
"Ayo Xiao Lang, kita lanjutkan lagi perjalanannya" ucap Mo Shen sembari memandangi Mo Lang.
Mereka berdua pun melanjutkan kembali perjalanannya, diperjalanan menuju ke ibukota kekaisaran Dun mereka sering dihalangi oleh beberapa monster dan terkadang juga sekelompok kecil bandit, tapi itu bukan masalah besar bagi mereka berdua hingga akhirnya setelah beberapa jam berlari mereka sampai di depan gerbang ibukota.
Mo Lang yang kini sudah berubah wujud menjadi lebih kecil dan Mo Shen yang telah melepaskan topengnya kini sedang mengantri untuk masuk ke dalam ibukota. Hingga akhirnya setelah beberapa menit mengantri kini giliran mereka berdua untuk diperiksa identitasnya.
Mo Shen dan Mo Lang pun masuk dengan mudah ke dalam ibukota setelah Mo Shen menunjukkan tanda pengenalnya.
.........................
Sementara itu disebuah ruangan yang cukup besar, terdapat beberapa orang yang sedang duduk sambil mendiskusikan beberapa hal.
"Sial*n siapa orang itu, beraninya dia membunuh putra keduaku" ucap seseorang yang sedang duduk disebuah kursi mewah dengan lantang.
"P-p-patriak orang tersebut adalah seorang pemuda yang menggunakan topeng hitam dengan corak merah di bagian mata kanannya" ucap seorang prajurit yang kini sedang berlutut dihadapan pria tua yang sedang duduk di kursi mewah tersebut.
Dapat dilihat bahwa tubuh prajurit tersebut gemetar karena rasa takut akan pria tua yang berada didepannya. Prajurit yang sedang berlutut tersebut adalah prajurit yang berhasil lari dari pembantaian yang dilakukan oleh Mo Shen sebelumnya. Dan pria tua yang sedang duduk di kursi mewah tersebut ialah patriak sekaligus ayah dari Won Si Kai, Won Gungsu.
"Bajing*n, apakah kau tahu namanya?" tanya Won Gungsu
"T-tidak patriak, ia tidak menyebutkan namanya sedikitpun" ucap prajurit tersebut.
"Patriak anda harus menenangkan diri anda dulu, mungkin saja pemuda yang dimaksudkan ini adalah seseorang yang memiliki latar belakang yang kuat diwilayah lain jadi ia dengan santai menyinggung klan Won kita di kekaisaran Dun ini" ucap tetua ke 2 dari klan Won.
"Betul itu patriak, kita masih belum mengetahui secara pasti identitas musuh ini dan kita juga masih belum mengetahui bahwa musuh yang kita hadapi ini tingkat kultivasinya berada di atas kita atau dibawah kita" ucap si tetua pertama.
"Hmmm, ada benarnya juga, haah sepertinya aku termakan emosi. Tetua ke 5, perintah segera cari informasi mengenai pemuda bertopeng itu secepatnya" ucap Won Gungsu.
"Baik patriak" ucap tetua ke 5 yang dengan langsung menghilang dari tempatnya.
"Hahh seperti biasa selalu saja bergerak begitu cepat" ucap tetua ke 4 yang sedang berada di samping tetua ke 5 sebelumnya.
....................
Sementara itu Mo Shen saat ini sedang berjalan sembari memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Hmmm apakah aku harus melanjutkan perjalananku ke wilayah lain atau tidak yahh...." ucapnya sembari berpikir.
"Sudahlah lupakan saja lebih baik aku cari penginapan dulu untuk beristirahat" ucap Mo Shen.
Dikarenakan saat datang sebelumnya Mo Shen langsung pergi ke restoran ia masih belum mengetahui letak penginapan kota ini dimana, jadi ia bertanya kepada penduduk sekitar sampai akhirnya ia tiba disebuah penginapan terkenal di ibukota Kekaisaran Dun ini.
"Selamat datang tuan, apakah anda ingin menginap ataukah hanya ingin makan disini?"
Sesampainya ia didalam penginapan itu ia disambut dengan senyum ramah dari seorang pelayan wanita yang bekerja di penginapan tersebut.
"Aku ingin menginap" jawab Mo Shen.
"Baiklah tuan silakan menuju meja resepsionis disebelah sana" ucap pelayan tersebut sembari mengarahkan Mo Shen ke meja resepsionis.
"Baiklah, terima kasih" ucap Mo Shen sembari memberikan tip satu koin emas pada pelayan tersebut.
Mo Shen kini sedang menuju ke meja resepsionis dengan Mo Lang yang berada di pelukannya.
"Permisi, aki ingin menyewa kamar disini" ucap Mo Shen pada resepsionis tersebut.
"Baiklah tuan, berapa lama anda ingin menginap? Dan juga apakah anda ingin menyewa kamar biasa atau VIP?" tanya si resepsionis.
"Baiklah tuan, semua biayanya 210 koin emas dan itu juga sudah termasuk biaya sarapan dan makan malam" ucap resepsionis tersebut.
"Baiklah ini 300 koin emas tambahkan beberapa daging segar untuk peliharaan ku ini, dan juga untuk makanannya bisa kau antarkan ke kamarku" ucap Mo Shen sembari memberikan sekantong koin emas.
"Baiklah tuan, ini kunci kamar anda. Untuk kamarnya ia berada di ruangan nomor 1 dilantai 3" ucap resepsionis tersebut sembari memberikan sebuah kunci pada Mo Shen.
Mo Shen hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil kunci tersebut, kemudian ia berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Akhirnya setelah menaiki yang selama beberapa menit Mo Shen sampai juga di depan pintu kamarnya, ia segera membuka pintu tersebut dan masuk kedalamnya.
"Hmmm, lumayan juga seperti yang diduga dari kamar VIP" ucap Mo Shen yang agak puas dengan kamar penginapan ini.
"Baiklah sepertinya aku akan istirahat dulu untuk memulihkan rasa capek ditubuhku" ucap Mo Shen yang kini langsung membaringkan tubuhnya di kasur.
Hari pun terus berjalan tidak terasa sudah empat hari berlalu selama beberapa hari Mo Shen hanya menikmati masa-masa istirahatnya dari kultivasi dengan bersantai.
__ADS_1
"Hmm aku sudah bosan dengan makanan di penginapan ini, saatnya mencari makanan diluar" ucap Mo Shen sembari keluar dari kamarnya.
Ia terus berjalan menuruni tangga hingga akhirnya ia sampai dilantai bawah, seorang pelayan yang sedang membersihkan lantai kebetulan melihat Mo Shen langsung menyapanya.
"Selamat siang tuan" ucap pelayan tersebut dengan senyum diwajahnya.
"Selamat siang juga" Mo Shen membalas sapaan dari pelayan tersebut sembari tersenyum juga.
Melihat senyum dari Mo Shen membuat wajah pelayan wanita tersebut memerah karena tersipu.
"Kyaaaa wajah tuan Mo Shen tetap tampan seperti biasanya" ucap pelayan tersebut dengan histeris dalam hatinya.
Mo Shen kini sedang berjalan santai dijalanan ibukota sembari mencari sebuah restoran, dan akhirnya ia menemukan sebuah restoran yang namanya terlihat akrab bagi Mo Shen yaitu, restoran Mawar Biru.
"Hmmm seperti yang dikatakan Meng Xian, Paviliun Mawar Biru ini memiliki cabang di berbagai wilayah dan juga usaha mereka tidak hanya terpatok pada paviliun harta saja" ucap Mo Shen dalam hatinya.
"Selamat datang di restoran Mawar Biru tuan, ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang pelayan yang berdiri tepat di samping pintu masuk.
"Apakah masih ada meja yang tersedia?" tanya Mo Shen.
"Tentu tuan, tapi meja tersebut hanya berada di lantai tiga dikarenakan meja dilantai dua dan pertama sudah penuh. Juga untuk makan dilantai tiga anda harus memiliki token VIP dari paviliun Mawar Biru" ucap pelayan tersebut.
"Tidak apa-apa, untuk token VIP tersebut aku mempunyai nya, ini dia" ucap Mo Shen sembari melihatkan token VIP emas yang sebelumnya diberikan oleh Meng Xian padanya.
"T-token VIP e-emas, tuan muda silahkan ikuti aku" ucap pelayan tersebut sembari menuntun Mo Shen ke lantai tiga.
Dapat dilihat bahwa reaksi pelayan tersebut terhadap token VIP emas milik Mo Shen sangatlah terkejut dan juga saat melihat Mo Shen memiliki token VIP emas itu si pelayan menjadi lebih hormat pada Mo Shen, reaksi itu membuat Mo Shen penasaran dengan token ini dan juga identitas sebenarnya dari Meng Xian.
"Hmmm dilihat dari reaksi pelayan ini sepertinya token VIP emas milikku inj tidak sesederhana yang kupikirkan" ucap Mo Shen dalam hatinya.
"Silahkan duduk tuan muda, dan juga ini daftar menunya" ucap pelayan tersebut sembari memberikan sebuah daftar menu.
"Bawakan saja aku makanan dan minuman terbaik dari restoran ini, dan juga beberapa potong daging monster segar untuk peliharaan ku ini" ucap Mo Shen pada pelayan tersebut.
"Baiklah tuan muda" ucap pelayan itu sembari berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Mo Shen yang sedang sabar menunggu dikursinya dibuat sedikit kesal oleh sebuah teriakan.
"Semua meja di lantai ke-tiga ini sudah dipesan oleh tuan muda pertama dari klan Won kami jadi diharapkan kalian untuk meninggalkan lantai ini segera!!"