
"Heiiii, apa yang kalian lakukan!!!"
"Berhentiii" teriak Zhou Wei berusaha menghentikan tingkah konyol rekan nya itu, namun usaha Zhou Wei hanya sia sia karena Lian dan Lang telah berada disamping Mo Da Xia, bahkan Xie Lou Shen yang ingin mendekati Mo Da Xia langsung terhenti karena melihat Lian dan Lang yang sedang menunjukan kekonyolan mereka.
________________________
"Yang mulia, apakah ini benar-benar anda" ucap Lang yang menarik Mo Da Xia dengan tidak elit nya dari pelukan Mo Zu An.
"Apakah anda sedang sakit Yang mulia, ah tidak tidak, sepertinya Yang mulia sedang dirasuki oleh roh seorang anak kecil yang butuh kasih sayang dari keluarganya" ucap Lian yang ikut menarik Mo Da Xia.
"Lang bagaimana ini, seperti nya Yang mulia benar benar sedang dirasuki oleh roh anak kecil, sedari tadi ia hanya diam saja" ucap Lian khawatir.
"Entahlah Lian" ucap Lang yang ikut khawatir.
"Yang mulia, Yang mulia" ucap Lang dan Lian menggoyang goyangkan badan Mo Da Xia.
"Hentikaannnnnn" teriak Mo Da Xia menggema didalam kamar di kediaman Mo Lou Shen.
...----------------...
Hari telah berganti pagi, Mo Da Xia pun sudah bangun di pagi buta seperti biasanya, kali ini ia menggunakan pakaian kebesaran khas seorang Ratu kekaisaran Bulan darah karena akan ada pertemuan untuk membahas tentang pengisian kedudukan untuk posisi bangsawan Guo dan Luan, sekaligus mengisi beberapa posisi para petinggi yang telah mati ditangan Mo Da Xia sebelumnya.
"Ayo" ucap Mo Da Xia melangkahkan kakinya menuju aula pertemuan para petinggi istana yang hanya diikuti Zhou Wei dibelakangnya sedangkan Lian dan Lang sedang menjalankan hukuman mereka untuk membersihkan istana serta paviliun paviliun yang berada di dalam dimensi Mawar hitam akibat dari tingkah konyol yang mereka lakukan pada Mo Da Xia tadi malam.
"YANG MULIA RATU DA XIA TELAH TIBA" teriak salah satu prajurit yang berjaga di depan pintu aula.
"HORMAT KAMI PADA YANG MULIA RATU DA XIA SANG TIRANI KEKAISARAN BULAN DARAH" hormat para petinggi berlutut dengan tangan kanan yang mereka letakkan di dada kiri mereka.
"Bangunlah" ucap Mo Da Xia setelah ia duduk di singgasana.
"Terimakasih Yang mulia" ucap para petinggi berdiri dan kembali mendudukkan badan mereka di kursi masing masing.
"Apakah ada yang ingin kalian tanyakan dengan saya sebelum kita memulai rapat pertemuan hari ini" tanya Mo Da Xia menatap para petinggi kerajaan.
"Menjawab Yang mulia, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada anda mengenai kedua bangsawan yang telah lenyap dari kekaisaran Bulan darah ini" ucap Menteri Keamanan.
"Tanyakanlah" ucap Mo Da Xia.
"Atas dasar apa anda membantai habis keluarga bangsawan Guo dan bangsawan Luan Yang mulia" tanya menteri Keamanan.
"Lancanggg!!!!" teriak perdana menteri kanan berdiri dari duduknya.
"Tenanglah perdana menteri kanan" ucap Mo Da Xia karena melihat suasana yang menjadi tegang.
__ADS_1
"Maafkan saya Yang mulia" ucap menteri kanan kembali duduk.
"Tidak masalah" ucap Mo Da Xia mengalihkan pandangannya menatap menteri keamanan.
"Apakah menurut menteri keamanan saya akan membunuh seseorang yang tidak bersalah" tanya Mo Da Xia.
"Tentu saja tidak Yang mulia" jawab menteri keamanan.
"Apakah anda lupa dengan kebejatan yang telah mereka lakukan pada rakyat saya selama ini menteri keamanan. Menindas, merampas, melecehkan, bahkan mereka dengan beraninya mengambil pajak yang sangat besar dan itu semua mereka lakukan dengan mengatas namakan kekaisaran Bulan darah ini" ucap Mo Da Xia dingin.
"Dan kesalahan paling besar yang telah mereka lakukan adalah ketika mereka semua telah dengan angkuhnya menantang saya dan mengatakan ingin membunuh saya yang padahal saya adalah seorang Ratu di kekaisaran ini" lanjut Mo Da Xia yang membuat seluruh para petinggi membelalakkan mata terkejut.
"Maafkan kelancangan saya Yang mulia, saya pantas menerima hukuman" ucap menteri keamanan berlutut, namun...
Brugghhhh... tiba tiba para petinggi kekaisaran lainnya juga ikut berlutut, entah apa yang mereka pikirkan.
"Mohon berikan kami hukuman juga Yang mulia" ucap para petinggi serempak.
"Mengapa" tanya Mo Da Xia menatap para petinggi tanpa ada niat menyuruh mereka untuk bangun.
"Karena kami telah lalai untuk melindungi anda Yang mulia, bahkan kami tidak mengetahui sama sekali rencana kudeta yang akan dilakukan para bangsawan Guo dan bangsawan Luan" ucap perdana menteri kanan mewakili petinggi lainnya.
"Saya tidak akan memberikan kalian semua hukuman" ucap Mo Da Xia membuat para petinggi menatap nya bingung.
"Karena saya akan mengadakan acara sekaligus pesta untuk pengangkatan para bangsawan dan orang yang berhak untuk mengisi posisi kedudukan yang sedang kosong pada besok hari, jika kalian saya berikan hukuman maka siapa yang akan mengatur acara ini agar bisa dilaksanakan dengan lancar" ucap Mo Da Xia menjelaskan.
"Tapi Yang mulia" ucap perdana menteri kanan menggantung ucapannya.
"Simpan saja rasa bersalah kalian itu karena saya hanya memberikan kesempatan ini satu kali dengan tidak memberikan kalian hukuman, namun tidak lain kali" ucap Mo Da Xia.
"Terimakasih Yang mulia" ucap para petinggi kekaisaran serempak.
"Ini ambilah" ucap Mo Da Xia mengeluarkan beberapa botol pil peningkat kultivasi dari dalam dimensi Mawar hitam nya.
"Tingkatkan selalu kekuatan kalian agar tidak mudah diperdaya oleh musuh dan terus berlatihlah agar kepekaan kalian terhadap musuh semakin meningkat" ucap Mo Da Xia.
"Baik Yang mulia" ucap para petinggi setelah menerima pemberian dari Mo Da Xia.
"Baiklah, kita mulai rapat hari ini" ucap Mo Da Xia tegas.
Setengah jam telah berlalu sejak dimulai nya rapat untuk membahas siapa saja menurut mereka yang pantas untuk menduduki posisi yang sedang kosong itu.
Brugh... tiba tiba seorang prajurit masuk kedalam aula dan langsung berlutut tak jauh dari singgasana Mo Da Xia.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan hamba Yang mulia" ucap prajurit itu dengan badan gemetar, takut jika Ratu nya akan marah karena telah lancang menghentikan rapat yang sedang berlangsung.
"Tidak masalah, apakah ada sesuatu yang terjadi" tanya Mo Da Xia yang tidak marah sama sekali, karena menurutnya prajurit itu tidak mungkin sangat berani menghentikan rapat jika tidak terjadi sesuatu yang harus ia sampaikan secepatnya.
"Diluar gerbang begitu banyak sekali rakyat kekaisaran yang ingin bertemu dengan anda Yang mulia, kami sudah menjelaskan kepada mereka jika anda sedang melakukan rapat namun mereka tetap mendesak ingin bertemu dengan anda" ucap prajurit.
"Berapa lama mereka sudah menunggu" tanya Mo Da Xia.
"Sekitar satu setengah jam yang lalu Yang mulia" jawab prajurit.
"Lantas mengapa kalian tidak mengatakannya lebih awal, bahkan rapat pun belum dimulai jika itu satu setengah jam yang lalu" ucap Mo Da Xia marah.
"Maafkan kami Yang mulia" ucap prajurit itu menundukkan kepalanya, itu semua karena ucapan salah satu rekannya yang juga menjaga gerbang istana agar tidak mengatakan jika para rakyat ingin menemui Mo Da Xia dengan alasan Mo Da Xia pasti sedang sibuk untuk urusan rapat nya, bahkan prajurit itu mengendap endap dengan hati hati menuju ke aula pertemuan agar tidak ketahuan oleh rekan yang melarang nya untuk tidak memberitahukan hal tersebut pada Mo Da Xia.
"Pasti ada sesuatu yang telah terjadi" gumam Mo Da Xia melangkahkan kakinya cepat diikuti para petinggi kekaisaran dibelakangnya.
Swoshh... Mo Da Xia terbang di udara dengan kecepatan tinggi karena letak aula pertemuan dengan gerbang istana yang memang lumayan jauh.
Saat tiba di gerbang istana Mo Da Xia tidak langsung turun ke tanah melainkan melihat kondisi yang sedang terjadi di gerbang istana.
"Kami mohon, ijinkan kami untuk menemui Yang mulia" mohon seorang wanita paruh baya dengan air mata yang mengalir deras.
"Tidakk, kembalilah sebelum saya berbuat kasar pada anda" ucap seorang prajurit yang menjaga gerbang membuat prajurit lainnya menatap kearah nya tidak percaya.
"Apa yang kau katakan, mengapa kau berbicara seperti itu pada rakyat Yang mulia" ucap prajurit lainnya marah.
"Cih, diamlah" sahut prajurit itu berdecih.
"Tuan saya mohon ijinkan kami untuk menemui Yang mulia Ratu" ucap wanita paruh baya itu lagi berlutut di kaki prajurit yang mengancam nya tadi.
"Minggirlah" teriak prajurit itu marah karena kakinya jadi terasa begitu berat, namun wanita paruh baya itu tak bergerak sedikit pun sehingga membuat nya semakin marah.
Ia menarik pedang yang tersarung rapi dipinggangnya dan langsung ia tebas kan pada wanita paruh baya yang sedang memegang erat kakinya.
Tinggg... tiba tiba ada seseorang yang menghalang pedangnya dengan posisi yang membelakanginya.
"Beraninya kau ingin membunuh rakyat ku...
.
Jangan lupa like, komen dan vote yaa 🥰
.
__ADS_1