
Mo Shen dan Mo Lang segera keluar dari kamar mereka dan menuju tempat resepsionis.
"Ini kunci kamarku" ucap Mo Shen sembari memberikan kunci kamarnya.
"Baik tuan, terima kasih karena telah menggunakan jasa penginapan kami" ucap resepsionis tersebut dengan senyum diwajahnya.
Melihat itu Mo Shen hanya mengangguk dan pergi keluar dari penginapan itu, setelah keluar dari penginapan Mo Shen langsung menuju ke arah gerbang Ibu kota dan keluar dari kota itu.
"Hmmm kalau tidak salah dari informasi yang kuterima sekte Bukit Pedang berada di arah timur dari ibukota" ucap Mo Shen sembari memakai kembali topengnya.
Setelah itu Mo Shen langsung berlari ke arah timur dari ibukota, ia terus berlari hingga akhirnya ia melihat sebuah bukit yang terdapat banyak bangunan di puncaknya.
"Hmmm sepertinya ini adalah lokasi dari sekte Bukit Pedang" ucap Mo Shen.
Segera setelah itu Mo Shen langsung berlari menuju ke puncak bukit tersebut yang menjadi lokasi bangunan dari sekte Bukit Pedang. Setelah sampai di puncak bukit tersebut Mo Shen segera berjalan ke arah gerbang masuk sekte, tetapi ia dihentikan oleh murid yang menjaga gerbang sekte tersebut.
"Berhenti ada urusan apa kau di sekte Bukit Pedang kami?" ucap murid tersebut.
"Urusan? Hehehe yahh urusan ini sangat penting sehingga membutuhkan ketua sekte kalian untuk kemari" ucap Mo Shen sambil menyeringai.
"Hmph beraninya bocah sepertimu ingin bertemu dengan pemimpin sekte, bahkan mengatakan untuk pemimpin sekte datang kemari? Jangan mimpi" ucap rekan dari murid tersebut dengan mendengus dingin.
Tidak mau ambil pusing, Mo Shen segera menghilang dari pandangan kedua murid tersebut dan muncul dihadapan mereka satu persatu. Setelah muncul dihadapan mereka berdua, kedua murid tersebut langsung terpental jauh kebelakang sehingga menghancurkan gerbang masuk ke sekte Bukit Pedang.
BBBOOOMMM
Sebuah ledakan terjadi sehingga menarik perhatian banyak sekali murid sekte Bukit Pedang. Para murid yang penasaran akan apa yang terjadi langsung berlari ke arah gerbang masuk sekte.
Sesampainya disana mereka dikejutkan dengan apa yang mereka lihat, kedua murid yang menjaga gerbang sudah menjadi mayat tepat di depan mereka.
"Apa apaan ini? Siapa kau beraninya kau menyerang sekte Bukit Pedang"
"Tunggu dulu kau lihat topeng yang dipakai oleh orang itu bukannya sedikit familiar?"
"Hmmm benar juga dimana yahhh aku pernah melihatnya?.."
"Ahhh aku ingat bukankah dia adalah orang yang menjadi buronan oleh sekte"
"Ahh iya topengnya sama berarti orang ini adalah Mo Shen"
"Dia datang kembali kesini sendirian apakah dia sangat ingin mati?"
"Hahahah siapa yang perduli selama aku dapat membunuhnya aku akan mendapatkan hadiah yang besar"
__ADS_1
" Hmph jangan harap karena aku yang akan membunuhnya terlebih dahulu"
................
Mendengar pembicaraan para murid itu membuat Mo Shen kesal, lalu dengan sedikit rasa kesal ia menghilang dari tempatnya dan muncul dihadapan para murid dari sekte Bukit Pedang satu persatu.Tak lama kemudian terdengar banyak suara teriakan.
"Arrghh"
"Apa ya-"
"Tolon-"
"Sia-"
.......................
Teriakkan para murid yang disusul ledakan terus menerus terjadi hingga akhirnya dari ratusan murid dari sekte Bukit Pedang yang datang hanya tersisa beberapa saja.
"Apaan apan ini ke-kenapa seorang bocah memiliki kekuatan yang sebesar ini"
"Jadi i-i-ini adalah kekuatan dari seseorang yang sudah membunuh tetua ke 4?"
"Sialan di bukan manusia melainkan iblis"
.....................
"SIAL*N BERANINYA KAU MENGACAU DI TEMPAT INI!!!!"
Teriakkan tersebut disusul dengan munculnya lima orang yang memunculkan aura yang kuat tetapi aura tersebut sama sekali tidak menekan Mo Shen.
Kelima orang tersebut adalah pemimpin dari sekte Bukit Pedang dan juga wakil ketua beserta para tetua yang tersisa.
Pemimpin sekte tersebut memiliki kultivasi ranah Raja tingkat 5 bernama, Ming Chui. Juga wakil ketua yang berbeda di ranah Raja tingkat 4, yang bernama Chun Xai. Dan juga para tetua yang berbeda di ranah Inti Surgawi tingkat 9 sampai ranah Raja tingkat 2.
"Nak berani sekali kau datang kemari dan membuat kekacauan!" ucap Ming Chui dengan nada marah.
"Hahahah apakah kau pemimpin dari sekte menyedihkan ini? Cuihh hanya memiliki beberapa orang yang berada di ranah Raja saja sudah membuatmu mengakui bahwa sektemu ini adalah sekte menengah? Ahahahahah lucu sekali" ucap Mo Shen sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mo Shen membuat semua anggota sekte Bukit Pedang sangat marah karena merasa sangat direndahkan oleh Mo Shen.
"Sial*n!!!" tetua ke 2 yang sudah sangat marah tersebut tidak dapat lagi menahan emosinya dan langsung menerjang ke arah Mo Shen dengan menggenggam erat pedang ditangannya.
Melihat itu Mo Shen hanya menyeringai dan langsung menghilang dari pandangan mereka semua. Melihat mangsanya menghilang membuat tetua ke 2 bingung hingga akhirnya ia merasakan sakit dibelakangnya, ternyata Mo Shen telah berpindah ke belakangnya dengan cepat dan melayangkan pukulan yang keras.
__ADS_1
Seperti meteor yang jatuh melewati atmosfer bumi, tetua ke 2 jatuh dengan sangat cepat ke tanah hingga menciptakan sebuah kawah yang besar dengan dia berada di tengahnya.
"Apakah ada lagi yang ingin merasakannya?" ucap Mo Shen dengan nada memprovokasi.
Tidak tahan lagi direndahkan oleh Mo Shen tetua ke 3 dan ke 1 langsung menerjang ke arah Mo Shen sembari berteriak.
"Bocah sial*n walaupun kau memiliki kekuatan yang besar tapi kau juga pasti memiliki batas"
"Benar itu dengan mengahadapi kami berdua maka itu akan menjadi batasmu"
Ucap mereka berdua sembari membawa pedang di tangan masih masing. Mendengar hal itu membuat Mo Shen sangat ingin tertawa.
"Hahahaha apakah mereka ini semuanya bod*h?" ucap Mo Shen dalam hatinya.
Kedua tetua yang tersisa mengerahkan semua teknik bertarung mereka semuanya ke arah Mo Shen, tapi Mo Shen hanya menghindar dengan mudahnya.
"Baiklah karena kalian sudah mengerahkan semua teknik bertarung kalian maka aki juga akan melakukan hal yang sama" ucap Mo Shen yang kini mengambil sebuah artefak pedang tingkat ungu yang didapatnya dari ruang harta goa tempat tinggal Mo Lang sebelumnya.
"Apakah ini nyata? Anak ini memiliki sebuah artefak pedang tingkat ungu yang bahkan hanya dapat dihitung dengan jari keberadaannya di benua Xuanyuan ini, aku harus membunuh anak ini dan mendapatkan pedang itu" ucap Ming Chui, matanya dipenuhi dengan keserakahan dan rasa cemburu saat melihat Mo Shen memegang artefak pedang tingkat ungu ditangannya.
"Hmmmm sepertinya aku harus mencoba teknik pedang yang lain..... Ahhh aku coba saja teknik pedang itu" ucap Mo Shen sembari mengingat kembali sebuah teknik.
Dikehidupan sebelumnya ia mendapatkan teknik pedang ini bersamaan dengan teknik tanda naga yaitu "Teknik Pedang Naga Azure" Yang terbagi atas 3 gerakan
Raungan Naga
Tebasan Ekor Naga
Turunnya Dewa Naga
Teknik ini adalah teknik pedang tingkat Saint- menengah. Walaupun hanya terdiri dari tiga gerakan tetapi disetiap gerakan dapat menyebabkan kerusakan yang sangat parah.
"Walaupun dengan kekuatan ku yang sekarang ini hanya dapat mengeluarkan 10% dari kerusakan aslinya tapi ini sudah cukup untuk mencoba kekuatan dari teknik pedang naga ini" ucap Mo Shen dalam hatinya. Seketika Mo Shen mengangkat tinggi pedangnya dan bergumam.
"Teknik Pedang Naga gerakan pertama: Raungan Naga"
Sebuah siluet naga terlihat keluar dari pedang yang diangkat oleh Mo Shen. Naga tersebut langsung membuka mulutnya dan meraung kuat sehingga membuat tetua ke 1 dan ke 3 tidak dapat menahan rasa sakitnya ditelinga mereka yang disertai oleh tekanan yang membuat tubuh mereka serasa remuk.
Melihat itu Mo Shen segera menghilang dari tempatnya dan langsung berdiri di belakang mereka berdua, hingga tidak lama kemudian kepala kedua tetua tersebut jatuh ke tanah dan menyemburkan darah dari leher mereka yang sudah terpisah dari kepala mereka.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang giliran siapa yang ingin mati?"