
Lu Yan, Hao Ran dan Yan Jun masuk kelas secara bersama-sama dan saat itu semua perhatian tertuju pada Lu Yan.
Mereka berbisik-bisik sambil melirik Lu Yan dengan tatapan tak suka? Hina? Jijik?.
Hei tatapan apa itu?. ucap Lu Yan dalam hatinya.
"Lu Yan kenapa semua orang menatapmu seperti itu?." Tanya Yan Jun.
Lu Yan mengangkat bahunya sebagai jawaban 'tak tahu.'
Yan Jun mengambil handphone dan mencari sesuatu yang terjadi.
Ia kemudian mengangguk mengerti lalu menunjukkan sebuah postingan pada Lu Yan.
Itu Foto Ouyang Hong yang sedang memegang Lu Yan dengan manja, lalu juga ada sebuah rekaman suara.
"Lagi pula banyak dari mereka yang meremehkan dan menjelek-jelekkanmu. Bos layani saja mereka... Ya..ya.."
Hao ran dan Yan Jun menatap Lu Yan dan dibalas tatapan tak mengerti oleh Lu Yan.
"Baiklah. Tapi kenapa kau tidak membicarakannya di rumah saja."
"Baiklah. Tapi kenapa kau tidak membicarakannya di rumah saja."
"layani saja mereka... Ya..ya.."
"layani saja mereka..."
"layani saja."
Kata itu diulang beberapa kali, Hao ran kemudian membaca isi postingan itu.
Tanpa aku menjelaskan kalian bisa menebaknya bukan.
Yan Jun membuka kolom komentar dan semua orang sedang menghina Lu Yan.
*a*** : Aku kira dia gadis yang baik.
****c* : Pantas saja aku heran kenapa dia bisa memakai barang mahal, ternyata...
***d** : Ternyata dia seorang pe*a***.
Balasan
*S** : Kau tidak perlu mengatakan nya secara terang-terangan, kami tahu itu.
***f** : Dia itu sangat miskin namun tiba-tiba setelah tidak sekolah ia muncul dengan barang-barang bermerk. Aku sangat penasaran sebelumnya, namun sekarang aku tahu kenapa.
Yan Jun mematikan ponselnya dengan kesal, "Membuatku marah saja."
__ADS_1
Lu Yan bersandar di kursinya, ia sama sekali tidak merasa marah atau kesal.
Hanya sedikit rasa tidak adil.
"Lu Yan apa maksud percakapan mu itu?." Tanya Yan Jun.
"Ouh itu, ini bukan sesuatu yang anak seumuran mu tau." Jawab Lu Yan dengan sedikit tawa.
"Yan Jun, kau tidak mungkin berpikiran yang sama seperti mereka kan?." Ucap Hao ran dengan penuh peringatan.
Yan Jun melambaikan tangannya cepat, "Tidak, tentu saja tidak. Dia Putri keluarga Qin, uang bisa dengan mudah dia dapat."
"Kau benar, namun sebenarnya bukan keluarga tapi-" Dinasti Qin, lanjut Lu Yan dalam hati.
Ya, jika dia bukan Putri Qin Lu Yan maka dia tidak akan menjadi siapa-siapa.
"Qin Lu Yan, Guru Lin memanggilmu." Ucap Guru Pan yang akan mengisi pelajaran saat ini.
"Baik." Lu Yan segera kekantor guru Lin, mungkin dia dipanggil karena hal itu?
Namun setidaknya ia bisa sekaligus meminta izin.
"Guru memanggilku?."
"Silahkan duduk." Ucap Guru Lin agak tak acuh, lalu memperlihatkan postingan yang 'menghina' Lu Yan.
"Apa maksud dari ini?." Tanya Guru lin.
"Lu Yan." ucap Guru Lin.
Lu Yan memiringkan kepalanya lalu menatap Guru Lin dengan tatapan mengintimidasi, "Guru tidak mungkin berpikiran yang sama seperti mereka kan?."
"Menurutmu?." Tanya balik Guru Lin membuat Lu Yan mengangguk mengerti.
"Aku akan menjelaskan dengan singkat kata 'Melayani' disini adalah.." Lu Yan terdiam sejenak kemudian tersenyum miring, "Menerima tantangan."
"Aku lebih kuat dari mereka, aku hidup dimana yang kuat yang menjadi pemenangnya. Aku menerima tantangan untuk membuktikan bahwa aku lebih kuat dari siapapun. Untuk tantangan itu sendiri, Guru Lin tidak perlu tau lebih jauh." Jelas Lu Yan lagi.
Ia kemudian menghela nafas pelan dan menunduk sedih, "Guru juga tau kan bahwa aku adalah anak miskin yang seluruh sekolah ah tidak bahkan satu kota ini tau. Tapi apa mereka hanya melihat hal itu? Siapapun tau bahwa Qin Lu Yan bekerja keras. Dia bangun ketika semua orang belum terbangun dan dia masih terjaga ketika semua orang sudah tertidur. Aku sudah melakukan hal itu, namun ketika aku memetik hasil kerja kerasku mereka pikir aku melakukan hal kotor."
Lu Yan menatap Guru Lin kecewa, "Sebagai guru yang ku percaya, harusnya kau juga percaya padaku."
Drrttt...drtt..
Lu Yan menatap ponsel nya yang bergetar, merusak suasana saja.
Ia menatap nama di layar handphone lalu menatap Guru Lin.
"Angkat saja." Ucap Guru Lin lembut.
__ADS_1
"Lu Yan 5 jam lagi jemput aku di bandara."
Lu Yan mengangkat alisnya, "Kau akan ke kota ku lagi? Kenapa?."
"Tentu saja untuk menjemputmu." jawab Yi Heng di seberang telfon dengan kesal, "Yi feng itu tidak percaya padaku bahwa kau akan datang."
"Aku akan datang, bukankah aku sudah berjanji? Kau tidak perlu datang, jika kau datang aku yang tidak akan datang." Ucap Lu Yan lalu menambahkan, "Aku serius dengan ucapan ini."
Lu Yan mematikan telfonnya kemudian menatap Guru Lin, "Guru Lin, bolehkah aku meminta izin?."
"Izin?."
Lu Yan mengangguk, "Hanya sekitar 3 hari. Guru sudah mendengarnya bukan, aku harus pergi. Itu tadi 'Kakakku' Qin Yi Heng."
"Qin Yi Heng?."
"Em, dari keluarga Qin kota C. Pemilik King Hotel, salah satu hotel terbesar disini." Ucap Lu Yan.
Setelah ini guru Lin pasti tau kenapa dia bisa punya barang mahal. Walau setidaknya bukan mereka yang memberinya uang namun membuat mereka sebagai alasan itu sungguh bagus.
Setidaknya tidak ada yang bertanya lebih jauh.
"Bersama dengan Hao ran juga." Tambah Lu Yan.
"Kenapa dengan Hao ran juga?."
"Dia yang mengajariku selama ini, walau aku libur aku juga tak ingin berhenti belajar. Guru juga tau dia itu jenius, tidak belajar di sinipun dia sudah pandai." Ucap Lu Yan dan disetujui oleh Guru Lin.
"Baiklah, kau boleh izin pergi. Namun Olimpiade nya 1 minggu lagi, kau akan ke kota C kan?."
Lu Yan mengangguk.
"Kau bisa di sana sampai hari Olimpiade, namun setiap hari nya aku akan memberimu soal langsung." Ucap Guru Lin.
"Baik, terimakasih Guru Lin." Ucap Lu Yan, ia bangkit berdiri dan memberi hormat lalu melangkah pergi.
"Maaf telah meragukan mu."
Lu Yan yang baru saja di depan pintu berbalik dan tersenyum, "Tidak apa-apa aku sudah terbiasa di salah pahami."
..._&_&_...
Lu Yan bangun lebih cepat dari biasanya, ini baru jam 4 pagi namun dia sudah bersiap-siap untuk keluar rumah.
Dia harus berolahraga dan sedikit berlatih agar nanti setelah bertanding tubuhnya tidak akan terlalu lelah.
Lu Yan mulai berlari menyusuri jalan-jalan yang sepi, hingga setengah jam ia baru berhenti dan beristirahat.
Di jembatan yang panjang, tempat dimana ia pertama kali muncul. Tempat dimana Qin Lu Yan yang ingin menyerah namun tetap bertahan.
__ADS_1
Lu Yan menatap Langit yang penuh bintang dan tersenyum, "Qin Lu Yan kau masih disini bukan?."