Rasa Yang Tak Lagi Sama

Rasa Yang Tak Lagi Sama
Bertemu gadis cerewet


__ADS_3

"Bagaimana sih..punya mata nggak??."


"Maaf saya nggak sengaja." Pria itu berdiri dan menjulurkan tangannya melihat orang yang sibuk membereskan isi tasnya.


Deg


Ternyata dunia ini selebar daun kelor yahh,, batin pria itu tersenyum lebar.


Yah pria itu adalah Baren dan dia menabrak seseorang yang pernah dipanggil dengan sebutan gadis cerewet, siapa lagi kalau bukan Devi.Devi menerima uluran tangan Baren tanpa melihat wajah pria didepannya. Baren terus menatap Devi dengan senyuman tanpa lepas menghiasi wajah tampannya. Saat Devi menatap kedepan seketika matanya melotot sempurna, iyah dia masih ingat dengan benar siapa pria didepannya ini. Agar memastikan apa yang dilihat ini nyata atau ada masalahkah dengan matanya?? Devi menampar berkali kali pipinya sampai cekalan tangan menghentikan pergerakannya.


Gue nggak salah lihat kan?? cowok ini....


Batin Devi tanpa sadar dia menatap Baren dengan wajah absurt plus mulut menganga lebar.


Tangan Baren masih megenggam pergelangan tangan Devi . Seakan terkunci dengan pikiran masing masing dan enggan melepaskan tatapan satu sama lain mereka tetap dalam posisi yang sama sampai seseorang mengintrupsi.


"Maaf permisi mas mbak jangan menghalangi jalan." Ujar wanita paruh baya dan dibelang mereka juga terlihat beberapa orang mengantri untuk masuk kedalam lift.


Baren dan Devi gelagapan saat melihat banyaknya orang menatap kearah mereka berdua. Dengan cepat Baren menepikan barang bawaannya yang menutupi jalan.


Astaga kenapa gue gugup ya, dia juga ngapain disini sih bukannya dia dijerman ya sama Rasyad. Kenapa tiba tiba nongol didepan gue. Batin Devi.



Semua orang masuk kedalam lift dengan cepat Devi juga ingin masuk tapi tangannya dicekal dan liftpun menutup sebelum dia masuk. Baren tersenyum puas melihat ekspresi kesal Devi menambah kesan imut bagi Baren.


"Apaan sih lepasin." Devi menarik kasar tangannya dari genggaman Baren.


"Jangan seperti itu, bukankah anda mengenalku nona?? seharusnya anda menyambutku dengan baik." Baren tersenyum semanis mungkin dan mengedipkan satu mata yang berhasil membuat Devi menghindari tatapan Baren kearah lain.


"Aku tidak mengenalmu jangan sok kenal." Ketus Devi yang hendak beranjak belum satu langkah Baren menghadangnya.


"Mau anda apa hahh??." Devi menaikkan suaranya lima oktaf membuat orang disekitar menatap curiga pada Baren.


"Husstt jangan teriak teriak." Bisik Baren sambil menempelkan jari telunjuknya kebibir Devi.Devi membeku saat jari telunjuk itu menempel dibibirnya, seketika tubuh Devi terasa panas dingin, aliran darahnya juga tidak berjalan dengan normal.


Kenapa gue nggak cari alasan cari tahu rumahnya Lisa ya kan dia temannya Lisa. Batin Baren.


"Saya ada kepentingan dengan anda. Ohh ya jangan banyak bicara sebaiknya anda ikut saya jangan disini tidak enak sama yang lain." Baren berganti memegang pergelangan Devi dan menariknya kedalam apartemen tanpa perlawanan sedikitpun dari Devi. Entah tangan ituu, yah hanya tangan Baren yang menjadi objek penglihatan Devi saat ini.


"Lepass!!." Baren melepas genggamannya setelah masuk kedalam apartemen untuk tempat tinggalnya selama di Indonesia.


Kenapa gue main ikut aja sih, apes lagi ngapain juga dia masih inget wajah gue. Gerutu Devi, yah pastinya hanya didalam hati mana mungkin dia berani bicara aneh didepan Baren, dia kan pura pura tak ingat padahal kaget juga tadi.


Nggak akan gue lepasin semudah itu, apalagi susah banget dia diajak kompromi. Batin Baren.


Cekleek


"Kenapa dikunci segala??."


"Supaya anda tidak kabur." Baren beranjak menuju kamar mandi seraya tersenyum penuh kemenangan.


Heeii jangan macam macam ya anda." Tidak bisa disembunyikan raut kecemasan diwajah Devi.


"Silahkan duduk dan bersantai dulu saya mau mandi, oh ya tenang saja saya bukan seperti yang anda pikirkan." Teriak Baren dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dasar pria nyebelin, nyebeliinn, nyebellinnn huuhhh....


Teriak Devi dalam hati.


Dengan kesal Devi beranjak menuju sofa sambil menghentak hentakkan kaki.


"Emang dia siapa berani beraninya nyeret gue gitu aja pake dikunci segala tuh pintu, lama lama gue jebol juga pake tendangan seribu sakti mandraguna." Monolog Devi. Tanpa sepengetahunya Baren mendengar ocehan yang dilontarkan sedaritadi karena kamar mandi berada disebelah ruang TV yang kini Devi sedang mengumpati Baren.


"Dasar cowok aneh, cowok mesum, cowok gila, seenaknya aja bawa bawa gue kesini. Iissshh sebel kenapa tuh orang ada disini??. Nyasar apa kebawa angin tiba tiba nongol, dan kenapa harus gue yang ketemu sama tuh orang."


"Awas aja ya gue sumpahin jadi perjaka tua kalau berani berani nyentuh gue sejengkalpun eh jangan sejengkal kebanyakan, se centi aja big no." Umpatan terakhir Devi ini membuat Baren tertawa, bagaimana tidak ucapan Devi benar benar diluar nalarnya. Tidak mungkin Baren seberani itu.


"Apa dia gila tertawa sendiri didalam kamar mandi??." Bisik Devi hampir tak terdengar.


Astaga apa dia benar benar gila?? kalau iya gimana dong nasib gue hikss mama tolong Devi.


Batin Devi.


Cekklekk


Mata Devi melotot sempurna sampai ingin keluar dari tempatnya begitu juga dengan jantung yang kian berdegup kencang. Bagaimana tidak baru kali ini Devi melihat pria bertelanjang dada dan hanya bagian bawah pusar sampai lutut yang tertutup handuk.


Baren membersihkan rambut dan mengibas ibaskan sehingga membuatnya terlihat maco' apalagi kulit putih bersih dengan dada bidangnya berhasil membuat Devi tercengang tapi juga menikmatinya sampai alam bawah sadarnya kembali mengintrupsi.


"Aaaaaaaa..." Saat tersadar akan lamunan dan pemandangan indah didepannya segera Devi menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Membuat Baren menutup telinga karena jeritan Devi yang terlalu memekakkan seperti petasan.


"Apa anda gila hahh??." Bentak Devi masih menutup wajah.


"Ckkk bisa tidak sekali saja anda tidak mengeluarkan suara petasan."


"Okeyy saya kekamar ganti baju, isshh dasar cerewet." Baren memotong ucapan Devi dan berjalan menuju kamar. Yah kamar tidurnya terpisah dengan kamar mandi. Devi mengintip dari celah jari jarinya memastikan Baren sudah menghilang.


"Hufftt mata gue udah nggak suci lagi hikss hikss..."


"Woyy lama amat ganti baju cepetan dong!!! lo maunya apa sih??." Teriak Devi kesal sampai melupakan panggilan formal yang sedari tadi dia gunakan dengan sebutan 'anda' and 'saya'.


Cekkleekk


"Jangan marah marah nanti cantiknya hilang loh." Ujar Baren mendekati sofa dan duduk disofa single.


"Gue nggak punya banyak waktu ya jadi jangan buang buang waktu saya." Ujar Devi tanpa melihat kearah Baren yang sedang mengamatinya dengan tangan melipat didada.


"Okey saya tahu anda mengenal saya bukan?? karena tidak mungkin kejadian waktu itu mudah terlupakan." Devi tetap dengan angkuhnya menatap kearah lain.


"Jadi saya perlu bantuan anda." Sambung Baren.


"Bantuan apa???." Tanya Devi ketus.


"Antar saya kerumah pacarnya Rasyad." Devi menautkan alis menatap Baren penuh tanya.


"Anda pasti tahukan rumah Lisa??. Saya hanya menjalankan perintah jadi bagaimana maukan??."


"Okey."


"Emm minta tolong satu lagi bo..."

__ADS_1


"Apalagi hahhh?? mau main main sini sekarang juga gue ladenin." Bentak Devi memotong ucapan Baren. Baren terus tersenyum melihat tingkah Devi sedari tadi.


Tak disangaka setiba di Indonesia dia langsung bertemu dengan gadis cerewet yang membuat dirinya tersenyum tanpa alasan saat mengingat ekspresi galak Devi.



********


Dilain tempat Lisa bingung harus bagaimana, disisi lain tidak mungkin dia tinggal seatap dengan Bian walaupun ada Raka. Yah sekarang mereka bertiga masih diruang tamu rumah Lisa, hanya bertiga. Karena mama, papa, Dion, dan kak Deren sedang menghadiri pemakaman kerabat jauh yang akan dimakam kan besok. Mereka pergi saat Lisa dan Bian sedang asyik dipantai.


"Bagaimana ini kak Lisa takut sendiri dirumah apalagi cuma sama anak kecil." Lisa menatap Raka yang mulai menguap.


"Hufftt yaudah lo tidur sana sama Raka biar gue tidur disini."


"Raka mau tidur sama uncle sama aunty juga." Rengek Raka bergelayut ditangan Lisa dan Bian disebelah kanan kirinya.


Lisa memajukan bibir menatap Raka kesal, segampang itu Raka meminta tanpa tahu akibat yang dirasakan Lisa. Malu sangat malu, membayangkan saja tidak akan kuat Lisa lakukan apalagi menjadi kenyataan.


"Raka tidur sama aunty aja nanti uncle tidur dikamar kak Deren aja yahh."


"Enggakk pokoknya Raka mau sama uncle sama aunty titik."


Lisa dan Bian saling pandang tanpa kata. Lisa memalingkan wajahnya yang terasa panas jika benar benar dia akan tidur seranjang bersama Bian.


Ouuhh tidak tidak Lisa jangan macam macam.


Batin Lisa.


"Raka ayolahh tidur sama aunti aja yaa." Pinta Lisa memelas sambil beranjak menarik tangan Raka.


"Enggakk mauu huuwaaa huwaaaa hikks hikkss.."


Raka menangis sejadi jadinya membuat Lisa kuwalahan takut tetangga terganggu. Tanpa pikir panjang Lisa membekap mulut Raka yang terus meraung raung.


"Bisa bisa dia mati nggak bisa nafas." Bian melepaskan tangan Lisa dari mulut Raka.


"Huuwaaa huwwaaa hikks...hikss...".


" Yah kann jangan berisik Raka aduh nanti pada bangun tetangga ini tuh udah malam."


"Suutt Raka jangan nangis lagi yah uncle sama aunty tidur bareng Raka kok." Ujar Bian disambut tendangan kaki dari Lisa. Erangan dan teriak kesenangan Raka menggema dirumah Lisa.


"Aaauuuwwhhh..."


"Yeeeyyy Raka tidur sama uncle sama auntyy..."


Bian meringis sambil mengelus tulang keringnya sedangkan Lisa menatap horor tepat dimanik mata Bian.


******


Haii jan lupa jempol and komen🤗


Vote and Rate yaa😍


Tunggu kelanjutannya😘

__ADS_1


__ADS_2