
Jan lupa jempol and komen🤗
Vote and Rate juga ya man teman🥰
Happy Reading😘
******
Deren hanya bisa menghela napas saat Lisa menceritakan apa yang didengarnya.Tapi tidak seperti Lisa dan Dion, Deren lebih terlihat tenang seakan ini semua benar benar terjadi.Tidak ada makan malam bersama, hanya ada kesunyian menyelimuti meja makan ini.
Mereka bertiga melihat sang mama dengan sedih, tak ada kata yang terucap.Hanya bisa bergelut dengan pikiran masung masing, bahkan Deren tidak berani membuka suara disaat keadaannya masih memanas.
"Ekkhmm...Papa kemana mah??," semua beralih menatap Dion.
"Ada meeting dadakan tadi," jawab ayu tanpa melihat tatapan Dion seperti mengintimidasinya.Dion tersenyum kecut mendengar jawaban sang mama.
"Mana ada sih ma malam malam meeting," sarkas Dion membuat ayu beranjak meninggalkan ruang makan tanpa menghiraukan teriakan teriakan Dion.
"Mah mau kemana? Dion belum selesai ngomong!!!."
"Mamah lagi berantem kan sama papah??Mah..jelasin..."
"Dion cukup!!!," Deren memotong ucapan Dion yang semakin agresif.Dion tidak bisa membiarkan ini terlalu lama lagi, dia takut jika masalah ini bertambah besar.
"Belum waktunya kita ikut campur, pura puralah tidak tahu..."
"Pura pura?? kak Deren suruh aku seakan tidak ada apa apa?? iyaahh...emang kak Deren mau aku nggak ikut campur dan semua akan berakhir!!!," hendak Dion berdiri tapi instruksi Lisa membuatnya bungkam.
"Duduk Dion!!! nggak sopan,masih ada orang tua bicara juga."
"Kakak ngertu makhsud kamu, tapi tidak dengan kita ikut campur bakal menyelesaikan masalah.Tidak Dion, biarkan mereka menenangkan pikiran dulu.Mereka bukan anak kecil lagi yang harus dinasihati setiap ada masalah.Dan itu juga bukan tugas kamu, tugas kamu hanya belajar dan membahagiakan kedua orang tua.Paham??," jelas Deren panjang lebar.
"Huufftt...paham," Dion menghembuskan nafas kasar,dan berlalu pergi dari hadapan kedua kakaknya.
Lisa meletakkan kepalanya dimeja dengan napas berat.Pikiran tentang kedua orang tuanya tidak mungkin dia anggap remeh, karena Lisa tahu sifat papa dan mama yang selama ini selalu bertolak belakang.
"Kak Deren yakin mereka berdua bakal baikan lagi??."
"Hmm yakin seratus persen!!!."
"Seyakin itu?? kenapa bisa??."
"Kamu percayakan sama kakak??," Lisa mengankat kepalanya menatap Deren penuh curiga, memang kebiasaan Deren jika ditanya balik tanya itu pasti ada sesuatu yang sudah diekspetasikan.Senyum Lisa mengembang melihat Deren tersenyum penuh arti.
"Apasih yang Lisa nggak percaya sama kak Deren," Deren tertawa ringan melihat ekspresi Lisa.
"Ohh ya dek kakak lihat kamu sama Bian cocok loh."
"Uhhuukk..uhuukk..uhhkk..."
"Nihh minum dulu!!!! keselek apa sih sampai kayak gitu?," Lisa menegak habis air yang diberikan Deren.
"Keselek kadall!!!," sewot Lisa disambung tawa garing Deren.
"Lagian ngapain sih tiba tiba bahas kak Bian, Lisa tuh nggak ada apa apa sama kak Bian."
"Kakak nggak nanya hubungan kamu sama Bian loh!!!, kak Deren cuma mau bilang kalian cocok jadi adik kakak.Ehh kamu ngarepnya kejauhan."
Skakkmatt
Lisa menutupi wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.Malu, yah seperrinya dia sudah mengidap penyakit kepedean.Sedangkan Deren tak henti hentinta tertawa.
"Isshh kak Deren apaan sih, nggak jelas tahu!!!!."
"Yah jelas dong dek...kamu tinggal pilih mau jadi kakak adek atau punya hubungan spesial."
"Au ahh gelap!!!,"Lisa memalingkan wajah cemberutnya.
Lagi lagi Deren terbahak bahak melihat ekspresi absurt Lisa.Ada sedikit rasa aneh didalam dada Lisa saat mengingat beberapa hari ini yang dilaluinya bersama Bian.Bahkan saat Deren hanya menyebut nama Bian, detak jantung Lisa berpacu lebih cepat.
"Kunci rumah dek, kakak mau pergi dulu," Deren beranjak dan meraih kunci mobil.
"Mau kemana kak??."
__ADS_1
"Nyari jodoh, biar cepat bikin ponakan buat kamu,"ujar Deren tetap terus melangkah.
"Bwahaahaa... okelah Lisa doain ketemu sama jodoh kak Deren yaaa!!."
Aamiin
Siapa tahu Deren bertemu jodohnyakan?.Deren tersenyum sambil mengaminkan doa Lisa.
"Hufftt jadi sepikan, ngapain ya??," monolog Lisa.
"Aahhaaa....."
Lisa mengotak atik layar hp.Dengan wajah gelisah Lisa terus mengulangi dan menghapus apa yang dia ketik, sampai akhirnya dia menekan tombol kirim.Pesan sudah terbaca tapi tak kunjung balasan masuk berdering, sampai membuat Lisa kesal pesan itu baru masuk, secepat kilat Lisa membaca pesan itu, seketika wajahnya kembali berseri.
******
Bian Pov
Aku senyum senyum sendiri saat mengingat pesan Lisa.Kebetulan aku membuka chat whatsap dengannya, baru saja aku ingin memberitahukan dia bahwa besok aku tidak bisa menjemput, tapi aku batalkan niatku karena Lisa juga sedang mengetik.Yang membuatku tersenyum geli saat dia mengetik lalu berhenti, mengetik lalu berhenti lagi, sampai aku bosan menunggu apa yang dia ketik sampai tak kunjung terkirim.
Akhirnya aku pesan itu terkirim, aku agak ragu apa ini benar benar chat dari Lisa??.Aku berpikir sejenak untuk menjawab pesannya.Cukup lama aku tidak membalas akhirnya aku mengiyakan apa yang dia minta.
Sekarang aku dan Lisa sudah berada di pantai yang biasanya aku dan dia datangi.Yah lisa mengajakku kepantai, dia bilang sangat suntuk dirumah dan akhirnya akupun menyetujui keluar mencari udara malam.
"Ada apa?? kok tumben kamu ngajak keluar," tanyaku.
"Huufftt..."
Lisa hanya menghela napas dan terus berjalan dipinggir pantai, membiarkan ombak menerjang.Suasana pantai agak ramai, banyak orang bersenang senang menikmati angin malam bersama keluarga bahkan banyak dari mereka adalah sepasang kekasih.Andai aku ada diposisi mereka bersama Lisa, pasti aku akan menjadi orang paling bahagia didunia ini.
"Apa ada masalah??."
"Kalau ada masalah apa Lisa harus selalu cerita sama kak Bian??," aku tidak tahu makhsud perkataan Lisa, apa aku salah bicara atau aku membuatnya tersinggung.
"Emm...enggak juga sih, itu terserah lo."
"Eeumm.."
Aisshh sampai kapan aku menebak nebak seperti ini, aku bukan seorang cenayang.kapan aku bisa melihat dan merasakan perasaan Lisa?.
"Lo tunggu disini, jangan kemana mana!!!."
"Lohh mau kemana kak??," teriak Lisa, aku terus berlari mendekati penjual lampion yang dikerubuni banyak orang.
Aku kembali membawa dua buah lampion berwarna merah.Tanpa ku sadari pantai ini sudah dipenuhi lampion.Banyak orang menerbangkan Lampion dengan harapan yang mereka tulis.
"Ini kamu pegang dulu!!."
"Lampion?? buat apa??," tanya Lisa.
"Nih kamu tulis harapan kamu dikertas ini!!," ujarku menyerahkan kertas dan bolpoin.
"Owwhh kak Bian mau aku tulis apa harapanku disini??, boleh jugaa." ujar Lisa.
Aku dan Lisa sama sama menuliskan harapan kami.Hanya aku dan tuhan yang tahu isi harapanku(eiittss author juga tahu loohh😝). Dan aku berharap apa yang ku tulis akan jadi kenyataan.
"Selesai!!!," ujar Lisa.
"Hmmm..apa yang lo tulis??."
"Rahasia dong!!!."
Setelah kami memasang Lampion dan mengikat kertas harapan, kami menyalakan api agar lampion itu bisa terbang.
"Sudah siap??," tanya Lisa, aku mengangguk tanpa bisa mengeluarkan senyumanku, senyuman dan kebahagian itu hanya bisa kurasakan tanpa bisa kutunjukan.
"Kita lepas sama sama supaya harapan harapan yang lo dan gue impikan bisa jadi kenyataan," ujarku.
"Seyakin itu bakal terkabul??."
"Kalau lo yakin pasti akan terjadi."
__ADS_1
"Woowwh kak Bian ternyata punya keyakinan juga yah," Lisa mengangguk angguk dengan wajahnya yang menurutku sabgat cantik, dan selalu cantik dimataku.
"Okeyy dalam hitungan ketiga kia terbangkan harapan itu!!."
"Satu.." ucap Lisa.
"Dua.."
"Tiga..."
Lampion harapan terhembus mengikuti alunan udara yang membawanya entah kemana.Aku bisa melihat harapan harapan itu, dan aku yakin aku akan kembali menemukan harapan yang kutulis dikemuadian hari.
"Indahh ya kak."
"Hmm..."
Pantai bergemelap dipenuhi lampion dari para pengunjung.Lisa terus menatap keatas, dan tanpa kusadari aku menatapnya terlalu lama sampai Lisa menyadarinya.
"Kenapa menatap Lisa kayak gitu kak?? ada yang aneh diwajah gue?."
"Ehh eng..enggak kok, emm ayo pulang udah malam!!," ujarku lalu berjalan mendahuluinya, aku takut dia melihat wajahku yang terasa panas dingin.
********
Dilain tempat Deren sudah berada di apartemen Baren.Saat Deren masuk kedalam lift teriakkan seseorang membuatnya menghentikan pintu lift agar tidak tertutup.Pintu lift tertutup saat seorang perempuan sudah masuk kedalam dengan napas tersengal sengal.
"Huuftt makasih.."
"Kayla??," merasa namanya dipanggil Kayla menoleh kebelakang dimana Deren sedang menatapnya.
"Kak Deren??."
Astaga apa ini yang dinamakan jodoh?? secepat inikah doa Lisa terkabul,batin Deren.
"Hallo kak Deren..." Kayla melambai lambaikan tangan didepan wajah Deren membuatnya gelagapan.
"Ehh..iya, lo ngapain disini??."
"Mau ke apartemennya Devi, kalau kak Deren??."
"Mau ke.."
"Owwhh pasti mau ketemu sama kak Baren yah," potong Kayla dibalas anggukan dari Deren.Deren merasakan gugup didekat Kayla saat ini, apalagi dia hanya berduaan bersama Kayla.
Sebenarnya Deren memendam rasa kepada Kayla, dan Kayla adalah orang pertama yang mengisi hatinya.Entah cinta pertama Deren ini akan berjalan sempurna atau tidak, karena selama ini Deren tidak punya pengalaman dalam masalah hati.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka berdua berjalan menuju pintu apartemen Devi dan Baren yang hanya terpisah dua pintu.Deren masih diam didepan pintu Baren sambil melihat Kayla yang sedang menekan sandi pintu apartemen Devi.
Ceklekk
Seketika Kayla melotot melihat pemandangan didepannya.Deren yang melihat Kayla tidak segera masuk mendekat dan ikut terkejut apa yang dia lihat.
Mereka berdua masih diam didepan pintu sampai kedua orang didalam menyadari keberadaan Kayla dan Deren.
"Ka..kalian sejak kapan disitu??," tanya Devi gugup.
Baren yang setengah sadar melihat Deren ada dibelakang Kayla dengan tatapan menyelidik langsung menurunkan tubuh Devi yang menindihnya.
Benar benar keadaan yang selalu tidak tepat.Kenapa disaat seperti itu dia dan Devi dipergoki, lagi dan lagi.
"i.iini bukan seperti yang kalian lihat," sambung Baren sambil membenahi tali handuk kimononya.
Degup jantung Devi tidak bisa disembunyikam lagi saat Deren mendekat.Baren menunduk, dia tidak ingin melihat wajah Deren dan Kayla.Malu, jelas sangat malu.Pasti pikiran Kayla dan Deren sudah sangat liar.
"Aksimu sangat cepat bro!!!, gerak cepat juga ya lo,"bisik Deren tepat disamping Baren.
Baren mendelik menatap Deren yang sedang tersenyum kearahnya.Sedangkan Devi penasaran apa yang Deren bisikkan.
"Ekkhhmm..mending kita pergi daei sini aja kak," ujar Kayla.
"Jangan!!!," jawab Devi dan Baren kompak.
__ADS_1
*Devi*