Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Mencari Hong Li


__ADS_3

"Akan?." Ulang Ouyang Hong.


Lu Yan mengangguk kemudian ia segera masuk kedalam mobil.


"Kembali ke apartemen, aku akan mencari Hong Li bersama A'ming." Perintah Lu Yan.


"Tidak ke sekolah?."


Lu Yan menatap tajam Ouyang Hong membuat ia segera mengangguk, "Baik bos, baik."


...


Setelah kembali ke apartemen dan mengganti penampilannya kini Lu Yan bersama dengan A'ming mencari rumah Hong Li.


Dia harus bergerak cepat, membuka kafe setidaknya membutuh waktu seminggu. Belum lagi ia juga harus ke Kota C dan juga Kota Z untuk mencari harta karun nya.


Lu Yan benar-benar harus bekerja keras agar bisa santai nantinya. Ia ingin kembali tidur dan menikmati kehidupan tanpa takut uang nya akan habis.


"Nona, kupikir disekitar sini." Ucap A'ming menghentikan mobilnya di dekat perumahan kecil.


Lu Yan mengangguk dan turun dari mobil, ia melihat kesekitarnya. Ini bukan lingkungan yang buruk tapi tetap saja untuk seseorang yang bergelar 'Raja tinju' lingkungan seperti ini...


"A'ming kau yakin ini tempatnya?." Tanya Lu Yan memastikan.


"Aku sudah bertanya di gym tempat di melatih, di sini benar tempat tinggalnya. Tapi aku tidak dimana tepatnya." Jawab A'ming.


"Kita cari saja."


"Baik Nona." Jawab A'ming membuat Lu Yan menatapnya tajam.


A'ming gugup sejenak dan mengangguk kuat, "Baik Tuan, Baik."


Lu Yan saat ini sedang menjadi LY sebutan nona untuknya hanya akan terlihat aneh.


Mereka berdua berjalan dengan santai, Lu Yan sesekali akan memperhatikan aktivitas orang-orang yang tinggal disini.


Ia bahkan terdiam ketika melihat seorang siswa dengan luka lebam tetap tersenyum dan membawa neneknya yang menangis masuk kedalam rumah.


"Uang dari tinju mu itu tidak cukup melunasi hutang kita, kau terus berbicara besar dengan mengatakan bahwa tinju mu itu dapat menghidupi keluarga kita. Namun lihat sekarang...lihat."


Lu Yan mengalihkan pandangan nya, ia mengangkat alisnya ketika melihat sang Raja tinju sedang menunduk mendengarkan wanita didepannya.

__ADS_1


Sekuat apapun seseorang dia pasti akan tunduk pada seseorang, nah seperti Hong Li didepannya yang menerima teriakan itu dalam diam.


"Tuan apa kita akan-"


"Tentu saja, untuk apa ragu?." Ucap Lu Yan dan menghampiri Hong Li.


"Maaf menganggu." Ucap Lu Yan.


Wanita itu menatap Lu Yan sejenak kemudian tersenyum, "Ada apa Tuan?."


"LY?." Ucap Hong Li memastikan.


"Tuan Hong." Sapa Lu Yan dengan senyum tipis kemudian ia menatap wanita yang ia tebak sebagai istri Hong Li, "Maaf tapi Nyonya bolehkah saya meminjam Tuan Hong dulu? Kau bisa lanjut memarahinya nanti."


Wanita itu menatap malas pada Hong Li kemudian mengangguk, "Silahkan."


"Terima kasih Nyonya." Ucap Lu Yan lalu beralih pada Hong Li, "Apa kita bisa mencari tempat untuk berbicara?."


"Apa yang ingin kau lakukan?." Tanya Hong Li tak bersahabat.


"Aku tau kau dimarahi karena masalah uang, aku ingin mempekerjakanmu. Kau mau?." Tanya Lu Yan langsung pada intinya.


"Sayang, tolong buatkan 2 cangkir kopi."


Wanita itu berkacak pinggang lalu menghela nafas pelan, "Baik."


"Katakan apa pekerjaannya?." Tanya Hong Li tak sabar.


"Menjadi pengawal ku, seperti A'ming."


Hong Li menatap A'ming dan Lu Yan secara bergantian dan tersenyum mengejek, "A'ming kau bahkan dikalahkan olehnya dan kau masih tak tau malu menjadi pengawalnya."


"Tuan Hong, bukan pengawal yang menjagaku 24 jam tapi pengawal yang mau mengerjakan pekerjaan kasar." Ucap Lu Yan, untuk saat ini dia benar-benar tidak butuh orang untuk menjaganya.


"Ini bukan pekerjaan kotor bukan?."


"Tentu saja bukan, hanya mengurus beberapa preman-" Lu Yan berpikir sejenak kemudian melanjutkan, "Dan jika ada waktu senggang, aku ingin kau mengajariku tinju."


"Mengajarimu? Tuan LY kau merendahkan ku?." Ucap Hong Li merasa tersinggung, sebelumnya Lu Yan hampir mengalahkannya dan sekarang meminta dirinya untuk melatih nya? Bukankah itu sedang mengejek?.


Melihat Hong Li salah paham dengan ucapannya, Lu Yan segera menjelaskan, "Kau juga tau gerakan tinjuku tampak seperti amatir, keuntungan ku hanya menghindar dengan cepat dan meninju dengan kuat. Tubuhku juga tampak kaku dan ini benar-benar tak nyaman."

__ADS_1


Hong Li memikirkan kembali saat ia bertarung dengan Lu Yan, dan memang benar gerakan nya seperti amatir. Terkadang dia bahkan ragu untuk memukul lawannya.


"Baiklah, berapa gaji yang kau berikan?."


"5.000 Yuan." Jawab Lu Yan, untuk saat ini dia tidak bisa memberikan gaji yang banyak. Tidak hanya Hong Li, dia juga harus menggaji A'ming, Li Wei dan satu lagi Ouyang Hong.


"Hanya 5.000?."


"Hanya 5.000 katamu?." Istri Hong Li datang menyajikan kopi lalu memukul pundak Hong Li, "Daripada kau bergantung pada Gym yang tidak berpenghasilan itu lebih baik terima tawarannya."


"Tuan Hong, tawaran ku ini menguntungkan mu. Kau bisa melakukan hal yang kau sukai juga dan aku juga tidak memiliki peraturan ketat. Hanya siap saat dipanggil saja." Ucap Lu Yan lalu menunjuk A'ming, "Lihat dia, dari pagi bersantai di rumah dan makan makanan enak. Tidak tau untuk meninggalkanku lagi."


A'ming mengusap rambutnya malu, dia menghabiskan makanan yang dibuatkan Li wei karena berpikir Lu Yan tidak pulang siang itu. Siapa tau ternyata Lu Yan tiba-tiba muncul didepan pintu dan ingin makan.


"Baiklah-baiklah." Ucap Hong Li menerima tawaran nya.


Lu Yan tersenyum simpul, ternyata begitu mudah untuk mempekerjakan Hong Li.


"Kalau begitu kau bisa memberiku nomor telfon mu, besok Ouyang Hong yang akan memanggilmu."


"Ouyang Hong? Anak orang kaya itu? Kenapa dia?." Tanya Hong Li.


"Dia bawahan ku, kau bersama A'minf harus mengurus sesuatu yang kecil besok." Ucap Lu Yan menyerahkan ponselnya meminta Hong Li mengetik nomor telfonnya.


"Aku pulang."


"Feifei kau berkelahi lagi?."


Lu Yan menatap gadis yang baru datang itu, dia putri Hong Li, Hong Feifei.


"Ah itu Shu Jian di bully lagi oleh mereka, jadi aku menghajarnya." Ucap Hong FeiFei.


Hong Li yang mendengar hal itu berdiri dengan marah, "Mereka lagi? Mereka belum cukup diberi pelajaran."


"Sudahlah, kau tidak perlu ikut campur. Biarkan Shu Jian yang mengurusnya, Feifei kau hanya membuat posisinya semakin sulit." Ucap Ibunya.


"Sulit apa? Memang nya aku bisa membiarkan Shu Jian dipukuli didepan mata ku? Anak-anak orang kaya itu begitu sombong dan angkuh, aku juga tidak tahan." Balas Feifei.


"Kalau begitu laporkan saja mereka pada polisi jangan memukuli." Ucap Lu Yan ikut masuk kedalam pembicaraan mereka.


Hong Feifei menatap Lu Yan lalu berdecih, "Orang kaya seperti kalian dilaporkan ke polisi juga hanya diberi peringatan."

__ADS_1


__ADS_2