
"Kalau begitu biarkan." Ucap Lu Yan.
"Seenaknya saja membiarkan, apa nanti kalau sudah terbunuh baru dibicarakan? Tuan Ly jika seperti itu pemikiran mu, aku ragu akan bekerja denganmu." Ucap Hong Li.
Lu Yan tersenyum miring dan membalas, "Jika dibiarkan mungkin mereka akan merasa bosan. Namun jika dilawan mereka akan semakin kelewatan. Orang seperti nya yang tidak punya apa-apa akan serba salah menghadapinya."
"Ayah, dia siapa? Hanya karena dia orang kaya jadi dia membela sesamanya." Hong Fei Fei menunjuk Lu yan dengan tak suka.
"Aku bukan membela, hanya saja kalian pikirkan sendiri. Apakah dengan membalas mereka, mereka akan berhenti? Kau pikir aku langsung menjadi kaya?." Tanya Lu Yan sambil menatap Fei Fei dengan tajam lalu ia melanjutkan,
"Karena ada kalian dia sedikit beruntung, kenapa kalian tidak melatihnya menjadi lebih kuat agar pukulan yang diterima hanya seperti gigitan semut saja? Tidak perlu menghindar, hanya perlu terima, jadikan latihan, terus berkembang, lalu jadikan orang-orang itu pecundang."
Hong Fei Fei terdiam lalu membalas dengan tergagap, "Me-menurutmu itu mudah? Hanya dalam kata-kata siapa yang tida bisa?."
"Bukankah ada Ayahmu-Hong Li Raja tinju dan juga kau yang pandai berkelahi? Setidaknya itu lebih baik daripada tidak punya siapa-siapa." Lu Yan berucap dengan nada sedih, jika dulu ada satu orang saja yang peduli pada Qin Lu Yan ini maka dia tidak akan punya kesedihan yang mendalam.
Dahulu bukankah Qin Lu Yan asli ini begitu ceria dan begitu optimis bahwa hari esok pasti akan lebih indah dari sebelumnya. Bahkan jika itu bukan esok pasti ada saatnya.
Namun pada akhirnya tidak ada hari indah baginya. Padahal jika saja ada satu orang yang peduli padanya, setidaknya akan ada satu hari indah itu.
"Kalau begitu aku pergi, besok dia akan menghubungimu. Selamat tinggal."
.....
Lu Yan menyandarkan tubuhnya yang lelah ia mengingat Qin Lu Yan yang asli begitu berani hingga ia sadar bahwa ia sama sekali tak berarti.
Ia mulai di bully saat SMP, saat itu ia membalas mereka. Namun kemudian mereka semakin gencar untuk menyakitinya, tak ada satupun hari yang tenang bagi Qin Lu Yan.
Lu Yan membalas, hingga ia menyebabkan salah seorang yang merundung nya pingsan. Ia dipukuli di rumah, dan dihakimi di sekolah.
Sejak saat itu ia hanya bisa diam dan menghindar jika ada orang yang menyakitinya.
Dia tidak punya siapapun yang bisa diandalkan, jika melawan lagi ia bisa dikeluarkan dari sekolah dan jika itu terjadi maka baginya tidak ada harapan lagi dimasa depan.
Lu Yan mendesah dengan keras membuat A'ming memperhatikannya.
"Nona tak apa?."
__ADS_1
"Em, hanya mengingat masa lalu. Jika saja mereka menemukanku lebih awal setidaknya tidak ada banyak luka, menemukanku sekarang hanya sia-sia. Bukankah begitu A'ming?."
A'ming terdiam, ia melihat wajah murung Lu Yan dan mengangguk mengerti. Ia terlihat kuat namun didalam hatinya ia membutuhkan kasih sayang dan juga perlindungan.
_&_&_
Lu Yan terbangun karena tepukan di pundaknya, ia menatap Li Wei dengan tatapan bertanya.
Kemudian Li Wei memperlihatkannya sebuah kertas.
Nona tidak sekolah?
Lu Yan menggeleng pelan lalu menutup tubuhnya dengan selimut, ia ingin bermalas-malasan hari ini.
Setelah lama tidur, tiba-tiba suara telfon mengganggunya, dengan mata tertutup Lu Yan mengambil Ponsel nya dan menjawab panggilan.
"Em?."
"Bos rancangan gedung mu ini-."
"Ada apa?." Tanya Lu Yan ketika Ouyang Hong berhenti berbicara.
Jutaan yuan tidak sedikit, bahkan jika ia meminta pada Yi Feng pun pasti tidak akan diberikan.
Lu Yan terdiam sejenak kemudian ia tersenyum saat mengingat sesuatu, "Kerjakan saja, jangan pikirkan uang. Buat tempat itu menjadi sebagus mungkin."
"Baik bos."
Lu Yan menutup telfon dan beranjak berdiri, ia segera bersiap untuk pergi keluar.
Ia baru saja teringat sumber uang nya lagi, jadi tentu saja ia harus bergerak cepat.
Tapi saat didepan pintu ia teringat sesuatu, ia akan pergi bersama siapa?.
Lu Yan duduk di sofa lalu segera menelfon A'ming untuk menemuinya.
Saat ini selain Ouyang Hong orang yang ia percayai adalah A'ming, menurutnya kedua orang itu tidak akan pernah berkhianat.
__ADS_1
Bahkan jika berkhianat pun, akhir mereka akan sangat menyedihkan. Dia, Qin Lu Yan seorang jenderal yang bahkan langsung memenggal seseorang hingga keturunan nya jika berani berkhianat.
Walau berbeda masa, tapi Lu Yan selalu merencanakan segala sesuatu bahkan di tiap detiknya.
Musuhnya tidak pernah berakhir baik.
_&_&_
Qin Lu Yan dan A'ming memarkirkan mobil nya di tepi jalan, ia saat ini sedang dalam perjalanan menuju kuil tempat dimana Lu Yan mengubur hartanya dan kali ini dia akan mengambil semua yang bisa ia ambil dan sebisa mungkin tidak menyisakan apapun.
"Nona apa yang akan kita lakukan disini?." Tanya A'ming memperhatikan sekitarnya. Hanya sebuah jalan sepi, bahkan mereka berhenti di tempat yang mungkin tidak akan ada orang melewati tempat ini.
"Ikut aku dan bawa tas itu." Ucap Lu Yan tanpa menjawab A'ming.
Lu Yan berjalan menuju Kuil lama itu sambil memperhatikan sekitarnya, dia harus tetap waspada karena terakhir kali ia bahkan bertemu orang-orang aneh.
Setelah sampai tanpa gangguan, Lu Yan meminta tasnya.
"Bos apa yang ingin kau lakukan?." Tanya A'ming penasaran.
"Kau tunggu saja disini dan jangan biarkan siapapun mendekati tempat ini." Ucap Lu Yan, ia lalu memperhatikan kuil itu.
Setelah selesai memperhatikan ia memegang salah satu tiang lalu memutarnya dengan kuat.
Seketika sebuah lubang muncul di tengah-tengah kuil itu. Lu Yan tersenyum lebar dan masuk kedalam lubang itu.
Dahulu ayahnya sang Kaisar karena khawatir akan dirinya jadi membuat sebuah terowongan dengan ruang bawah tanah.
Namun bahkan jika ada musuh, Lu Yan tak pernah bersembunyi jadi tempat ini selalu menjadi tempat penyimpanan barang-barang pemberian para bangsawan yang datang mengunjunginya dan juga Ayahnya.
Semua itu disimpan oleh pelayannya dan Lu Yan hanya pernah masuk sekali, jadi dia hampir melupakannya.
Lu Yan berjalan dengan berhati-hati, ia ingat ayahnya pernah memberi tau bahwa tempat ini memiliki mekanisme.
Hingga kemudian ia sampai diujung jalan, Lu Yan menatap dinding dihadapan nya. Dia harus membuka dinding itu untuk sampai ke ruangan penyimpanan.
Ia menatap nya dengan teliti sambil meraba-raba dinding itu. Hingga kemudian ia melihat tiga buah ukiran bunga.
__ADS_1
"Ah Ayah membuatnya terlalu mudah."