
Ibukota kekaisaran Qin, adalah ibukota terbesar diantara ibukota yang lainnya, bukan hanya besar disini juga terdapat banyak kultivator ranah Raja dan juga beberapa kultivator yang berada di ranah Kaisar. Di ibukota ini terdapat 5 Klan besar yang menjadi pilar kekaisaran Qin ini yaitu Klan Qin, Klan Yi, Klan Kun, Klan Ci, dan yang terakhir klan Sui.
Dan disebuah kediaman besar yang berada di timur ibukota, kediaman ini bisa dibilang sangat luas dan tepat di atas gerbang masuknya terdapat kata Ci yang menandakan bahwa ini adalah kediaman keluarga Ci di ibukota.
Disebuah ruangan terdapat beberapa pria paruh baya sedang berkumpul.
"Apa ada yang bisa menjelaskan tentang pecahnya giok jiwa milik anakku dan tetua ke 6?" ucap seseorang yang berada di sebuah singgasana mewah diiringi dengan tekanan yang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menggigil.
"P-p-patriak sepertinya tuan muda ke 2 dan tetua ke 6 mati saat melakukan ekspedisi di sebuah gunung yang berada di wilayah timur" ucap tetua ke 2 dari klan Ci yang bernama Ci Mun.
"Betul itu patriak, sepertinya rumor tentang Beast ranah Surgawi yang berada di gunung tersebut ada benarnya" ucap tetua ke 1 yang bernama Ci Kin.
"Hmmm kalau begitu beast ini mungkin akan menjadi ancaman untuk wilayah kita dikarenakan area yang paling dekat dengan gunung itu adalah wilayah kita dan juga kita masih belum mengetahui di tingkat apa beast tersebut" ucap tetua ke 5 yang bernama Ci Sin.
"Patriak apakah aku harus mengumumkan kepada prajurit yang berjaga diperbatasan timur untuk menambah jumlah mereka?" ucap tetua ke 4 yang bernama Ci Ling.
"Hmmm baiklah tambah jumlah prajurit yang berjaga diperbatasan timur dan juga selidiki penyebab kematian anakku dan juga tetua ke 6." ucap sang patriak yang bernama Ci Meng Tian.
Ci Meng Tian atau yang dikenal sebagai patriak klan Ci berada di ranah Surgawi tingkat 2 dan juga para tetua yang rata rata memiliki kultivasi ranah Kaisar tingkat 7 sampai surgawi tingkat 1.
__ADS_1
Walaupun begitu mereka tidak dapat melawan kekuatan dari Klan Qin yang dimana kaisar dari kekaisaran Qin saat ini yang juga menjabat sebagai patriak klan Qin berada di ranah Surgawi tingkat 5. Bukan hanya itu, di istana kekaisaran juga terdapat beberapa orang yang sudah berada di ranah Surgawi mulai dari tingkat 1 sampai dengan tingkat 4, juga kabarnya leluhur dari klan Qin yang merupakan kakek buyut dari kaisar saat ini telah keluar dari pelatihan tertutupnya dan juga telah mencapai ranah Surgawi tingkat 8 yang dimana merupakan kekuatan terkuat di benua Xuanyuan ini.
Beralih ke ibukota kekaisaran Dun, saat ini ibukota sedang dilanda kepanikan, akibat dari ledakan keras yang terdengar dari puncak Gunung Selatan. Para warga dan kultivator disana mengira bahwa beast yang dirumorkan itu akan mengamuk dan menyerang ibukota kekaisaran.
Bukan hanya di dalam ibukota yang dilanda kepanikan, situasi di dalam istana kekaisaran Dun juga sama. Kaisar dari kekaisaran Dun saat ini yang bernama Dun Xin Qian saat ini sedang mencoba untuk meredam kepanikan yang terjadi di dalam istana kekaisaran.
"Semuanya harap tenang, juga untukmu jendral Sin, pergilah ke Gunung Selatan dengan beberapa prajurit dan selidiki apa yang terjadi di gunung tersebut" ucap Dun Xin Qian sembari memerintahkan jenderalnya.
"Baik, Yang Mulia" ucap jendral Sin lalu pergi keluar dari ruang singgasana Kekaisaran.
"Huhh entah apa yang sedang terjadi di Gunung Selatan itu, semoga saja beast yang berada di puncak gunung tersebut tidak turun dan menyebabkan kekacauan di kekaisaran ini" ucapnya dalam hati sembari mengeluh.
"Yang Mulia, sepertinya anda sangat kelelahan, sebaiknya anda beristirahat dulu untuk menghilangkan rasa lelah anda" ucap penasehat kekaisaran yang bernama Won Si Kun, Won Si Kun juga merupakan teman dari kaisar Dun Xin Qian saat berada di sekolah bela diri, dikarenakan kecerdasannya dan juga hubungan pertemanannya dengan Dun Xin Qian sangat dekat ia akhirnya terpilih menjadi penasihat kekaisaran.
"Hahhh, seperti biasa sifat keras kepala milikmu tidak dapat dihilangkan" ucap Won Si Kun sembari menghela nafas.
Sementara disebuah goa yang berada di puncak Gunung Selatan, terlihat seorang pemuda yang sedang duduk bersila ditemani oleh seekor serigala yang terlihat seperti sedang menjaga pemuda tersebut.
Pemuda dan serigala tersebut tidak lain adalah Mo Shen dan Mo Lang, Mo Shen sehabis melawan elang petir kini sedang memulihkan dirinya dan ditemani oleh Mo Lang.
__ADS_1
"Fiuhhh, sepertinya kondisi ku sudah pulih sepenuhnya, dan juga terima kasih Xiao Lang telah menjagaku" ucap Mo Shen sembari mengelus kepala Mo Lang.
Mendengar itu membuat Mo Lang sangat senang karena dipuji oleh tuannya.
"Hmmm sepertinya ini adalah sarang dari elang petir tadi, mari kita jelajahi mungkin saja disini terdapat harta yang membuat elang petir itu dapat berkultivasi hingga mencapai ranah Surgawi diwilayah ini" ucap Mo Shen yang kini sedang menganalisis goa ini.
Mo Shen pun mulai masuk lebih dalam dari goa ditemani Mo Lang, mereka berjalan terus selama beberapa jam hingga akhirnya Mo Shen merasakan sesuatu yang familiar.
"Hmmm, aura yang familiar ini?, Jangan bilang" ucapnya lalu dengan cepat berlari menuju ke sela yang berada di goa.
"Seperti dugaan ku, aura ini berasal dari air ini" ucap Mo Shen yang kini sudah berada di depan sebuah danau yang kecil.
Danau kecil ini tidak terlihat seperti danau bisa, dikarenakan dipermukaan airnya terdapat percikan percikan listrik.
"Hahahaah sepertinya ini adalah hari keberuntungan ku, tapi kenapa di alam rendah seperti alam fana ini terdapat Danau Petir Biru? Dan juga sepertinya ini adalah penyebab utama dari timbulnya elang petir yang berada di ranah Surgawi di wilayah timur ini" ucap Mo Shen.
Pasalnya Danau Petir Biru ini hanya terdapat di alam menengah dan itupun jumlahnya hanya sedikit sekali, juga di alam dewa terdapat beberapa tapi semuanya sudah di gunakan beberapa kali sehingga Danau Petir Biru yang berada di sana kehilangan esensi petirnya dan hanya menjadi danau bisa saja.
"Hmph, apa peduliku itu semua kesalahan para kultivator disana yang menyebabkan banyak Danau Petir Biru kehilangan esensi petirnya" ucap Mo Shen dengan cibiran.
__ADS_1
Sebenarnya Mo Shen sangat kesal dengan para kultivator di alam atas dikarenakan setelah menemukan beberapa tempat yang cocok untuk berkultivasi, mereka akan menggunakannya dengan terus menerus tanpa jeda sehingga menyebabkan banyak tempat yang kehilangan esensi mereka dan menjadi tidak berguna.
"Yang lebih penting waktunya untukku menggunakan danau ini untuk menempa dan membuka tanda naga didalam tubuhku"