
Lu Yan memilih barang-barang yang ia punya, beberapa akan ia jadikan pajangan untuk cafe, lalu ada yang disimpan dan juga beberapa barang lainnya akan ia jual.
"Panah api, Busur , Pedang Merah, Zirah emas, Cambuk langit, Kenapa bisa di sana?." Ucap Lu Yan berpikir sejenak kemudian ia menyimpan barang-barang itu.
Ia lalu membuka beberapa gulungan dan melihat isinya. Itu gulungan lukisan yang ia buat.
Lu Yan melihatnya satu persatu kemudian ia terhenti pada satu lukisan, "Siapa yang membuat ini?."
Di dalam lukisan itu terdapat gadis berpakaian merah, dengan cadar dan juga cambuk di tangannya.
Itu dirinya saat berlatih namun...
Siapa yang menggambarnya?
"BOS." Ouyang Hong masuk kedalam kamar Lu Yan secara tiba-tiba dan mengejutkan Lu Yan.
Melihat lukisan yang berjejer rapi, Ouyang Hong berseru, "Wow."
Ia lalu melihat lukisan yang berada ditangan Lu Yan, "Bos Lukisan siapa itu? Sangat cantik."
Lu Yan menatap Ouyang Hong tajam dan menggulung kembali lukisannya.
"Kenapa kau kesini?."
"Aih Bos, katanya kau ingin pergi." Ucap Ouyang Hong menunjukkan kunci mobilnya.
"Aku memanggil A'ming, bukan kau." Balas Lu Yan.
"Ah aku menyuruh A'ming dan Hong Li mengawasi pembangunan. Kau tau bos, orang-orang di gang itu tidak mudah menyerah." Ucap Ouyang Hong dengan kesal.
"Baiklah kalau begitu-" Lu Yan memberikan sebuah gulungan pada Ouyang Hong, "Ayo kita pergi."
Lu Yan keluar dari apartemen nya diikuti Ouyang Hong, hari ini dia akan pergi ke alamat yang diberikan oleh Kakek Xue.
Dia harus tau berapa harga lukisannya jika itu mahal dia akan mengambil beberapa lukisan lagi.
"Ei Xiao Yan kau mau kemana?."
Lu Yan mengangkat alisnya, kenapa orang ini disini?.
"Zhang Wei Yuan, Tuan Zhang kenapa kau disini?." Tanya Ouyang Hong terkejut.
Wei Yuan keluar dari Lift dan Lu Yan segera masuk kedalam lift.
"Xiao Yan benar-benar mengabaikan ku." ucap Wei Yuan membuat Lu Yan mendengus pelan, ia lalu menutup pintu lift menuju lantai bawah.
__ADS_1
"Bos kau memiliki hubungan dengan-"
"Hubungan apa?." Potong Lu Yan cepat, "Dia hanya pengganggu."
_&_&_
"Bos apa benar tempat ini?." Tanya Ouyang Hong dengan nada tak percaya, rumahnya benar-benar besar, dua kali lipat lebih besar dari rumahnya.
Lu Yan menunjukkan alamat yang dikirim Lao Xie kepada Ouyang Hong, "Benar bukan?."
Ouyang Hong mengangguk membenarkan, mereka berdua kemudian membunyikan bel.
Tak lama kemudian seorang pria tua dengan wajah membuka pintu, "Kalian mencari siapa?."
"Apakah ini rumah Tuan Tua Mu?." Tanya Lu Yan dan di angguki pria tua itu, "Kau mencariku?."
Lu Yan tersenyum dan sedikit menunduk, "Kakek Xie menyuruhku menemui mu."
"Kalau begitu silahkan masuk." Ucap Lao Mu.
Lu Yan dan Ouyang Hong masuk kedalam rumahnya dan berseru takjub, jika dilihat dari luar maka nuansa rumah ini tampak modern namun ketika masuk kedalamnya benar-benar terasa berbeda.
Ada banyak barang-barang antik dan juga lukisan-lukisan lama.
Lu yan dan Ouyang Hong duduk sambil sesekali masih melihat sekitarnya.
"Kenapa Lao Xie menyuruhmu mencari ku?." Tanya Lao Mu tanpa basa-basi.
"Ah itu-" Lu Yan mengambil gulungan lukisan dari Ouyang Hong dan meletakkan nya didepan Lao Mu, "Kakek Xie mengatakan bahwa Tuan Mu mengetahui barang-barang antik jadi aku datang untuk bertanya apakah lukisan ini dapat dijual dengan harga bagus."
Lao Mu mengerutkan dahinya lalu membuka gulungan Lu Yan, ketika terbuka ia terdiam melihat lukisan itu, "Darimana kau mendapat lukisan ini?."
"Ah aku hanya tidak sengaja mendapatkannya." Bohong Lu Yan.
Lao Mu berdecih tak percaya, "Tidak mungkin. Namun darimana kau mendapatkan nya tidak penting, terakhir kali lukisan ini dilelang harga nya sekitar 10 juta yuan. Pelukis ini sangat terkenal namun sejauh ini lukisan yang terlihat hanya tentang keindahan. Namun yang ini tersirat kesedihan dan kepedihan dalam peperangan. Aku perkirakan kemungkinan harga nya dapat mencapai 20 juta yuan."
"Du...dua puluh juta yuan?." Ouyang Hong tergagap, dua puluh juta yuan hanya untuk sebuah lukisan?.
Lao Mu mengangguk, "Kau ingin melelangnya? Lukisan ini termasuk langka, apa tidak sayang?."
"Tidak, aku membutuhkan uang jadi aku akan menjualnya." jawab Lu Yan
"Baiklah." Lao Mu beranjak berdiri ia kemudian mengambil sebuah undangan lalu ia berikan pada Lu Yan, "Besok akan ada lelang jam 9 pagi, kau bisa pergi bersamaku. Dan ini-" Lao Mu memegang lukisan Lu Yan, "Jika kau ingin menjualnya besok kau bisa menaruhnya disini dan nanti aku akan hubungi penyelenggara namun jika tidak Lukisan ini bisa dilelang minggu depan."
"Baiklah, lukisan ini akan aku tinggalkan pada Tuan Mu."
__ADS_1
"Kau percaya padaku?."
Lu Yan mengangguk, "Tuan Mu adalah orang terhormat belum lagi Tuan adalah teman Kakek Xie, aku percaya."
"Mata yang bagus, jika kau mau kau bisa menjadi murid ku." Ucap Tuan Mu membuat Lu Yan mengernyitkan dahi, "Murid?."
"Kau membawa Lukisan antik, gelang mu juga lalu anting. Kau pasti memiliki ketertarikan pada barang barang antik." Ucap Tuan Mu.
Lu Yan terdiam sejenak, ia masih punya banyak barang-barang antik. Jika ia ingin tau berapa nilainya, ia dapat dengan mudah bertanya pada Tuan Mu.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan, aku akan menjadi murid mu."
_&_&_
Feng Hao Ran 100, Wang Ming 98, Li Hua 90, Yan Jun 80.....
Dan terakhir Qin Lu Yan 30.
"Tiga puluh? Bagaimana mungkin? Jia Li bukankah dia di atas mu? Kenapa nilainya di bawah mu?."
"Bagaimana dia bisa juara dua?."
"Jelas-jelas dia juara dua mengalahkan Li Hua tapi nilainya begitu jelek."
Lu Yan menatap nilainya dan tersenyum, setidaknya jawabannya ada yang benar.
"Lu Yan kenapa tersenyum?." Bentak Guru Lin.
Lu Yan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa."
"Nilai mu begitu buruk dan kau masih tersenyum? Bagaimana kau bisa mengikuti olimpiade nanti? Ataukah kau tidak ingin mengikutinya? Jika iya aku bisa mencari kan orang untuk menggantikan mu." Ucap Guru Lin marah.
Lu Yan menunduk, soal nya benar-benar susah dan kepalanya bahkan sudah sakit saat melihatnya.
Ia tau dirinya benar-benar tertinggal.
"Lu Yan katakan padaku apa kau masih berniat untuk ikut olimpiade?."
"Guru aku masih, aku akan berusaha keras." Ucap Lu Yan.
"Bagaimana?."
"Aku akan belajar dengan giat."
Guru Lin tersenyum miring, "Kepala sekolahmu menelfon menanyakan apakah kau belajar disini atau tidak, dia mengatakan sudah beberapa hari kau tidak ke sekolah. Lu Yan katakan padaku kau bahkan meninggalkan sekolahmu, jadi untuk apa kau belajar disini?."
__ADS_1