
Si jendral yang sebelumnya dipukul oleh Mo Shen sehingga terlempar jauh keluar dari penginapan kini kembali masuk kedalam dan menatap Mo Shen dengan tajam lalu ia berteriak.
"sial*n beraninya kau menyerang ku apakah kau ingin memprovokasi kekaisaran!"
Setelah dipukul oleh Mo Shen sehingga ia terlempar jauh keluar penginapan membuat tubuhnya merasakan sakit yang cukup parah. Bukan hanya itu saja, ia harus menahan malu karena dipukuli oleh seseorang yang jauh lebih muda darinya didepan para prajurit yang menjadi bawahannya.
"Hahh? Memprovokasi kekaisaran? Sejak awal kalian yang datang kemari dan menganggu keseharian ku dan saat ini kau mengatakan bahwa aku memprovokasi kekaisaran? Ahahahahaha sungguh lucu" ucap Mo Shen sambil tertawa.
"Sungguh sekumpulan orang bod*h yang ingin cepat mati" lanjutannya dengan menatap tajam semua prajurit yang ada didepannya.
Mendengar cibiran dari Mo Shen membuat semua prajurit sangat emosi sehingga mereka tidak lagi memikirkan ketakutan yang mereka alami sebelumnya dan langsung menerjang ke arah Mo Shen.
"Sial*n beraninya kau merendahkan kami"
"Walaupun kau memiliki kekuatan yang besar tapi kalau masalah jumlah kami lebih banyak darimu"
"Bunuh dia"
"Bunuh dia"
"Bunuh dia"
.............................
Sembari berteriak mereka semua berlari menuju Mo Shen dengan menggenggam erat senjata masing-masing ditangan.
Melihat hal ini, Mo Shen hanya berdiri ditempat sambil mengeluarkan pedangnya dan bergumam.
"Bagus bagus datanglah kemari sehingga aku tidak akan repot lagi untuk membunuh kalian semua"
Seketika Mo Shen menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul kembali dibelakang para prajurit, tak lama setelah Mo Shen muncul dibelakang mereka, para prajurit langsung jatuh kelantai satu persatu dengan luka tebasan tepat dileher mereka.
Melihat para bawahannya yang mati seketika membuat jendral tadi langsung ketakutan hingga kakinya gemetaran.
__ADS_1
"Ba-bagaimana mungkin, hanya dengan satu gerakan saja ia bisa membunuh semua bawahanku?" ucapnya dalam hati.
"Baiklah, sekarang giliranmu, tuan jendral" ucap Mo Shen sembari menatap si jendral dengan tajam.
Melihat tatapan mata Mo Shen membuat ketakutan jendral tersebut semakin bertambah sehingga ia langsung melarikan diri dengan sekuat tenaga.
Tapi apakah Mo Shen akan melepaskan mangsanya semudah itu? Tentu saja tidak, segera Mo Shen berlari menuju ke arah jendral itu dan menyusulnya, hanya butuh waktu beberapa detik dan Mo Shen telah sampai dibelakang si jendral dan langsung menangkap lehernya dari belakang.
"Arrghh, T-tolong t-t-tuan a-ampuni a-a-aku a-akan k-kuberikan a-apapun j-jadi ja-jangan me-membunuhku" ucapnya sambil terbata bata.
"Baiklah, akan ku ampuni dirimu hanya dengan satu syarat" bisik Mo Shen pada telinga si jendral.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mo Shen membuat jendral tersebut sangat senang karena memiliki kesempatan untuk hidup.
"Dan syarat tersebut adalah nyawamu" bisik Mo Shen lagi tapi kali ini ia langsung meremas leher si jendral sehingga membuat jendral tersebut mati mengenaskan.
"Hmph, sudah datang untuk menganggu kehidupanku dan kau ingin tetap hidup? Jangan mimpi" cibir Mo Shen sembari melihat mayat dari jendral tersebut.
"Dan juga untuk Klan Won, sepertinya sejarah kalian akan berakhir hari ini juga" lanjutannya sambil tersenyum sinis.
"Ayo Xiao Lang, waktunya pembantaian dimulai"
.......................
Sementara itu dikediaman klan Won atau lebih tepatnya diruang pertemuan yang biasanya dipakai oleh patriak dan para tetua. Kini ruangan tersebut kembali diisi oleh patriak dan para tetua yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu.
"Patriak, apakah anda yakin hanya ingin mengirimkan satu jendral saja untuk menangkap pemuda bernama Mo Shen itu?" tanya tetua pertama.
"Apa yang dikatakan oleh tetua pertama ada benarnya juga patriak, apalagi jendral tersebut bukan berasal dari klan kita melainkan berasal dari klan Sin, bisa jadi Mo Shen ini bekerja sama dengan klan Sin dan jendral itu membantu dia untuk keluar dari kekaisaran ini" ucap tetua ke 4
"Kalau masalah itu kalian bisa tenang, karena setelah jendral tersebut kembali dan melapor ke kaisar, walaupun ia saat itu juga membawa mayat Mo Shen kehadapan kaisar aku akan meminta izin dari kaisar untuk memulai penyelidikan lebih lanjut" ucap Won Gungsu.
Mendengar apa yang dikatakan Won Gungsu membuat para tetua yang sebelumnya cemas menjadi lega kembali.
__ADS_1
"Tapi patriak, hanya dengan mengutus seorang jenderal saja apakah sudah cukup untuk menangkap Mo Shen ini? Ada baiknya kalau kita menambah seorang jenderal dan beberapa kelompok prajurit lagi untuk menangkapnya" tanya tetua ke 3.
"Hmmm, perkataan tetua ke 3 ada benarnya juga patriak, apalagi menurut cerita dari tuan muda pertama bahwa Mo Shen ini memiliki tekanan yang lebih besar dari anda, takutnya hanya dengan mengirim seorang jandral saja tidak akan cukup untuk menangkapnya" ucap tetua ke 2 yang memberikan pendapatnya.
"Itu juga yang kucemaskan, tapi kaisar tidak menanggapinya dan hanya mengirimkan seorang jenderal saja. Hahh sudahlah jangan memikirkan si Mo Shen ini lagi" ucap Won Gungsu sembari menghela nafas panjang.
"Kalau begitu patriak kita masuk ke masalah selanjutnya, mengenai sekte yang berasal dari sana itu yang ingin membantu kita dalam menduduki kekaisaran ini" ucap.
"Tentang masalah itu kalian tidak perlu memikirkannya, karena aku sudah berbicara dengan pemimpin dari sekte itu lewat giok komunikasi dan pemimpin sekte tersebut telah setuju dengan persyaratan kita, walaupun mereka tidak dapat mendatangkan kultivator terkuat mereka karena masalah tertentu tapi mereka dapat mengirimkan seorang kultivator untuk membantu kita" ucap Won Gungsu.
"Apa! Patriak jangan bercanda, kenapa mereka hanya mengirimkan seorang kultivator saja, walaupun aku tahu bahwa mustahil untuk mengirimkan pasukan untuk membantu kemari tapi hanya mengirimkan seorang kultivator saja apakah itu akan membantu kita?" tanya tetua pertama.
Mendengar hal itu tetua lainnya hanya menganggukkan kepala atas perkataan tetua pertama.
"Hahh kau tenang dulu tetua pertama, memang mereka hanya mengirimkan seorang kultivator saja dan kultivator itupun masih termasuk sebagai murid luar di sekte mereka, tapi kekuatan dari murid luar itu di Benua Xuanyuan ini bisa dibilang sangat kuat karena murid tersebut berada di ranah yang hanya ada di sejarah kuno yaitu Ranah Nirwana dan tingkatnya juga tidak rendah karena ia berada di tingkat 3 puncak, hanya selangkah lagi untuknya naik ke ranah Half-Saint, juga jangan menganggap bahwa ia saat disana berada di ranah itu juga, karena menurut perkataan ketua sekte itu bahwa kultivasi dari murid yang akan dikirim olehnya sedang disegel makanya murid tersebut hanya berada di ranah Nirwana tingkat 3 puncak" ucap Won Gungsu dengan panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari Won Gungsu membuat semua tetua terdiam sekaligus tercengang, pasalnya kalau murid tersebut ranah kultivasinya saja disegel sudah berada di ranah yang sampai sekarang belum dicapai oleh siapapun dan hanya menjadi legenda lantas ranah apa yang dicapai oleh murid itu kalau kultivasinya tidak disegel?.
"Patriak kalau ia memiliki kekuatan sebesar itu kenapa harus disegel? Karena dengan kekuatan itu bahkan klan Won kami dapat menjadi yang terkuat dibenua ini?" tanya tetua ke 4.
"Hahh dulu juga aku pernah menanyakan hal tersebut pada ketua sekte itu dan dia membalas kalau kultivator yang akan datang nanti ranah kultivasinya tidak disegel maka ia tidak akab bis mencapai Benua Xuanyuan ini, dan tentang menguasai seluruh benua dia mengatakan padaku bahwa beberapa klan san sekte diwilayah lain sudah berada dibawah kekuasaan beberapa sekte di sana, maka dari itu untuk menguasai benua ini adalah hal yang mustahil, karena kalau kita mencoba melakukannya maka selain klan Won ini, sekte yang akan membantu kita juga akan musnah diserang berbagai klan dan sekte yang kuat" ucap Won Gungsu.
Setelah mendengarkan informasi yang diberikan oleh Won Gungsu para tetua hanya menganggukkan kepala mereka yang menandakan mereka mengerti. Saat ini dikepala mereka dipenuhi dengan banyak pertanyaan tentang sekte yang akan membantu mereka ini tapi sebelum mereka akan menanyakan pertanyaan itu sebuah ledakan kuat tersebut, dan ledakan tersebut berasal dari gerbang masuk klan mereka. Ledakan tersebut membuat mereka penasaran sehingga beberapa menit setelah ledakan itu terdengar sebuah ketukan dari pintu masuk ruang pertemuan mereka.
Tok tok tok
"Masuklah" ucap Won Gungsu.
"Salam patriak" ucap seorang kultivator klan Won yang baru saja masuk.
"Apa yang sedang terjadi diluar?" tanya Won Gungsu tanpa basa-basi.
"Lapor patriak, pintu gerbang tadi baru saja diterobos masuk oleh seseorang" ucap kultivator tersebut.
__ADS_1
"Hmmm, menerobos masuk? Siapa dia? Apa ciri-cirinya?" tanya Won Gungsu.
"Dia adalah seorang pemuda bertopeng hitam dengan corak merah dibagian mata kanannya juga pemuda tersebut menaiki seekor serigala besar dengan bulu berwarna merah kehitaman, pemuda tersebut juga menyebutkan namanya saat ia masuk namanya adalah, Mo Shen!"