Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan

Rose Life : Kehidupan Setelah Keputusasaan
Begitu menyebalkan


__ADS_3

Lu Yan dan A'ming kini berada di pesawat. Namun bedanya Lu Yan duduk di kelas bisnis sedangkan A'ming di kelas Ekonomi.


Sebelumnya saat pertama kali naik pesawat, Lu Yan agak takut jadi A'ming dan Hao ran duduk berdampingan dengannya namun karena sudah merasakannya duduk sendiri pun tak apa.


"Apa kau sedang memikirkan ku?."


Lu Yan menoleh dengan mata membulat mendengar suara yang dikenalnya.


"Tuan Zhang apa kau penggemarku?." Tanya Lu Yan heran, karena kemanapun dia pergi Wei Yuan sering kali muncul.


Zhang Wei Yuan tertawa kecil dan duduk disebelah Lu Yan, "Bukan, aku hanya ingin menagih hutang."


"Hutang?."


"Seseorang menyewa gerombolan preman dan merusak halamanku. Tentu saja aku harus minta ganti rugi."


"Ah siapa yang begitu beraninya mengganggu tuan Zhang?." ucap Lu Yan pura-pura terkejut.


Wei Yuan mengangkat tangannya dan menepuk kepala Lu Yan, "Jangan bertindak sembarang. Aku sama sekali tidak masalah dengan tindakanmu tapi bagaimana dengan yang lain?."


"Apa maksudmu?." Ucap Lu Yan.


"Aku tidak ingin kau dalam bahaya Lu Yan. Jika butuh bantuan apapun jangan segan denganku. Aku sangat menyukaimu jadi manfaatkan aku."


Wajah Lu Yan memerah dan ia dengan cepat berpaling.


Bisa-bisanya hati nya tergerak dengan kata-kata seperti itu.


Dia tidak boleh menyukai siapapun di dunia ini. Karena bagaimana pun ia bukan berasal dari sini. Apalagi semua nya belum begitu jelas, entah tentang dirinya atau tentang pemilik tubuh ini.


......


Setelah Lu Yan turun dari pesawat Wei Yuan langsung menawarkan tumpangan.


Awalnya Lu Yan tak mau namun Wei Yuan menyebutkan tentang bagaimana dia harus menghemat jadi tentu saja Lu Yan setuju.


Untuk usahanya dia harus menghemat pengeluarannya. Belum lagi ini hanya tinggal beberapa minggu sebelum Caf'tea nya resmi dibuka.


Ouh dan juga...

__ADS_1


Lu Yan menatap Wei Yuan dengan bimbang, ia tidak membenci Wei Yuan namun dia juga tak nyaman dengan perasaan Wei Yuan padanya.


Tapi Wei Yuan begitu banyak membantunya dan Lu Yan juga bukan orang yang tak tau malu.


"Tuan Zhang apa kau punya waktu besok?."


Wei Yuan mengernyitkan dahinya sebelum kemudian menatap Lu Yan menggoda, "Ada apa? Apa kau ingin berkencan denganku?."


"Tidak." Jawab Lu Yan ketus dan melanjutkan, "Jika kau sibuk maka tidak perlu."


"Besok aku tidak akan kemanapun jadi panggil saja aku." Ucap Wei Yuan dengan senyum tipis, "Untukmu aku akan meluangkan waktuku walau sibuk."


Lagi dan lagi.


Aish kenapa dada nya berdegup kencang seperti ini? Begitu menyebalkan.


..._&_&_...


Keesokan harinya Lu Yan ke sekolah namun dia yang awalnya di abaikan kini menjadi pusat perhatian.


Lihat saja sejak dia menginjakkan kaki disekolah semua mata menatapnya.


"Hao ran." Panggil Lu Yan ketika melihat Hao ran datang.


"Kau kenapa?."


Hao ran menggelengkan kepalanya dan menatap Lu Yan ragu, "Lebih baik kau pulang."


"Em, apa maksudmu? Bukankah dulu kau yang selalu menyuruhku sekolah."


"Lu Yan lebih baik kau pulang, cepat, cepat." Ucap Yan Jun yang tiba-tiba datang dan mendorongnya pergi, "Kau pergi saja, aku akan menjelaskan nanti." ucapnya lagi.


Namun terlambat seorang wanita yang ia kenal sangat lama datang dengan wajah marah dengan tangan yang bersiap menjambak Lu Yan.


"Dasar J*l*ng kemana saja kau Setelah membuat keluarga ku menderita ha?."


Lu Yan membiarkannya karena ia tau bahwa Yan Jun dan Hao ran akan menghalanginya.


Suaminya yang berada di belakang pun menarik Ny.Hui ibu angkatnya dan memarahinya, "Apa kau tidak malu di hadapan orang-orang ini?."

__ADS_1


Ny.Hui menangkan dirinya dan menatap Lu Yan rendah, "Kau harus mengganti rugi apa yang kau lakukan pada kami."


"Memangnya apa yang ku lakukan pada kalian?." Tanya Lu Yan.


Ny Hui tersenyum tak percaya dan menatap Lu Yan geram, "Kau menghasut kakakmu untuk memecat suamiku, rumahku juga diambil dan bahkan kakak perempuan itu sedang kesulitan karena mu. Dan kau masih bertanya?."


Lu Yan menghela nafas pelan dan menatap ayah angkat nya. Memang dia bersikap tak peduli pada Lu Yan namun dia juga tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.


Dia hanya terlalu takut pada istrinya.


"Nyonya aku tidak pernah menghasut kakakku. Itu murni perbuatannya sendiri namun aku akan bertanggung jawab atas pemecatan suamimu. Dan untuk kakak itu? Sayang sekali aku tidak punya kakak."


"Cuih." Ny Hui meludah didepan Lu Yan, "Jadi seperti ini balasan mu pada kami yang telah membesarkan mu selama bertahun-tahun? Kau sama sekali tidak tau balas budi."


Lu Yan menutup mulutnya menahan tawa dengan mata menatap Ny.Hui merendahkan, "Balas budi? Ibu... Apa kau berharap aku membalas semua perbuatan mu padaku?."


"Tentu saja, kau hidup dengan nyaman di rumah kami dan bisa makan setiap hari bukankah kau harus balas budi untuk itu?."


Semua orang mulai berkumpul, yang tidak tau akan menghina Lu Yan sebagai anak yang tidak tahu diri sedangkan yang mengenal Lu Yan tentu saja tahu bagaimana kehidupannya dengan ibu Angkatnya.


"Hmph." Lu Yan tak tahan lagi Ny.Hui ini benar-benar tak sadar diri.


"Ibu... Perlukah aku membeberkan semua yang kau lakukan padaku?." ucap Lu Yan tajam.


Ny.Hui diam dengan tangan terkepal.


"Baik, aku akan menjelaskannya. Pertama hidup dengan nyaman di rumah mu? Perlukah ku katakan rumah yang kau sewa itu kau bayar dengan uangku? Kau menyuruhku mengemis dan ketika pulang kau memukuliku. Ketika aku ingin belajar kau mengatai ku dan lagi-lagi memukulku. Apa itu hidup nyaman?."


Lu Yan mendekati Ny.Hui dengan mata tajam, "Dan juga makan setiap hari? Yah jika kau kesal jangankan makanan sisa, makanan basi pun tidak akan kau berikan."


"Kau berharap aku membalas budi padamu? Bersyukur saja aku tidak membalas dendam. Namun itu bukan karena aku tak berani." Lu yan memegang tangan Ny.Hui yang sering memukulinya dan berucap, "Karena kau hanya sampah yang bahkan tidak perlu ku urus sendiri."


"Enyah Lah dari sini jika tidak ingin lebih." Ucap Lu Yan dan berlalu pergi.


Semua orang di sana saling memandang dan menatap Ny.Hui dengan tatapan marah.


Mereka tidak tau bahwa ada orang yang sekejam dan setidak tau malu itu.


"Lu Yan, kau tidak apa-apa?." Tanya Hao ran melihat raut wajah Lu Yan yang datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong Hao ran apa setelah pulang sekolah ini kau ada waktu?."


"Tentu saja. Memangnya kenapa?."


__ADS_2