RATU PENGUASA SELURUH DIMENSI

RATU PENGUASA SELURUH DIMENSI
CHAPTER 62


__ADS_3

Setelah menelepati Mo Da Xia ia langsung kembali pada rombongan pasukan dua kerajaan dan satu kekaisaran itu agar tidak menimbulkan kecurigaan karena terlalu lama memisahkan diri dari para pasukan.


"Dari mana saja kau Adara" tanya Kaisar Tang Zi Lian, penyihir Adara memang cukup akrab dengan Kaisar Tang Zi Lian dan Raja Surya sehingga tidak ada kecanggungan yang berlebihan antara mereka ketika sedang melakukan pertemuan rahasia, begitu pula dengan Raja Anzie yang juga cukup akrab dengan tangan kanan dari kedua sahabatnya itu.


"Saya hanya memeriksa para pasukan dibagian belakang Yang mulia" ucap penyihir Adara tersenyum tipis.


"Begitukah" ucap Kaisar Tang Zi Lian mengangguk anggukan kepala nya.


"Benar Yang mulia" ucap penyihir Adara.


Setelah itu tak ada lagi percakapan yang terjadi antara mereka dan menyisakan suara derap kuda yang begitu banyak dikesunyian malam.


...----------------...


"Adara" panggil Raja Anzie, saat ini mereka sedang beristirahat ditempat yang lumayan jauh dari wilayah kekaisaran Bulan darah untuk mengisi kembali tenaga mereka sebelum melakukan penyerangan pada kekaisaran Bulan darah.


"Hamba Yang mulia" ucap penyihir Adara mendekat ke arah Raja Anzie, Raja Surya dan juga Kaisar Tang Zi Lian.


"Bisakah kau menceritakan pada kami ciri ciri dari pemimpin baru kekaisaran Bulan darah itu" pinta Raja Anzie agar penyihir Adara bisa menjelaskan pada mereka bagaimana ciri-ciri orang yang menjadi lawan mereka nanti.


"Beribu ampun Yang mulia, hamba tidak bisa menjelaskan ciri-ciri orang tersebut dikarenakan hamba tidak melihat rupa nya secara langsung Yang mulia" ucap penyihir Adara membungkukkan badannya meminta maaf karena tidak bisa menjelaskan ciri-ciri orang yang akan menjadi lawan dari Raja Anzie, Raja Surya dan Kaisar Tang Zi Lian nanti.


"Namun hamba sempat mendengar suaranya Yang mulia" lanjut penyihir Adara membuat raut Raja Anzie yang semulanya nampak kecewa kini langsung berubah menjadi antusias.


"Benarkah? apakah ia perempuan" tanya Raja Anzie dengan mata yang berbinar.


"Dari yang hamba dengar suaranya memang seorang perempuan Yang mulia" jawab penyihir Adara.


"Jika begitu maka ia harus menjadi salah satu selirku" ucap Raja Anzie dengan wajah mesumnya membayangkan perempuan yang akan ia jadikan selir nanti tanpa menyadari perubahan raut wajah dari tangan kanannya yang tampak memerah padam ketika melihat dan mendengar apa yang ia lakukan.


"Ck, tidak bisakah kau berhenti untuk terus menambah selir selir mu itu" decak Raja Surya menggelengkan kepalanya memikirkan perbuatan sahabatnya yang tak henti hentinya menambah selir di istana haremnya.


"Tentu saja tidak bisa, hal itu sudah menjadi kebiasaan menarik bagiku" ucap Raja Anzie sembari menyeruput teh hijau yang telah disediakan penyihir Adara untuk mereka.


"Heii apakah kau tidak kasihan dengan permaisuri mu yang harus berbagi cinta dengan begitu banyak wanita" tanya Kaisar Tang Zi Lian menatap aneh sahabatnya itu.


"Hmm, sama sekali tidak" ucap Raja Anzie yang membuat Raja Surya dan Kaisar Tang Zi Lian melongo dibuatnya.


"Apakah ada sebuah alasan yang membuat mu menjadi suka mempermainkan wanita seperti itu" tanya Kaisar Tang Zi Lian.


"Tidak ada" ucap Raja Anzie.


"Cih terserah kau saja, ayo cepat lanjutkan perjalanan ini" ucap Raja Surya berdiri dari duduknya dan langsung menuju kudanya yang diikat disalah satu pohon tak jauh dari tempat mereka duduk sebelumnya.


Melihat Raja Surya yang telah duduk dikuda nya Raja Anzie dan Kaisar Tang Zi Lian pun langung menuju kuda mereka masing masing untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju kekaisaran Bulan darah.

__ADS_1


_____________________


"Apakah aku terlambat? apakah perang nya benar benar akan terjadi? dan dimana adik kita saat ini?" tanya seorang pria paruh baya beruntun pada pemuda didepannya, ia baru saja tiba namun pertanyaan itu sudah langsung dilontarkan nya membuat pemuda yang ada didepannya menatap jengah kearahnya, seantusias itu kah dia? pikirnya.


"Heh kakek tua! bisakah kau tidak perlu berlebihan seperti itu" kesal pemuda didepannya karena ia yang bertanya sambil terus menggoyangkan badan pemuda itu.


"Apa kau bilang!!! kau memanggilku kakek tua" ucap pria paruh baya itu melotot, sungguh ada ada saja apakah ia tidak menyadari jika penampilan nya saat ini adalah seorang pria paruh baya, ya meskipun masih terlihat tampan.


Tukk... Dahinya dijentik dengan keras oleh pemuda didepannya.


"Ssttt... gege Shennn apa apaan kau ini, kepala ku jadi berdenyut sakit" ucap nya dengan wajah teraniaya sambil mengusap-usap dahi nya yang lumayan sakit karena pemuda yang ternyata Mo Lou Shen itu menjentik nya dengan jari yang sudah dialiri dengan energi spiritual.


Mo Lou Shen yang melihat kelakuan adiknya itu benar benar semakin jengah sehingga ia langsung berjalan meninggalkan Mo Zu An yang nampak seperti orang yang tidak waras karena terus saja mengoceh sendiri.


"Gege Shen tunggu" teriak Mo Zu An berlari.


___________________


"Wahhhh" ucap para prajurit terpana ketika melihat keindahan kekaisaran Bulan darah dari kejauhan.


"Keindahan macam apa ini" gumam seorang prajurit dengan mata berbinar.


Dari kejauhan mereka benar benar seperti melihat padang es yang begitu indah dengan ratusan ribu rumah penduduk yang menempati nya, cahaya biru begitu terang memancar hingga luar kekaisaran Bulan darah.


Sedangkan disisi lain saat ini Mo Da Xia terus saja mengubah bangunan bangunan rumah rakyat nya menjadi bangunan yang dilapisi kristal, itu semua ia lakukan untuk membuat kenyamanan para rakyat nya, entah dengan cara apa ia melakukan nya namun jika disiang hari maka rumah penduduk akan terasa sejuk dan jika malam maka akan terasa hangat.


"Selesai" ucapnya ketika sudah mengubah rumah terakhir menjadi rumah yang berlapis kristal.


"Mengapa kau bersusah payah melakukan ini semua untuk para rakyat mu yang bermuka banyak itu" tanya Mo Zu An merengut.


"Tidak semua rakyat ku yang memiliki sifat seperti itu, jika dihitung bahkan mungkin hanya sebagian kecil saja dari seluruh rakyat ku yang memiliki sifat demikian, sebagai pemimpin kau tidak boleh egois hanya karena sekumpulan hama tak berguna dan menyebabkan rakyat mu sengsara" ucap Mo Da Xia penuh wibawa bahkan aura kepemimpinan kini menguar dengan sangat kuat dari tubuhnya.


"Terimakasih Yang mulia" ucap para rakyat tiba tiba membungkukkan badan mereka yang membuat Mo Da Xia terkejut dan langsung membalikkan badannya.


"Eh" hanya kata itulah yang keluar dari mulutnya.


"Mengapa mereka tiba-tiba ada disini" gumam Lang dalam hati karena terlalu asik memperhatikan junjungan nya ia menjadi tidak sadar dengan kehadiran para rakyat dibelakang mereka.


"Lian gege, tugas mu" telepati Mo Da Xia menatap Lian yang berdiri disamping Lang.


"Baik Yang mulia" ucap Lian membalas telepati Mo Da Xia karena mengerti tugas apa yang dimaksud oleh junjungan nya itu.


"Baiklah semuanya, terimakasih kalian sudah diterima jadi silahkan masuk ke rumah kalian masing masing, karena Yang mulia sekarang sedang ada hal penting yang harus ia selesaikan sekarang juga, mohon pengertiannya" ucap Lian lantang.


"Baiklah" ucap rakyat kembali kerumah mereka masing masing dengan langkah berat.

__ADS_1


Setelah melihat rakyat sudah masuk kerumah masing-masing Mo Da Xia berserta rombongan nya langsung menghilang karena melesat dengan kecepatan penuh mereka sehingga terlihat seperti orang yang berteleportasi karena baru beberapa detik saja mereka sudah tak ada ditempat mereka berdiri.


______________________


Drapp... Drapp... Drapp... Suara langkah kaki kuda dikesunyian malam.


Brughh... Brughh... Brughh...


"Yang mulia" teriak penyihir Adara dari tengah tengah pasukan.


"Ada apa Adara" balas Raja Anzie berteriak.


"Hampir sebagian pasukan tiba tiba terjatuh Yang mulia" ucap penyihir Adara membuat Raja Anzie, Raja Surya dan Kaisar Tang Zi Lian membelalakkan mata mereka terkejut.


"Berhenti" perintah Raja Surya.


"Adara cepat periksa apa yang terjadi pada mereka" perintah Raja Anzie turun dari kudanya dan langsung melesat kearah para pasukan berkuda nya yang tiba tiba saja terjatuh ketanah.


"Baik Yang mulia" ucap penyihir Adara ikut turun dari kudanya dan langsung memeriksa tubuh seorang prajurit yang ada disampingnya.


"Racun" gumam penyihir Adara menatap sekitar nya hingga tatapan nya tak sengaja mengarah pada salah satu orang pasukan yang berzirah hitam diatas pohon tinggi disekitar mereka.


"Bagaimana" tanya Raja Anzie mendekati penyihir Adara.


"Mereka terkena racun Yang mulia" ucap penyihir Adara membuat Raja Anzie terkejut.


"Bagaimana mungkin tiba-tiba mereka terkena racun" ucapnya bingung.


Syuttttt.... Duarrrr....


Tiba tiba saja ada begitu banyak panah yang mengarah pada mereka dan langsung meledak sehingga seperempat pasukan langsung mati ditempat mereka dengan kondisi badan yang terpisah pisah akibat ledakan yang terjadi.


"Kejutan" bisik seorang gadis kecil tiba tiba muncul disamping nya dengan seringai menyeramkan dan kembali menghilang.


"Mulaii" teriak nya muncul kembali diudara seolah olah ia adalah seorang wasit yang memerintah kedua belah pihak untuk segera memulai pertarungan.


Syuttttt... Duarrrr.... banyak panah kembali mengarah pada mereka.


"Hahahahhaa" tawa gadis kecil itu menggema.


.


Jangan lupa like komen dan vote yaa 🥰


.

__ADS_1


__ADS_2