
"Nona dia sudah dilaporkan ke polisi dan ini uang nona."
Lu Yan melirik sekilas uang itu dan duduk dengan malas, "A'ming bos mu itu aku atau Qin Yi Feng?."
"Aku akan melaksanakan perintah orang yang membayar ku." Jawab A'ming tanpa ragu.
"Bagus, kalau begitu ambil uang itu dan jadilah bawahan ku. Tidak perlu mendengar kata Yi Feng, kau hanya perlu mendengar perintahku saja." Ucap Lu Yan.
"Ini..." A'ming berucap dengan ragu.
"Kau bisa mengundurkan diri pada Qin Yi Feng besok, atau jika kau tidak mau aku bisa mencari yang lain." Lu Yan terdiam sejenak dan menatap A'ming, "Seperti Hong Li misalnya."
"Hong Li? Nona Hong Li tidak akan semudah itu untuk tunduk." Ucap A'ming.
"Siapa yang ingin menundukkannya? Aku hanya ingin dia bekerja untukku, lagi pula A'ming bekerja untuk Yi Feng dan membatasi ku hal itu hanya akan merugikan mu. Kau harusnya tau kekuatan ku bukan?." Ucap Lu Yan lagi.
"Baiklah, aku akan bekerja untukmu. Namun jika Tuan Qin mengirimkan orang lagi bagaimana?." Tanya A'ming yang membuat Lu Yan sadar,"Kalau begitu jangan katakan padanya saat ini."
"Baik."
"Dan juga mulai besok aku akan pindah ke apartemen, jadi kau bisa mengosongkan barang-barang ku pagi ini."
_&_&_
Lu Yan berjalan ke kelas nya dengan santai namun saat ia akan melangkah masuk, ia melihat kilatan di bagian bawah pintu.
Lu Yan tersenyum miring melihat tali yang hampir tak terlihat itu, ia menatap Bing Yi dan teman-temannya yang sedang tersenyum sambil menunggunya.
Ia melirik keatas dan melewati tali, ingin mengerjai nya? Tidak akan semudah itu.
Lu Yan berjalan menuju bangkunya, namun melihat kata makian dan juga kursinya yang patah membuatnya geram.
Ia berjalan menuju pintu dan melihat ember untuk mengerjainya tadi. Dengan sigap tanpa memperdulikan tatapan mereka, Lu Yan mengambil ember yang berisi air kotor itu.
"Kalian tadi ingin mengerjai ku bukan?." Tanya Lu Yan.
Bing Yi beranjak berdiri dan mengangguk, "Benar, namun rupanya kau tidak sebodoh sebelumnya."
__ADS_1
"Bagus." Ucap Lu Yan lalu menyiram air kotor itu ke Bing Yi dan teman-temannya yang lain.
Tidak peduli ini ulah siapa, tapi mereka juga salah karena mengabaikan perundungan yang ada tepat di depan mereka.
"Lu Yan apa yang kau lakukan?."
"Ini..."
"Lu Yan kau sudah gila."
"Gila?." Ulang Lu Yan, ia berjalan menuju tempat duduknya lalu menendang meja dan kursi yang rusak itu.
"Lu Yan kau hanya seorang pelac*r, jangan bersikap sok." Teriak Bing Yi.
"Benar, kau hanya gadis miskin."
"Lu Yan kau benar-benar tidak punya harga diri."
Dengan senyum miring, Lu Yan mendekati Bing Yi lalu menamparnya dengan keras, "Karena kau tidak mau mendengar ku maka keluargamu juga akan menanggung kesalahanmu."
Lu Yan mendengus kesal, kalimat sebanyak apapun ia katakan mereka tidak akan pernah mengerti.
"Ketika aku tidak punya uang, kalian merundung ku, merendahkan ku, mencaci ku serta memukulku. Bahkan ketika aku membawa sepotong roti, kalian injak roti itu namun aku tetap memakannya. Karena apa? Itu bukan karena aku rendahan, bukan juga karena aku hina. Tapi karena aku memang tidak punya apa-apa selain itu untuk ku makan."
Lu Yan menatap teman-temannya dan melanjutkan, "Ketika kalian tertidur, aku masih harus terjaga. Ketika kalian bermain, aku harus bekerja. Jelas jelas aku berjuang berkali-kali lipat lebih keras dari yang lain, namun kenapa aku malah menderita tapi kalian malah bahagia?."
"Sekarang aku kaya, aku punya teman, aku punya orang yang aku andalkan, dan kalian masih mengerjai ku. Katakan apa kesalahanku hingga kalian selalu menatap rendah aku?." Tanya Lu Yan.
Lu Yan berjalan ke depan kelas ia melirik ke luar, ada banyak siswa yang sedang menonton dirinya. Dan ini adalah kesempatannya untuk memperlihatkan bahwa dia bukan Lu Yan yang dulu.
"Apa aku pernah mengejek kalian, menjelek-jelekkan kalian, mencaci maki kalian, atau apa pernah aku memukul kalian seperti ini." Lu Yan memukul dinding kelas dengan keras hingga dinding itu membuat lubang.
Walau tangannya berdarah ia tak peduli, ia ingin mereka semua tau bahwa ketika mereka menatap rendah dirinya lagi maka Lu Yan akan menginjaknya, "Katakan padaku apa kesalahanku hingga kalian terus mengerjai ku. KATAKAN!!."
"LU YAN, KE KANTOR SEKARANG!!!."
....
__ADS_1
Lu Yan berdiri dengan kesal, ia ditarik ke ruang guru karena kerusakan yang ia buat.
Namun setidaknya semua orang tidak akan berani lagi macam-macam dengannya, tidak apa sedikit mengeluarkan uang untuk menghentikan ocehan.
"Lu Yan, aku tidak tau bahwa kau sekuat itu." Ucap Guru Luo, wali kelasnya.
"Bukankah sekarang guru tau."
Guru Luo tersenyum tak percaya dan mengangguk, "Memang sekarang aku tau, karena kau sangat kuat maka kau boleh merusak?."
"Bukankah mereka duluan yang mencari masalah denganku? Kursi dan mejaku bahkan tak dapat digunakan lagi, apa mereka tak dihukum?." Balas Lu Yan.
"Guru Luo, Apa yang terjadi dikelas mu? Kenapa berantakan?." Tanya kepala sekolah yang datang bersama seorang pria muda dibelakangnya.
"Qin Lu Yan ini, dia merusak kelas." Lapor Guru Luo.
"Qin Lu Yan?." Kepala sekolah menatap Qin Lu Yan dengan alis mengerut, bagaimana anak pendiam ini menghancurkan kelas?.
"Qin Lu Yan? Ku kira dia yang menjadi korban perundungan tapi tampaknya tidak seperti itu." Ucap Pria itu dengan nada menyindir.
Lu Yan melirik Pria itu, Siapa dia berbicara seakan-akan mengenalnya saja.
"Lu Yan, kau biasanya bersabar dengan mereka lalu kenapa menyebabkan kelas berantakan seperti itu? Beruntung beasiswa mu tidak dicabut namun apa ini balasannya?." Ucap Kepala sekolah marah lalu melanjutkan, "Mentang-mentang kau menang kompetisi antar sekolah jadi kau bisa berbuat seenaknya?."
Qin Lu Yan tersenyum miring, "Tidak akan ada asap tanpa ada api. Kepala sekolah, kau menyalahkan ku karena aku terus bersabar atau karena aku membalas perbuatan mereka?."
"Lu Yan, mereka hanya anak muda. Kau yang lebih pintar dari mereka harus nya bisa lebih bersabar. Bukankah dulu tidak apa? Kenapa sekarang mempermasalahkannya?." Balas kepala sekolah lagi
"Tak apa? Kepala sekolah, kau ingin aku bersabar sampai mati? Jika aku tidak memperingatkan mereka hari ini, tidak hanya aku terluka tapi bisa-bisa besok aku akan mati dan mungkin mereka akan bilang tidak sengaja atau beralasan mereka masih muda, pikiran mereka belum matang jadi tidak apa-apa membunuh." Ucap Lu Yan dengan geram.
"Kepala sekolah, apa kalian membenarkan perundungan dengan alasan masih muda?." Ucap Pria itu tak percaya.
"Maaf kan aku Tuan Qin." Ucap Kepala Sekolah dengan hormat, "Hal ini sangat jarang terjadi, kami tidak pernah membiarkan hal itu. Anak ini hanya berbicara sembarangan."
"Benarkah begitu?." tanya pria itu memastikan.
"Benar, tuan tenang saja. Ngomong-ngomong masalah kecil ini juga pasti tidak akan membatalkan kerja sama kita bukan?."
__ADS_1