
"Maaf, tapi aku mengantuk." Tolak Lu Yan pada ajakan Zhang Wei Yuan.
Walau ia lapar ia tak ingin makan bersama Wei Yuan itu.
"Nona bukannya kau-"
Lu Yan mengisyaratkan A'ming untuk diam, Zhang Wei Yuan yang tau ia ditolak hanya tersenyum, "Baiklah, lain kali aku akan mengajakmu."
"Tentu. Dan segera singkirkan mobil itu, kau menghalangi jalanku."
Zhang Wei Yuan menyuruh anak buah nya meminggirkan mobil dan membiarkan Lu Yan lewat.
"Berani sekali dia menolak Tuan."
Zhang Wei Yuan tersenyum miring, "Untuk mendapatkan sesuatu yang langka kau tidak bisa mendapatkan nya dengan mudah, Sekretaris Gao hormati dia walau dia dari Keluarga Qin tapi dia tidak akan menghargai keluarga itu sama seperti kita."
....
"Nona apa tidak apa-apa menolaknya?."
"Memang nya kenapa kalau menolak? Toh dia juga tidak bisa berbuat apa-apa pada kita." Ucap Lu Yan.
Ia berpikir sejenak dan menguap, sepertinya rasa mengantuk nya lebih kuat dari rasa laparnya, "Kita kembali ke hotel. Setelah sampai bangunkan aku."
"Baik."
"Lu Yan kau bisa bersandar dibahuku." Tawar Hao ran
Lu Yan menggeleng, "Aku bisa bersandar kebelakang."
Lu Yan memejamkan matanya dengan tenang dan tak lama kemudian ia tertidur.
"Jenderal Chen segera mundur." Teriak Lu Yan.
Dia berada ditengah-tengah perang dan keadaan semakin mencekam ketika ribuan panah meluncur kearah pasukannya.
Ia menatap kebelakang, bantuan tidak pernah datang.
Bantuan itu tidak ada.
Mereka dijebak!
Mereka hanya dijadikan umpan!
"Jenderal Chen, MUNDUR!! SEMUANYA MUNDUR!!!." Teriak Lu Yan frustasi ketika tidak ada satupun yang mendengarnya.
Mustahil saat ini mereka bisa menang.
Kematian didepannya, namun bukan kematian yang ia takutkan tapi perasaan para prajurit.
Kecewa kah mereka ketika negara yang mereka bela membohongi mereka?
Mereka adalah prajurit dengan berbagai prestasi, menjadikan mereka umpan?
Gila!
__ADS_1
"Xie Yan segera bawa mereka yang masih bisa selamat." Ucap Jenderal Chen.
Srekk
Lu Yan terus membunuh lawan nya sambil menghindari panah-panah, "Aku tidak akan meninggalkan Jenderal disini."
"XIE YAN INI PERINTAH!!."
Lu Yan tersentak kaget, ia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran.
"Nona, baru saja aku akan membangunkan mu." Ucap A ming yang sepertinya bersiap menggendongnya.
Lu Yan terdiam, ia masih terbayang-bayang akan mimpi itu.
"Jenderal Chen." Lirih Lu Yan, ia menatap A ming bingung kemudian turun dari mobilnya.
"Nona, kau tidak apa-apa?." Tanya A'ming melihat wajah pucat Lu Yan.
Lu Yan menggelengkan kepalanya, ia memegang dadanya dan ingin menangis.
"Hao ran, malam ini aku tidak ingin belajar." Ucap Lu Yan.
Hao ran menatapnya dalam, ia tau ada sesuatu yang salah dengan Lu Yan dan menyetujuinya, "Baiklah."
_&_&_
Lu Yan mondar-mandir di depan kamar A'ming sambil menggigit jarinya, walaupun A'ming pengawalnya tapi entah kenapa ketika dia memarahinya Lu Yan jadi agak segan.
Dan juga setelah di lihat-lihat, A'ming mirip dengan Jenderal Chen apalagi setelah tadi malam Lu Yan benar-benar agak kaget melihatnya.
Dia seperti reinkarnasi nya.
Lu Yan tersenyum dan menggeleng pelan, "A'ming setelah sarapan kau temani aku."
"Memangnya mau kemana?." Tanya A'ming dan tidak digubris oleh Lu Yan.
Setelah selesai sarapan mereka langsung pergi, Lu Yan terus mengarahkan A'ming kebanyak tempat. Membuat A'ming lelah.
Terkadang setelah melewati satu tempat dia akan minta balik dan itu bahkan tidak hanya satu kali. Namun A'ming sama sekali tak protes karena wajah Lu Yan tampak sangat serius.
Lu Yan menatap peta didepannya, setelah ratusan tahun berlalu dia harus tau benar apakah tempat nya sudah berubah atau belum.
Sejauh ini hanya istana yang tidak berubah hanya saja tempat itu sudah menjadi tempat bersejarah dan ada banyak turis yang mengunjunginya.
Sulit bagi Lu Yan untuk mengambil harta nya kecuali dia mengambilnya di tengah malam.
Dan tempat lain...
"Nona kita sudah sampai."
Lu Yan menatap keluar, ia tersenyum lebar namun kemudian senyumnya perlahan menghilang.
Sebuah penginapan sekaligus restoran yang dulu ia bangun masih berdiri disini dengan nama yang sama dan penampilan nya sedikit berbeda tapi secara keseluruhan tidak banyak yang berubah kecuali bangunan yang lebih kokoh.
Jauh lebih mewah? Atau tampak kuno?
__ADS_1
Tapi ini benar-benar bagus.
Hanya saja dia dulu pemiliknya lalu bagaimana dengan sekarang?
"Ah lebih baik masuk saja." Ucap Lu Yan dan segera masuk kedalam Hotel itu.
"Apa Nona sudah membuat janji?." Tanya Resepsionis.
"Apa harus membuat janji?." Tanya Lu Yan balik.
Resepsionis itu tersenyum dan memperlihatkan sebuah buku pada Lu Yan, "Jika Nona ingin menginap, Nona harus membuat janji."
Lu Yan memandangi sekelilingnya matanya kemudian menangkap sebuah lemari kecil ah tidak itu brangkas nya.
Ia lalu tersenyum ketika melihat tulisan yang berada di atas nya, "Apa kau bisa panggilkan pengelola Hotel ini?."
"Maaf, tapi Nona kami tidak ada ditempat."
"Nona? Jadi dia wanita." Ucap Lu Yan lalu berjalan ke arah brangkas nya, ia mengelusnya dengan senyuman lebar.
Ia bahkan ingin meloncat kegirangan, harta berharga nya ada disini.
"Apa nona ingin membukanya?." Tanya seorang pria tua yang tiba-tiba muncul di tangga.
Lu Yan mengangguk, "Bolehkah?."
"Tentu saja tapi jika nona tidak dapat membukanya nona harus menginap disini setidaknya selama tiga hari."
"Ouh? Aturan apa itu?." Ucap Lu Yan.
Tapi dia juga tidak mungkin tidak bisa membuka nya kan? Dia pemiliknya.
"Baiklah, mari kita buka." Ucap Lu Yan semangat.
Ia meraba-raba brankas nya hingga kemudian menemukan tombol dan
3...2...1
"Terbuka."
Lu Yan menyisir rambutnya dan berlagak hebat. Cara membuka brankas ini sangat mudah hanya saja orang-orang selalu menganggapnya rumit.
Ia membuka nya dan mengambil sebuah kantong lalu menutupnya kembali, "Aku akan mengambil ini. Setelah pengelolanya datang aku akan mengambil milikku."
Lu Yan memberikan kartu namanya pada pria tua itu, "Hubungi aku kapan saja."
"Maaf nona, kau tidak bisa mengambilnya begi-"
Lu Yan menatap tajam pria tua itu, "Siapapun yang dapat membuka brankas nya akan menjadi pemilik hotel. Entah itu hotel atau brankasnya itu semua milikku. Jika kau keberatan silahkan panggil pengelola dan hubungi aku. Aku tidak akan kabur."
"Ayo A'ming kita pergi." Lu Yan mendengus kesal dan berjalan dengan cepat.
A'ming yang berada dibelakang Lu Yan tampak penasaran apa yang diambil oleh Lu Yan.
Belum lagi pemilik hotel?
__ADS_1
Langkah kakinya terhenti sejenak dan menatap hotel didepannya. Bukankah Nona nya ini akan menjadi sangat kaya dengan mudah?
Wuah kenapa Dewa sangat bermurah hati padanya?