Return Of Great Demon God

Return Of Great Demon God
ch-14 Hutan Beast 2


__ADS_3

"TUNGGU"


Mendengar teriakkan tersebut Mo Shen menghentikan langkahnya dan melihat ke arah teriak kan tadi.


"Nak kalau kau menyerahkan bunga tersebut maka aku akan membiarkan tetap hidup" ucap salah satu anggota dari kelompok tersebut dengan menyeringai.


"Hmph nak serahkan lah bunga tersebut tuan muda kami menginginkan bunga tersebut" ucap anggota yang lainnya.


Ternyata kelompok tersebut adalah para murid dari sekte Bukit Pedang dan tuan mudanya.


"Hahh?? Untuk apa aku memberikan kepadanya herbal ini? Ini adalah sesuatu yang kudapatkan dengan susah payah" ucap Mo Shen dengan nada dingin.


"Sial*n jaga ucap-" sebelum menyelesaikan semua kata katanya murid dari sekte Bukit Pedang tersebut dihentikan oleh Ming Tian.


"Tunggu, tuan bisakah anda menjual saja Bunga Mawar Darah tersebut kepada saya karena saya sangat membutuhkan bunga tersebut" ucap Ming Tian dengan senyum dan nada yang sopan.


"Kalau aku menolak?" tanya Mo Shen dengan nada dingin.


"Kau tidak punya pilihan untuk menolak" ucap Ming Tian dengan nada dingin yang seketika senyum diwajahnya menghilang.


"Bunuh dia" lanjutannya memerintahkan bawahannya.


"Hmph kau ingin merebut Bunga Mawar Darah ini dariku? Coba sajalah" ucap Mo Shen dalam hatinya.


WWWOSSSHHH


Para murid dari sekte Bukit Pedang langsung menerjang ke arah Mo Shen kecuali pria tua yang berada di ranah Inti Surgawi tingkat 7 tersebut.


Melihat itu sebuah senyuman terbentuk dibalik topeng Mo Shen, segera Mo Shen langsung menghilang dari tempatnya dan muncul di depan para murid satu persatu dan menghempaskan tubuh mereka hanya dengan kepalan tangannya dan langsung mati.


Para murid yang tersisa hanya bisa bergedik ngeri melihat kekuatan orang yang didepan mereka.


"Tetua ke 4 sepertinya giliran kamu untuk maju" ucap Ming Tian.


"Hahhh dengan kultivasinya yang berada di ranah Inti Surgawi tingkat 4 sepertinya aku harus turuj tangan" ucap orang tua tersebut yang ternyata adalah tetua ke 4 dari sekte Bukit Pedang.


WOOSSHHH


Tetua tersebut langsung menerjang ke arah Mo Shen, tidak mau kalah Mo Shen juga menerjang ke arah tetua tersebut dan beradu pukulan.


BBBOOOMMM


Sebuah ledakan energi Qi langsung meledak saat kedua kepalan mereka bertemu menciptakan sebuah lubang yang cukup besar.


"Apa apaan ini mengapa aku merasa tertekan dengan pukulan dari anak ini, dan juga kenapa aku merasa dia belum mengeluarkan semua kekuatannya" ucap tetua ke 4 dalam hatinya.


"Hahahaha apakah cuman ini kekuatanmu? Ayo berjuanglah lebih banyak lagi" ucap Mo Shen sambil menghina tetua ke 4.


"Jangan merendahkanku bocah sial*n!!" teriak tetua ke 4 karena ia diremehkan oleh seorang pemuda yang kultivasinya berada jauh diwajahnya.


Sekali lagi mereka berdua beradu serangan tapi sekarang tetua tersebut tidak menggunakan tangan kosong melainkan pedang dan Mo Shen masih dengan tangan kosong.

__ADS_1


Pertarungan yang terjadi antara mereka berdua terus berlangsung hingga beberapa menit, jika dilihat dari segi ranah bisa dilihat bahwa ranah tetua tersebut lebih tinggi dari Mo Shen tetapi jika dilihat dari segi kekuatan maka Mo Shen berada jauh di atas tetua itu.


Bukhhh


Sebuah pukulan mentah langsung sampai ke perut tetua ke 4 dan langsung membuatnya memuntahkan seteguk darah segar.


"Kuhgg kalau seperti ini terus maka aku akan kalah" ucap tetua ke 4 dengan sedikit sesal dihatinya karena menantang Mo Shen untuk bertarung.


"Baiklah sudah saatnya aku mengakhiri hal yang membosankan ini" Mo Shen segera mengeluarkan pedangnya yang dari tadi ia simpan di dalam cincin penyimpanan.


"Teknik pedang iblis: tebasan kegelapan"


SSWWWIIINGGG


Sebuah energi Qi berwarna hitam kemerahan dan berbentuk bulan sabit langsung mengarah ke tetua tersebut.


Melihat itu tetua ke 4 merasakan adanya ancaman dari serangan Mo Shen dan langsung memasang teknik pertahanan terkuat miliknya.


"Teknik pertahanan kura kura: tempur kura kura hitam"


Sebuah energi Qi berwarna hitam langsung membungkus seluruh tubuh tetua ke 4.


Namun sayangnya pelindung tersebut tidak cukup kuat untuk melindungi tetua ke 4 dari serangan Mo Shen.


CCRRRAACKK


"TIDAAAKK!"


Segera pelindung milk tetua ke 4 tersebut hancur setelah terkena serangan dari Mo Shen yang sangat kuat serta, tempat dari serangan tersebut membentuk sebuah kawah yang besar dengan ketua keempat di tengah kawa tersebut dalam keadaan luka yang cukup berat.


"Argghh, uhuk uhuk apa-apaan anak ini kenapa di mempunyai kekuatan yang sangat kuat makan dengan ranah ku yang berada diatasnya 1 tapi hanya dengan kultivasinya yang berada dibawah ku, satu serangan darinya saja sudah membuatku terluka parah begini apalagi kalau sudah berada dengan yang sama denganku?" ucap tetua ke 4 dengan nada tidak percaya.


"Cuihh dasar menyedihkan hanya terkena satu serangan aku saja sudah membuatmu seperti ini mengapa orang lemah sepertimu menjadi salah satu tetua dari sekte menengah?, apakah sertamu kekurangan orang hebat hingga membuat sampah sepertimu menjadi tetua?" ucap Mo Shen dengan nada menghina.


"Bocah brengs*k beraninya kau menhina ku dan sekte ku!" teriak tetua ke 4 dengan marah.


"Kalau begitu tunjukkan padaku bahwa kau itu bukan seorang sampah" ucap Mo Shen dengan nada menantang.


Mendengar tantangan tersebut emosi tetua ke 4 langsung naik hingga puncaknya.


"Hmph baiklah bocah sombong akan kutunjukan teknik terkuat milikku" ucap tetua ke 4 sambil mengangkat tinggi pedangnya.


"Teknik pedang penghukuman: hukuman langit" setelah mengatakan itu terdapat ratusan Qi berbentuk pedang yang melayang di atas Mo Shen.


Tetua ke 4 langsung mengarahkan pedangnya ke arah Mo Shen, seolah mengikuti perintah tetua ke 4 melayang ke arah Mo Shen.


WUISSH


Dengan banyaknya Qi pedang yang menuju Mo Shen sampai membentuk sebuah kawah yang lumayan besar.


Melihat dampak dari serangannya itu tetua ke 4 tersenyum lebar karena ia merasa bahwa Mo Shen pasti sudah mati karena serangnya tersebut.

__ADS_1


"Hmph inilah bayaran dari kesombonganmu, semoga kau tidak menjadi sombong lagi dikehidupan selanjutnya" ucap tetua ke 4.


Akan tetapi senyumnya tidak bertahan lama karena ia mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.


"Kuahahaha dengan serangan lemah seperti ini kau merasa sudah membunuhku? Kau salah besar orang tua" suara tersebut tak lain adalah suara Mo Shen yang sedang berada di tengah kawah yang tercipta dari serangan Qi pedang tetua ke 4.


"Sudahlah saatnya mengakhiri hidupmu yang menyedihkan ini"


Setelah mengatakan itu Mo Shenlangsung menghilang dari pandangan semua orang dan berdiri tepat di depan tetua ke 4 dan langsung memenggal kepalanya.


Melihat hal itu para murid dari sekte Bukit Pedang yang langsung bergidik ngeri karena melihat ketua dari sekte mereka terbunuh dengan mudahnya di tanganmu Mo Shen.


"Ap-apa aku sedang bermimpi dia membunuh tertua keempat dengan mudahnya?"


"Ka-kau tidak bermimpi kenapa yang semua kau lihat di depan matamu ini adalah kenyataan anak tersebut adalah iblis yang menyamar menjadi manusia"


"Kau benar ma-mana mungkin seorang manusia memiliki kekuatan seperti ini pasti dia adalah seorang iblis"


................


Bukan hanya para murid merasakan ketakutan yang luar biasa tuan muda dari sekte Bukit Pedang juga merasakan hal yang sama ia sangat menyesal karena telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya ia singgung.


"Apa apaan kenapa ia memiliki kekuatan yang sangat besar seperti itu? Jika ku lihat umurnya pasti tidak berbeda jauh denganku, tetapi mengapa kekuatan yang dimilikinya olehnya begitu besar" ucap Ming Tian dalam hatinya dengan nada tidak percaya.


"Tu-tu-tuan tolong ampuni makhluk rendahan ini yang telah menyinggung aku tidak a-a-aku berjanji aku tidak akan mengganggumu lagi jadi bisakah anda mengampuni aku akan kuberikan apapun untukmu apapun itu!" ucap Ming Tian dengan nada yang sangat ketakutan.


"Hmph kau mengganggu kesenanganku dan kau berharap akan kulepaskan hahaha itu tidak akan terjadi karena kau akan mati disini" ucap Mo Shen dengan seringai dingin diwajahnya.


Setelah mengatakan itu mau siaran langsung menghilang dari pemandangan mereka dan muncul tiba-tiba di hadapan para murid bukit dan yang tersisa


"Tolong ak-"


"Jangan bu-"


"Ampuni aku tu-"


"Tidakkkk-"


.................


belum sempat menyelesaikan kata-katanya para murid langsung dibantai oleh Mo Shen dengan kejam diikuti senyum yang sangat menakutkan di wajahnya walaupun terhalangi oleh topeng hitam.


pada akhirnya hanya menyisakan seorang murid yang sedang tertunduk lemas tidak berdaya di hadapan Mo Shen.


"Apa apaan ini mengapa kita semua semuanya mati? Kalau tahu akan menjadi begini aku tidak akan pernah mengikuti Ming Tian sial*n itu" ucapnya dalam hati dengan sangat ketakutan.


"Hei kau kesini" ucap Mo Shen pada satu satunya murid dari sekte Bukit Pedang yang selamat.


"I-i-iya tuan" ucapannya dengan nada yang sangat ketakutan sembari mendekat ke arah Mo Shen.


"Sampaikan kepada pemimpin sekte mu bahwa tuan muda kalian mati tangan dan pastikan kau mengucapkan namaku dengan benar, namaku adalah MO SHEN" ucap Mo Shen diiringi oleh tekanan yang sangat kuat.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Mo Shen sendiri ini menjadi langkah pertamanya untuk membuat ia menjadi sangat terkenal akan kekejamannya di Benua Xuanyuan hingga sekali lagi ia akan mendapatkan sebuah julukan yang akan membuat hati para pendengarnya ber gemetar ketakutan yaitu Dewa Iblis Agung


__ADS_2