
Lu Yan menarik nafas dengan kuat, ia lalu menggigit bibirnya sambil memikirkan cara untuk menang dari Hong Li.
Hong Li pernah di juluki Raja tinju, kekuatannya jangan pernah ditanyakan.
Walau Lu Yan cukup gesit namun pukulannya sedikit lemah dan agak meleset.
"LY kulihat kau semakin lemah dari yang terakhir kali."
Lu Yan tersenyum miring dan membalas, "Aku terlalu sibuk untuk berlatih, tidak seperti mu yang memiliki banyak waktu luang."
Hong Li tertawa kecil, "Setelah kau kalah aku akan mengajarimu cara bertinju yang benar."
"Kalah?." Lu Yan menatap Hong Li tajam, ia kemudian menarik nafas dengan kuat dan mengepalkan tinjunya.
Hong Li mendekatinya dan melayangkan pukulan, Lu Yan membalasnya hingga kedua tangan mereka saling berbenturan.
Pukulan itu sangat kuat, hingga Hong Li mundur beberapa langkah.
Melihat Hong li yang agak lengah, Lu Yan segera memukul dagunya dan tanpa jeda ia kembali memukul perut serta menjegal lutut nya hingga terjatuh.
Lu Yan mengeluarkan semua kekuatannya, ia sudah agak lemah sekarang namun ia tak ingin kalah.
Hong Li sama dengan A'ming mereka adalah pengawalnya namun Lu Yan tak ingin menjadi Nona muda nya tapi jenderalnya, seperti yang ia lakukan di masa lalu.
Hasil yang tak disangka-sangka, Hong Li terjatuh dan ditekan hingga tak berdaya oleh Ly.
Siapapun yang melihatnya tak akan percaya, LY mengalahkan Hong Li orang yang dijuluki Raja tinju.
Beberapa orang menganggap LY memiliki trik di lengan bajunya(curang), beberapa orang menganggap bahwa Hong Li sudah terlalu tua dibanding lawannya, setidaknya kebanyakan orang tidak menganggap bahwa Lu Yan lebih kuat dari Hong Li.
Lu Yan turun dari arena dan mengelap keringatnya, ia menatap lawan selanjutnya Chen Kun.
Dia terkenal dan kekuatannya hampir sama dengan Hong Li, dia adalah rival Hong Li sejak lama namun dia juga sangat mengangumi Hong Li.
Pertandingan ini jelas merugikan Lu Yan.
"Waktu pertandingan selanjutnya 2 jam lagi bos." Ucap Ouyang Hong.
Lu Yan mengangguk mengerti dan minum dengan cepat.
Ia lalu menatap ke atas, seseorang saat ini sedang menatapnya. Lu Yan membalas tatapan itu hingga pria itu tersenyum padanya.
"Ouyang Hong, kau tau siapa pemimpin organisasi ini?."
__ADS_1
Ouyang Hong menggeleng, "Tidak, kenapa?."
"Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong kau sudah membelikan ku tiket?."
Ouyang Hong mengangguk, "Tiket untuk 3 orang, penerbangan besok jam 5 pagi."
"Bagus." Balas Lu Yan.
"Tapi Bos, untuk pesta itu kau akan memberikanku Setelan baru kan?."
Lu Yan mengernyitkan dahinya, "Pesta apa?."
"Bukankah kau akan ke Pesta Nona Qin Xiao itu bukan?." Tanya Ouyang Hong.
Lu Yan menggangguk, "Benar namun itu kan sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."
"Bos kau membeli 3 tiket kan?."
"Aku, A'ming dan Hao ran." Jawab Lu Yan kemudian ia menatap Ouyang Hong yang menunduk sedih dan tampak kecewa.
"Bos kau sangat tega padaku." Ucap Ouyang Hong.
"Kau harus mengurus kafe."
Ouyang Hong mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat Lu Yan.
"10 ribu yuan, aku akan memberikanmu 10 ribu yuan. Saat di kota C aku akan membelikan mu setelan mahal." Ucap Lu Yan menatap Ouyang Hong yang cemberut, "Jika kau tak ma..."
"Baik bos baik." Ouyang Hong kembali menatap Lu Yan, senyuman terukir diwajahnya.
Hanya sedikit sogokan dan dia sudah baikan. Itu memang Ouyang Hong.
_&_&_
Masih ada waktu tersisa sebelum final, Lu Yan dan Ouyang Hong pergi ke rumah sakit untuk menjenguk A'ming.
Lu Yan benar-benar merasa tak enak karena membuatnya seperti itu.
"Bos.." panggil A'ming yang tampaknya baru akan beranjak berdiri.
"Kau sudah baikan?." Tanya Lu Yan dan diangguki oleh A'ming, "Begitu memalukan kalah darimu."
"Malu? Untuk apa kau malu? Kau hanya kalah dariku atau apa kau menganggap keberadaan ku begitu rendah?" Ucap Lu Yan merasa terhina.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu." ucap A'ming merasa tak enak.
"Kalian juga disini?." Ucap Hong Li yang datang dengan wajah lelah, ia tak sengaja melihat Ouyang Hong saat datang dan menebak bahwa Lu Yan pasti juga ada disini.
"Hong Li kau kalah?." ejek A'ming.
"Kau juga." Balas Hong Li dengan tatapan tajam.
"Hong Li kau tidak mendapat luka yang serius bahkan tidak pingsan, kenapa disini?." Tanya Lu Yan.
Hong Li menghela nafas dan menunjuk ke tempat tidur yang tak jauh dari tempat A'ming, "Shu Jian, kau tau bukan? Dia tetanggaku, teman-temannya merundung nya hingga ia terbaring koma."
"Neneknya terus menangis, Feifei juga terus marah. Ah anak-anak itu, jika aku ada maka aku akan mematahkan tangan dan kaki mereka." Ucap Hong Li geram.
Lu Yan mengepalkan tangannya, anak-anak itu begitu kejam. Bagaimana mereka bisa mematahkan tangan teman sekelasnya?.
"Lalu apa mereka sudah di laporkan?." Tanya A'ming yang juga tampak geram.
Hong Li menggelengkan kepalanya, "Jika di laporkan orang tua mereka akan mengancam untuk meminta sekolah mencabut beasiswa Shu Jian. Belum lagi rumah yang ia tinggali milik salah satu orang tua perundung itu dan neneknya juga bekerja di tempat orang itu. Lebih banyak kerugian jika dilaporkan."
"Mereka punya kekuasaan dan uang hingga bisa mencegah hukum seenaknya. Laporkan saja, untuk hal lainnya biarkan aku yang mengurus." Ucap Lu Yan membuat Hong Li sedikit bingung.
Lu Yan berdecak kesal, ia melewati Hong Li dan berjalan menuju tempat Shu Jian di sana neneknya menunduk dengan rasa bersalah dan juga Feifei berdiri dengan wajah penuh amarah.
"Laporkan mereka." Ucap Lu Yan dan mendapat perhatian dari kedua orang disana.
Nenek Shu Jian yang menangis menggeleng, "Aku tidak bisa."
"Kenapa?."
"Mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membayar biaya rumah sakit Shu Jian jika dilaporkan." Ucap Feifei dengan wajah memerah.
"Benarkah?." Tanya Hong Li yang tidak mengetahui hal itu, "Mereka kesini?."
Feifei menggeleng, "Pengacara mereka kesini dan membuat kesepakatan dengan nenek. Nenek yang hanya berpikir tentang keselamatan Shu Jian tentu saja menyetujuinya begitu saja."
"Nenek kenapa kau melakukannya? Itu hanya akan membuat mereka-"
"Lalu apa yang harus kulakukan?." Bentak Nenek Shu Jian lalu menangis lagi, "Mereka bilang Shu Jian akan meninggal jika tidak dirawat. Menurutmu aku orang tua ini bisa mencari uang untuk perawatannya?."
"Shu Jian yang malang, kenapa dia harus mempunyai nenek sepertiku." Ucapnya dengan penuh penyesalan.
Lu Yan menunduk, hal itu dapat dimengerti. Orang kecil sepertinya hanya seperti seekor semut dimata para orang kaya itu.
__ADS_1
Namun tentu saja Lu Yan tidak ingin membiarkan nya begitu saja.
Mereka juga harus dapat balasannya.