
"Wah wah sepertinya seseorang sedang menemukan sebuah barang bagus disini"
Sebuah suara yang cukup kuat terdengar, membuat Mo Shen menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara tersebut.
Suara itu berasal dari seorang pemuda dan juga sekelompok orang yang terlihat cukup kuat, para anggota dari kelompok tersebut terdiri mulai dari ranah Inti Surgawi dan juga ada beberapa yang berada di ranah Raja. Pemuda yang bersuara tadi berada di ranah Inti Surgawi tingkat 4 sedangkan disebelahnya terdapat seorang pria paruh baya yang telah berada di ranah Kaisar tingkat 5.
"Hmmm sepertinya mereka bukan orang sembarangan, tapi mereka tetaplah serangga dimataku" ucap Mo Shen dengan arogan dalam hatinya.
"Apa yang kau perlukan dariku?" tanya Mo Shen dengan sedikit rasa kesal.
"Aku tidak memerlukan dirimu, tapi bunga Mawar Racun yang ada di depanmu itu" ucap pemuda tersebut sambil menunjuk bunga Mawar Racun itu.
"Kau menginginkan Mawar Racun ini? Siapa dirimu sehingga berani ingin merebut benda milikku" ucap Mo Shen dengan nada yang sangat arogan.
"Ha ha ha seorang bocah dari wilayah kecil ini ingin melawan tuan muda? Sungguh tidak menyayangi nyawanya"
"Huhh aku menjadi kasihan dengan nasib bocah itu selanjutnya"
"Apa peduliku, ia sudah menyinggung perasaan tuan muda, maka itu akan bernasib buruk baginya"
....................
Para anggota dari kelompok itu mulai mencibir Mo Shen satu persatu, mereka merasa bahwa Mo Shen sangat bod*h untuk mencari masalah dengan tuan muda mereka.
"Sepertinya kau tidak mengetahui diriku yahh? Pantas saja sihh kan kamu hanyalah penduduk dari wilayah lemah ini, kau tentu saja tidak dapat mengetahui identitasku" ucap pemuda tersebut sembari menghina Mo Shen.
"Siapa juga yang perduli sial*n" gumam Mo Shen pelan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri dulu. Namaku Ci Yun, tuan muda ke 2 dari keluarga Ci yang menjadi salah satu keluarga besar di wilayah tengah atau Kekaisaran Qin" ucap pemuda itu yang ternyata bernama Ci Yun.
"Bagaimana apakah sekarang kau takut bocah kampung?" Lanjutannya sembari menatap Mo Shen.
Akan tetapi, jawaban dari Mo Shen membuatnya tercengang dan marah.
"Apa peduliku? Mau kau tuan muda dari keluarga besar di Kekaisaran Qin akupun tidak perduli sial*n" ucap Mo Shen dengan sedikit kesal.
"Apa katamu? Sepertinya kau sangat ingin mati, kalian semua seret dia kemari jangan sampai membunuhnya karena ia akan kubunuh dengan tanganku sendiri" teriak Ci Yun memerintahkan para pengawalnya untuk membawa Mo Shen kehadapannya.
Mendengar perintah tuan muda mereka, mereka semua langsung menerjang ke arah Mo Shen dengan bersamaan, akan tetapi perbedaan antara ranah kultivasi dari Mo Shen dan mereka sangat jauh sehingga Mo Shen dengan santainya mereka semua.
"Sial apa apaan dia i-"
__ADS_1
"Tungg-"
"Tidak jangan bun-"
"Ampuni ak-"
.....................
Para pengawal dari Ci Yun semuanya mati tanpa menyelesaikan semua kata kata mereka, para pengawal semuanya dibunuh oleh Mo Shen dengan tangan kosong dikarenakan ia malas mengeluarkan pedangnya untuk para sampah yang ada didepannya.
"Sial*n sepertinya anak ini memiliki ranah kultivasi diatasku, apa yang harus kulakukan? Apakah lebih baik aku meminta bantuan tetua ke 6 saja?" Ucap Ci Yun dalam hatinya.
"Tetua ke 6, sepertinya sekarang ini adalah waktu yang tepat untukmu turun tangan" lanjutannya sembari menghadap ke arah seorang pria tua yang berada disampingnya.
"Baiklah jika itu keinginan tuan muda" ucap lelaki tua itu sembari berjalan ke arah Mo Shen.
"Anak muda, sepertinya keberuntungan mu sampai disini saja, karena sebentar lagi kau akan mati ditangan ku" ucapnya sembari menggenggam erat pedangnya.
"Ho ho pria tua, akan kulihat sampai mana kau bisa bertahan dari seranganku" ucap Mo Shen yang tidak mau kalah.
Mereka berdua pun segera saling beradu serangan, beberapa menit berlalu terlihat serangan dari Mo Shen lebih mendominasi daripada serangan dari pria tua yang disebut tetua ke 6 oleh Ci Yun.
"Kughh, bagaimana bisa bocah ini memiliki kekuatan yang lebih besar dariku? Apakah dia salah satu jenius tersembunyi dari sebuah sekte besar di Kekaisaran Qin?" ucap tetua ke 6 yang saat ini menerima luka yang cukup besar, walaupun hanya menggunakan kepalan tangannya Mo Shen memberikan luka dalam yang cukup serius pada tubuh tetua ke 6 itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mo Shen membuat emosi tetua ke 6 naik sehingga ia dengan hati yang dipenuhi amarah mengangkat pedangnya dan diiringi oleh gumaman sebuah teknik.
"Teknik pedang Pembasmian gerakan terakhir: Penghapusan"
Setelah mengatakan itu sebuah energi Qi yang sangat banyak mulai mengelilingi pedang dari tetua ke 6, energi pedang tersebut dilepaskan oleh tetua ke 6 dengan menebas ke arag Mo Shen sehingga energi Qi dari pedang tersebut langsung menuju ke arah Mo Shen seperti tsunami.
BBBOOOMMM
Sebuah ledakan besar terjadi akibat dari energi Qi yang dilepaskan oleh tetua ke 6 tersebut mengenai Mo Shen. Melihat serangannya mengenai Mo Shen tetua ke 6 langsung tersenyum dan mengatakan.
"Inilah akibat dari membuatku marah, bocah sial*n" ucapnya dengan senyum sinis diwajahnya sembari melihat ke arah sebuah kabut yang terjadi akibat dari serangannya, tak lama kemudian senyum sinis tersebut digantikan dengan ekspresi terkejut.
"Menurutmu dengan teknik rendahan ini kau bisa membunuhku? Jangan bercanda sial*n" ucap seseorang dari dalam kabut tebal itu.
Suara tersebut tidak lain berasal dari Mo Shen yang kini sedang berjalan keluar dari kabut tersebut dengan santainya juga ditubuhnya tidak terdapat sedikitpun luka atau pun goresan.
"Baiklah sekarang aku sudah mulai bosan, saatnya mengakhiri ini" ucap Mo Shen yang kini sedang memegang pedang pedang, pedang tersebut adalah artefak tingkat ungu, pedang yang biasanya ia gunakan.
__ADS_1
Ia pun segera menghilang dari tempatnya dan muncul kembali dibelakang tetua ke 6, kemunculannya yang tiba tiba serta serangannya yang sangat cepat membuat tetua ke 6 tidak dapat menghindarinya sehingga tangan kanan tetua ke 6 pun menjadi korbannya.
"Arrrggghh sial*n, tangan kananku" teriak kesakitan tetua ke 6.
Tidak puas dengan itu Mo Shen kembali memotong kaki kanannya sehingga tetua ke 6 tersebut langsung tersungkur di tanah dengan keadaan tidak berdaya.
SSSLAASSHH
Tampa pikiran panjang, Mo Shen segera menebas kepala tetua ke 6 sehingga menandakan bahwa ia sudah mati.
"Hieekkk ba-bagaimana ini te-te-tetua ke 6 bisa kalah dari Bocah ini? Apakah kekuatannya lebih tinggi dari tetua ke 6?" ucap Ci Yun salam hatinya.
Melihat sendiri tetua ke 6 dari keluarganya mati di depan matanya membuat Ci Yun sangat ketakutan as sehingga membuat ia terduduk di atas tanah dengan tubuh yang bergetar.
"Sekarang saatnya giliranmu" ucap Mo Shen dengan senyum sinis saat melihat ke arah Ci Yun.
Ci Yun saat ini sangat ingin melarikan diri tapi karena tekanan yang diberikan oleh Mo Shen membuatnya tidak dapat menggerakkan tubuhnya, bahkan jika itu hanya jarinya.
SSSWIISSHH
Saat sudah berada di depan Ci Yun, Mo Shen langsung menebas kakinya sehingga membuat Ci Yun berteriak kesakitan.
ARRRGGGHH
"Tadi kau bilang ingin mengambil barang milikku? Jangan mimpi" ucap Mo Shen dengan sinis.
SSSWIISSHH
AAAARRGGGHH
Teriakkan memilukan kembali terdengar, kali ini Mo Shen memotong tangan Ci Yun.
BBBOOMM
Kali ini Mo Shen memukul perut Ci Yun dengan menggunakan energi Qi miliknya, pukulan tersebut menyebabkan rasa sakit yang sangat luar biasa ke Ci Yun karena pukulan dari Mo Shen menyebabkan dantian nya hacur sehingga sekarang ia tidak dapat berkultivasi lagi.
"Dengan ini masa hukumanmu berakhir, selanjutnya tinggal dilihat dari keberuntunganmu, bisakah kau bertahan di gunung ini dengan keadaan tubuhmu yang sekarang, ataukah kau akan menjadi santapan dari hewan buas disekitar sini.
Mendengar itu membuat wajah Ci Yun pucat karena ketakutan, dikarenakan dengan keadaan tubuhnya yang sekarang, walaupun hewan buas itu hanya berada di ranah Pembentukan Tubuh ia tidak dapat melawan dan hanya bisa menunggu kematiannya.
Setelah mengatakan itu Mo Shen segera meninggalkan tempat tadi, tak lama setelah ia meninggalkan tempat itu terdengar suara teriakan yang sangat kuat yang tidak lain berasal dari Ci Yun.
__ADS_1
"Sepertinya ada seekor hewan buas beruntung"