
Lu Yan terdiam, dia tidak ingin ke sekolah, bahkan untuk belajar di sinipun...
Jika bukan karena ia sudah berjanji pada Kakek Xie, dia tidak akan datang belajar karena sekarang dia punya alasan untuk ke kota C.
Bukan untuk berjumpa dengan keluarga Qin, atau pergi ke ulang tahun Qin Xiao yang ia tidak tau tapi untuk janji yang ia buat untuk Yi Heng.
"Maafkan aku, aku akan berusaha lebih keras."
"Berusaha lebih keras? Itu tidak cukup. Kau harus berjuang lebih-lebih-lebih keras lagi. Lu Yan kau pikir semua yang ada disini tidak berusaha keras?." Ucap Guru Lin lagi.
"Jika dalam tiga hari nilaimu masih seperti ini, kau bisa berhenti." Tambah Guru Lin.
"Aku mengerti." ucap Lu Yan singkat lalu duduk.
Kelas pertama akan berakhir, ini waktunya makan malam. Lu Yan makan di kantin sendirian hingga Yan Jun dan Hao ran datang.
"Lu Yan kenapa nilai mu sangat buruk?." Ucap Yan Jun membuat Lu Yan kehilangan selera makan.
Namun untuk menghargai makanan ia tetap memakannya dengan pelan.
"Kau ingin ku bantu belajar?." Tawar Hao ran.
Lu Yan menatap Hao Ran sejenak kemudian mengangguk, "Setelah pulang kau mau langsung mengajariku?."
"Setelah pulang?."
Lu Yan mengangguk, "Menurutmu aku dan kau punya banyak waktu? Pagi ke sekolah lalu siangnya disini. Jika bukan larut malam kapan kita akan belajar?."
"Besok aku bisa meminta izin pada kepala sekolah agar kita tidak mengikuti pelajaran." Ucap Hao ran.
Lu Yan menggeleng tak menyetujui, "Besok aku punya janji, tidak sekolah."
"Bagaimana dengan ini... Jam 4 pagi, aku akan menyuruh orang menjemputmu. Selama tiga hari kau tinggal di rumah ku, bagaimana?." Tanya Lu Yan.
"Lu Yan apa maksudmu? Kau berdua?." Ucap Yan Jun.
"Berdua apanya? Ada seorang lagi dan juga akan ada pengurus yang akan datang setiap pagi nya." Balas Lu Yan.
"Aku akan membayar mu 2000 yuan ah tidak 5000 yuan untuk mengajariku sampai tiba hari olimpiade, bagaimana?." Tanya Lu Yan lagi.
Yan Jun menelan saliva nya, "Lu Yan kapan kau sangat kaya?."
"Sejak aku lahir." Jawab Lu Yan malas.
Hao Ran tersenyum kecil, "Baiklah, aku akan mengajarimu."
"Lalu bagaimana denganku?." Tanya Yan Jun yang merasa ditinggalkan.
"Memang nya kau punya waktu untuk ikut dengan kami?." Tanya Lu Yan dan tentu saja mendapat gelengan dari Yan Jun.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa punya waktu?
_&_&_
Lu Yan yang masih setengah sadar mendengarkan penjelasan Hao ran dengan samar-samar.
Dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"Kau mengerti?."
Lu Yan membuka matanya dengan lebar dan mengangguk, "Aku mengerti."
"Kalau begitu kerjakan soal ini nomor 1 sampai 3." Hao Ran memberikannya sebuah buku soal dan Lu Yan langsung mengerjakannya dengan teliti, walau ia hanya mendengarkannya samar-samar tapi poin utama nya ia ingat.
Setelah satu jama mengerjakan soal Lu Yan memberikannya pada Hao Ran.
"Benar, tapi Lu Yan satu jam hanya untuk soal sepele ini kau keterlaluan."
Lu Yan menggaruk rambutnya sambil tersenyum, "Bukankah lebih baik daripada salah?."
Hao Ran menatapnya datar.
"Baik...baik aku akan lebih baik lagi. Namun Hao Ran karena mengajariku kau sangat berkeringat, lihat baju mu pasti akan bau nanti. Kenapa tidak bersiap disini saja?." Ucap Lu Yan menatap seragam Hao Ran.
"Tidak apa-apa." Balas Hao Ran kemudian membereskan buku-bukunya.
"Hanya ini buku yang ku punya, jika kau ingin belajar lebih banyak lagi kau bisa membeli buku lain." Ucap Hao Ran.
Hao Ran mengangguk menyetujui, "Aku pergi dulu."
Lu Yan mengambil tas Hao Ran dan meletakkannya di kursi, "Masih jam 6 pagi, kau makan dulu disini. Lagipula sekolah tidak jauh."
"Apa tidak merepotkan?."
Lu Yan menggelengkan kepalanya, "Tidak lagipula hanya ada aku dan A'ming."
"Baiklah."
Lu Yan mengajak Hao Ran ke dapur, ia membuka kulkas dan mulai memanaskan makanan yang telah disiapkan Li Wei.
Karena ibunya sakit maka Li Wei tidak bisa dengan bebas ke rumahnya.
Namun walau begitu ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik.
Ting..
Lu Yan menoleh kearah luar kemudian menatap Hao Ran, "Kau bisa membukakannya?."
Hao Ran mengangguk dan segera keluar membuka pintu.
__ADS_1
"Siapa?." Tanya Lu Yan yang sudah menyajikan makanannya.
Ia menyusul keluar dan mengernyitkan dahi melihat pria yang kemarin ia temui.
"Kenapa kau disini?."
Zhang Wei Yuan tak menjawab, ia masuk begitu saja dan duduk tanpa dipersilahkan.
"Kenapa kau disini? Dan juga sepagi ini?." Tanya Lu Yan lagi.
Zhang wei yuan menatap Lu Yan lalu menunjuk Hao ran, "Lalu bagaimana dengannya? Kenapa dia disini?."
"Dia disini apa urusannya dengan mu? Dan juga aku tidak mempersilahkan mu masuk." Balas Lu Yan.
"Aku membawakan kue, aku pindah ke sebelah." Ucap Wei Yuan, ia kemudian beranjak berdiri dan berjalan mendekati Lu Yan.
Ia menunduk menatap Lu Yan yang lebih pendek darinya, "Xiao Yan masih kecil, jadi tidak boleh berduaan dengan pria yang belum kau kenal baik."
Lu Yan melangkah mundur, ia lalu menatap Hao ran, "Hao ran kau bisa sarapan terlebih dahulu."
Hao ran menggeleng, "Tidak perlu, aku akan disini sampai pria ini pergi."
"Baiklah." Lu Yan menatap Wei Yuan kembali, "Paman Zhang Wei Yuan kau bisa pergi. Jangan khawatir padaku, lagipula aku punya penjaga sendiri. Jika kau seperti ini, bisa-bisa aku menganggap bahwa kau menyukaiku." Ucap Lu Yan.
"Memang benar." balas Wei Yuan kemudian ia mensejajarkan tubuhnya dengan Lu Yan, "Aku menyukaimu."
"Kau gila." Lu Yan memalingkan wajahnya, ia kemudian mendorong Wei Yuan keluar dari rumahnya, "Kue mu aku terima, dan satu lagi aku punya pacar."
Lu Yan menutup pintu, meninggalkan Wei Yuan yang terdiam di depan pintu.
Ia sedikit menoleh kebelakang menatap apartemen lain dengan mata elang.
Jelas orang itu telah mengawasi Lu Yan.
.....
Lu Yan tersenyum kecil membuat Hao ran heran, "Lu Yan kenapa kau tersenyum?."
"Hanya mengingat perkataan nya, kupikir tidak pernah ada yang mengatakan menyukaiku." Jawab Lu Yan.
Ya, di kehidupan sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan kata seperti itu.
Memang banyak pria yang menyukai putri Qin Lu Yan, namun untuk Jenderal Lu tidak ada yang menyukainya.
Bahkan prajuritnya kadang akan membencinya.
Orang yang ia selamatkan dan tau bahwa ia perempuan pun tidak menyukainya, padahal dirinya sangat mengagumi pria itu bahkan meninggalkan harga diri untuk mengakui hal itu.
Namun sayang dia bukan orang spesial pria itu, dia bukan siapa-siapa bahkan tidak sahabat.
__ADS_1
Dia bukan apa-apa.