
"Ho ho sepertinya kau sangat ingin pembantaian"
Mendengar perkataan Mo Shen yang sepertinya adalah ejekan membuat semua prajurit sangat marah, secara serentak mereka semua maju ke arah Mo Shen sembari menggenggam senjata masing-masing dan berkata.
"Jangan meremehkan kami sial*n"
"Hanya dengan dirimu kau pikir bisa mengalahkan kami"
"Akan kubunuh kau sial*n"
"Ayo buat bocah ini mengerti apa yang didapat olehnya karena memprovokasi kami"
...................
Mereka semua pun satu persatu menyerang Mo Shen tapi sayangnya Mo Shen dapat menghindari semua serangan itu dengan mudah. Melihat serang mereka yang semuanya dapat dihindari oleh Mo Shen membuat semua prajurit semakin kesal dan salah satu dari mereka pun berteriak.
"Apakah kemampuanmu hanya menghindar saja? Lawan kami secara jantan"
Mo Shen tidak terpancing emosi dan hanya menjawab dengan santai.
"Lawan secara jantan? Apakah kalian tidak berpikir bahwa yang kalian lakukan sekarang ini dibilang bertarung secara jantan? Pengecut, tapi kalau kalian sebegitu inginnya untuk mati maka aku akan memenuhi permintaan itu"
Seketika Mo Shen menghilang dan muncul kembali dibelakang dan disamping setiap prajurit dan memotong kepala mereka satu-persatu hingga akhirnya hanya tersisa seperempat saja dari jumlah sebelumnya.
Para prajurit yang tersisa sangat ketakutan saat melihat rekan mereka mati satu-persatu ditangan Mo Shen yang sebelumnya mereka hina dan mereka lontarkan cacian.
Hingga akhirnya Hu Fu pun bertindak, ia berteriak agar membangkitkan kembali semangat para bawahannya.
"Kalian semua tenang saja bocah itu pasti sudah kehabisan tenaga, ayo serang dia bersama-sama"
Mendengarkan ucapan dari komandan mereka membuat para prajurit semangat kembali, mereka pun menyerang Mo Shen beramai-ramai. Tapi Mo Shen dengan ekspresi bosan diwajahnya berkata.
"Hoaamm aku sudah bosan, lebih baik akhiri saja candaan ini"
Mo Shen pun menghilang dari tempatnya dan kembali muncul dibelakang semua prajurit dengan pedang ditangannya yang sudah berdarah.
Seketika para prajurit itu tumbang secara bersamaan sehingga membuat Hu Fu semakin ketakutan, pikirannya dipenuhi dengan penyesalan karena menantang monster seperti Mo Shen ini. Melihat Hu Fu yang mematung dengan ekspresi ketakutan membuat Mo Shen menyeringai tipis dan mendekatinya, saat sudah berada dihadapan Hu Fu, Mo Shen pun berkata.
"Jadi pergi kemana rasa percaya dirimu tadi?"
__ADS_1
Hu Fu pun tersadar dari lamunannya dan dengan gemetaran ia berkata.
"K-kalau kau me-membunuhku m-maka tuan kota t-tidak akan membiarkanmu lolos dengan mudah"
Mendengar hal itu membuat Mo Shen tertawa terbahak-bahak, ia pun mencibir.
"Kau pikir dengan kekuatan dari tuan kota kecil itu akan membuatku takut? Sungguh lucu sekali kau ini hahahaha"
"Baiklah cukup sudah saatnya kau mati, titipkan salamku pada raja neraka"
Mo Shen pun tanpa segan langsung memenggal kepala Hu Fu sehingga membuat ia mati seketika, setelah Hu Fu mati Mo Shen memalingkan pandangannya ke Min Chi dan berkata.
"Paman Min, lebih baik kalian segera bakar saja mayat mereka ini, dan kalau ada barang berharga dari mereka yang bisa dijual maka ambil saja"
Berkat perkataan Mo Shen membuat Min Chi sadar dari lamunannya, ia pun hanya menganggukkan kepalanya dan memerintahkan warga desa yang lain.
Setelah beberapa jam, akhirnya semua mayat telah dibakar dan untuk barang berharga mereka yang ada semuanya telah dikumpulkan oleh Min Chi, awalnya Min Chi ingin memberikan semua itu pada Mo Shen, namun ditolak oleh Mo Shen dengan alasan, "pakai saja itu untuk kepentingan desa" lalu setelah Mo Shen mengatakan itu Min Chi tidak lagi memaksanya.
Di sebuah rumah yang dimana itu adalah rumah dari kepala desa XinTing atau rumah Min Chi, di ruang tamu terlihat Min Chi seperti sedang mendiskusikan sesuatu dengan Mo Shen.
"Nak Mo Shen bagaimana rencana kita selanjutnya? Bagaimana kalau tuan kota mengetahui bahwa kita membunuh pasukannya? Pasti kita akan dihukum berat"
"Baiklah kalau begitu aku akan mempercayaimu"
"Baiklah jika tidak ada yang ingin didiskusikan lagi maka aku akan segera pergi"
Mo Shen pun segera keluar dari rumah Min Chi dan menuju rumah Zi Yun, sesampainya di rumah Zi Yun ia melihat Zi Yan sedang bermain dengan Mo Lang yang saat ini ukurannya sebesar anjing dewasa, mereka tertawa sambil berlari-lari dan yang paling mengherankan adalah bahwa mental Zi Yan masing baik-baik saja.
Biasanya untuk anak seumuran Zi Yan kalau melihat adegan pembunuhan sadis didepan matanya anak itu pasti akan sangat ketakutan dan mungkin akan mempengaruhi mental anak tersebut, tapi Zi Yan berbeda, seolah tidak terjadi apa-apa ia dengan ceria bermain seperti anak-anak pada umumnya hal tersebut tentu saja membuat Mo Shen sangat keheranan.
"Anak ini semakin membuatku ingin menjadikannya seorang murid" gumam Mo Shen.
Di saat Zi Yan sedanv asik bermain, ia melihat Mo Shen mengamatinya dari jauh, Zi Yan pun memutuskan untuk memangil Mo Shen.
"Kakak kesini, ayo main sama Zi Yan"
Mendengar suara Zi Yan membuat Mo Shen terbangun dari lamunannya, ia pun dengan senyum manis mulai mendekati Zi Yan dan Mo Lang dan berkata.
"Zi Yan bisakah kamu masuk duluan, ada yang ingin kusampaikan pada Xiao Lang"
__ADS_1
Zi Yan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Mo Shen kemudian ia masuk kedalam rumah meninggalkan Mo Shen dan Mo Lang dihalaman rumah itu, setelah Zi Yan masuk Mo Shen mengucapkan sesuatu pada Mo Lang.
"Xiao Lang, kau pergi ke sekitaran desa ini dan pantau terus, kalau ada prajurit dari tuan kota yang lewat langsung bunuh tanpa menyisakan seorang pun"
Mo Lang hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia paham dan segera bergegas untuk berpatroli disekitar desa. Melihat Mo Lang mendengarkan dirinya Mo Shen hanya tersenyum dan agak terkejut dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Mo Lang ini. Setelah Mo Lang menghilang dari pandangannya Mo Shen langsung memasuki rumah Zi Yun dan sesampainya di ruang keluarga ia melihat Zi Yan sedang berbicara dengan Zi Yun.
Mo Shen pun mendekati mereka dan duduk disamping mereka berdua yang sedang asik berbicara sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa Mo Shen ada disamping mereka.
Setelah beberapa menit berbincang akhirnya mereka menyadari bahwa Mo Shen ada disamping mereka dan mereka pun terkejut terutama Zi Yun yang terkejut sekaligus malu karena menghiraukan Mo Shen disampingnya.
"Maafkan aku Mo Shen, aku menghiraukanmu karena keasikan berbicara dengan Zi Yan"
"Tidak apa-apa bibi Yun, aku juga salah karena tidak memberitahu kalian soal kedatanganku dan hanya diam saja" ucap Mo Shen sampai menggelengkan kepalanya.
"Kakak Mo Shen, kenapa kakak begitu kuat? Dan juga kalau kakak sudah begitu kuat kenapa kakak bisa terluka seminggu yang lalu?" tanya Zi Yan.
"Hmmm alasan kenapa aku begitu kuat mungkin karena aku rajin berlatih, dan alasan mengapa aku terluka parah seminggu yang lalu karena aku belum cukup kuat untuk menjadi yang terkuat di semesta ini" jawab Mo Shen dengan jujur.
"Woahh kalau begitu Zi Yan juga ingin berlatih dan menjadi sekuat kakak" ucap dengan wajah berbinar-binar.
"Kau ingin berlatih denganku?" tanya Mo Shen?
"Iya!! Bolehkan ibu?" ucap Zi Yan dengan semangat sambil memohon pada ibunya.
"Baiklah aku memberikanmu izin, tapi jangan berlatih terlalu keras, bagaimanapun kau juga adalah seorang wanita" ucap Zi Yun yang tidak tahan melihat wajah memelas putrinya.
"Yeyyy terimakasih ibu, aku menyayangimu" ucap Zi Yan sambil mencium pipi ibunya.
"Ibu juga menyayangimu" balas Zi Yun.
"Kalau begitu kakak kapan kita akan mulai berlatih?" tanya Zi Yan dengan antusias.
"Kita akan mulai berlatih besok, juga kau harus menyembahku sebagai gurumu" ucap Mo Shen.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mo Shen Zi Yan hanya menurutinya dan bersujud tiga kali di depan Mo Shen lalu berkata.
"Murid ini memberi hormat pada guru"
"Hormat mu aku terima, mulai sekarang panggil aku Guru Shen"
__ADS_1
"Baik Guru Shen"