
Mendengar seruan itu membuat Mo Shen mengalihkan pandangannya, seketika matanya bertatapan langsung dengan seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah patriak klan Won, Won Gungsu, Mo Shen menatap Won Gungsu dengan tajam lalu dia langsung mengucapkan beberapa kata.
"Kenapa aku harus mendengarkanmu!"
Kata kata Mo Shen mengandung sebuah penindasan yang kuat diiringi dengan pandangan menghina diwajahnya.
"Sial*n berani sekali kau membuat kekacauan di klan Won ku ini, kupastikan tidak akan melepaskan mu dengan mudah" ucap Won Gungsu dengan kesal karena ia melihat raut wajah menghina dari Mo Shen.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Won Gungsu membuat Mo Shen tidak tahan lagi untuk tertawa dan mencibir.
"Hahahahahah, hanya seekor semut belaka dan kau ingin mengancamku? Sang dewa iblis ini? Hahahah sungguh lucu"
Mendengarkan cibiran dari Mo Shen membuat amarah Won Gungsu seketika memuncak, dan dengan amarah yang tinggi ia segera mengalihkan pandangannya ke arah para tetua yang berada di belakangnya dan berkata.
"Kalian semua segera serang bocah itu buat dia mengerti bahwa dengan memprovokasi klan Won kita maka itu akan menjadi akhir dari hidupnya"
Para tetua pun tidak langsung bergerak maju dan menyerang Mo Shen tapi mereka terdiam sejenak sehingga akhirnya salah tetua pertama membuka suaranya.
"Tapi patriak, kekuatan pemuda ini lebih kuat dari kita semua, takutnya malah kita yang akan dibunuh oleh pemuda ini"
Won Gungsu tertegun sejenak dan memikirkan lagi tentang apa yang dikatakan oleh para tetua, memang benar dari segi kekuatan para tetua kalah jauh dari Mo Shen, akhirnya ia mendapatkan solusi.
"Tidak apa-apa aku akan maju bersama kalian sehingga peluang kita untuk menang akan meningkatkan" ucap Won Gungsu.
"Hmm ada benarnya juga, baiklah ayo semuanya kita beri pelajaran pada bocah nakal ini dulu" ucap tetua pertama sambil tersenyum.
Mo Shen yang sedari tadi hanya melihat mereka berbicara segera membuka suaranya.
"Hoi para orang tua apakah sudah selesai berbicaranya? Kalau begitu bukankah sudah saatnya kalian semua untuk maju kemari dan menghadapiku?" ucap Mo Shen dengan nada menghina.
Tampa basa-basi lagi Won Gungsu dan para tetua langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing, setelah itu mereka pun berlari menuju ke arah Mo Shen.
Mo Shen hanya berdiri santai tanpa rasa khawatir sedikit pun, saat jarak Won Gungsu dan para tetua sudah mendekatinya ia dengan santai mengeluarkan sebuah teknik pedang untuk menyerang mereka.
"Teknik pedang iblis, gerakan pertama: tebasan kematian"
__ADS_1
Seketika muncul sebuah energi Qi berbentuk bulan sabit dengan warna merah kehitaman, itu adalah gerakan pertama dari teknik pedang iblis dan energi tersebut langsung menerjang ke arah Won Gungsu dan para tetua.
Merasakan kalau ada yang tidak beres dengan energi Qi yang sedang menuju ke arah mereka, mereka semua segera mengaktifkan teknik pertahanan terkuat yang mereka miliki.
Tapi apa yang mereka lakukan itu tidak terlalu berguna dikarenakan adanya perbedaan kekuatan yang besar antara mereka dan Mo Shen sehingga teknik pertahanan yang mereka gunakan hancur saat bersentuhan langsung dengan teknik yang digunakan oleh Mo Shen.
"Tidak baik, semuanya segera menghindar dari sini" ucap Won Gungsu dengan panik.
Mengikuti arahan dari patriak mereka, semua tetua langsung menghindari energi Qi yang terbentuk dari teknik pedang milik Mo Shen.
BBBOOOMMM
Karena mereka semua menghindar tepat waktu serangan dari Mo Shen hanya mengenai sebuah gedung yang berada dibelakang Won Gungsu dan para tetua akibatnya gedung tersebut hancur, mereka semua yang melihat kekuatan dari serangan Mo Shen segera jantung mereka berdetak kencang karena memikirkan kalau yang terkena serangan tersebut adalah mereka akan seperti apa akibatnya.
"Sial*n bukankah Mo Shen ini masih sangat muda tapi mengapa ia memiliki kekuatan yang sangat menakutkan?" ucap tetua ke 2 dengan nada agak ketakutan setelah melihat efek dari serangan Mo Shen.
"Mana aku tahu, tapi sepertinya ini akan berakhir buruk untuk kita" ucap tetua ke 5
Melihat Won Gungsu dan para tetua berhasil menghindari serangannya membuat Mo Shen menyeringai dan mencibir.
Ketakutan yang dirasakan oleh Won Gungsu dan para tetua sebelumnya seketika tergantikan dengan amarah yang sangat tinggi, tanpa memperdulikan apapun mereka semua segera menerjang ke arah Mo Shen dan berteriak.
"Jangan remehkan kami bocah sial*n"
"Kalau kematian yang kau inginkan maka akan kami berikan kematian padamu"
Dengan senjata mereka masing-masing Won Gungsu dan para tetua menyerang Mo Shen dengan brutal, tapi semua serangan mereka semua diblokir dengan mudah oleh Mo Shen.
"Ayolah kalian semua, bekerja lebih keras lagi, dengan kekuatan seperti ini bahkan untuk menggoresku saja kalian tidak akan bisa" cibir Mo Shen.
Sekali lagi amarah mereka memuncak dan kini mereka menyerang Mo Shen menggunakan teknik serangan mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian.....
Terlihat seorang pemuda sedang berdiri dengan santainya dan didepan pemuda itu terdapat beberapa pria paruh baya yang sedang tertunduk lemas seakan sudah kehabisan stamina bahkan untuk berjalan. Pemuda tersebut adalah Mo Shen dan sekumpulan pria paruh baya didepannya adalah Won Gungsu dan para tetua.
__ADS_1
Won Gungsu dan para tetua tertunduk lemas didepan Mo Shen karena mereka semua sudah kehabisan energi Qi di dalam tubuh mereka, kehabisan energi Qi tersebut dikarenakan mereka semua selalu mengeluarkan berbagai teknik serangan pada Mo Shen yang mengakibatkan energi Qi yang ada di dalam dantian merek terkuras secara bertahap.
Melihat sudah tidak ada perlawanan lagi membuat Mo Shen menghela nafas panjang dan berkata.
"Hahh aku sudah bosan, lebih baik ku akhiri saja hidup kalian"
Seketika Mo Shen menghilang dari tempatnya dan muncul kembali dibelakang tetua ke 4, dengan seringai yang menyeramkan ia berkata.
"Pertama adalah kau"
SSSWIISSHH
SSSREEKKK
Mo Shen memenggal kepala tetua ke 4 dengan mudah dan dari wajahnya tidak terdapat sedikit rasa bersalah melainkan sebuah senyuman seakan ia sedang menikmati membunuh seseorang.
"Sekarang kau yang kedua"
Sebuah bisikan yang menyeramkan terdengar dari belakang tetua ke 2 dan
SSSWIISSHH
SSSREEKKK
Lagi lagi sebuah kepala menggelinding di depan Won Gungsu dan para tetua yang tersisa, kepala tersebut adalah milik tetua ke 2 yang baru saja dipenggal oleh Mo Shen.
"Ahahahah bagus sekali, teruslah merasakan ketakutan dengan begitu suasana ini akan lebih menyenangkan" ucap Mo Shen sambil tertawa.
Kini Mo Shen hanya berjalan dengan santai menuju ke arah tetua ke 3 yang hanya berjarak dekat dengan posisinya sekarang. Melihat Mo Shen berjalan menuju ke arahnya membuat tetua ke 3 pucat seketika, menggunakan pedang ditangannya ia mengayunkan pedang itu dan berteriak seperti orang gila.
"T-tidak jangan mendekat, T-tolong ampuni aku, a-a-aku hanya mengikuti perintah dari patriak saja, aku tidak salah apapun!!"
Tapi Mo Shen tidak menghentikan langkahnya melainkan senyuman yang ada diwajahnya semakin melebar, melihat senyuman itu membuat tetua ke 3 merasakan teror dihatinya. Tapi saat Mo Shen akan sampai ke tempat tetua ke 3 langkahnya terhentikan oleh sebuah teriakan.
"Berhenti disitu anak muda"
__ADS_1