
Matahari mulai menyinari wajah Qin Lu Yan, menyadari bahwa sudah pagi ia turun dari kasurnya dan bersiap untuk pergi.
Kemarin ia telah mengambil seragam sekolah nya, jadi hari ini dia akan mulai sekolah.
Bukan untuk belajar melainkan untuk memberi pelajaran.
Para perundung itu harus tau bahwa 'Segala perbuatan pasti ada balasannya.'
Namun...
Dia lupa bahwa dia tidak punya sepatu sekolah.
Segera saja ia menelfon Ouyang Hong memintanya untuk membelikan nya sepatu sekaligus memintanya untuk mengantar ke sekolah.
Lagipula para perundung itu juga sudah mengetahui bahwa dia memiliki hubungan dengan Ouyang Hong, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan.
Qin Lu Yan menunggu didepan hotel dengan tak sabaran.
Tak lama kemudian sebuah mobil merah yang ia kenali berhenti tepat didepannya.
Dengan cepat Qin Lu Yan masuk ke kursi belakang dengan wajah kesal, "Kenapa lama sekali?."
"Maaf Bos, aku tidak tau sepatu yang kau inginkan jadi..." Ouyang Hong memberikan beberapa bungkusan lalu menunjuk kebelakang,"Aku membeli beberapa sepatu."
Qin Lu Yan menatap tas belanjaan yang diberikan Ouyang Hong lalu menoleh kebelakang, di bagasi juga hampir penuh dengan bungkusan.
"Ouyang Hong, kenapa kau membeli sebanyak ini?." Qin Lu Yan memijit dahinya, dia mencoba untuk berhemat namun sayangnya ia malah punya asisten yang sangat boros.
"Tenang saja bos, ini hanya menghabiskan 35.000 yuan, aku tidak membeli sepatu mahal." Ucap Ouyang Hong.
"Ah terserah, hanya saja aku tidak bisa memakai semuanya. Aku akan memilih beberapa dan sisanya kau kembalikan. Jangan terlalu boros." Ucap Qin Lu Yan memperingatkan.
Ouyang Hong mengangguk patuh, "Baik..baik. Sekarang kita pergi ke sekolah kan?."
"Em." Jawab Qin Lu Yan singkat kemudian ia menambahkan, "Mengemudi dengan cepat, aku sudah terlambat."
_&_&_
"Bos, kau yakin akan masuk?." Tanya Ouyang Hong.
__ADS_1
Qin Lu Yan menelan saliva nya, dia dulu begitu malas untuk belajar dan sering bolos pelajaran.
Ayahnya berkali-kali menggantikan gurunya, hingga kemudian ia bertemu Guru Liu yang tidak hanya mengajarinya Sastra, Musik dan tatakrama tapi juga beladiri.
Dan itupun Qin Lu Yan harus dikerjai berkali-kali baru ia mau untuk belajar.
Lalu sekarang? Dia secara sukarela berdiri didepan sekolah dengan memakai seragam.
"Jangan lupa jemput aku." Ucap Qin Lu Yan lalu masuk ke sekolah.
Di lingkungan sekolah semua tampak tenang, ia kemudian menatap sebuah bus dengan seorang guru yang kini menatapnya dengan berbinar.
"Lu Yan..Lu Yan. Akhirnya kau datang." Ucap Wanita itu dengan lega.
Wanita itu, An Fen, salah satu guru di sekolahnya dan seingat Qin Lu Yan dia adalah salah satu orang yang sangat baik.
"Lu Yan, jika kau dapat memenangkan olimpiade ini kepala sekolah berjanji akan tetap memberikanmu beasiswa." Ucap Guru An.
Lu Yan diam, dia tidak mengerti maksudnya.
"Lu Yan kau tenang saja, tidak hanya beasiswa mu kembali tapi tuduhan itu juga hilang. Jadi kau harus memenangkannya ya." Ucap Guru An lagi dan mendorongnya masuk kedalam bis.
"Tidak, aku tidak akan ik.."
Bis mulai berjalan dan Lu Yan tidak punya kesempatan untuk turun, dia ingin membalas orang-orang itu.
Tidak peduli dengan beasiswa, dia punya uang untuk membayar dan juga tuduhan itu? Lu Yan juga tidak peduli, pelajaran di dunia modern begitu rumit bahkan dia sedikit pusing melihat ingatan Qin Lu Yan asli yang penuh dengan pelajaran.
Namun melihat bahwa dia juga tidak bisa kabur, ia akan mencoba menjawabnya dengan ingatan asli pemilik tubuh ini.
_&_&_
Qin Lu Yan duduk ditengah-tengah siswa yang fokus pada kertas didepan mereka.
Mata mereka seakan-akan menempel pada kertas itu, dan tangan mereka juga tidak pernah berhenti mencoret.
Sedangkan Qin Lu Yan ia mengetuk-ngetuk kepalanya, pertanyaan tidak masuk akal ini... Membuat kepalanya sangat pusing.
Ini bahkan lebih sulit dari belajar tatakrama.
__ADS_1
Tapi setidaknya beberapa soal dapat ia jawab dengan mudah.
Qin Lu Yan asli ini, dia bukan jenius dan bukan orang yang cerdas. Soal yang dapat ia jawab saja adalah soal yang mirip dengan soal yang ia pelajari.
Dan bahkan untuk memahami soal itu dia butuh waktu berhari-hari.
Ia belajar dengan tekun, tidak tidur bahkan tidak jarang ia lupa untuk makan. Seakan-akan hidupnya bergantung pada nilai di selembar kertas.
Beberapa orang berdiri dan mulai menyerahkan lembar jawaban, melihat hal itu Qin Lu Yan juga ikut menyerahkan jawabannya.
Tidak banyak yang ia isi, ia hanya menjawab yang pernah dipelajari saja, sedangkan yang lain.. Ia akan mengosongkannya.
Ia bahkan tidak mencoba untuk menjawab.
"Aku melihat jawabanmu banyak yang kosong, kenapa? Apa memang benar bahwa kau sebelumnya menyontek?."
Qin Lu Yan menatap orang disebelahnya, dan mengernyitkan dahi. Dia tidak mengenal nya.
"Kau tidak mengenalku?." Tanya Siswa itu dan diangguki Qin Lu Yan.
Siswa itu tampak tak percaya, "Aku Yan Jun, Siswa no.1 di sekolah. Kau masih tak mengenaliku?."
Qin Lu Yan menggeleng, dia pernah mendengar nama itu namun tetap saja tidak pernah bertemu.
"Aku selalu dibandingkan denganmu, mereka mengatakan bahwa Qin Lu Yan tanpa kursus tambahan pun dapat mendapatkan nilai tinggi. Namun ketika mendengar rumor tentang mu yang mencuri lembar jawaban dan melihat mu sekarang, aku yakin kau hanya curang untuk tetap mendapatkan beasiswa." Ucap Yan Jun mengejek.
Qin Lu Yan menghembuskan nafas pelan, dia sudah mendapat julukan No.1 namun masih iri dengan dirinya.
"Ada apa? Kau merasa bersalah?." Tanya Yan Jun melihat ekspresi lelah Lu Yan.
"Tidak." Jawab Lu Yan lalu menatap Yan Jun dengan malas, "Apa kau iri padaku?."
"Ha? Iri? Tidak, kenapa aku iri denganmu?."
Mendengar jawaban itu, Qin Lu Yan mengangguk paham, "Ah aku mengerti, kau iri rupanya."
"Tidak, aku tid.."
"Tidak ada yang perlu di irikan." Ucap Qin Lu Yan lalu melanjutkan, "Darinya tidak ada yang perlu kau irikan, hidup yang begitu menyedihkan dan tidak ada siapapun disampingnya. Hal itu bahkan tidak membuat iri melainkan kasihan. Kau melakukan kursus? Wah itu hebat, kau kaya dan dapat membayar seseorang untuk mengajarimu. Sedangkan aku...?."
__ADS_1
Qin Lu Yan menunjuk dirinya dengan kasihan, "Untuk membeli makanan saja rasanya sulit, buku-buku yang ku pelajari semuanya buku bekas atau buku pinjaman. Aku tidak lebih hebat darimu, aku bukan jenius hanya saja aku berusaha keras untuk menjadi orang yang dianggap jenius."
"Selembar kertas yang kau anggap sebagai kehormatan dan kebanggaan, baginya itu adalah kehidupan. Jadi.. Tak ada yang perlu di irikan." Qin Lu Yan menepuk pelan pundak Yan Jun dan berjalan pergi.