatnya berbalik dan memasang wajah horornya.


"Diterima nggak?," sambung Bian.

__ADS_1


"Nggak___" sahut Lisa memalingkan wajahnya.


"Yahh terima dong Lis!," sambung Dito yang muncul dari balik dinding rumah, tapi dengan cepat Rian menarik kerah Dito agar kembali ketempat persembunyian mereka.


"Nggak nolak makhsudnya!," ujar Lisa kembali membuat semua orang keluar dari balik dinding dengan soeak sorai tepuk tangan tak lupa senyum bahagia terlukis.


Lisa dan Bian saling melempar senyuman, Bian mendekat dan membawa tubuh Lisa masuk kedalam dekapannya yang terasa hangat bagi Lisa. Pelukan yang selama ini ia rindukan.




"Aku mencintaimu," ujar Bian untuk pertama kalinya mengatakan sebuah rasa yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.


"Apa kak, Lisa nggak dengar!?."


"Aku mencintaimu Lisa pramudiana!!!," ujar Bian sedikit berteriak.


"Lisa nggak tuh!," sahut Lisa membuat Bian melepaskan pelukannya dan menatap Lisa tajam.


"Apa?? mau marah sama Lisa? silahkan!!!."


"Siapa suruh hadiahnya belum lengkap," sambung Lisa sambil menempelkan jari telunjuknya kepipi.


Cup


satu kecupan menandai pipi Lisa yang sudah merah merona.


"I love you to kak," sahut Lisa.


Kenapa Lisa nggak bisa marah sama kak Bian?? karena rasa sayang Lisa lebih besar, rasa itu tak akan pernah hilang kak. Lisa cinta sama kakak, plis jangan pernah pergi lagi, batin Lisa.


"Heyy nggak tahu malu ya mentang mentang udah baikan terus main lupain kaum jomblo!!."


"Gue juga pengin kali," sambung Rian disambut tawa bahagia yang akhirnya bisa mereka rasakan.


"Eissh minta sana sama kak Reyna!,' sahut Kayla.


"Ogah gue sama dia, dengar namanya aja bikin merinding."


"Awas loh jodoh nggak ada yang tahu, jangan terlalu benci sama orang," sambung Lisa.


"Ekhmm Lis lo harus berterimakasih nih sama dia!, dia udah rencanain ini semua loh" ujar Baren menyenggol lengan Rasyad yang ada disampingnya.


"Kok lo ada disini Ras?."


"Iyah Lis gue udah lulus duluan jadi bisa balik deh buat lihat lo sama Bian dipelaminan."


"Makasih banyak Ras, gue nggak tahu mau ngomong apa lagi___gue nggak nyangka lo ngelakuin ini!."


"Udah kewajiban gue kali Lis jadi sahabat yang berguna," sahut Rasyad.


"Eitss tunggu," potong Kayla mengangkat sebuah kertas emas dengan tulisan Kayla dan Deren.


"Tunggu gue dulu yah Lis baru lo boleh nyusul!," sambung Kayla yang lagi lagi membuat Lisa melongo.


"Ya ampun lo benar mau jadi kakak ipar gue Kay??."


"Yang benar aja Kay!?," sambung Lisa dengan wajah tak rela membuat Dito dan Rian cekikikan.


"Ohh awas aja Lis gue bakal jadi kakak ipar yang baik kok, asalkan lo mau gue suruh suruh hmm!?."


"Enak aja, gue adik ipar lo kali bukan jadi babu!."


"Udah udah, kalian mau ribut sampai kapan hah?," potong Deren.


Adeline yang sedari tadi diam mendekati Lisa, dialah yang selama ini menjadi tempat curhat Bian disaat dia benar benar meeindukan Lisa. Dan selama dua tahun ini Bian bekerja sama dengan perusahaan milik dady Adeline yang diwasiatkan untuk sepenuhnya diberikan kepada Adeline. Saat ini keduanya mengelola bisnis mereka yang ada di Jogya dan di Semarang.


"Selamat Lis!, semoga lancar sampai hari H," Adeline menjulurkan tangannya dan dijabat Lisa.


"Makasih," sahut Lisa diiringi tawa dari mereka, dan entah apa yang membuat keduanya saling tertawa. Munkin menertawakan takdir cinta yang membuat mereka sampai dititik ini. Jika tidak ada Adeline yang membuat hati Lisa goyah, paati dia tidak akan bisa bersama Bian saat ini.


Disaat semuanya kembali ke kafe, Rasyad mengajak Adeline duduk dipos ronda dekat persimpangan. Beberapa menit mereka saling diam, lama tak berjumpa membuat keduanya canggung. Selama ini Adeline ada di Indonesia mengurus perusahaan sang Dady, sedangkan Rasyad melanjutkan kuliahnya.


"Apa masih ada kesempatan buat gue Del?," Adeline menoleh menatap wajah Rasyad dari samping. Hati Adeline kembali berdetak kencang setelah sekian lama.


"Mungkin," sahut Adeline yang membuat Rasyad menoleh, dan keempat manik itu saling beradu sesaat.


"Gue minta maaf Del, gue pernah bikin lo kecewa."


"Tapi apa boleh gue perbaiki semuanya dari awal?,' sambung Rasyad menggenggam tangan Adeline. Adeline tak sanggung untuk bicara, dan hanya anggukan yang membuat keduanya saling berpelukkan.


Akhir dari sebuah rasa yang tak tahu kemana dia akan berlabuh. Dan semua berjalan seiring waktu, waktu yang menuntun mereka kembali.


Setiap kisah pasti akan menemui rintangannya masing masing. Dan yang kita butuhkan adalah rasa sabar menunggu waktu itu tiba. Waktu dimana semuanya sudah terjawab.


Sebuah kata cinta yang tak mampu keduannya ungkapkan. Dan sebuah rasa yang selama ini membuat mereka lupa akan pentingnya rasa itu.


Rasa cinta dan kasih sayang yang hilang ditelan ego.


Semua sudah menemukan kebahagiannya, tapi ini awal dari kisah perjalanan mereka menuju dewasa.


END


🥀🥀🥀


Akhirnyaa selesai juga:)


Insya allah masih ada part slnjutnya menuju season 2.


Terimakasih buat para readers yang udah ikutin kisah ini dari awal sampai akhir😊


Author sangat sangat berterimakasih🙏

__ADS_1


Love you all😘


__ADS_2