
Lu Yan menguap lebar, ia memutar mata malas ketika mengingat Wei Yuan disebelahnya.
"Jika bukan karena kau yang membayar aku akan meninggalkanmu ditengah jalan."
Wei Yuan tertawa kecil, "Aku tau." Ia memegang kepala Lu Yan dan mengacak nya geram, "Wanita mata duitan ini pasti tidak akan menolak memberikan tumpangan dengan bayaran mahal."
Lu Yan mengangguk membenarkan, "Jika kau memberiku uang, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan."
Wajah Wei Yuan berubah datar, "Apapun? Bahkan tubuhmu-"
Plak
Lu Yan memukul wajah Wei Yuan, namun itu tidak keras, "Kau pikir aku wanita murahan?."
"Lalu apa maksud perkataan mu itu? Lu Yan kupikir kau tidak seserakah itu untuk melakukan apapun demi uang."
Lu Yan berpikir sejenak mengingat memori masa lalu Qin Lu Yan asli.
"Uang memang bukan segalanya. Tapi segalanya perlu uang. Tanpa Uang aku hanya boneka tak berdaya yang tanpa tangan dan kaki. Hanya terus menundukkan diri dan menerima perlakukan orang lain."
"Ditendang, ditarik, di lempar, dipukul, di injak." Mengingat semua itu Lu Yan benar-benar ingin menangis, kenapa masa kecilnya sudah sangat menyedihkan?.
"Aku hanya boneka yang tak berharga yang bahkan tak ingin dilihat siapapun. Namun dengan uang setidaknya aku bisa dijaga, aku punya A'ming, Hong Li, Ouyang Hong bahkan kau pun menyukaiku. Dan itu juga karena aku punya uang."
"Tidak." Zhang Wei Yuan menyeka air mata Lu Yan yang hanya setitik itu dan memeluknya, "Aku menyukaimu karena kau adalah Qin Lu Yan, bukan orang lain."
Lu Yan mendorong Wei Yuan kesal, "Kau tidak perlu bersimpati padaku."
"Baiklah, tapi aku punya hadiah untukmu."
Lu Yan mengangkat alisnya, "Hadiah apa?."
"Coba buka grup sekolahmu." Ucap Wei Yuan dan langsung di lakukan oleh Lu Yan.
Di grup sudah penuh perbincangan tentang Bing Yi dan keluarganya. Ayah dan Paman nya ditangkap polisi, bisnis keluarga nya bangkrut dan harta nya disita bank.
Lu Yan tersenyum, dia memang ingin melakukannya tapi tak pernah sempat. Memang dia terlihat tidak punya hati karena senang di atas penderitaan orang lain namun bukankah ini Karma atas perbuatan mereka sendiri.
"Kau senang?." Tanya Wei Yuan.
Lu Yan mengangguk, "Tentu saja."
"Lalu apa tidak ada hadiah untukku?."
Lu Yan berpikir sejenak dan mengangguk, "Jika kau mau membayar satu juan yuan aku akan memberikan layanan spesial Caf'tea milikku yang belum dibuka."
"Spesial?." Wei Yuan menatap Lu Yan dengan penuh ketertarikan, "Apa yang spesial?."
"Kapan pun dan dimana pun kau berada, kau bisa memanggilku sang koki untuk membuatkan makanan dan minuman yang tersedia di menu."
"Kau?."
Lu Yan mengangguk, "Bagaimana menurutmu? Bukankah itu bagus? Untuk VIP nanti aku yang akan menjadi koki."
__ADS_1
"Kau bisa memasak?." Tanya Wei Yuan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lu Yan, "Menurutmu?."
Wei Yuan tersenyum lebar, "Baik, kalau begitu aku tertarik."
"Bagus sekali. Sekarang aku punya 1 pelanggan, nanti setelah di buka aku akan mengundangmu. Tapi sekarang turunkan aku."
"Turun?." Wei Yuan melihat ke luar, ini jalanan yang sepi dan juga-
"Pak, Berhenti." Ucap Lu Yan menyuruh supir Wei Yuan.
Supir itu menatap Wei Yuan dari cermin dengan ragu.
"Berhenti saja." Ucap Wei Yuan.
Lu Yan membuka seatbelt dan menatap Wei Yuan, "Aku akan menggunakan mobilku sendiri dan satu lagi jangan ikuti aku. Aku benci ketika semua pergerakan ku diawasi."
"Baiklah, aku tid-"
"Janji." Lu Yan memberikan jari kelingkingnya membuat Wei Yuan mengernyitkan dahi.
"Aish, ku kira mereka berjanji seperti ini kan." Ucap Lu Yan pelan, dia melakukan ini karena mengikuti Drama yang telah ia tonton. Tapi tampaknya ini menjadi canggung.
Lu Yan segera keluar dari mobil namun sebelum pergi ia memperingati Wei Yuan lagi, "Kau tau jika aku menemukan bahwa kau masih mematai ku, aku jamin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Bye bye."
_&_&_
Setelah mengantar Yang Li, ia kembali ke tempat Xiao Kai. Awalnya ia hanya mengawasi dari mobil tapi Lu Yan merasa lapar.
Beruntung didepannya kini ada Restoran pizza, "Pak, kau juga ingin makan?."
Lu Yan berpikir sejenak, "Jika bapak ingin pulang silahkan saja, nanti aku akan menelfon mu lagi."
Dia mungkin akan lama, dia harus makan lalu mengambil hartanya.
"Saya akan menunggu saja."
Lu Yan memberikan 500 yuan pada supir itu, "Ini ongkos pulangnya, saya mungkin akan lama disini."
Supir itu menundukkan kepala berterima kasih, "Kalau begitu saya pulang."
Lu Yan segera ke restoran itu, tampak sangat sepi membuatnya berpikir apa mungkin makanan disini tak enak.
Tapi hanya ini tempat yang dapat mengawasi orang-orang Xiao Kai.
Drtt...
Lu Yan segera mengangkat telfonnya, "Kau sudah melakukannya?."
"Bagus, em bagaimana jika kita melakukannya sekarang?." ucap Lu Yan agak tidak sabaran.
Dia sangat ingin memba- upps maksudnya memberi pelajaran pada lintah darat itu.
Lu Yan mengetuk jarinya mendengar jawaban diseberang telfon, "Kau benar, jika sekarang dia pasti memiliki waktu untuk memperbaiki semuanya."
__ADS_1
"Tapi A'ming kenapa suaramu agak berat? Apa sangat sulit mengalahkan para cacing itu?." Ucapnya lagi dengan nada merendahkan.
A'ming yang berada diseberang telfon tertawa kecil dengan nafas yang berat, "Hah ini hal kecil. Tapi bos jika kau datang kau mungkin bisa langsung menaklukkan mereka semua."
"Benarkah?." Lu Yan berpikir sejenak dan tersenyum senang, "Kau dimana? Lagipula aku juga ingin pemanasan."
"Kebetulan sekali sepertinya tadi aku melewati jalan itu. Aku akan segera sana jadi jangan habiskan." Lu Yan menutup telfonnya dan menatap seorang pelayan, "Tolong pizza nya di bungkuskan."
Ia keluar dari restoran dengan cepat namun saat ia akan masuk kedalam mobil ia melihat pemandangan menarik.
Seorang Remaja berseragam SMA mengalahkan beberapa anak buah Xiao Kai.
"Kau tidak tau kami siapa? Berikan anak itu pada kami."
"Jika kau tidak ingin mati cepat serahkan."
Lu Yan melihat kearah anak kecil yang berada di belakang pemuda itu dan mengernyitkan dahinya. Bukankah hutang ayah anak itu sudah Wei Yuan lunasi, kenapa mereka mengganggunya?.
"Aku tidak peduli." Jawab pemuda itu.
"Kau-" Salah satu anak buah Xiao Kai mengeluarkan sebuah pisau membuat Lu Yan agak marah.
Beraninya mereka melawan anak remaja bahkan menggunakan pisau?
"Hei apa yang kau lakukan disini?." Tanya Lu Yan menghampiri mereka dengan wajah méng
"Ouh Kakak ipar." Sapa mereka dan langsung mendapat pukulan dari Lu Yan, "Siapa kakak iparmu?."
"Ei nak dimana Ayahmu?."
"Ayah?." Anak itu menunjuk kearah dimana gedung Xiao Kai berada.
Lu Yan membulatkan mata dengan wajah geram, ia segera berlari ketempat itu, "Hei Xiao Kai-"
"Ouh Yan'er kau masih disini?."
Lu Yan berusaha menenangkan dirinya, dia sangat marah ketika mendengar panggilan itu dari mulut Xiao Kai.
"Xiao Kai bukankah hutangnya sudah lunas?."
Xiao Kai mengangguk, "Memang, namun dia malah ingin meminjam lagi. Yan'er kukatakan padamu, pria ini bukan pria baik tampangnya saja menyedihkan tapi dia menelantarkan anak-anak nya hanya untuk kesenangan."
"Benarkah?."
Pria paruh baya itu menggeleng kuat, "Itu tidak benar."
"Tidak benar?." Siswa SMA itu menatap Pria paruh baya itu dengan tatapan tajam, "Paman, aku akan mengambil A'yuan kau tidak perlu mengurusnya lagi jika pada akhirnya kau ingin menjualnya."
Siswa itu lalu mensejajarkan diri dengan A'yuan yang tampak ketakutan, "A'yuan karena ayahmu tidak peduli padamu kau mau bersamaku kan?."
A'yuan mengangguk, "Em, aku mau bersama kakak."
"Paman dengarkan? Jangan bilang lagi bahwa aku memaksa nya untuk bersamaku. Dan jangan ganggu A'yuan lagi jika tidak ingin ku pukuli." Ucapnya sebelum kemudian pergi menjauh.
__ADS_1
"Jadi, Lu Yan apa yang kau lakukan disini lagi?." Tanya Xiao Kai curiga.