RATU PENGUASA SELURUH DIMENSI

RATU PENGUASA SELURUH DIMENSI
CHAPTER 55


__ADS_3

Tak... Tak... Tak... suara langkah kaki Mo Da Xia terdengar dikesunyian malam.


"Hmm, mereka menyelesaikan nya dengan baik" gumam Mo Da Xia melihat kediaman bangsawan Guo yang telah menjadi tumpukkan abu.


Srrr... keluar banyak air dari tangan Mo Da Xia mengguyur abu abu yang seperti gunung kecil.


"Keluarlah" ucap Mo Da Xia yang entah ia arah kan pada siapa.


Syuttt... Takk... seorang pria paruh baya turun dari salah satu pohon tinggi tak jauh dari Mo Da Xia berdiri dengan sempurna.


"Salam Yang mulia" ucapnya membungkukkan badan.


"Tetua pertama ya" ucap Mo Da Xia yang datar tanpa mengalihkan pandangannya, tangan nya masih saja mengguyur kan air pada tumpukan tumpukan abu didepannya.


"Benar Yang mulia" ucap tetua pertama bangsawan Guo, ternyata ia tidak mati seperti bangsawan Guo dan yang lainnya.


"Ada apa" tanya Mo Da Xia.


"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih Yang mulia" ucap tetua pertama sopan diiringi senyum tipis nya.


"Seharusnya saya yang berterimakasih kepada anda tetua pertama" ucap Mo Da Xia berbalik menatap tetua pertama yang menatap ke arahnya heran, bukankah seharusnya ia akan marah marah dan membunuh dirinya.


"Mengapa anda ingin berterimakasih Yang mulia" tanya tetua pertama heran.


"Dan mengapa anda tidak memerintah pasukan anda untuk membunuh saya seperti yang lainnya" lanjut tetua pertama, dengan kekuatan pasukan Mo Da Xia yang berada di misteri tahap 2 tentu saja mereka dapat dengan mudah mengetahui keberadaan nya yang mengawasi terjadinya peperangan tadi.


"Atas alasan apa saya harus menghukum mati rakyat saya yang tak bersalah" ucap Mo Da Xia.


"Eh"

__ADS_1


"Apakah Yang mulia mengetahui nya" gumam tetua pertama dalam hati.


"Jika sedari awal anda tidak memprovokasi Tuan muda Guo Shin dan bangsawan Guo yang lain, mungkin saya akan sedikit kesulitan untuk menghabisi mereka semua, karena besar kemungkinan mereka pasti akan kabur ke tempat yang berbeda beda untuk menyelamatkan diri" ucap Mo Da Xia tersenyum.


"Apa maksud anda yang mengatakan jika saya adalah rakyat anda yang tidak bersalah" tanya tetua pertama.


"Duduklah" ucap Mo Da Xia mengeluarkan kursi yang terbuat dari jati dari dalam dimensi nya.


"Kadang kita harus terlihat jahat agar bisa melindungi orang orang yang kita sayangi" ucap Mo Da Xia menatap bulan yang bersinar terang.


"Bukankah anda melakukan ini semua agar keluarga serta rakyat yang lainnya tidak lagi mendapat perlakuan buruk dari bangsawan Guo ini" lanjut Mo Da Xia beralih menatap ke arah tetua pertama.


Tekk... Mo Da Xia menjentikkan jarinya.


"i in i" ucap tetua pertama terbata, pasalnya penampilan nya kini bukan lagi seorang tetua pertama dari bangsawan Guo tapi telah berganti menjadi tetua pertama bangsawan Yuro.


"Saya sudah mengetahui nya sedari awal" ucap Mo Da Xia.


"Itu semua karena saya sangat percaya terhadap pemerintahan anda Yang mulia, saya yakin jika anda bisa menghabisi Bangsawan Guo dan para pasukan mereka, begitu pula dengan bangsawan Luan yang turut ikut campur ingin menggulingkan anda dari tahta" ucap tetua pertama.


"Namun saya benar benar tidak menyangka jika peperangan itu akan terjadi malam ini, saya sempat begitu khawatir ketika mendengar jika para prajurit sedang dalam masa latihan tertutup Yang mulia" lanjut tetua pertama.


"Bisakah anda merahasiakan tentang pasukan saya untuk sementara waktu" ucap Mo Da Xia membuat tetua pertama mengerutkan keningnya bingung.


"Mengapa Yang mulia" tanya tetua pertama.


"Anda akan mengetahuinya tak lama lagi" ucap Mo Da Xia tersenyum tipis.


"Baik Yang mulia, saya akan menuruti apapun perintah anda" ucap tetua pertama tegas.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin pertemuan kita sampai disini tetua pertama" ucap Mo Da Xia berdiri dari duduknya.


"Sampai jumpa" ucap Mo Da Xia yang langsung menghilang.


_______________________


"Apakah masih lama lagi" ucap seorang laki-laki muda yang terus berjalan bolak balik hampir satu jam lama nya.


"Tidak bisakah kau menunggu nya sambil duduk" ucap pemuda yang duduk dikursi menatap lelah.


"Cihh, diamlah" ucap pemuda itu tanpa menghentikan kakinya untuk berjalan bolak balik didalam ruangan yang lebih tepatnya disebut kamar untuk tidur.


"Terserah saja" ucap pemuda yang duduk dikursi pasrah.


"Ini semua salah mu, mengapa kau tidak mengajakku untuk membantai para sampah itu" ucap pemuda itu menghentikan langkah nya dan menatap marah pemuda yang sedang duduk santai dikursi.


"Aku sungguh tak kuasa untuk menunda ajakan dari adik ku yang cantik itu" ucap pemuda yang duduk dikursi dengan wajah lesu nya.


"Wajah mu sungguh menjijikkan Yang mulia putra mahkota " tekan pemuda yang berdiri menggertakan giginya kesal.


"Setidaknya wajah ku jauh lebih tampan dibandingkan dirimu pangeran kedua" tekan pemuda yang duduk dikursi dengan angkuhnya.


"Apakah belum selesai" ucap seorang gadis kecil yang berdiri diambang pintu menatap datar perdebatan kedua pemuda itu.


"Jika belum maka aku akan pergi dulu" lanjut gadis itu berbalik pergi.


"Tunggu adik" teriak kedua pemuda itu berlari cepat.


Brugghhhh....

__ADS_1


"Kauuuu....


__ADS_2