Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Boomslaves


__ADS_3

Lu Yan dan A'ming sampai ke sebuah sekolah, ini adalah tempat dimana dia akan mengerjakan pertanyaan memusingkan itu.


"A'ming kau bisa pergi, aku akan menghubungi mu lagi nanti."


A'ming menggeleng, "Aku akan menunggu nona di depan."


Lu Yan menatap kedepannya, ada sebuah cafe. Ia menatap A'ming dengan mata menyipit lalu memberikan beberapa lembar uang, "Jangan habiskan."


"Siap bos."


Lu Yan masuk kedalam sekolah itu, begitu luas dan juga hebat? Em, sekolah ini 3 kali lebih luas dari sekolahnya dan 5 kali lebih indah.


Masih agak sepi, tentu saja itu karena ini baru jam 7 pagi. Yang berlalu lalang kebanyakan murid sekolah ini dan yang bukan pun datang bersama gurunya dan beberapa orang ia lihat berada di cafe.


Lu Yan berhenti sejenak di pinggir lapangan basket melihat beberapa orang bermain.


Saat sedang asiknya menonton, bola basket itu terbang kearahnya namun dengan kedua tangan kecilnya Lu Yan menangkap bola itu dengan mudah.


"Ouh Maaf." Ucap Siswa itu, ia berlari menuju Lu Yan untuk mengambil bola namun Lu Yan malah melemparkan bola itu kedalam ring dan tentu saja...


Masuk!


"Wuahh." Para Siswa itu memandang Lu Yan dengan takjub.


"Ei kau hebat sekali." Ucap Siswa yang ingin mengambil bola, "Aku Liang Younian, siapa namamu?."


Lu Yan berbalik pergi tanpa memperdulikan siswa itu ia lanjut berkeliling sekolah.


Ada perasaan kasihan pada Qin Lu Yan asli, jika saja dia tak menghilang dia mungkin bisa bersekolah disini.


"Qin Xiao bukankah dia anak tidak berpendidikan itu?."


Lu Yan mengangkat alisnya menatap ke arah suara, itu Qin Xiao bersama dua temannya.


"Lu Yan, apa yang kau lakukan disini?." Tanya Qin Xiao dengan nada bersahabat, "Apa kau akan sekolah disini?."


"Qin Xiao jika kuingat bukankah dia menolak menjadi bagian keluarga Qin?." Ucap Temannya.


"Xun'er kau tidak tau peribahasa Darah lebih kental daripada air? Seburuk apapun dia tetap saja nama depannya adalah Qin." Ucap yang lainnya.


Lu Yan tersenyum miring, "Memang nya aku seburuk apa? Ah setidaknya aku tidak lebih buruk dari kebusukan kalian bertiga."


"Kau, dasar tidak berpendidikan." Tunjuk Xun'er kesal.


"Xun'er jangan keterlaluan." tegur Qin Xiao, "Bagaimanapun Lu Yan adalah saudariku."


"Lihat, kau sangat beruntung. Anak tidak berpendidikan sepertimu itu-"


"Kau bisa berhenti berbicara? Kau tidak lihat aku memakai seragam apa?." Potong Lu Yan, "Aku kesini untuk ikut kompetisi, bagaimana dengan kalian?."

__ADS_1


"Hanya datang ke sekolah tanpa belajar? Mengatakan orang lain tidak berpendidikan padahal orang berpendidikan tidak akan merendahkan siapapun." ucap Lu Yan kesal, ia lalu menatap ketiga orang itu dengan tatapan tajam, "Sebaiknya kalian bertiga belajar daripada berkeliaran seperti ini."


Lu Yan menatap sekolah yang besar itu dan menutup mulutnya dengan anggun, "Ah, apa disini ada pelajaran Tatakrama?.


Lu Yan menatap ketiga orang itu kasihan, "Jika tidak, itu memang dapat dimaklumi."


Usai membuat ketiga orang itu kesal, ia segera pergi dengan senyuman. Lu Yan mencari tempat yang sepi dan tenang namun baru duduk sebentar suara orang berteriak menganggu nya.


Lu Yan segera kearah suara itu dan melihat seorang Siswa sedang di kepung oleh empat orang.


Ia tersenyum kecil, haruskah dia membantu atau hanya menontonnya?


"Kau masih tidak punya uang? Bukankah kau bilang kau gajian hari ini? Kemana uang itu bodoh."


"Kau kan punya banyak pekerjaan paruh waktu masa sepeser uang pun tak ada."


"Maafkan aku, tapi uang itu untuk membayar biaya pengobatan ibu-"


Bukkk


Perutnya ditendang dan tangan Siswa itu diinjak, "Kau selalu memberikan alasan itu. Biarkan saja ibumu mati, bukankah itu lebih baik dari menyusahkan mu terus."


Mendengar hal itu tanpa pikir panjang Lu yan melemparkan pukulan kepada Siswa ke-3.


"Dasar sampah." Ucap Lu Yan memaki ketiga orang itu.


"Si*l*n." Siswa ke-3 itu menatap tajam Lu Yan namun tatapan itu berubah lembut, "Si-siapa kau?."


Lu Yan jadi teringat akan sosoknya yang dulu.


"Kau hanya punya 100 yuan? Bukankah kau bekerja sampai hampir mati tapi cuma segini?."


"Ini bahkan tidak sebanding dengan yang kami berikan. Aih lebih baik kau mati saja dijalanan."


"Si sialan ini." Lu Yan berbalik dan tanpa aba-aba ia langsung menendang ke-4 orang yang sudah lengah itu.


Dia paling benci orang yang merendahkan orang lain, mengambil uang orang lain lalu mencacinya.


"Kau- beraninya kau dengan kami? Ei  Zixin kau tau kan kami ini anggota Boomsleves."


Lu Yan mengernyitkan dahinya, Boomsleves? Dia ingin tertawa sekarang. Apa-apaan nama itu?


"Nona tolong pergi dari sini dan tinggalkan saja aku." Ucap anak bernama Zixin.


"Zixin akhirnya kau tau tempatmu. Anak miskin yang berun-"


Plak


Lu Yan menampar nya, membuat keempat itu bersiaga akan memukul Lu yan namun dengan hanya dengan tatapan tajam nyali mereka seketika ciut.

__ADS_1


Anak ingusan yang bahkan tidak pernah membunuh seseorang ingin melawan?


"Jika kalian tidak pergi aku akan membuat kalau tidak akan bisa bangun dari tempat tidur."


"Kau." Siswa pertama menunjuk dengan geram namun ketika Lu Yan menunjukkan kepalan tangan nya mereka semua pergi.


"Dasar anak-anak sekarang benar-benar tidak tau adab."


Lu Yan berbalik menatap Zixin yang terus menunduk.


"Nona harusnya tidak membantuku, jika tidak nanti nona yang akan diganggu." ucapnya dengan rasa bersalah.


"Anak-anak seperti it-"


"Bukan hanya anak-anak seperti itu. Boomsleves itu nama gengnya, jika mereka melapor maka nona bisa menjadi target karena telah merendahkan mereka. Mereka tidak takut apapun, orang yang kaya dan berkuasa pun tidak berani dengan mereka."


Lu Yan memegang dagunya sambil terus mendengar penjelasan Zixin.


Ini menarik!


Anak-anak seperti itu perlu diajari.


Tidak takut?


Aku akan mengajari mereka.


"Baiklah, Zixin terima kasih atas penjelasan mu. Tapi kau tenang saja aku bukan orang yang mudah disakiti."


"Nona Qin." A'ming berlari dengan telfon yang masih menempel ditelinga nya.


"Aih kenapa kau ditempat yang susah seperti ini sih?." A'ming mengeluh sambil mengelap keringatnya lalu menyodorkan hpnya pada Lu Yan, "Nona, ini."


"Ada apa?."


"Ouyang Hong ingin berbicara denganmu."


Lu Yan menerima Hp nya namun ketika ia ingin berbicara telefon sudah dimatikan, "A'ming, Ouyang Hong kenapa?."


A'ming menatap sekitarnya, "Nona, dia ingin kesini dan memintaku menjemputnya di bandara."


Lu Yan memegang dahinya dan tersenyum mengerti, dia ingin marah namun kedatangan Ouyang Hong juga agak berguna dibanding A'ming yang hanya mengandalkan ototnya Ouyang Hong sedikit lebih pintar.


"Baiklah, kau jemput saja dia. Namun setelah itu kau harus mencari tau tentang Boomsleves."


A'ming menutup mulutnya menahan tawa, "Boomsleves? Nona, apa itu?."


"Kau cari tahu saja sendiri." Ucap Lu Yan yang kemudian pergi mengacak rambutnya ketika terdengar pengumuman berkumpul untuk peserta kompetisi.


"Arkhh mengingat itu rasanya kepalaku ingin meledak."

__ADS_1


"MATEMATIKA.... KENAPA KAU BEGITU SULITTT?."


"Sampai-sampai perutku sakit." Lanjutnya pelan.


__ADS_2